My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Dia Sudah Lahir


__ADS_3

Nick menggenggam erat tangan Alenta ketika Alenta sudah mulai mengejan. Air matanya yang hampir tak pernah keluar kini bercucuran melihat bagaimana perjuangan Alenta untuk melahirkan bayinya. Enam jam Alenta merasakan mulas karena kontraksi di rumah sakit, itu sudah cukup menjadi pukulan menyakitkan untuk Nick yang pernah mengatakan dengan mudahnya bahwa dia akan menghamili Alenta setiap tahun. Alenta, wanita cantik yang sedari dulu tersimpan di hatinya entah sudah berapa kali menangis kesakitan. Dia memang tidak mengatakan kepada Nick bahwa itu sangat sakit, tapi Alenta yang biasanya kuat kini menangis membuatnya paham benar bahwa melahirkan adalah hal yang sangat mengaitkan. Sebelum Alenta mulai mengejan, Dokter sempat memeriksa pembukaan, dan ternyata sudah kedelapan dan sudah harus bersiap untuk melahirkan, Dokter mengajak Nick dan Alenta berdoa bersama agar selamat anak dan Ibunya. Hah, Nick yang hampir tak pernah berdoa kini dengan khusuk berdoa bahkan sampai menitihkan air mata untuk memohon keselamatan bagi anak juga istrinya yang terutama.


" Bagus, tarik nafas lebih dulu, dorong! " Ucap Dokter yang sedang membantu kelahiran si bayi. Alenta yang menahan sakit bisa Nick rasakan lewat cengkraman tangan Alenta yang memegang lengannya. Dingin, gemetar, juga basah karena keringat, jelas Nick bisa merasakannya.


" Atur nafas dulu, ikuti ritme dorongan kontraksi saja, Nyonya. " Ucap Dokter itu menuntun dengan sabar. Maklum saja, ini pertama kalinya bagi Alenta, dan juga Nick sehingga tidak salah kalau mereka sangat gugup.


" Ah! " Alenta mengatur nafasnya, dia semakin mencengkram kuat tangan serta lengan Nick, lalu kembali mendorong dengan sekuat tenaga.


Tak lama terdengar suara bayi menangis yang sangat nyaring. Senyum bahagia terukir jelas di wajah Alenta dan Nick begitu Dokter menunjukkan bayi mereka yang berjenis kelamin perempuan. Akhirnya, setelah sembilan bulan menunggu bayi cantik itu lahir. Bagi yang dengan sengaja tidak ingin diketahui gendernya kini sudah lahir, dia cantik, bahkan cantik sekali.


" Selamat Nyonya, dan Tuan. Bayinya cantik, lihat, wajahnya mirip sekali dengan Ayahnya. " Ucap Dokter itu lalu tersenyum karena merasakan kebahagiaan yang sama dengan Nick dan Alenta. Eh, tunggu! Tunggu dulu! Kenapa? Nick kehilangan senyum di wajahnya karena ucapan Dokter tadi, mirip dengannya? Hah? Bisa tida jangan mirip dia? Nick tiba-tiba membayangkan betapa nakalnya dia saat masih kecil, remaja dia beberapa kali membully teman sekolahnya, bahkan saat dewasa juga tetap seenaknya sendiri, ah! tidak! Dia juga teringat bagaimana ganjen nya dia sebelum bersama Alenta.


" Dokter pasti salah, haha man mungkin mirip aku? Dia itu mirip Ibunya, di cantik karena mirip Ibunya, dia juga akan mirip Ibunya yang pintar dan pekerja keras, iya kan sayang? "


Alenta tersenyum, entah apa maksud dari ucapan Nick, hanya saja Alenta yang sedang bahagia itu hanya bisa mengiyakan saja ucapan Nick dan tidak menganggapnya serius.


Diluar ruangan, Ivi, Nathan, Ibunya Alenta dan keluarga yang lainnya sudah mondar mandir tak sabar. Setelah terdengar suara bayi mereka sudah sangat lega, tapi sekarang mereka masih belum bisa tenang karena tidak sabar ingin melihat bayi Alenta dan Nick.


Setelah Alenta dan bayi sudah selesai diberikan perawatan akhir, segera Dokter keluar dari ruangan agar Alenta bisa istirahat, dan membiarkan keluarga besarnya untuk melihat keadaan Alenta juga bayinya.


" Nick, kita sudah jadi orang tua. " Alenta menangis haru, dia kini tenga memandangi bayinya yang tengah ia gendong dengan hati-hati.

__ADS_1


" Iya, aku masih mengira ini mimpi. " Nick bukan memandangi bayi mereka, tapi memandangi wajah Alenta yang begitu bahagia setelah sekian jam terlihat sangat kesakitan dan tidak berdaya.


" Alenta! " Semua orang kini berhambur kepada Alenta untuk memberikan selamat dan juga melihat secara langsung keadaan Alenta juga bayinya.


" Dia sangat cantik. " Ujar Ivi sembari sesegukan karena bahagia. Sungguh ini juga seperti mimpi baginya, padahal rasa ya baru kemarin dia melahirkan Nick, tali sekarang dia sudah punya cucu.


" Selamat ya nak? Sekarang kau sudah jadi Ibu, tapi jangan sampai lupa bahwa kau seorang istri juga ya? " Ucap Ibunya Alenta. Iya, tentu saja apa yang terjadi dengan dirinya di masa lalu sudah memberikan banyak sekali pelajaran, jadi dia ingin rumah tangga putrinya selalu aman serta bahagia selalu tanpa adanya pihak ketiga.


" Terimakasih, Ibu, terimakasih Ibu mertua. "


Cukup lama mereka berada disana, sampai-sampai Nick merasa kasihan dengan Alenta yang terlihat kelelahan itu tetap tersenyum padahal jelas wajahnya sangat terlihat letih sekali. Perlahan Nick berbisik kepada keluarganya untuk pulang terlebih dulu dan membiarkan Alenta istirahat. Mereka tentu sangat memahami itu, jadi tidak keberatan mereka pamit untuk pulang.


" Iya, Bu. " Nick tersenyum lalu melambaikan tangan. Sekarang tinggal Ibunya Alenta, wanita empat puluh enam tahun itu hanya bisa menghela nafas melihat bagaimana penampilan Nick saat ini. Rambutnya sangat acak-acakan, di bagian leher, lengan, juga punggung tangannya ada banyak sekali bekas cakaran. Iya, itu pasti Alenta yang melakukannya.


" Ibu juga pulang dulu ya Nick? "


" Iya Ibu mertua. "


Ibunya Alenta tersenyum kepada Nick.


" Terimakasih karena sudah bertahan dan sabar menghadapi Alenta yang sedang hamil. Terimakasih karena sejauh ini sudah memenuhi janjimu. "

__ADS_1


Nick tersenyum dengan mata yang mulai memerah menahan tangis. Dia mengangguk, lalu segera dia memeluk Ibu mertuanya itu.


" Ini juga berkat Ibu mertua yang memberikan banyak sekali nasehat untuk ku terus bersabar. Terimakasih Ibu mertua, terimakasih sudah melahirkan, merawat membesarkan Alenta dengan baik. Aku akan tetap berusaha sebaik dan sebisa mungkin untuk memegang teguh janjiku. "


" Ibu akan percaya padamu, Nick. "


Aleta tersenyum sembari menitihkan air mata haru. Nick, laki-laki yang masuk daftar bukan tipenya itu justru memenuhi harapan-harapan dan membuatnya merasa yakin dan percaya jika tidak selamanya pria brengsek akan menjadi brengsek seterusnya.


Setelah kepergian Ibunya Alenta, Nick kembali berjalan mendekati Alenta. Sedangkan bayi mereka yang belum di berikan nama itu sedang tertidur di boks bayinya.


" Istirahat dulu ya? Kau kan tidak tidur semalaman. Bayinya biar aku saja yang jaga. " Ucap Nick seraya mengusap kepala Alenta dengan lembut.


" Kau juga belum tidur kan? " Alenta menatap Nick melas, bagaimana tidak melas? Dia mengingat benar betapa gilanya dia mencakar Nick, dia juga mengigit tangan Nick beberapa kali saat merasa tidak tahan dengan sakitnya kontraksi beberapa saat lalu.


" Aku tidak apa-apa kok, nanti kalau kau sudah cukup istirahatnya baru gantian denganku. "


Alenta mengangguk, lalu dengan bantuan Nick dia merebahkan tubuhnya untuk tidur. Setelah beberapa saat, Alenta sudah tertidur, dan kini Nick bangkit untuk melihat bayinya lebih dekat.


Ya ampun! Memang wajahnya mirip denganku. Dengar ya nak, kau tidak di izinkan memiliki sifat sepertiku, kau harus ingat baik-baik ya? Kalau sampai kau sepertiku, Ibumu pasti akan menyalahkan Ayahmu karena memberikan bibit yang brengsek.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2