My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Jaminan


__ADS_3

" Bisakah membujuk Alenta agar saya bisa berdua saja dengannya? "


Permohonan yang membuat menggelitik hingga Nick tidak tahan untuk tersenyum menahan tawa. Aneh sekali ya? Padahal dia pikir Ayahnya adalah Ayah yang paling menyebalkan karena suka memasang wajah dingin, apalagi kalau sudah bersikap tegas, benar-benar seperti bukan manusia wajahnya. Tapi, meksipun wajahnya dingin, dia adalah Ayah yang selalu memperhatikannya, membantunya diam-diam, bahkan juga tetap tak ragu-ragu mengurusnya saat dia sedang sakit beberapa waktu lalu. Tapi Ayah Alenta yang kini duduk bersebrangan dengannya, pasti sudah banyak melakukan hal yang menyakiti Alenta hingga kebencian Alenta terasa begitu dalam.


Nick menghela nafas, lalu menatap Tuan Baskoro dengan sedikit senyum yang tidak tahu apa maksudnya.


" Pak Baskoro, Alenta memang sekretaris ku, tapi kekuasaannya ada di atas ku, ketika dia mengatakan a, maka aku juga akan mengikutinya. Percaya atau tidak, aku tidak berani ikut campur masalah ini, Alenta itu kalau sedang kesal sangat menakutkan. Aku masih sayang nyawaku, Maksudnya tongkat ajaib ku!. "


Ayah Baskoro mengernyit bingung, Alenta memiliki kuasa di atasnya? Bagaimana bisa? Alenta adalah sekretaris, dan Nick adalah Bos, bagaimana bisa Bos malah seperti bawahan?


" Bos Nick, anda kan Bosnya Alenta, setidaknya Alenta pasti akan mendengarkan ucapan anda. " Bujuk lagi Ayah Baskoro.


" Duh, bagaimana ya? Aku memang Bos, tapi Alenta bisa memberhentikan ku dari gelar Bos asal Pak Baskoro tahu. "


" Maksudnya? " Tanya Talita bingung.


" Alenta adalah orang kepercayaan Ayahku, dibanding aku yang anak kandungnya, Ayahku lebih percaya kepada Alenta, bahkan juga sangat memuji Alenta. "


Dan lagi, aku terlalu takut kalau kesempatan untuk kikuk kikuk bersama Alenta jadi semakin sulit gara-gara menyinggungnya.


" Begitu ya? " Ayah Baskoro menunduk kelu. Padahal dia sudah sangat berharap agar bisa berbicara dengan Alenta, menjelaskan segalanya tanpa ada yang ditutup-tutupi agar setidaknya ada sedikit kesempatan untuknya berbaikan dengan Alenta.


" Kakak sehebat itu ya? " Gumam Talita.


" Bahkan jauh lebih hebat dari yang kau pikirkan. Ayahku yang orang asing saja bisa melihat adanya kehebatan dalam diri Alenta saat pertama kali bertemu, masa kau adik yang keluarganya tidak tahu. " Nick tersenyum seolah ucapannya itu hanyalah omong kosong saja meskipun dia tahu itu seperti sentilan untuk keluarga Alenta.


" Bos, sudah malam. Kita kembali sekarang ya? Besok setengah delapan pagi ada rapat dengan Divisi pemasaran. " Ucap Alenta yang baru saja datang kesana.


Nick mengangguk setuju.


" Pak Baskoro, terimakasih untuk malam ini, kami pamit dulu. "


" Mengenai permintaanku tadi, apakah sungguh tidak bisa? "

__ADS_1


" Kalau Ayahnya saja tidak dihiraukan, apalagi aku yang katanya orang asing. " Nick tersenyum di akhir kalimat.


Tak ada lagi pembahasan setelah itu, hanya ada bosa-basi saja saat mengantarkan Alenta dan Nick ke teras rumah.


" Ayah, kenapa Ayah hanya menerima saja? Kak Alenta sudah sangat keterlaluan, Ayah. " Protes Talita saat mobil yang ditumpangi Nick dan Alenta sudah tak lagi terlihat.


Ayah Baskoro menghela nafasnya, matanya masih menatap ke arah jalan dimana dia menyaksikan kepergian Alenta.


" Semua yang terjadi adalah salah ayah. Sebenarnya, Alenta dulu adalah gadis yang manis dan cantik, dia mudah sekali bahagia hanya dengan hal-hal kecil. Dia memang agak manja dan selalu ingin bersama Ayah, tapi karena kesalahan Ayah yang sudah memberikan banyak sekali luka, pada akhirnya Alenta berubah menjadi seperti sekarang ini. Jika saja waktu bisa diputar kembali, Ayah ingin sekali terus melihat senyum manis Alenta dan akan sebisa mungkin tidak akan membiarkan senyum itu berganti dengan tatapan marah. " Ayah Baskoro tertunduk setelah lagi-lagi menghela nafas penatnya.


Talita, gadis itu justru menatap kecewa sang Ayah. Kenapa menanyakan kata-kata seperti itu yang jelas sekali membuat hatinya sakit? Jika tidak melakukan kesalahan, dan tetap ingin mempertahankan senyum indah Alenta, apakah ini artinya jika saja dia tidak bersama Ibunya, dan dia tidak dilahirkan? Apakah Ayah Baskoro tidak paham jika ucapan itu sangat melukainya. Boleh saja Ayah Baskoro memperlakukannya dengan penuh perhatian, tapi hatinya tak pernah sekalipun tak merindukan Alenta, bahkan sering juga Ayah Baskoro salah memanggil namanya menjadi nama Alenta.


" Ayah, kak Alenta sendiri yang tidak bisa menerima Ayah, jangan terus menyalahkan diri sendiri. "


Di dalam perjalanan pulang, Alenta dan Nick sebentar tak ada obrolan apapun hingga satu kalimat keluar dari mulut Alenta.


" Bos, malam ini aku tidur di rumah ibuku saja ya? Aku rasa Du Ibuku. " Ucap Alenta tak berekspresi.


" Aku ikut! "


" Aku ingin tidur sendiri dulu, kalau dirumah mu kan ada Ibu, jadi aku tidak bisa tidur sendiri. "


" Kalau aku pulang, terus Ibu tanya kau dimana, aku pasti akan disuruh keluar dan menyusul mu. " Tak ada pilihan lain, maka biarkan saja lah.


Sesampainya dirumah Ibunya Alenta.


" Kenapa tidak mengabari kalau akan datang? Jadi tidak ada apa-apa dirumah kan? Kebetulan hari ini juga Ibu tidak memasak, hanya ada camilan saja. " Ucap Ibunya Alenta seraya menyodorkan teh hangat untuk Nick dan juga Alenta.


" Ibu, aku sudah makan, jadi jangan sibuk menyiapkan apapun. " Ujar Alenta.


" Bagaiman Ibu tidak menyiapkan apapun, ini adalah kali pertama menantu mengunjungi rumah Ibu, ini juga pertama kalinya kau datang setelah menikah, jadi Ibu akan merasa lega setelah menyambut kalian dengan baik. "


" Tidak usah begitu, Ibu mertua. Maaf karena aku tidak segera mengunjungi setelah menikah, aku terlalu banyak memberikan Alenta pekerjaan, jadi ini salahku karena terlambat datang kesini. "

__ADS_1


Ibunya Alenta tersenyum lalu mengangguk.


" Tidak apa-apa, selama kalian sehat dan baik-baik saja. Jangan terlalu memusingkan hal sepele ini. "


" Ibu? " Panggil Alenta.


" Iya? "


" Aku baru saja kembai dari rumah pria itu. "


Ibunya Alenta terdiam, tapi tak lama matanya memerah. Tak banyak bicara, Ibunya Alenta tersenyum, lalu menggenggam tangan putrinya.


" Alenta, kau pasti lelah kan? Istirahatlah, besok pagi pasti akan hilang lelahnya. " Ibunya Alenta tetap tersenyum, seolah tahu maksud Ibunya, segera Alenta masuk ke kamarnya dan meninggalkan Nick yang masih ingin berbincang dengan Ibunya Alenta.


" Nak, sebenarnya aku tidak setuju saat kalian menikah dulu, tapi aku juga tidak bisa melarangnya karena orang tuamu begitu meyakinkan ku. Kau tahu kenapa aku tidak setuju meski kau adalah orang yang memiliki kekayaan, juga aku tahu benar bahwa banyak gadis yang memimpikan untuk bisa menikah denganmu. Aku melihat berita yang menyeret namamu dengan beberapa selebriti wanita, aku beranggapan bahwa kau akan menyakiti Alenta dan membuat luka yang sama seperti yang Ayahnya berikan kepada kami. Tapi, sekarang kau sudah menjadi suaminya, aku hanya bisa berharap dan berdoa agar kau tidak akan melakukan itu, kalaupun kau tidak sanggup bertahan dengan Alenta, akhiri saja semuanya lebih cepat sebelum terlambat. "


Akhiri apanya?! Sebagai suami saja aku belum kikuk kikuk dengan Alenta, masa sudah disuruh mengakhiri? Hei Ibu mertuaku yang baik hati, bisa tidak jangan berbicara terlalu jujur?


" Aku akan berusaha agar tidak melakukan kesalahan itu, Ibu mertua. "


" Janji saja tidak akan bisa menjamin, Nak. "


" Yah terus harus bagaimana dong? Aku dan Alenta saja belum melakukan anu, kalau begini terus berarti bukan hanya kesalahan ku kan? "


Ibunya Alenta terkejut seraya menatap Nick tak percaya.


" Kebohongan apa yang kau katakan? "


" Sumpah deh, suer! Aku dan Alenta belum kikuk kikuk. " Nick mengangkat dua jarinya sat bersumpah.


'' Biar nanti aku bicarakan ini dengan Alenta, tapi kau harus memberikan jaminan bahwa kau tidak berselingkuh dari putriku. " Ucap Ibunya Alenta.


" Jaminan? Boleh-boleh saja kok Ibu mertua. " Nick tersenyum menawarkan barusan giginya.

__ADS_1


Bagus, utarakan semua keluh kesah mu, Nick. Lagi pula kalau Alenta hamil kan tidak mungkin si Arkan siluman cacing pita itu mengganggu hubungan kami lagi.


Bersambung.


__ADS_2