My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Kaos Kaki


__ADS_3

Alenta merengut sebal karena merasa kesal dengan sikap Nick yang aneh tadi. Padahal dia juga butuh refresh otak juga hati dengan bersama Arkan, tapi gara-gara di bajingan sialan itu gagal sudah rencananya.


Bruk! Alenta menghempaskan tubuhnya d atas tempat tidur, lalu melamun sembari menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya melalang buana memikirkan bagaimana jadinya saat Arkan mengetahui apa yang terjadi dengannya juga Nick, bagaimana pula reaksi Ibu mertua, serta keluarganya yang lain kalau saja perceraian itu sungguh terjadi nantinya.


Alenta menghembuskan nafas kasarnya, sungguh sulit mendapatkan jawaban dari apa yang sedang ia tanyakan di dalam hati. Ini sudah hampir satu bulan, dan kehidupan pribadinya sungguh sangat berbeda dari sebelumnya. Sekarang sudah ada Ibu, dan Ayah mertua, kakek, nenek, tidak lagi membayar uang sewa rumah, juga uang untuk membeli makan berkurang lima puluh persen. Sekarang dia sudah bisa mencicil mobil kalau dia mau, tapi demi menjaga-jaga agar tidak sulit di masa depan, Alenta tentu harus bisa menahannya dengan lebih sabar lagi.


" Alenta, Ibuku meminta kita datang segera. Dia sudah menunggu di restauran pangannya. " Ucap Nick yang baru saja mengetuk pintu, lalu berbicara di depan sana.


Alenta menghela nafasnya, tidak tahu kegilaan apa lagi yang ingin dilakukan Nick.


" Alenta! "


" Apa?! " Alenta bangkit dengan wajah kesalnya, ih! Benar-benar ingin mengepang mulut sialan Nick, tapi kan tidak bisa.


" Ibu sudah menunggu, cepat bersiap! " Ucap Nick dari depan pintu yang tertutup.


" Aku belum mandi! " Alenta baru saja akan merebahkan tubuhnya lagi, tapi Nick masih saja memerintah membuatnya merasa kesal dan pusing dibuatnya.


" Mandi atau tidak, wajahmu kan begitu-begitu saja? Jangan banyak sekali alasan! Pokoknya segera, dan kau hanya punya waktu lima menit untuk bersiap! "


Astaga! Alenta kesal sekali tapa malas untuk menjawab, dan dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan mata memerah menahan tangis karena sangat kesal. Tapi kalau mendengar bagaimana Nick tidak ingin membantah dan konsekuen dengan alasannya, maka itu tentu saja benar.

__ADS_1


Alenta lagi-lagi menghembuskan nafas kasarnya, lalu segera bersiap hanya dengan membasuh wajahnya saja. Masa bodoh sekali mau mukanya Kumal, atau apapun itu, sekarang kan yang paling penting segera selesai sebelum lima menit itu habis.


" Sudah? " Nick yang tadinya fokus melihat ponselnya, kini beralih melihat Alenta yang baru saja keluar. Deg! Spontan jantungnya berdegup kencang karena melihat bagaimana wajah cantik Alenta yang natural tanpa sapuan make up begitu jelas terlihat. Rambutnya yang biasa di ikat seperti buntut kuda, kini terurai panjang dengan begitu indah. Warna bibirnya yang biasanya dipoles dengan lipstik warna agak kecoklatan, kini indah natural dengan warna pink kemarah-merahan. Buku matanya panjang agak lentik, alisnya juga bisa terbilang tebal dengan kelopak mata yang memiliki garis indah. Ya Tuhan, bahkan bahkan ada lesung pipinya juga yang membuat wajah dua puluh enam tahun itu nampak semakin sempurna.


" Kenapa Bos melihatku seperti itu? Ini bukan salahku, aku adalah orang yang kompeten, jadi aku tidak akan mungkin membiarkan lima menit darimu begitu saja.


Nick menelan salivanya saat Alenta menggerakkan bibirnya seperti orang sedang bad mood karena lesung pipi gadis itulah tercetak nyata.


" Iya, iya aku tahu aku seperti orang gembel! Tolong jangan menatapku seperti itu, karena tanganku gatal ingin mencolok mata Bos yang menyebalkan itu. "


Nick tersadar dari lamunannya, lalu dengan segera dia menoleh ke arah lain karena dia sadar pasti wajahnya sudah memerah saat ini.


" Ya sudah, ayo kita berangkat! "


Sialan! Bagaimana bisa bibirnya begitu cantik saat mengomel seperti tadi? Wajahnya juga sangat enak dilihat Meksi mulut busuknya tidak bisa disembuhkan. Duh! Bagaimana ini?


Disepanjang perjalanan juga Nick masih sulit berkonsentrasi karena terus saja ingin mencuri pandang ke arah Alenta. Benar-benar menyiksa diri sih ini namanya! Padahal Alenta kan adalah istrinya, tapi kenapa rasanya canggung sekali bahkan hanya untuk melihat barang sebentar saja? Apakah ini yang namanya benci terpendam selama tahunan?


" Hoam..... " Alenta menutup mulutnya yang menguap tak bisa ia tahan. Maklum saja, seharian menghabiskan waktu untuk bekerja dengan sangat keras membuat tubuhnya mudah mengantuk karena lelah saat malam hari.


" Bos, ini masih jauh tidak? " Tanya Alenta sembari memaksakan matanya untuk terus terjaga.

__ADS_1


" Tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai akan aku bangunkan. " Alenta mengangguk, lalu menyenderkan kepalanya di sebelah kiri karena tidak mau kalau sampai nantinya akan jadi menyender ke Nick saat dia menyender ke kanan. Huh...! Tapi mau bagaimana lagi kalau sebenarnya dia juga merasa meletakkan kepalanya disebelah kanan malah merasa lebih nyaman hingga tanpa sadar dia berbalik saat sedang tidur, lalu tanpa sengaja jadi menyender di lengan Nick. Alenta tentu saja tidak memiliki reaksi karena dia tengah tertidur pulas, tapi Nick, pria itu semakin tak bisa menahan degup jantungnya yang semakin kuat.


Wanita ini kepada sih harus menyender disini? Bikin aku jantungan saja, sudah begitu rambutnya terlalu wangi dan membuatku tidak mau menahannya.


Sebentar Nick mencoba untuk membuat dirinya merasa tidak aneh, tapi mau bagaimana lagi? Hati dan pikirannya bertolak belakang meski sok menolak. Sudah, cukup! Dan dia juga tidak ingin membuat jantungnya meledak kalau terlaku lama membiarkan Alenta bersandar padanya. Dengan jari telunjuk, Nick mendorong kepala Alenta menjauh, lalu setelah terangkat dia mendorongnya dengan sedikit lagi tenaga lebih banyak hingga membuat kepala Alenta jatuh ke kiri dan membentur kaca mobil.


" Aduh! " Pekik Alenta. Segera setelah dia mulai sadar, dia menatap Nick karena dia curiga kalau Nick sengaja mendorong kepalanya sebagai aksi balas dendam saat dia tidur tadi.


" Bos, kau mendorong kepalaku, apa kau tahu bahwa harga kepala Alenta ini sangat mahal? Meskipun kau adalah Bos ku, tapi isi kepalaku lebih maksudku jauh lebih berkelas dibanding dirimu loh. "


" Itu bukan salahku! Kau yang tidur, laku menyender padaku, lihat nih! Aur liur mu mengalir seperti sungai Nil! " Nick menunjukkan lengan bajunya yang terkena air liur Alenta.


" Aduh, sayang sekali! Kalau begitu, tolong kembalikan air liurku! "


Nick menaikan sisi bibirnya karena kesal juga heran dengan Alenta.


" Ambil saja sendiri! Ini air liur yang baunya seperti kaos kaki dua puluh tahun belum di cuci! Bisa-bisanya minta dikembalikan?! Kalau bisa juga aku tidak mau kena liur mu! " Protes Nick, lalu meraih tisu dan mengusapnya degan kuat.


" Oh, memang Bos tahu benar seperti apa kaos kaki dua puluh tahun yang belum di cuci? Atau jangan-jangan kaos kaki yang Bos pakai belum pernah diganti selama ini? "


Nick membuang nafas marahnya.

__ADS_1


" Alenta, yuk kita buat anak! "


Bersambung.


__ADS_2