My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Korban


__ADS_3

Talita mengunci dirinya di dalam kamar setelah beberapa saat lalu berbicara dengan neneknya. Tatapannya putus asa, seru nafasnya juga begitu halus hingga hampir tidak terdengar. Sudah coba untuk dia memahami arti baik dari ucapan neneknya, tapi kenapa batinnya justru semakin tertekan seolah dirinya tak mendapati satupun niat baik dari ucapan neneknya.


Mintalah pada kakakmu Alenta untuk membantu perekonomian keluarga kita. Kau tahu kan keuangan keluarga kita sedang buruk? Dia adalah anak Ayahmu juga, jadi dia tidak akan mungkin terus menolak. Kau harus lebih sabar, dan harus bisa megambil hati kakak mu dan Kaka ipar mu.


Talita mencengkram sprei yang ia duduki, rasanya masih tidak percaya jika nenek yang selama ini di sayangi juga menyayanginya akan meminta dia melakukan hal paling memalukan seperti itu. Belum hilang perasaan hancur karena kenyataan yang terjadi antara keluarganya dan juga Alenta, sekarang dia diminta untuk merendahkan diri lagi mengemis yang Alenta, dan juga suaminya. Memang benar Alenta kehilangan sosok Ayah hingga hidup tidak nyaman selama ini, tapi apakah Alenta tahu bahwa hidupnya juga tidak mudah? Menerima kenyataan bahwa dirinya adalah sosok yang pernah membuat jurang pemisah antara Alenta dan Ayahnya, sekarang dia sudah menjadi alat untuk minta-minta seperti manusia yang hidup tanpa harga diri. Sudah sejauh itu dia melakukannya, tapi apakah harus sampai mengikuti ucapan neneknya yang secara tidak langsung telah melenyapkan harga dirinya yamg sudah hancur sebelumnya.


" Apa sekarang aku hanya alat mengemis bagi kalian? "


Talita bangkit dari duduknya, menyeka air matanya, lalu berjalan untuk meraih tas, dan keluar dari kamar. Neneknya, Ayah dan Ibunya masih berada disana seperti sedang bersitegang entah pembahasan apa yang mereka bahas. Talita tak ingin menghiraukan, jadi dia mengabaikan saja Ibunya yang bertanya kemana dia akan pergi.


" Talita, nenek sudah menyayangimu lebih dari menyayangi Alenta, jadi cobalah untuk membalas sedikit saja kebaikan yang nenek berikan. "


Talita sebentar berhenti mendengar kalimat yang keluar dari mulut neneknya. Dia hanya menghela nafas, tangisnya juga masih bisa ia tahan dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Aku juga tidak minta disayangi, aku tidak minta nenek lebih menyayangi ku dibanding Alenta, aku tidak ingin dibandingkan dengan Alenta, bukankah kami hanya kakak adik yang seharusnya adil dalam kasih sayang dari kalian?


Seperti itulah kata-kata yang ingin sekali Talita ucapkan, tapi sayangnya dia sangat malas untuk membuka mulut. Segera dia pergi dari sana, memberhentikan taksi untuk menuju kesebuah tempat yang selama ini sering ia kunjungi dikala sedih.


Sebuah danau yang ada dipinggiran kota, tempat dimana dia dulu sering sekali memprotes tindakan Ibu dan Ayahnya yang dia rasa menyebalkan. Talita jatuh duduk dipinggiran danau sembari menangis tersedu-sedu, kenapa semua orang tidak memahaminya? Kemana Ibunya yang selama ini sangat mengerti dirinya? Kemana Ayahnya yang selalu mementingkan kebahagiaan dirinya, memahami tanpa harus bertanya, kemana nenek yang dulu sangat menyayangi dan memperlakukan dengan lembut? Apakah semua kebaikan itu haus di balas olehnya? Apakah sungguh itu harus dia lakukan?


Talita semakin keras meraung sedih tak berdaya. Apakah boleh dia mengatakan betapa dia iri dengan Alenta? Tahu, Alenta juga tidak hidup baik selama puluhan tahun, tapi apakah ada yang tahu bagaimana tersiksanya dia selama menyandang tahu anak dari pasangan yang berselingkuh? Apakah ada yang tahu betapa sulitnya mengikuti titah Ibunya hanya untuk disukai oleh nenek dan Ayahnya? Apakah ada yang tahu betapa dirinya tersiksa setiap kali melihat Ayah ya melamun, bahkan tak sekali dua kali Ayahnya sering salah memanggil namanya dengan nama Alenta.


" Aku tidak mau lagi menjadi Talita si boneka yang bisa kalian atur sesuka hati. " Ucap Talita seraya bangkit dari posisinya. Rasanya sungguh sangat penat, jika lah ada yang tahu bagaimana hatinya selama ini, dia yakin tidak akan ada satu orang pun yang ingin menjadi dirinya.


Talita menatap danau di hadapannya. Melihat beningnya air danau dia merasa hatinya sangat tenang, dia bisa merasakan bagaimana damainya jika saja dia berada di tengah danau sana. Tapi tidak mungkin kan? Talita tersenyum, tapi dia juga tidak berhenti menangis.


" Aku tidak tahan lagi, aku tidak bisa lagi bertahan lebih lama. Aku lelah, aku sudah tidak sanggup berpura-pura lagi. " Talita melepas kedua sendalnya, meletakan tas yang ia gunakan, lalu perlahan-lahan berjalan. masuk kedalam air, terus, terus, hingga pada akhirnya dia tak lagi terlihat. Cukup lama Talita menahan nafas berharap maut segera menjemput dirinya, tapi sayangnya seseorang membawanya keluar dari air.

__ADS_1


" Apa kau bodoh?! Hah?! " Bentak pria itu seraya membantu Talita untuk mengeluarkan air yang sudah terhirup dengan menekan-nekan bagian dada Talita.


Tak lama Talita terbatuk-batuk sembari mencoba mengeluarkan air yang tertelan dari mulutnya. Perlahan dia bangkit, pria yang menyelamatkannya juga bisa bernafas lega setelahnya.


" Kalau kau ingin mati, matilah di tempat lain. Danau ini digemari anak-anak, kau bisa bayangkan akan setakut apa saat melihat ada mayat yang mengapung! "


Talita tak menjawab, dia yang duduk di atas rumput pinggiran danau hanya bisa menangis terisak. Sungguh dia kecewa sekali karena tidak jadi mati, tapi kalau matinya harus membuat anak-anak ketakutan, dia juga akan merasa bersalah.


" Jika kau ada masalah, maka selesaikan masalahmu. Kau pikir dengan mati masalahmu sudah selesai? Yang ada kau malah menambah masalah baru. "


" Selesaikan? Aku tadi sedang menyelesaikan masalah ku, kau lah yang membuatku gagal melakukanya! " Talita mendelik marah, masa bodoh apakah niat pria itu baik atau buruk, jika saja dia hidup, bukankah sama artinya dia akan terus menyakiti dirinya sendiri dan juga Alenta? Kenapa justru mereka berdua lah yang menjadi korban? Satu di anggap mesin pencetak uang, satu lagi digunakan untuk menjadi alat menarik uang keluar dari mesin.


" Kau pikir ada penyelesaian masalah dengan mati?! "

__ADS_1


" Ada! Asal kau tahu ya, jika ku tidak mati bukan hanya aku yang akan tersiksa! "


Bersambung.


__ADS_2