
Alenta menepis tangan Talita, tapi enggan baginya untuk menatap gadis itu. Benar, dia memang marah, benci, kecewa, sehingga semua rasa itu bagaikan rasa sakit yang amat besar dan tak ada obatnya. Sekarang kenapa dia harus sekali berbakti seolah dia adalah anak yang baik? Tidak! Alenta bukan anak yang baik apalagi memikirkan kata berkati untuk Ayahnya. Semua sudah di akhiri dengan sungguh-sungguh, maka dengan begitu Alenta sudah tidak akan melihat atau mendengar lagi nama Ayahnya yang sangat membuat hidupnya tak tenang.
Alenta tersenyum tipis dengan tatapan sangat dingin, bahkan Nick pun belum pernah melihatnya sama sekali sebelumnya. Tatapan seperti itu benar-benar seperti tatapan orang yang menunjukkan kebencian tak terukur, juga rasa muak akan situasi yang membelenggunya dan sudah membuat Alenta merasa muak.
Talita sebenarnya sangat takut melihat bagaimana Alenta menatap seperti itu, tapi karena Ayahnya yang sangat membutuhkan operasi yang terkendala biaya, dia hanya bisa memohon dan merendahkan diri agar bisa melihat Ayahnya kembali sehat.
" Berapa uang yang kalian butuhkan untuk menyelamatkan pria itu? "
Talita mundur selangkah Karena tidak tahan dengan ketukan dari tatapan Alenta. Bahkan tubuhnya juga gemetar meski dia sadar kalau Aleta adalah maklum Tuhan yang hidup normal, makan dan minum sama dengannya.
" Kenapa diam? "
Talita menelan salivanya, dia menunduk ngeri, tangannya meremas baju yang ia gunakan dengan kuat. Kali ini dia benar-benar merasa terhina hanya karena kalimat dan juga tatapan Alenta.
" Ada banyak, selain operasi jantung, Ayah juga memiliki tumor di perutnya. Saat ini yang paling penting adalah mengoperasi kebocoran jantung Ayah. "
Talita mengeluarkan dompet kecil dari tasnya, dan memberikan sebuah kartu debit kepada Talita.
" Kartu itu adalah semua tabunganku, aku bahkan tidak pernah memberikan sepeserpun karena Ibuku selalu menolak. Tapi tidak disangka kalau pada akhirnya orang itulah yang menerima uang tabungan ku selama bekerja ini. Ambillah! " Alenta tersenyum mengejek.
" Alenta, buat aku- " Ucapan Nick barusan terpaksa dia hentikan karena Alenta menatapnya tajam.
" Isi tabunganku sekitar tiga ratus juta, dengan ini aku membeli kebebasanku dari kalian. Bawalah, ambil semua itu dan jangan sekalipun datang lagi padaku. Oh iya, jika kau melihatku, maka kau harus segera bersembunyi dan jangan membiarkanku melihatmu. "
Rasanya ingin sekali membuang kartu itu, mematahkannya, lalu menginjak-injak dengan penuh kebencian. Tapi, dia sangat membutuhkan uang itu demi Ayahnya karena neneknya tidak bisa membantu sama sekali setelah dia terserang stroke beberapa hari yang lalu, bahkan biaya rumah sakitnya juga tidak tahu dai mana.
__ADS_1
" Mau ambil atau tidak? "
Dengan tangan gemetar, Talita menerima kartu dari tangan Alenta menggunakan kedua tangannya. Sudah jelas dia membenci Alenta, tapi masih harus mengemis seperti ini seperti sampah sudah dia bagi Alenta. Tidak apa-apa, yang paling penting adalah Ayahnya selamat sekarang.
" Terimakasih. " Ucap Talita.
" Tidak perlu berterimakasih, aku sudah membeli kebebasanku, jadi aku tidak pantas menerima ucapan terimakasih mu. "
Alenta meninggalkan Talita yang masih berdiri di sana menahan tangis, Nick juga membarengi langkah kaki Alenta menuju lift. Sebenarnya Alenta tahu benar kalau para pegawai sudah mulia berbisik begitu melihat Alenta dengan Talita tadi, tapi masala mau sala paham atau tidak mereka, Alenta merasa itu tidak penting. Dia hanya perlu bekerja dengan baik, melakukan apa yang dia bisa lakukan agar perusahaan Chloe semakin maju.
" Sayang, para pegawai sepertinya mulai menggosipkan mu. "
Alenta menetap Nick yang seperti menahan kesal dengan rahang yang mengeras, kepalan tangan juga sudah terbentuk dan menguat. Tidak masalah orang lain akan berkata apa, berpendapat bagaimana tentang dirinya. Karena tida perlu menjelaskan kepada semua orang tentang diri kita sendiri, biarkan yang ingin benci membencinya, sedangkan orang yang menyukainya pasti akan berpikir positif sebelum beralih membenci.
" Tidak apa-apa, aku tidak membutuhkan pemikiran buruk orang, karena yang paling penting adalah orang-orang yang menyayangiku akan tetap mempercayaiku. Iya kan? "
Nick tersenyum, lalu mengangguk sembari mengeratkan genggaman tangan mereka. Eh, lupa kalau ada CCTV, jadi disela-sela Nick tersenyum, Nick juga menatap ke arah kamera pengawas dengan tatapan tajam.
" Ah, maaf Bos! Aku tidak lihat! Aku tidak lihat! " Ucap pegawai yang bertugas mengawasi CCTV. Dia menutup kedua matanya setelah Nick menatap ke arah kamera pengawas yang jelas tatapan itu adalah untuknya.
***
Setelah mendapatkan kartu debit dari Alenta, segera dia kembali ke rumah sakit dan membayar agar Ayahnya segera ditangani.
Ibu Rahayu menatap melas wajah Talita yang begitu bengkak karena banyak menangis. Benar, dia tahu dari mana uang itu berasal karena sebelum berangkat Talita sempat meminta izin untuk menemui Alenta demi membantu biaya operasi suaminya.
__ADS_1
" Talita, maaf karena lagi-lagi memintamu mendatangi Alenta, dan maaf karena selalu membuatmu tertekan harus menghadapi Alenta. " Ibu Rahayu menyeka air matanya. Apa mau dikata, beberapa tahun terakhir restauran yang mereka dirikan semakin merosot karena banyaknya pesaing. Mulai dari makanan tren jama sekarang, juga cafe-cafe ala anak muda mulai banyak didirikan di samping restauran nya, lama kelamaan dia kehilangan pelanggan meski sudah mencoba untuk mengikuti jaman kekinian.
" Aku selalu bertanya-tanya, Ibu. Apakah sebegitu sulitnya menerima kita sebagai keluarganya? Padahal aku bisa menerimanya, aku terima juga dia sering mengatakan banyak ucapan kasar juga perlakuan yang kurang pantas. Tapi kenapa dia bersikap seolah-olah keluarga kita seperti sampah?. "
Ibu Rahayu tertunduk tak berdaya, dia menyeka air matanya sebentar lalu kembali menatap Talita.
" Nak, kau tahu kenapa Ibu selalu memintamu untuk lebih sabar menghadapi Alenta? Itu karena Ibu membuat kesalahan yang besar kepada dia. Ibu memberikan pukulan yang membekas di dalam hatinya. "
Talita menatap Ibunya dengan dahi mengernyit. Jelas Talita bingung apa arti dari deretan kalimat aneh yang keluar dari mulut Ibunya.
" Waktu itu, saat Ibu sedang makan siang bersama teman-teman Ibu, Ibu tidak sengaja bertemu dengan Alenta, dia yang saat itu masih berusia belasan tahun tiba-tiba menyerang Ibu dengan memukul dada Ibu terus menerus sembari menangis, lalu mengatakan banyak hal yang memalukan. Mulai dari Ibu sudah mencuri Ayahnya, Ibu yang sudah memberikan putri lain sehingga Ayahnya melupakannya, dia terus mengatakan kata-kata yang membuat Ibu malu di hadapan semua orang yang mulai menatap Ibu. Ibu menarik tangan Alenta dan membawanya ke lorong toilet, Ibu, "
" Ibu apa?! "
" Ibu memukul pipi Alenta karena terlaku kesal. "
Talita tercekat, matanya kembali memerah seperti menahan tangis karena kecewa.
" Ibu mengatakan bahwa, dia adalah anak bodoh, sehingga Ayahnya membencinya. Alenta sangat buruk sikap, dan terlalu manja karena terus mengemis kasih sayang Ayahnya. "
" Ibu, kebohongan apa yang Ibu katakan? "
" Maaf, kalian menderita karena Ibu, maafkan Ibu. "
Bersambung.
__ADS_1