My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Tidak Membutuhkan Pria


__ADS_3

Nick dan Alenta saling menatap beberapa detik sebelum Alenta bangkit dari posisi aneh itu. Hah! Kenapa kok malah seperti di drama sih?! Batin Alenta kesal, sementara Nick, pria itu membenahi posisinya perlahan seraya menelan salivanya beberapa kali. Gila! Dia tidak menyangka kalau akan seperti ini, bibirnya, bibir Alenta, hah? Mereka barusan berciuman ya? Ya ampun! Nick segera menyerahkan es krim milik Alenta tapi tak berani menatap Alenta dan memilih melihat kaca jendela mobil, Alenta yang merasa aneh dan canggung juga masih memiliki niat dengan es krim coklatnya sehingga dia menerima es krim itu dan memberikan es krim rasa pisang untuk Nick.


Maudi, dan Dendi, mereka sungguh melihat bagaimana Nick dan Alenta bertingkah seperti anak muda hingga berciuman tanpa sengaja, tapi karena mereka sendiri yang merasa gugup dan aneh, Dendi dengan segera membelokkan kaca spion mobil agar tidak ke arah belakang, sementara Maudi, gadis itu memilih untuk melihat jalanan dari pada melihat situasi aneh dibelakang.


Tenang, Maudi! Kau akan segera terbiasa.


Setelah seharian bekerja, Nick dan Alenta kini kembali ke rumah dengan tubuh yang super lelah. Tadinya mereka berniat akan masuk ke kamar masing-masing dan tidur, tapi melihat sang Ibu pemimpin yang tak lain adalah Ivi, Nick dan Alenta lagi-lagi harus tidur di kamar yang sama.


" Bos, Nyonya Ivi kok sekarang rajin sekali datang ke rumah ya? " Tanya Alenta yang sejujurnya sangat tertekan harus berada di kamar yang sama lagi dengan Nick. Sebenarnya Nick termasuk sopan sih karena sebagai laki-laki normal dan berstatus suaminya, dia sama sekali tidak memanfaatkan itu untuk menekannya dan melakukan apa yang biasanya dilakukan suami istri di atas ranjang selain tidur saja.


" Mungkin dia ingin kita gencatan senjata. "


" Maksudnya? "


Nick memiringkan tubuhnya menatap Alenta yang terlentang menatap langit-langit dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal terkecuali hanya wajahnya saja.


" Maksudnya, mungkin dia tahu kalau kita belum kikuk kikuk selama menikah, jadi dia ingin kita mencoba siapa tahu jadi anak. "


Hah? Benar-benar sialan memang! Ngomong-ngomong soal kikuk kikuk, sekarang Alenta malah teringat kembali dengan apa yang terjadi siang tadi, dan betapa gugupnya dia setelah bibirnya dan bibir Nick bersentuhan.


" Oh iya, ngomong-ngomong hari itu, hari pas kita mabuk kenapa kita bisa tidur di ranjang yang sama ya? " Tanya Alenta tapi dia enggan menatap Nick karena merasa gugup sebagai seorang wanita yang tidak memiliki pengalaman membicarakan hal dewasa semacam ini.


Nick menghela nafas panjangnya, segera di bangkit dan duduk menyender di atas tempat tidur. Kalau di ingat lagi, memang sangat aneh karena sampai sekarang pun dia masih tidak mengingat apa yang terjadi malam itu sehingga dia harus menikah dengan Alenta. Sebentar Nick melihat Alenta yang masih saja dengan posisinya, dia mulai berpikir, kalau tidak ada hari itu, mungkin wanita yang selama ini dia yakini tidak akan mungkin bisa dia dapatkan apalagi menjadi istrinya. Sekarang apa gunanya memikirkan penyebabnya? Toh yang paling penting Alenta sudah menjadi istrinya, sekarang dia hanya perlu berusaha membuat Alenta jatuh cinta kepadanya sesuai dengan anjuran Reiner.


" Alenta, dari pada memikirkan hari itu, bagaimana kalau membicarakan si codot gila mu itu? "


" Siapa maksudnya? "


" Arsan! "


" Arkan! " Alenta membenahi segera penyebutan nama yang salah Nick sebutkan.

__ADS_1


" Oh, iya! Bagaimana hubunganmu dengan dia? "


" Biasa saja. "


" Kau masih ingin kembali dengannya? "


Alenta terdiam sesaat, lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Nick.


" Sepertinya aku tidak memerlukan pria di hidupku. "


" Kenapa? " Nick bertanya dengan santai, tapi sejujurnya hatinya benar-benar sangat perih mendengar ucapan Alenta barusan. Tidak membutuhkan pria? Itu juga berarti kalau dia tidak dibutuhkan juga kan?


" Aku tidak bisa percaya dengan pria. Terlalu baik aku juga takut, kalau fxk boy sepertimu juga aku takut. Intinya aku merasa kalau aku akan baik-baik saja tanpa pria. "


" Alenta, kita kan sudah menikah, masa iya tidak butuh pria, terus aku bagaimana dong? Aku ini ganteng iya, kaya iya, bentuk tubuh bagus, masalah durasi ranjang juga tidak perlu diragukan, kalau coba dulu bagaimana? Baru saja satu laki-laki sudah menyerah. "


Alenta menghela nafas sebalnya.


Cerai? Kenapa juga mendengar kata cerai tubuhnya menjadi bergetar ngilu? Ini sudah dua bulan, bahkan juga akan jalan tiga bulan hubungan pernikahan tidak biasa yang mereka jalani. Terasa begitu cepat waktu berlalu, padahal Nick merasa seperti batu kemarin saja kejadian malam mereka mabuk terjadi. Duh! Sudahlah, membahas tentang ini benar-benar membuatnya merasa pusing, jadi lebih baik kalau mengalihkan pembicaraan saja.


" Ngomong-ngomong, lusa kan acara ulang tahun perusahaan, kau jadi ikut kan? "


Alenta mengernyit karena dia hampir lupa, padahal dia sendiri yang memimpin rapat tentang acara ulang tahun perusahaan.


" Aku hampir lupa, Bos! "


Nick menghela nafasnya. Sebenarnya maklum saja sih kalau Alenta lupa, pekerjaannya kak bisa dibilang jauh lebih banyak dari pada Nick sendiri. Sejenak Nick berpikir, mau sampai kapan ya Alenta terus berada di depannya dan memimpin serta menghalau serangan saat dia melakukan kesalahan selama memimpin Chloe? Kalau seperti itu terus, apakah Alenta tidak akan merasa lelah?


" Alenta, jadwal lusa kita undur selama beberapa hari kalau tidak ada yang mendesak ya? "


" Kenapa? " Tanya Alenta bingung.

__ADS_1


" Acara party camping kan cuma buat para staf saja? "


" Sesekali saja, Alenta. Toh selama ini aku belum pernah bergabung dengan kalian semua kan? "


" Terserah Bos saja, tapi camping para pegawai sudah ditentukan melalui vote terbanyak, dan vote terbanyak itu adalah di salah salah kota yang berada di lereng gunung, dan udaranya lumayan dingin. Bos yakin mau ikut? "


Dingin? Heh! Bagus juga kalau untuk kita berduaan.


" Ikut lah, kau ikut kan? "


" Ikut! Bos ikut yang kloter kedua saja, kalau aku kan ikut yang pertama. "


" Tidak mau ah! Aku ikut kloter pertama juga! "


Alenta menghela nafas sebal.


" Terserah saja sih, tapi aku tidak ikut camping. Aku menginap di motel saja. "


Nick mengernyit bingung.


" Kenapa? "


Alenta terdiam mengingat kejadian yang sudah puluhan tahun berlalu. Hari itu, hari dimana dia berulang tahun, dia meminta sang Ayah untuk membawanya camping bersama, tapi dengan alasan pekerjaan dia menolak dan menjanjikan lain hari. Tak mau membuat Alenta kecewa, sang Ibu mengajaknya pergi berduaan saja untuk camping di tempat yang sangat terkenal untuk para keluarga camping. Meski hanya pergi berdua nyatanya Alenta yang saat itu berusia enam tahun sangat bahagia. Dia berlarian mengelilingi tenda yang sudah disediakan disana, dan tanpa sengaja dia melihat Ayahnya tengah menggendong seorang anak kecil yang kira-kira usianya tiga tahunan bersama dengan seorang wanita dan masuk ke sebuah tenda yang lumayan jauh dai tenda miliknya.


Ayah, saat kecil aku pikir aku tidak akan bisa hidup tanpa Ayah, tapi nyatanya kau memaksaku untuk bisa hidup tanpa ingin melihatmu lagi. Aku membencimu, dan akan seperti itu.


Alenta ya sadar mulai mengisi, bahkan dia juga terisak pelan karena tak tahan mengingat kejadian itu. Nick, pria itu pikir Alenta hanya sedang meledeknya saja, tapi lumayan lama dia memperhatikan, kini dia sadar Alenta benar-benar menangis.


" Hei mulut kobra? Aku belum menganu-anu mu saja kau sudah menangis! "


Tak ada tanggapan. Tapi Nick mengingat kembali sebuah novel yang ia baca kalau tindakan yang paling tepat saat wanita menangis adalah memeluknya, maka dengan segenap keberanian Nick memeluk Alenta dari belakang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2