My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Mimpi Buruk


__ADS_3

Benar-benar malam yang menyenangkan, bagaimana tidak? Karena semalaman pula Alenta bisa tidur dengan nyaman di kamar mewah tanpa harus berjaga untuk menghalau pergerakkan Nick yang mungkin saja akan menjurus ke arah mesum lah tentunya.


Sementara Nick, pria itu tadinya ingin mengadukan bagaimana perlakuan Alenta selama ini kepada Ibunya, tapi siapa sangka kalau dia malah bertemu dengan Ayahnya terlebih dulu. Bukan hal aneh sih kalau bertemu dengan Nathan selaku Ayahnya, hanya saja mata tajam pria itu, juga kata-kata dengan mimik dinginnya sangat cukup membuat Nick merinding ngeri hingga tanpa memikirkan apa yang di alaminya tadi, dan langsung kabur agak terhindar dari Ayahnya.


" Mau apa kau? Mencari Ibumu dia merengek manja seperti bocah sepuluh tahun? Kau pikir kau masih bisa melakukannya? Entah apapun yang terjadi sehingga kau keluar kamar, tapi bagiku Alenta adalah pihak yang selaku benar. "


Cih! Kalau ingat kata-kata dari Ayahnya semalam, rasanya ingin sekali dia protes dan mengajak Ayahnya untuk mengajukan uji DNA, ya siapa tahu sebenarnya Alenta lah anak kandung Ayahnya, meski sebenarnya dia sadar benar jika wajahnya mirip Nathan.


Tik Tik Tik


Suara sisa hujan di pagi hari sungguh membuat orang jadi malas untuk bangun, tapi sepertinya itu tidak terjadi dengan Nick. Pria tampan berusia dua puluh delapan tahun itu masih saja tak bisa tidur, matanya yang memerah dan layu adalah bukti dari betapa menakutkannya malam tadi hingga dia tak berani untuk tidur.


Tongkat ajaibnya di tebas lah, di paku, terlindas truk, terjepit eskalator, semua itu selalu aja menghantuinya dengan sangat aktif. Sebenarnya Nick sudah mulai akan nyenyak malam tadi, tapi gara-gara terlalu shock dengan ucapan Alenta tentang tongkat kesayangannya, ditambah lagi melihat wajah dingin Ayahnya, semua itu malah menjadi satu mimpi yang menyeramkan. Ayahnya, juga Alenta datang ke kamarnya dengan beberapa senjata ditangannya, ada palu, panah, pedang, belati tajam, juga ada paku besar yang sudah mulai berkarat. Mereka berdua datang dengan senyum miring yang terlihat sangat jahat dan kejam, padahal di dalam mimpi itu Nick sudah menangis ketakutan, memohon bahkan sampai ingus dan air matanya beleweran kemana-mana. Tapi Ayahnya juga Alenta malah semakin terlihat berniat, hingga kompak menarik paksa celana Nick hingga robek.


" Ah! "


Kesal Nick karena tak tahan lagi dengan terus memikirkan kata-kata itu. Ya Tuhan, stop! Batin Nick kesal seraya mengacak-acak rambutnya dengan mimik yang terlihat frustasi. Padahal dia sudah dua kali mengompol, dan sialnya dia jadi harus memasang sprei sendiri semalam. Ini apakah harus menderita lebih panjang lagi? Bisa tidak sih apa yang di katakan Alenta dihapus dari ingatannya? Tidak ya? Tidak mungkin!


" Sayang? Kok belum turun juga? Ayah dan Ibu sudah menunggu kita loh. " Ucap Alenta yang tiba-tiba saja datang, tersenyum dengan mata menakutkan bagi Nick.


" Apa, apa-apaan senyum menakutkan seperti itu Alenta! " Protes Nick yang semakin tertekan melihat senyum Alenta, belum lagi panggilan sayang yang amat membuatnya merasa takut. Untung ya jantung buatan Tuhan, kalau buatan manusia pasti sudah meledak sedari tadi.


" Aduh, senyumku ini bukannya sangat manis ya, Bos? "

__ADS_1


Manis? Manis matamu! Singa saja pasti akan lari kalau ditatap seperti itu! Benar-benar membuat otak dan jeroanku hampir kejang berbarengan!


" Eh, kok bau Pesing ya? " Alenta kembali tersenyum, tapi dia dengan sengaja menutup hidungnya karena tidak tahan dengan bau Pesing yang jelas terhirup olehnya.


" I itu, ya salah hidungmu saja! Lobang hidungmu kan kecil, jadi pasti tidak jelas mengendus bau! "


" Oh, begitu ya Bos? " Alenta memaksakan senyumnya. Tapi saat dia melihat ke tempat cucian kotor yang ada di dekat pintu kamar mandi, sekarang dia tahu jika Nick pasti mengompol beberapa kali semalam.


" Apa lihat-lihat?! Keluar sana! Aku mau mandi, kau masih disini apa mau memandikanku? " Nick menyeringai berharap kata-kata itu mampu membuat Alenta segera menjauh dari kamarnya karena dia merasa malu juga kalau sampai Alenta tahu dia mengompol.


" Oh, aku sih mau-mau saja. Tapi masalahnya, aku kurang suka bau pesing. "


Duh! Ketahuan ya kalau ngompol? Nick menelan salivanya, lalu segera membuang pandangan karena tidak ingin terlihat wajah malunya oleh Alenta. Huhu.... Benar-benar hilang sudah harga dirinya sebagai laki-laki dewasa, padahal Lebel anak manja sudah akan hilang darinya, tapi gara-gara ngompol sekarang harus menahan malu.


Alenta tersenyum menahan diri yang sebenarnya ingin sekali tertawa terbahak-bahak.


" Jadi, bagaimana ya memperbaiki kesalahan itu? "


Muak! Sudah muak dan kesal karena tidak tahan terus tertindas oleh mulut Alenta, Nick menghempaskan selimut tebal yang menutup tubuhnya, dan membiarkan bagian bawahnya yang polos tanpa busana terlihat oleh Alenta. Kok bisa tidak pakai apa-apa? Iya tentu saja karena Nick tidak membawa ganti saat memutuskan tidur di kamar tamu.


" Alenta, bagaimana kalau kau elus dia, terus beri tahu kalau tidak boleh mengompol lagi? "


Gila! Sungguh Nick sialan itu sudah benar-benar gila! Bagaimana mungkin bisa dengan percaya dirinya memperlihatkan bagian tongkatnya kepada Alenta? Duh! Memang sialan! Mau menoleh sudah terlanjur lihat, kalau tidak menoleh tubuhnya sudah hampir kehilangan energi, bagaimana dong? Hah! Sudah, kalaupun memang ingin pingsan, semoga saja bisa bertahan satu atau dua menit lagi, batin Alenta.

__ADS_1


" Alenta, kok diam saja? Ayo sini, elus elus manja dong..." Nick tersenyum menjijikkan bagi Alenta, tangannya tergerak untuk menyampaikan kepada Alenta agar segera mendekat.


Tahan, tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan. Alenta kini mulai memaksakan bibirnya untuk tersenyum, tangannya mengepal menahan tubuhnya yang mulai dingin dan gemetar.


" Wah, tingkat ajaib alias burung milik Bos lumayan bagus juga ya? Tapi ada bagian yang kurang juga sih, bagaimana kalau aku bentuk supaya lebih bagus? " Alenta mengangkat kedua tangannya sampai ke depan dada, membunyikan jemarinya dengan tatapan penuh keinginan. Krek krek!


" Sepertinya kalau di kikis beberapa bagian akan lebih indah ya? "


Mampus! Nick tak bisa menahan wajahnya yang terlihat sangat tertekan dan ketakutan. Segera dia memegangi tongkat ajaib miliknya menggunakan kedua tangannya saat Alenta berjalan mendekat padanya dengan tatapan menakutkan.


" Sini, sayang! Biarkan aku mengurus burung mu yang suka masuk WC umum. "


" Sana! Sana kau Alenta! " Nick meraih selimut tebal untuk lebih bisa menjaga tongkat ajaibnya dari Alenta.


" Aduh, jangan malu-malu begitu, sayang! "


" Tidak! Ibu! " Segera Nick bangkit dari posisinya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dengan rapat.


Bruk!


Alenta jatuh terduduk karena sudah tidak tahan lagi dengan tubuhnya yang lemas.


" Dasar mesum! Bisa-bisanya pamer tongkat ajaib di hadapan gadis yang bahkan hanya pernah melihatnya di video kikuk-kikuk saja. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2