
Nick kini bisa tersenyum bahagia setelah tangannya tak lagi di tepis oleh Alenta. Huh... Benar-benar indah sekali rasanya bisa memeluk si landak cantik yang memiliki aroma wangi seperti bunga Kamboja. Eh, seram ya soalnya kesannya angker sekali, ya sudah ganti saja deh seperti bunga lili. Tidak tahu lah apa nama persamaan bunga untuk menyamakan aroma dari rambut dan tubuh Alenta karena aromanya tak seperti wanita kebanyakan, atau bisalah disebut mantan-mantannya terdahulu.
Duh, ini baru saja memeluk Alenta kok sudah se-senang itu ya? Tapi kalau di ingat-ingat lagi, mereka hari ini juga sudah berciuman juga kan? Berciuman? Kalau cuma menempel saja apa bisa disebut berciuman? Tapi masa bodoh lah! Toh rasanya sangat mendebarkan dan membuat Nick merona setiap kali teringat betapa Kenyal dan lembut bibir Alenta tadi. Ya ampun! Tunggu deh, ini Alenta kan sedang menangis, tapi kenapa juga otaknya malah mesum memikirkan aroma Alenta segala, belum lagi mengingat bibir mereka yang sudah saling menyapa tadi.
Nick menarik nafas dengan wajah ia alihkan agar Alenta tak tahu, lalu berdehem terlebih dulu sebelum bertanya.
" Kenapa kau menangis? "
Hening
" Katakan saja padaku, siapa tahu akan terasa lebih lega. " Ujar Nick sok pahlawan, padahal sih dia sendiri juga tidak yakin dengan ucapannya itu.
Hening
Ya elah! Kenapa sih Alenta ini tidak seperti wanita yang lainnya? Apa dia lupa ya kalau dia wanita? Harusnya kalau sudah ada yang memeluk dia seperti ini, dan bertanya ada apa, seharusnya dia jawab saja dengan tatapan melas dan pilu kan? Ini, adanya malah bisu mendadak.
" Alenta, istriku sayang, kau menangis terus apa mau ku tenangkan dengan ciuman ajaibku? "
Alenta menyeka air matanya, lalu kembali menjauhkan lengan Nick dengan kuat. Tidak tahu dari mana perasaan nyaman itu tiba-tiba ia rasakan, tapi sungguh dia merasakan kenyamanan yang tidak dia rasakan ketika Arkan memeluknya. Apakah perasaan seperti itu timbul karena dia teringat masa lalu menyakitkan itu? Heh! Dasar Alenta, itu hanya secuil, bahkan masih banyak lagi luka yang kau rasakan, tapi sudah lemah hanya karena mengingat camping saja, batin Alenta menggerutu.
" Aku tidak membutuhkan ciuman mematikan mu! " Sinis Alenta.
" Ah, jangan begitu! Bagaimana kalau di coba dulu? " Nick meraih wajah Alenta dan memonyongkan bibirnya seraya mendekatkan kepada bibir Alenta.
" Ih! Jangan macam-macam, atau aku akan membunuhmu, Bos! " Alenta mendorong sekuat tenaga wajah Nick agar menjauh darinya, dan itu berhasil. Segera setelah itu dia bangkit dan mengangkat bantalnya bersiap untuk memukul Nick jika sampai melakukan hal yang tidak-tidak lagi.
__ADS_1
Nick terkekeh, dia sengaja melepas kaos polos yang ia kenakan sengaja ingin memancing amarah Alenta agar lebih naik lagi dan melupakan kesedihannya.
" Alenta, lihat deh badan suami mu yang keren ini, masa iya kau tidak ingin menyentuh? Coba sentuh sini! Ayo sini, sayang! " Nick berjalan memutar untuk mendekati Alenta yang berada diseberang ranjang. Dia menyeringai seolah-olah ingin menerkam Alenta penuh keinginan.
Alenta, gadis cantik itu semakin kuat memegang bantal dan memusatkan pandangannya agar tak kecolongan. Hah! Jika saja tidak ada Ibu mertuanya, sudah pasti dia memilih untuk keluar dari kamar dan keluar dari rumah juga bila bisa. Oh, atau keluar rumah terus tinggal di bulan saja? Bulan? Iya mungkin saja dia bisa mengikuti jejak Nil Amstrong.
" Sayang...... " Nick semakin mendekat, dan bersiap pula Alenta mengayunkan bantalnya.
" Mati saja kau, bedebah! " Bug bug bug Alenta memukuli Nick dengan bantal, dan Nick hanya menerima saja pukulan itu seolah dia kesakitan.
" Aduh! Alenta, stop! Kalau kau masih ingin memukulku, aku akan lari keluar dan melapor kepada polisi. " Alenta berhenti, tapi sisi bibirnya naik seolah begitu meremehkan ucapan Nick barusan.
" Alenta, istriku yang cantik, coba deh bayangkan kalau aku lari dan melapor kepada polisi bahwa kau melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Polisi pasti akan bertanya, kenapa kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi? Apa perlu aku menjelaskan bahwa itu terjadi karena istriku ingin membunuhku saat aku minta disentuh? Bakteri saja bisa jantungan karena kaget, Alenta! "
Alenta menghela nafas sebalnya, dia dengan segera berjalan mendekati Nick dan menatap kedua bola mata Nick dengan tatapan ya g tak terbaca oleh Nick. Maju terus langkah Alenta, dan mundur terus kaki Nick hingga membentur dinding dan dia tak bisa lagi berkutik.
" Yang ini! Ini juga, kalau mau yang bawah juga boleh kok. " Tunjuk Nick di bagian dadanya, lalu perut, juga bagian bawahnya yang bersisi tongkat ajaib berisi cairan sakti yang mampu menciptakan manusia baru.
" Oh, banyak juga yang perlu aku sentuh ya? " Alenta tersenyum dengan begitu manis, bahkan dia juga sengaja berbicara di dekat telinga Nick dan membuat Nick menelan salivanya berkali-kali karena gugup.
" Bersiap ya sayang? Aku akan mulai menyentuh. " Ucap Alenta, lalu mengangkat kedua tangannya, membunyikan jemarinya dengan tatapan menakutkan. Krek krek krek.
" A, Alenta! Kau mau apa?! " Tanya Nick ketakutan, ingin kabur tapi kedua lengan Alenta mencegahnya dengan menghalau di kedua sisi.
" Katanya minta di sentuh, jadi aku ingin lah menyentuh suamiku ini. "
__ADS_1
Nick menelan lagi salivanya dengan tatapan takut.
" Alenta, kau sangat cantik! Cantik sekali seperti bidadari! Oh, bidadari saja kalah cantik dari pada dirimu, Alenta! Tapi ingat, gadis cantik tidak boleh kasar, nanti cantiknya hilang! " Nick memerosotkan tubuhnya, lalu kabur dari Alenta.
" Cih! Dasar penakut! " Alenta tersenyum puas. Sementara Nick, pria itu juga tersenyum tipis karena sepertinya membuat Alenta melupakan kesedihannya dengan cara itu cukup berhasil. Tidak tahu lah sejak kapan dia sangat suka meledek Alenta, mengumpat, bahkan terang-terangan menunjukkan wajah tidak sukanya. Dia sebenarnya bukanlah pria yang cengeng seperti itu, bahkan tadi dia hampir saja mendorong tubuh Alenta, membawanya ke tempat tidur dan menjamahnya dengan buas. Tapi demi membuat Alenta merasa senang, dia merendahkan dirinya untuk di cap sebagai penakut, juga manja atau apapun itu masa bodoh karena yang paling penting adalah Alenta tidak bersedih lagi seperti tadi.
" Bos, ini sudah malam, aku mengantuk. Bos jangan macam-macam lagi ya? Atau kalau tidak, aku benar-benar akan menendang telurmu, dan menjadikannya sarapan pagi untuk Bos besok. "
Nick sebenarnya ingin tertawa, tapi dia bisa menahannya dan segera mengiyakan permintaan Alenta itu.
" Oke! Tapi jangan salah, Alenta! Zaman sekarang biasanya wanita duluan loh yang agresif, jadi setelah menunjukkan tubuhku aku juga butuh berjaga-jaga. "
Alenta bersedih sebal.
" Aku sudah pernah lihat yang lebih ekstrem punya Bos, tapi aku tidak berbuat apapun kan? "
" Begitu ya? Mau lihat lagi tidak? "
" Tidak mau! Cucung pendek begitu saja pamer! "
Alenta segera berbaring memunggungi posisi Nick. Gila! Dia sudah gila! Hanya karena tidak mau kalah, mulutnya malah seperti tersiram oli, licin sekali! Ampun Tuhan! Ini cuma keceplosan saja kok.
Nick, pria itu terbengong-bengong karena kalimat Alenta barusan. Cucung pendek? Nick melonggarkan celana kolor ya dan memeriksa tongkat ajaibnya sembari berpikir keras.
Pendek? Ukuran tongkatku pendek ya? Ya ampun! Sialan! Besok harus cari tahu Dokter mana yang bisa memperbesar tongkat ajaibku! Huh! Padahal mantan-mantan ku bilang tongkatku besar kok? Ini, apakah punya Arkan lebih besar? Tapi masak iya sih? Badannya Arkan saja mirip Doraemon, tidak mungkin lah tongkatnya panjang. Aku sih yakin kalau punya Arkan pasti cuma sepanjang ujung pena.
__ADS_1
Bersambung.