My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Tidak Akan Memafkan


__ADS_3

Alenta tersenyum melihat bagaimana dua orang di hadapannya terlihat tak berdaya karena ucapannya yang selalu menekan, juga menyudutkan. Tapi hanya itu yang bisa dilakukan Aleta untuk menyampaikan betapa marahnya dia, dari pada menggunakan kekuatan untuk memukul. Ayah Baskoro menatap Alenta dengan tatapan pilu, sementara Ibu Rahayu yang berani menatap dan hanya menunduk saja.


" Oh iya, aku sangat penasaran dengan satu hal ini, apakah rasanya enak? " Tanya Alenta kepada Ayah Baskoro, bibir Alenta boleh saja tersenyum dengan begitu manis, tatapannya juga tak menunjukkan emosi apapun, tapi kata-kata yang ambigu itu entah mengapa membuat keduanya merasa tersudutkan.


" Apa maksud pertanyaan mu, Alenta? " Tanya Ayah Baskoro.


Alenta menghela nafas, lalu menatap Ayah Baskoro dengan senyum tipis yang sulit untuk diartikan apa maksudnya.


" Apakah rasanya enak saat berselingkuh? Malam kemarin melakukan hubungan suami istri dengan Ibuku, saat siang hari kalian pasti mencuri waktu untuk melakukannya juga kan? Apakah rasanya enak? Apakah kau pernah salah menyebut nama? Dan anda, Nyonya Baskoro, apakah anda tidak merasa jijik dengan laki-laki yang dalam masa yang sama melayani istrinya, lalu melayani mu? "


" Alenta! " Ayah Baskoro menatap Alenta marah, sementara Ibu Rahayu mencoba menenangkan dengan menggenggam tangan Ayah Baskoro dan mengusapnya.


" Kenapa marah? Berarti pertanyaan ku itu jawabannya adalah iya? " Alenta tersenyum dengan begitu manis, tapi percayalah kalau tatapan Alenta benar-benar membuat mereka tertekan dan sedikit terasa sesak.


" Alenta, masalah itu anggaplah dugaan mu benar, tapi kami kesini karena benar-benar ingin memperbaiki hubungan di antara kita. " Ucap Ibu Rahayu dengan nada bicara yang pelan dan sopan. Tapi percayalah, cara bicara seperti itu justru membuat Alenta semakin kesal. Apakah dia menggunakan nada bicara seperti itu sedari dulu? Kenapa dia menggunakan nada bicara seolah-olah Alenta menindas nya? Hah! Sungguh tidak tahan lagi dengan semua ini, batin Alenta.


" Kalian kesini bukan untuk memperbaiki hubungan, tapi kalian kesini untuk menjelaskan diri kalian dan membuatku tidak lagi membenci kalian, dan mencoba untuk memaafkan kan? " Alenta tersenyum sinis.


" Apa yang terjadi di masa lalu, tidak akan mungkin bisa aku lupakan, masalah memaafkan kalian aku tidak ingin melakukannya. Sudah bertahun-tahun, kalian juga terlihat sangat serasi, kalian juga punya keluarga impian kalian sendiri. " Kini Alenta menatap Ayah Baskoro yang mulai terlihat ingin menangis terbukti dengan matanya yang memerah.


" Kau, saat kau berselingkuh pernahkah kau memikirkan hari seperti ini akan tiba? Pernahkah kau membayangkan jika darah daging mu sendiri akan membencimu, bahkan menganggap mu seperti bajingan yang tidak lebih baik dari pada sampah? Kau bisa menolak untuk berselingkuh, tapi kau tidak melakukannya. Bukan karena kau tidak tega dan baik hati, tapi karena kau tidak menggunakan hatimu dengan baik, itulah kenyatannya. Kebencian yang aku miliki ini, tidak akan pernah bisa aku hilangkan, semakin sering kalian menunjukkan wajah kalian di hadapanku, kebencian ku akan naik semakin tinggi. "

__ADS_1


" Alenta, Ayah terima semua kebencian darimu, tapi Ayah tetaplah Ayahmu, Ayah tidak bisa membencimu, Ayah juga tersiksa dengan hubungan buruk kita, Ayah hanya ingin hidup tenang, bahagia bersama semua anak-anak Ayah juga istri Ayah, jika permintaan ini terlalu berat, maka- "


" Maka berhentilah menemui ku! " Alenta menatap Ayah Baskoro dengan tatapan yang begitu marah.


" Kau hanya ingin bahagia, maka kau ingin aku memaafkan mu, juga menerimamu lagi? Apa kau gila? Kau hanya ingin bahagia? Kalau begitu, pergilah sana! Kau punya dua anak, kau juga punya istri, kenapa lagi kau datang padaku?! " Alenta begitu marah hingga nafas ya menderu, matanya memerah, juga sudah mulai meneteskan air mata.


" Alenta, bukan itu maksud Ayahmu. Cobalah untuk mengerti dia sedikit saja, dia selama ini juga tersiksa saat tidak bisa bersamamu. " Ucap Ibu Rahayu.


" Diam! Tutup mulutmu rapat-rapat! " Alenta menatap tajam, dia sungguh mengabaikan air matanya yang jatuh deras.


" Kau bilang dia tersiksa? " Alenta terkekeh, dia menatap Ayah Baskoro dan Ibu Rahayu dengan tatapan meremehkan seraya menyeka air matanya.


" Saat aku ulang tahun beberapa tahun lalu, aku datang kerumah kalian, aku bahkan menyiapkan kue ulang tahun sendiri, di sepajang jalan aku membayangkan betapa indahnya bisa menyanyikan lagu ulang tahun untukku bersama Ayahku, aku membayangkan berpelukan darinya, membayangkan tangan hangatnya mengusap kepalaku dan mengatakan, selamat ulang tahun Alenta. Oh, aku juga sudah mengirim banyak sekali pesan sebelum datang, tapi aku tidak mendapatkan balasan satupun. Saat aku datang, aku melihat rumah kalian dihias dengan begitu mewah, dan ternyata kalian sedang tersenyum begitu bahagia merayakan pesta ulang tahun anak kedua kalian, coba kalian ingat, pernahkah bajingan itu datang menemui saat aku ulang tahun semenjak kalian hidup bersama? " Alenta menatap Ayah Baskoro dan Ibu Rahayu. Ayah Baskoro nampak bingung dengan dahi mengernyit, sementara Ibu Rahayu tertunduk entah apa maksudnya.


" Kau, kenapa melakukannya? " Tanya Ayah Baskoro seraya menatap Ibu Rahayu dengan begitu kecewa.


Sementara Alenta, gadis cantik itu hanya bisa menghela nafas dan menyeka sisa air mata yang tertinggal di wajahnya.


" Sudahlah, semua itu sudah tidak ada gunanya karena sudah terjadi. Tapi satu hal yang ingin aku tekankan, aku tidak ingin berhenti membenci kalian, dan aku harap juga tidak lagi bertemu kalian. Aku sudah lelah membicarakan masa lalu karena tidak akan mengubah apapun di masa depanku. "


" Alenta, tapi ingatlah satu hal ini saja, Ayah adalah Ayahmu. Ayah tidak akan bisa melakukannya, benar, Ayah tidak bisa menunjukkan bagaimana perasaan Ayah selama jauh darimu, tapi harapan seorang Ayah untuk bersama mu tidak akan pernah bisa hilang. "

__ADS_1


Alenta membuang nafas sebalnya, lalu tersenyum.


" Tentu saja itu akan terjadi. "


" Benarkah? " Ayah Baskoro nampak bahagia.


" Iya, di dalam mimpimu. " Sontak senyum bahagia itu lenyap seketika.


" Nyonya Baskoro, aku tidak tahu apakah kau menganggap ku begitu bodoh atau bagaimana, tapi aku akan memberitahu sedikit bagaimana seorang Alenta yang sebenarnya. " Alenta menatap Ibu Rahayu dengan tegas.


" Kau ikut datang bukan untuk meminta maaf kan? Kau datang karena takut pria mu akan luluh saat melihat Ibuku, dan meninggalkanmu kan? "


Ibu Rahayu menunduk tak berani menjawab.


" Kau tidak perlu khawatir, Ibu ku boleh saja bodoh dulu. Tapi, Ibuku juga tidak akan mungkin memungut barang bekas yang sudah di pungut orang lain, jadi jangan terlalu was-was. " Alenta tersenyum miring.


" Kau, pasti hidup dengan ketakutan itu selama ini ya? "


Ayah Baskoro terdiam menatap Rahayu, sementara Ibu Rahayu masih tak berani menjawab.


" Sekarang pergilah, waktu luang ku sudah habis, dan satu lagi, jagalah baik-baik anak gadis kalian supaya tidak mengalami seperti yang Ibuku alami, atau menjadi seperti Ibunya. " Alenta tersenyum miring, laku bangkit dari duduknya.

__ADS_1


" Oh iya, jangan lupa benahi tempat duduk yang kalian pakai ya? Ibuku sangat sibuk dan tidak memiliki waktu luang yang banyak soalnya. "


Bersambung.


__ADS_2