
Setelah mendengar kata-kata Reiner beberapa saat lalu, Nick kini terdiam melamun memandangi berkas yang seharusnya ia baca ulang dan tanda tangani apabila merasa oke dengan isinya. Tidak tahu lah apakah ini karena dia mulai merasa ucapan Reiner ada benarnya, ataukah karena dia sedang dilema dengan perasaannya sendiri? Sebentar Nick menghela nafas, kembali mengingat saat pertama kali melihat Alenta yang berjalan di belakang punggung Ayahnya. Dia nampak masih sangat lugu dan polos saat itu, tidak ada make up, pakaiannya juga sangat kuno untuk anak muda jaman sekarang. Cantik, itulah yang pertama kali Nick lihat dari seorang Alenta. Tidak tahu apakah Alenta memiliki sihir atau memang pesona alami, tapi Nick memang benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan saat pertama kali melihat Alenta.
" Bos? Sudah selesai? " Tanya Alenta yang entah sejak kapan sudah berada di dalam ruangannya, sudah pasti juga dia mengetuk pintu dan Nick tidak mendengarnya karena sibuk melamun.
" Alenta ya? " Nick menghela nafasnya seolah keberadaan Alenta tidak membuatnya terkejut.
" Bos, kalau sudah selesai biar aku ambil ya? "
" Ambil apa? "
Alenta menghela nafas sebalnya, dia berjalan mendekati Nick dan menempelkan punggung tangannya di dahi Nick.
" Tidak panas kok, tapi kenapa wajahmu seperti pantat babi? "
Heh? Ini nih namanya Alenta! Kalau bukan kerjanya mengatai Nick, maka itu pasti bukan Alenta namanya. Nick tersenyum miring, meraih tangan Alenta dan mengecupnya.
" Ih! " Alenta segera menarik tangannya lalu menggosok dengan kuat.
" Bos kerasukan jin ya?! " Protes Alenta dengan tatapan sebal. Sementara Nick, pria itu hanya tersenyum tipis dengan segala pemikirannya. Benar, seperti inilah Alenta, dia memang sangat galak dan juga pandai membalikkan keadaan untuk membuatnya tak berdaya. Lima tahun sudah, nyatanya dia tetap bertahan bukan semata-mata hanya karena takut akan konsekuensi jika melawan Alenta, tapi dia mulai sada jika dia hanya ingin dekat dengan Alenta saja.
" Mau ya sih kerasukan dirimu, tapi apalah daya karena kau kan bukan iblis. Eh, maksudku makhluk halus. "
Alenta terperangah heran, kalau Nick mengajaknya perang mulut sih sudah biasa, tapi kalau perang kata-kata gombal ya mana bisa dia melakukan itu?
" Lebih baik berikan saja berkasnya padaku, Bos! "
" Belum aku sele- "
" Babe? "
__ADS_1
Alenta dan Nick menoleh ke arah yang sama untuk minat ke arah sumber suara yang mereka sendiri sebenarnya sudah tahu siapa pemilik suara itu.
" Rebecca? " Nick bangkit dari duduknya, lalu menatap datar. Sementara Alenta, gadis itu hanya bisa mendesah sebal karena lagi-lagi harus .ingat Rebecca keluar masuk kantor sudah seperti kantor sama dengan toilet umum saja.
" Babe, aku merindukanmu! Kenapa tidak membalas pesanku, kenapa juga mengabaikan telepon dariku? " Protes Rebecca setelah berlari, lalu memeluk lengan Nick. Tadinya Nick ingin segera menahan tangan Rebecca dari lengannya, tapi dia sadar benar kalau tidak baik juga kasar dengan seorang wanita, terlebih wanita itu juga memiliki hubungan dengan dirinya.
" Bos, aku ambil berkasnya agar tim segera bersiap ya? " Ucap Alenta menyela, iya mau menunggu mereka bermesra-mesraan sampai kapan? Sampai biji kecambah menjadi pohon apel? Tidak mungkin kan?
" Aku belum selesai, Alenta. " Ujar Nick.
" Apa?! " Alenta menatap kaget, tapi juga menunjukkan bahwa dia sangat keheranan dengan cara bekerja Bosnya.
" Nona Rebecca, tolong keluarlah dulu, biarkan Bos menyelesaikan tugasnya karena ini sangat penting. " Pinta Rebecca dengan tegas. Tapi sayangnya Rebecca yang sudah susah payah bisa masuk dengan seribu alasan kesana malah harus di suruh pergi ya tentu saja dia menolak dengan cepat.
" Alenta, kenapa kau bersikap seolah-olah adalah istri sungguhan? Kau juga harus sadar akan posisimu! "
" Pergilah, Rebecca! "
" Tapi, Babe! Aku tidak ingin di acuhkan olehmu lagi! " Rebecca kembali mendekati Nick, dengan gaya sok polos menyibakkan rambutnya dan membuat belahan dadanya terlihat jelas, bahkan bagian dadanya yang menyembul juga nampak begitu menggoda.
" Babe, aku janji akan jadi penurut, jadi jangan marah lagi ya? Kalau kau mau, aku bisa- " Rebecca membisikkan sesuatu kepada Nick, dan sontak membuat Nick seperti menahan sesuatu. Tapi Alenta, gadis itu sangat tahu otak kotor Rebecca dan Nick, jadi sangat mudah baginya untuk bisa langsung mengerti apa yang sedang dipikirkan keduanya. Alenta tersenyum miring, dia menarik senderan kursi lalu duduk disana, dia meraih sebuah bolpoin dan memainkannya.
Bug!
Rebecca yang sudah selesai berbisik kini menatap ke arah Alenta yang menusukkan bolpoin itu ke meja Nick meski tidak mungkin bisa menembus, tapi Nick benar-benar ngeri dibuatnya. Apalagi saat Alenta menaikkan pandangannya ke atas, atau lebih tepatnya untuk menatapnya yang tengah berdiri, tatapan tajam dan mengancam Alenta sungguh membuatnya sangat takut.
" Bolpoin ini sangat bagus, ujungnya juga runcing ya? Aku penasaran bagaimana jadinya kalau seorang pria kehilangan kemampuannya karena sebuah bolpoin. Kira-kira, siapa yang bisa aku pakai untuk percobaan ya? Menurutmu, siapa yang cocok, Bos? " Alenta bertanya dengan tatapan mata yang sangat amat, oh kalau ada di atas kata sangat amat, itulah yang cocok menggambarkan tajam dan menakutkannya tatapan Alenta.
Nick menelan salivanya sendiri, segera di menjauhkan tubuh Rebecca dari dirinya, dan duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1
" Kau, kau pergi saja sana! Ingat ya! Tidak boleh datang kesini! Semenjak kemarin, kita sudah putus! " Dengan tangan gemetar Nick membuka lembar demi lembar berkas di mejanya, dan itu sukses membuat Alenta tersenyum puas. Sementara Rebecca, gadis itu masih terperangah tak percaya dengan apa yang dikatakan Nick barusan.
" Nona Rebecca, out now please! "
" Alenta! " Bentak Rebecca kesal.
" Iya? Kalau masih ingin bicara, kita bicarakan di luar saja. Bos, harus menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin." Tanpa bicara lebih banyak lagi, Alenta bangkit dari duduknya, meraih lengan Rebecca dan menuntunnya untuk segera keluar dari ruangan Nick.
" Lepas! " Rebecca menepis tangan Alenta dengan kasar, tapi untungnya Alenta tak merasakan sakit sama sekali.
" Kau sengaja kan? Kau cemburu padaku, iya kan?! "
Alenta tersenyum, lalu menatap Rebecca dengan tajam.
" Cemburu? Kepada anda yang seperti ini? Apa anda sedang bercanda? "
Rebecca mengepalkan tangannya kuat karena tidak tahan lagi dengan perilaku Alenta ya.h selalu saja tidak bersabar dengannya. Padahal dia juga tidak sebegitu membenci Alenta pada awalnya, tapi karena Alenta terus saja mengganggu waktunya bersama Nick, maka timbullah rasa benci kepada Alenta.
" Aku memegang rahasia mu, Alenta! Jadi jangan macam-macam, dan jaga ucapan mu! "
" Anda pikir saya takut? Kalau begitu bongkar saja rahasia saya. Tapi setelah itu, siapa yang akan rugi dan di cap buruk oleh orang? Hem? "
Rebecca mengepalkan tangannya lebih kuat, ternyata meghadapi Alenta memang bukan perkara mudah hingga emosinya serasa terketuk habis.
" Aku membencimu Alenta! "
" Aku juga! Jadi pergi sana! Hus! "
Bersambung.
__ADS_1