My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Perubahan Kehidupan


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Damar kini telah menetap dirumah Alenta dan Nick setelah persetujuan dari Tuan Baskoro. Awalnya memang agak berat bagi Tuan Baskoro mengiyakan keinginan putranya, tapi melihat Damar yang tertekan setelah kepergian Talita, dan seperti sangat mengharap untuk tinggal bersama kakaknya, maka Tuan Baskoro menguatkan dirinya untuk hidup seorang diri. Memang berat bagi seseorang yang memiliki sakit ditambah dia memilih untuk tinggal di pedesaan.


Tidak menjadi masalah pada akhirnya, nyatanya Meksi tinggal di pedesaan Tuan Baskoro juga bisa hidup dengan baik meski haus dengan sederhana. Masalah penyakit untunglah jaman sekarang ada BPJS, dan rencananya akan di operasi bulan depan. Sebenarnya Nick juga rajin mengirim uang setiap minggu, nyatanya hampir tak pernah ia gunakan uang itu. Sebenarnya Tuan Baskoro juga ada rasa bersyukur sekarang ini karena Alenta jadi sedikit memperhatikannya lewat Damar. Maklum saja, Tuan Baskoro tak pernah ketinggalan informasi tentang kabar Damar dan Alenta karena antara Damar juga dirinya selaku bertukar pesan setiap harinya.


" Pak Baskoro, ini ada mentimun dan nanas hasil kebun sendiri, Pak Baskoro doyan kan? " Seorang tetangga wanita memberikan sekeranjang kecil bersisi mentimun dan juga nanas dari kebunnya sendiri.


" Terimakasih, Bu. Maaf jadi merepotkan Ibu. " Ucap Tuan Baskoro yang merasa tak enak dengan tetangganya itu. Mereka adalah sepasang suami istri yang anaknya juga baru meninggal beberapa bulan lalu, jadi mereka sangat baik dengan Tuan Baskoro karena situasi mereka yang sama dan berharap mereka bisa saling menguatkan. Bukan hanya tetangga itu saja, tapi ada tetangga lain juga yang senang berbagi hasil kebun mereka. Sekarang ini Tuan Baskoro juga sudah mencoba untuk menanam sayur-sayuran di halaman rumah berharap akan tumbuh subur dan bermanfaat untuk dirinya dan juga tetangganya nanti.


" Tidak apa-apa Pak, kebetulan saya dan suami kan memang tidak menjual semua hasil panen, karena sebagian selalu kami sisihkan untuk berbagi dengan tetangga. "


" Semoga berkah ya Bu. " Ujar Tuan Baskoro.


Lain dengan Tuan Baskoro yang mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar, Meski hidup sederhana di rumah tua yang dia beli dengan sisa uangnya, nyatanya dia merasa sangat lega berada di tempat itu berbeda dengan Ibu Rahayu. Sebulan ini dia benar-benar membuat orang lain khawatir. Sekarang Ibu Rahayu di temani adik bungsunya yang tidak memiliki rumah jadi sekalian bisa menumpang tinggal disana.


Pada awalnya mereka masih merasa oke oke saja karena mereka pikir bisa tinggal tanpa mengeluarkan uang sewa rumah sembari menjaga Ibu Rahayu, tapi kondisi Ibu Rahayu yang semakin tidak baik pada akhirnya membuat mereka kebingungan dan sudah beberapa kali saja ingin kabur dari sana. Di Minggu pertama Ibu Rahayu hanya terus menangis, Minggu kedua mulai berteriak-teriak marah kepada Tuhan, suami, bahkan mendiang putrinya juga tak aman dari kemarahannya. Minggu ketiga dia mulai halusinasi, tertawa sendiri, mengobrol dan menyebut nama suaminya berkali-kali seolah dia sedang mengobrol dengannya. Datang ke dapur untuk memasak katanya untuk suami dan anak-anaknya, tapi yang terjadi adalah dapur hancur berantakan, dan Ibu Rahayu tertawa-tawa seolah sedang bercanda dengan suami dan anaknya. Minggu ke empat, dia mulai menakutkan dengan terus menatap dan memelototi siapa saja yang ada dirumahnya, tidak segan-segan memaki dan mengatakan ucapan kotor berkali-kali, bahkan sudah hampir telanjang di teras saat berjemur, untungnya ada adiknya disana yang segera mencegah.


Hari ini sudah hampir empat kali Ibu Rahayu membanting barang. Pertama dia membanting pot bunga, lalu hiasan dinding, guci, dan yang terakhir membanting remote TV. Bukan hanya sekedar membanting saja, tapi dia juga menggigit-gigit pecahan barang yang ia rusak seolah itu adalah makanan. Tali ketika diberi makanan, dia malah membuangnya ke toilet karena mengira nasi di piring adalah belatung hidup yang dihidangkan untuknya.

__ADS_1


" Kak, sudah ya? itu kan tidak enak, Kakak makan roti saja mau tidak? "


Ibu Rahayu mendelik marah, rambut yang acak-acakan, ditambah wajahnya yang pucat tajam terlihat sangat seram. Jika saja tidak biasa melihatnya selama sebulan ini, pasti akan mengira kalau Ibu Rahayu adalah hantu. Bukan tidak mau merawatnya, hanya saja Ibu Rahayu akan marah saat ada yang menyentuh rambutnya, apalagi kalau di paksa untuk mandi, dia akan sangat marah, histeris bahkan sudah berkali-kali adik serta adik iparnya di gigit hingga berdarah.


" Kak, nanti mulut kakak tertusuk kalau kakak makan itu terus. Kaka makan nasi, atau roti saja ya? " Bujuk Lagi Adiknya Ibu Rahayu.


" Aku tidak mau pergi keluar negeri, nanti kena tembak. " Ibu Rahayu berbisik, lalu meletakkan jari telunjuknya di dahi, padahal seharunya di bibir kan? Entah sudah separah apa psikologis nya sakit, yang jelas adiknya tak mampu untuk membawa ke rumah sakit untuk memeriksa.


" Kak, makan, bukan pergi keluar negeri. Makan, kak. " Adik Ibu Rahayu menggerakkan tangannya mempraktekan gaya orang yang sedang makan agar kakaknya paham apa yang dia katakan.


" Nanti ada ular kalau kita tidak bersembunyi, jadi makan ini dulu supaya kuat sembunyi. " Ibu Rahayu menyodorkan pecahan remote TV menawarkan kepada adiknya untuk memakan. Sungguh tidak tahu harus bagiamana selain berdoa memohon kesembuhan untuk kakaknya.


" Kak, jangan begini ya? Kakak kan masih punya Damar yang butuh kasih sayang kakak. " Adiknya Ibu Rahayu menangis karena tak sanggup melihat kakaknya semakin parah seperti sekarang ini.


***


" Pergilah, Nick! "


Buk!

__ADS_1


Nick melompong saja saat Alenta melemparkan satu guling dan selimut padanya. Sudah hampir satu Minggu dia tidur di depan pintu kamarnya beralaskan karpet bulu yang tersedia dirumahnya.


" Kau tidak boleh tidur di dalam, tapi juga tidak boleh jauh dariku. "


Hah? Lagi? Nick dengan wajah bengong nya menurut saja saat Alenta memintanya untuk seperti itu.


" Kak Nick, kakak ngidam lagi ya? " Tanya Damar yang baru saja dari dapur dan melihat Nick berdiri di depan pintu dengan wajah bengong memeluk guling serta selimut.


Nick mengangguk pilu. Sudah satu Minggu, Alenta selalu saja mual setiap kali mereka berdekatan, tapi Alenta juga tak mau jauh darinya. Sudah di coba untuk tidur di sofa, tapi tetap saja Alenta mual parah dan tidak bisa tahan dengan bau tubuh Nick. Gila! ngidam apaan yang seperti itu?! Protes Nick di dalam hati.


" Mau aku temani tidak kak? "


" Jangan, besok kau kan sekolah. "


Damar terkekeh geli.


" Semangat kak, ini kan baru ngidamnya anak pertama, masih ada banyak anak lagi kan nantinya? "


Nick tersentak, lalu mengangguk dengan semangat.

__ADS_1


" Iya iya! Pokoknya aku harus semangat. Masak ngidam begini saja aku sudah menyerah! Ini adalah ujian ketika ingin punya anak, jadi aku harus bisa. Semangat! " Ucap Nick mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi.


Bersambung.


__ADS_2