My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Bodoh Dan Pengecut


__ADS_3

" Iya, dia salah! Sudah jelas kan? " Ujar Rebecca dengan wajah angkuhnya. Sementara Nick, pria itu hanya bisa diam dan melihat saja karena takut kalau dia ikut campur malah dia yang akan kena sialnya.


Maudi, gadis itu tak membantah dan masih saja menunduk seolah tak tertarik untuk membela dirinya secara aktif seperti yang dilakukan Rebecca. Sementara Alenta, dia kini semakin tahu bagaimana bisa Maudi yang biasanya hanya akan bergerundel di belakang dan tetap hormat itu bisa sampai tidak bisa menahan diri, dan tentu saja alasannya karena mulut Rebecca yang sangat hebat membuat orang merasa terhina.


" Nona Rebecca, ini adalah kator. Disini adalah tempat yang digunakan hanya untuk bekerja, jika anda merasa sangat merindukan kekasih anda, tolong tunggulah waktu kantor selesai. Tapi jika anda sudah sangat kesulitan dan merasa tubuh anda gatal, maka carilah orang lain untuk menggaruknya. "


Rebecca menganga kesal tapi dia harus menahannya karena tidak ingin bereaksi berlebihan di hadapan Nick.


" Alenta, maaf saja kalau aku juga terlihat bersalah. Tapi kesalahan sepenuhnya ya tentu saja ada pada perempuan ini. Dia terus saja melarang ku dan mencegahku dengan berbagai cara, belum lagi dia mengatai ku tidak paham aturan, tidak bisa membaca situasi, dan banyak lagi kata-katanya yang tidak enak fi dengar. " Rebecca mulai berakting sedih, lalu berjalan mendekati Nick. Duduk di dekatnya dan memeluk erat lengan Nick dengan wajah pilunya.


" Babe, kau tahu dan kau lihat sendiri bagaimana perlakuan Alenta kepadaku semalam kan? Kalian berdua kompak menghinaku dan aku masih bisa menerimanya meski hatiku sangat terluka. Lihatlah jemari ku yang lembut ini babe, jariku lecet dan rasa perihnya masih terasa sampai sekarang ini. "


Alenta menghembuskan nafas kasarnya, sudah habis kesabaran yang ia miliki, tapi sial! Ini benar-benar harus dia tahan dan wajahnya juga harus menampilkan senyum sialan yang terasa manis. Sementara Nick, pria itu nampak tak tega melihat bagaimana memang jari Rebecca terluka, bahkan bekas merah di sekeliling luka lecet itu jelas terlihat olehnya.


" Bagaimana kalau kita ke dokter sekarang? " Ucap Nick. Sungguh senyum indah sudah mulai terbit di wajah Rebecca, tapi sepertinya itu tidak akan bertahan lama karena Alenta juga sudah akan mulai membuka mulut.


" Jangan lupa, satu jam dari sekarang Bos ada janji degan Top entertainment untuk membicarakan masalah iklan produk kita yang baru. "


Memang sialan! Mau marah tidak berani, tidak marah menumpuk di dada seolah ingin meledak dan memaki Alenta dengan membabi-buta. Rebecca sebenarnya ingin sekali memaksakan senyum seolah tidak ingin terlihat kesal dihadapan Nick, tapi sungguh bibirnya seolah tak ingin melakukannya meski dia coba berkali-kali.


" Bisa tunda jadwalku satu jam kedepan tidak? " Pinta Nick dengan wajah seolah memohon. Tapi sayangnya, Alenta bahkan tertarik dan terlihat tidak enggan mengartikan ekspresi macam apa yang ditujukan bosnya itu.

__ADS_1


" Jemari indah pacar anda hanya lecet, Betadine saja sudah sangat cukup kok. Masalah jadwal anda sudah mengundur beberapa pertemuan dari beberapa hari yang lalu karena acara tidak penting anda dengan kekasih anda. Sekarang ini anda sudah banyak membuang waktu untuk hal yang kurang penting, mohon pikirkan kembali, dan saya harap anda tidak lagi memikirkan tentang pengunduran jadwal kegiatan. "


Anda? Kalau bahasa Alenta sudah se-baku ini, ya tentu saja artinya Alenta sangat marah. Nick, pria itu hanya bisa menelan salivanya karena tidak berani membantah ucapan sekretarisnya itu.


" Kalau begitu, aku mau perempuan itu dipecat karena tindakan kurang ajarnya padaku! " Rebecca yang tak bisa melampiaskan kekesalannya kepada Alenta, kini menunjuk Maudi dengan semangat. Niatnya sih ingin ia gunakan untuk menunjukkan kepada Alenta dan Maudi kalau dia juga sama berpengaruhnya seperti Alenta.


" Oke deh! " Ujar Nick yang sebenarnya hanya oke saja di mulut karena mendengarkan rengek dari mulut Alenta juga sangat mengganggu dan membuatnya pusing. Andaikan saja, Rebecca tidak bisa memenuhi kebutuhan psikologisnya, dan wajahnya yang cantik itu, sudah pasti Nick akan menyingkirkannya sedari dulu.


Sementara Alenta, gadis cantik itu kini menatap Nick dengan tatapan kesal. Jemari yang mengepal dia coba untuk merenggangkannya perlahan, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan dengan harapan kekesalannya akan sedikit berkurang. Sungguh memang tidak mudah untuk mengurangi kekesalan, mau menarik nafas sampai oksigen di dunia ini habis sepertinya juga tidak mampu mengurangi sedikit saja yang namanya kesal.


" Bos, kalau boleh saya dengar lagi, apa yang anda katakan barusan, Bos? " Alenta bertanya dengan bibir tersenyum, sungguh manis, tapi matanya melotot dengan pandangan tajam penuh ancaman dan terasa menakutkan bagi Nick.


Duh! Mau melengos tapi kepalaku seperti terkunci, tidak melengos tapi Alenta terlalu seram. Ini mulut kenapa juga asal bunyi Oke! Padahal aku tidak berniat begitu loh.


" Anu, anu Alenta! Itu, itu maksudnya, berikan bonus saja kepada Maudi, dia sudah banyak bekerja keras kan? " Nick memaksakan tawanya, mengabaikan saja kedua telapak tangan yang basah berkeringat ya tentu saja karena ngeri dengan Alenta.


Alenta tersenyum, begitu juga dengan Maudi yang merasa lega karena tidak jadi dipecat. Sementara Rebecca, gadis itu ya tentu saja kesal. Dia melotot kaget dengan mulut terperangah tak percaya bahwa Nick lagi-lagi akan lebih mendengarkan ucapan Alenta dibanding dirinya. Padahal, dia sudah banyak menderita, tapi kenapa Alenta masih saja membuatnya kesal sampai sekarang?


" Perasaan tadi ucapan Bos tidak sepanjang ini. " Ujar Alenta lalu menggerakkan bola matanya seolah-olah tengah berpikir.


" Oh, Alenta, kau pasti sangat siala- Eh! Maksudku sangat perhatian kepada Maudi ya? Se sebenarnya tadi aku hanya bilang begini, Maudi kau hebat! Iya kan Maudi? " Nick melotot ke arah Maudi yang kini mengeryit dan tidak sengaja tatapan matanya bertemu dengan Nick. Aduh! Gila sih seram sekali tatapan mata seperti itu, kok ya beda sekali saat menatap Alenta dan dirinya?

__ADS_1


Bos kenapa malah seperti suami yang takut istri ya?


Maudi menatap ke arah Alenta, lalu kembali menatap Nick.


Apa istri Bos itu adalah Alenta?


" Maudi, kau tidak sedang mengacuhkan ku kan? " Nick menatap Maudi dengan tatapan mengancam, dan itu sukses membuat Maudi tersadar dari lamunannya.


" Iya, Iya bos! Maklum saka Bos, tadi habis ditampar oleh nona Rebecca, jadi telingaku agak berdengung. "


Alenta menatap Rebecca dengan tatapan kesal, sementara yang di tatap kini malah terlihat manja dengan menyembunyikan wajahnya di belakang lengan Nick.


" Kenapa kau bodoh hah?! " Kesal Alenta kepada Maudi.


" Aku, minta maaf deh. Aku baru tahu kalau korban juga bisa bersalah. " Maudi kembali menunduk. Sementara Nick dan Rebecca, dia merasa kalau kali ini sepertinya Alenta akan mengerti bahwa kalau sampai di tampar, berarti memang Maudi kurang ajar sekali tadi.


" Aku janji tidak akan membuat ulah lagi, tidak akan membuat nona Rebecca merasa terganggu. " Pinta Maudi.


" Hemp! Di pecat saja itu sudah termasuk hukuman yang ringan! " Ujar Rebecca menyuarakan pendapatnya.


" Bodoh, dasar bodoh! Kalau ada yang menaparmu, seharusnya kau membalasnya dengan menarik rambutnya sampai dia jatuh, menendang bokongnya, lalu menginjak wajahnya dengan heels mu! Dari mana kebodohanmu berasal?! Aku kan tidak mengajarimu untuk jadi pengecut dan menerima saja saat kau dipukul?! "

__ADS_1


" A Alenta, kau, ja jangan bicara dengan menyeramkan begitu. " Ujar Nick ngeri sendiri.


Bersambung.


__ADS_2