My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Tolong aku!


__ADS_3

Ivi mengunyah makanan dengan tatapan menyelidik kepada sepasang manusia yang duduk didepannya. Iya, dia adalah Nick dan juga Alenta.


Mereka pikir aku ini bodohnya? Yang satu sibuk dengan WC umum, yang satu dilema dengan cintanya.


Ivi menghela nafas panjangnya, tidak tahu kapan hati kedua manusia di depannya itu akan saking tergerak, tapi keyakinan dihatinya bahwa Alenta akan bisa membuat Nick berubah sangatlah kuat hingga membuatnya rela bersabar dan tetap diam mengawasi saja.


Alenta, gadis itu sesekali mencuri pandang ke arah Ibu mertuanya yang jelas sekali sedang membaca situasi mereka saat ini. Sebenarnya bukan hal aneh kalau mereka ada dalam keadaan memiliki pasangan lain, tali terap saka itu adalah kesalahan kan? Sama seperti malam itu yang hingga saat ini tidak satu adegan pun selama berada di kamar Nick bisa ia ingat. Mungkinkah efek mabuk bisa sehebat itu? Ataukah memang karena dia yang terlaku payah dengan wine? Tidak tahulah, yang pasti saat ini dia harus lebih hati-hati karena dari cara Ibu mertuanya menatap, sepertinya sedikit banyak apa yang terjadi hari ini sudah diketahui oleh Ibu mertuanya.


" Alenta, bagaimana pekerjaan di kantor hari ini? " Tanya Ivi karena tidak ingin terlalu canggung dan sepi.


" Semuanya lancar, Ibu. "


" Lancar? Pasti kau banyak menguras tenaga dan otak selama ini ya? Meskipun Nick adalah putra kandung dari keluarga Chloe, tapi otaknya tidak se-encer Ayah dan juga kakeknya yang dulu pernah memimpin Chloe. "


Benar, bahkan jauh sekali dari kata encer loh. Ah, kalau tidak mirip Ayah dan kakeknya, berarti mirip Ibunya dong? Hehe ...


" Itu sudah biasa kok Bu, jadi sudah tidak terlalu dirasa lagi. "


" Jangan terlalu stres, soalnya nanti akan membuat kau lebih lama untuk hamil. "


Hamil? Lagi-lagi hamil?!


Nick hampir saja tersedak, tapi untung saja gelas yang berisi air di dekatnya mudah untuk disambar dan ditenggak sampai habis tak tersisa.


" Sebenarnya Ibu tidak memaksa harus segera memiliki anak, hanya saja kalau bukan denganmu, Nick yang otaknya pas-pasan ini akan sulit memiliki anak dengan kepintaran yang baik sepertimu. Kau sendiri tahu kan? Ayahnya Nick, kakeknya, bututnya, semuanya sangat pandai dalam menjalankan bisnis. Tapi Nick, tidak tahu akan jadi apa kalau tidak ada kau yang membimbingnya. "


Alenta memaksakan senyumnya sembari berpikir dengan kerumitan kata-kata Ibu mertuanya yang menjurus bahwa hanya membutuhkan Alenta agar penerusnya memiliki kecerdasan begitu? Oh, ya ampun! Ini harus bahagia atau bagaimana sih?!


Nick, pria itu hanya bisa diam saja karena memang tidak membantah kata-kata seperti itu. Dia akui, sedari dia lahir dia selalu dimanjakan dengan kemewahan, terutama dari kakek buyut dan nenek buyutnya. Dia selalu hidup dengan bahagia tanpa kekurangan apapun, kasih sayang, kemewahan, semua itu sudah menemani hidupnya. Hingga tiba saatnya dia diharuskan memimpin perusahaan di usia dua puluh lima tahun. Bukan sekali dua kali orang tua, kakek dan juga neneknya mengatakan bahwa dia harus segera belajar dengan tekun karena Chloe akan menjadi tanggung jawabnya. Tapi Nick yang merasa kata-kata itu hanyalah perintah tak berarti, dia mengabaikan dan lebih memilih fokus dengan hal-hal yang membuatnya bahagia. Tiba saatnya dia harus mengganti setelah baju casual dengan baju kantor, dia mulai merasakan stres dia awal-awal mulai bekerja. Tapi saat Alenta datang, semua hal yang membuatnya stres mulai berkurang. Alenta dengan telaten menuntun Nick menjadi lebih baik, menjelaskan tanpa lelah meski harus mengulangnya berkali-kali hampir setiap hari. Memangnya semua berkat Alenta, tapi kalau urusan hati mana bisa membuatkan saja hanya karena Alenta itu cerdas? Iya tentu saja tidak kan?


" Bu, jangan diteruskan lagi deh. " Ujar Nick.


" Kenapa? Kau merasa bersalah karena tidak maj belajar dulu? Cih! Pokoknya besok kau harus mengajak Alenta berjalan-jalan, lihat wajahnya sangat stres karena pekerjaan yang hampir semua kau limpahkan padanya. "


" Tidak kok, Bu! Dia hanya sedikit membantu saja, iya kan Alenta? "

__ADS_1


" Nick, jangan berpikir kalau Ibu bodoh ya? Kau memang bodoh, tapi Bu tidak bodoh! " Kesal Ivi.


" Tapi Ayah bilang, sifat ku mirip seperti Ibu. "


Ivi terperangah kesal, sejenak dia membuang nafas kasarnya.


Nathan, berani-beraninya menjelekkan istrimu sendiri kepada anakku! Lihatlah saat aku kembali nanti, kau akan tahu rasanya lantai di malam hari.


" Ibu tidak bodoh! Jelas sekali bodoh mu itu berasal dari ayahmu! Kau, dan juga Ayahmu sama saja, menjengkelkan! " Ivi bangkit dari duduknya lalu menatap kesal.


" Pokoknya besok kalian harus pergi jalan-jalan, lalu unggah photo kalian di media sosial, kalau tidak, kau akan tanggung akibatnya, Nick. "


Nick menelan salivanya sendiri, di menatap punggung Ibunya yang mulai menjauh dengan perasaan tertekan. Sementara Alenta, gadis itu hanya bisa terdiam pasrah.


Sekarang aku semakin yakin Bos itu mirip siapa, dan dari mana otak minimun Bos berasal.


Nick tadinya ingin melanjutkan kegiatan makan malamnya, tapi begitu melihat ekspresi Alenta yang tidak biasa seperti mengejek, dia jadi sebal dibuatnya.


" Alenta, kau sedang menghina ku di dalam hati ya?! "


" Bos, sejak kapan Bos punya indera ke sepuluh? "


" Enam! Enam yang benar, Alenta! "


" Oh, sudah ganti ya? "


" Dari dulu memang enam! "


" Oh. "


" Kau, pasti benar-benar menghina ku di dalam hati tadi ya? "


Alenta menghela nafas sebalnya.


" Bos, aku mau mandi dulu ya? Soalnya aku dari tadi mengendus bau toilet umum, takutnya nanti pindah ke aku baunya. " Alenta tersenyum, lalu bangkit dan pergi dari meja makan. Nick, dia terperangah kesal, tapi tak lama dia mengendus bau tubuhnya.

__ADS_1


Memang aku bau toilet umum?


***


" Apa-apaan ini? Kenapa di taman bermain? " Alenta melongo melihat taman bermain.


" Aku kan tidak mau mengajakmu ke tempat yang aku kunjungi bersama dengan Rebecca ku. Dan lagi, hanya di taman bermain saja kemungkinan bertemu Rebecca terbilang mustahil. "


Alenta tersenyum, dia tanpa sadar meraih pergelangan tangan Nick, lalu membawanya segera masuk ke dalam sana.


Apa-apaan sih?


Kenapa hatinya bergerundel seperti itu, sementara bibirnya tersenyum tipis seolah bahagia? Sudahlah, mungkin ini perasaan dekat antar rekan kerja saja, batin Nick.


" Wuh, aku mau naik Komidi putar, laku naik itu, itu, itu, dan itu. "


Nick menepis tangan Alenta dengan perasaan kesal.


" Aku tidak mau naik permainan anak-anak! Kita disini kan hanya untuk photo bersama. "


Alenta tersenyum miring penuh rencana.


Beberapa saat kemudian.


" Wa.... Wa.... Wa.... Ibu! Ibu! Tolong aku Ibu! Ibu! Selamatkan aku! Ibu! Ah.....! Tolong! Ah......! " Teriak Nick histeris saat menaiki wahan tornado bersama dengan Alenta.


" Pft....! " Alenta menahan tawa saat melihat Nick memegangi kedua lututnya yang gemetar hebat, bahkan berjalan pun Nick seperti kesulitan.


" Butuh di papah, Bos? "


" Tidak, tadi aku hanya sedang tidak siap saja, jadi jangan berani-beraninya menceritakan hal tadi kepada orang lain! "


Oh, maaf sekali, aku kan paling suka membicarakan mu bersama Maudi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2