My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Enak?


__ADS_3

Rebecca terperangah tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Bibirnya yang masih tak bisa tertutup rapat, matanya yang kosong seolah begitu enggan untuk percaya dengan apa yang terjadi. Sejenak sempat melihat ke arah Nick, dan sepertinya dia harus bertahan lebih lama dengan ini karena Nick malah terlihat betah meskipun ini sama sekali tidak sesuai dengan ekspetasinya.


Di sebuah tempat makan yang ekstrem, tapi kata ekstrem tentu hanya bagi Rebecca dan Nick. Se-ekstrem apa sih? Sebenarnya ya tidak begitu juga, dan ini adalah hal yang biasa-biasa saja bagi Arkan, Alenta, juga pengunjung yang lainya.


" Alenta, kau sengaja membawa kami kesini ya?! " Protes Rebecca karena tidak tahan lagi dengan teriknya matahari yang menyengat kulitnya meski mereka duduk di bawah tenda berbentuk payung. Uh! Bahkan dia si nona manja tidak pernah terkena polusi udara, masak hanya karena Alenta dia harus menghirup udara kotor penuh polusi, ditambah lagi angin disana sangat membuat tidak nyaman, rambutnya juga sudah mulai lepek.


Alenta tersenyum, mampus! Benar-benar tidak habis pikir sih dengan gadis itu, ah! Gadis apaan? Sudah tidak perawan memang pantas di panggil gadis? Oke lah, wanita itu saja, dia benar-benar membuat mulut seolah tidak ingin berhenti memaki rasanya. Apakah dia tidak bisa melihat bahwa bukan hanya dia saja nona kaya disana? Banyak juga kok orang kaya yang tidak merasa terganggu makan di pinggir jalan seperti ini. Heh! Itulah kenapa Alenta memberi kode sebelum berangkat dengan menyebut bunga mawar di tengah hamparan salju. Heh! Bagaimana rasanya berada di tengah gurun pasir yang panas?


" Sengaja yang bagaimana nih, nona Rebecca? Aku, juga Arkan kan tidak memaksa kalian ikut. Kalau tidak nyaman, bagaimana kalau kalian pindah ke restauran yang memiliki VVIP supaya kalian bisa makan dengan tenang dan damai? "


" Tidak, aku ingin makan disini. Aku sudah menunggu selama lima belas menit, dan hanya tinggal lima belas menit lagi makanan datang tapi kau meminta kami untuk pergi ke tempat lain? Kalau begitu aku akan makan dua jam lagi dong?! " Protes Nick sebal. Sebenarnya sih dia juga tidak terlalu lapar, apalagi melihat gambar di menu makanan yang sama sekali tidak membuatnya berselera, jadi intinya lagi-lagi dia hanya ingin mengganggu Alenta dan Arkan saja.


" Babe, kau yakin? Uhuk uhuk! " Rebecca terbatuk-batuk karena tidak tahan dengan asap masakan yang sampai ke tempat dia duduk, dan lagi juga udara luar yang semakin memperparah batuknya.


Alenta tersenyum miring, benar-benar nona kaya yang sangat sombong dan tidak bersahabat dengan lingkungan! Pantas saja kulitnya begitu putih sampai seperti akan pucat, matahari saja dia anggap sebagai musuh, batin Alenta menggerutu sebal.


" Yakin tidak yakin, soalnya aku sudah lapar sekali, nanti kalau aku mati kelaparan bagaimana? Siapa yang akan bertanggung jawab? Dunia akan berduka kalau Nichloe yang tampan dan kaya raya sepertiku mati. "


" Bukanya orang akan banyak bersyukur? Orang-orang pasti akan berpikir, putra satu-satunya dari dari penerus Chloe mampus, eh! Mati, jadi siapa tahu hartanya akan di bagi-bagi kepada rakyat miskin? Dari pada selama ini digunakan untuk- " Alenta menatap Rebecca dengan senyum manis yang tentu saja banyak sekali maksudnya. Masa bodoh sih mau marah atau tidak, dia bukan keturunan Chloe famili, tapi siapa yang sangka kalau pada akhirnya dia bisa mengendalikan satu-satunya penerus Chloe seperti sekarang ini? Takut tidak dipecat karena terlaku frontal dalam berbicara dan terkesan tidak menghormati Bos, juga pasangan mesum Bosnya? Tidak! Karena dia tahu benar apa yang dia lakukan bukanlah hanya karena dirinya sendiri.


Nick, pria itu hanya bisa terperangah tanpa bisa berkata-kata meski di dalam hati sedang berangan-angan tengah meninju mulut beracun Alenta. Tak beda jauh dengan Rebecca, gadis itu hanya bisa menggerutu kesal karena tidak berani banyak bicara kalau ada Nick di dekat mereka.

__ADS_1


" Alenta, kau tidak boleh bicara seperti itu. Nick adalah Bos mu kan? Walaupun kau tidak menyukainya, tapi hatiku sangat sedih melihat priaku tidak di hargai sama sekali oleh Sekretarisnya sendiri. " Ucap Rebecca dengan lembut, huh! Ini sih sudah biasanya sikap manja dan sok perduli Rebecca yang bisa dibilang payah karena tidak menyentuh hati, tapi malah membuat orang yang mendengarnya ingin menjambak hingga rontok semua giginya.


Arkan memaksakan senyumnya, dia sungguh sangat tidak nyaman dengan situasi sekarang ini, tapi juga harus bertahan karena ada Alenta disana.


" Aku menghargai dan perduli kok, makanya aku bicara seperti itu. " Alenta tersenyum.


" Iya kan, Bos? " Alenta menatap, dan lagi-lagi tersenyum dengan begitu menakutkan bagi Nick.


" I iya, terimakasih atas keperdulian dan rasa hormatmu selama ini, Alenta. " Sialan! Kura-kura, kecebong, kaki empat alias guk guk, kambing, jerapah, semua isi kebun binatang spesial untuk mengumpat Alenta yang selalu saja membuatnya tertekan tanpa bisa melawan. Alenta, dia benar-benar tidak bisa dilawan, karena setiap kali Nick ingin melawan, dia seperti melihat bayangan Ayahnya yang melotot dengan wajah tegas seperti biasanya, memegang seluruh kartu debit, kredit, di tangan kanannya, lalu tong sampah yang mengeluarkan bara api, dan seolah bersiap untuk menghanguskan semua fasilitas yang selama ini membuatnya hidup dengan mewah alias di miskinkan.


" Sama-sama, Bos yang baik hati. "


" Eh, makanan sudah datang. Kita makan saja ya? " Arkan lagi-lagi memaksakan senyumnya. Iya mau bagaimana lagi? Situasi yang seperti ini bau saja ia alami hari ini, dan sungguh dia berharap tidak akan ada hari lagi dimana ada Bos dan juga kekasihnya saat dia dan Alenta berkencan.


" Ini, ini baksonya kenapa banyak sekali minyaknya? Tadi saat aku melihat di gambar menu, bukannya tidak ada minyak sama sekali? " Protes Rebecca sembari mengaduk-aduk semangkuk bakso yang kini ada di hadapannya.


Alenta tersenyum.


" Itu namanya lemak daging sapi, coba deh lihat! Ada banyak sekali tetelan sapi, di tambah juga ada tulang sapinya yang menambah kuat rasa sapi. Meskipun bagi nona Rebecca tidak enak, tapi ini adalah menu makanan kesukaan kami. Kalau nona Rebecca tidak suka tidak usah dipaksa, pindah saja! Tuh, ada restauran mahal disana. " Tunjuk Alenta ya tentu saja sembari tersenyum manis.


" Aku, " Rebecca sebentar melihat ke arah Nick yang terdiam memandangi bakso di hadapannya.

__ADS_1


" Babe, kita pindah saja yuk? "


Tidak di dengar rengek Rebecca, Nick kini malah sibuk menimbang-nimbang, makan tidak ya? Kalau tidak dia akan merasa kalah dari Arkan, kalau di makan dia takut ususnya kejang seketika dan mati di tempat.


" Babe,... " Rengek Alenta lagi.


Lagi, Nick masih sibuk dengan pemikirannya. Tapi saat matanya naik ke arah lurus, dia bisa melihat dengan jelas tatapan Alenta yang seolah mengusir pergi sembari mengunyah makanannya, dia jadi memiliki tekat meski tetap saja rasa takut itu ada. Dengan tangan gemetar dia coba untuk meraih sendok dan garpunya, lalu lerlahan-lahan menyendok kuah bakso.


Uh! Sungguh bukan seleranya memang hingga dia tidak tahan untuk menyembunyikan wajah tak sukanya.


" Enak, Bos? " Tanya Alenta yang tahu benar jika Nick tidak menyukainya.


Nick memaksakan senyumnya maki mulutnya sudah mulai mual.


" E enak! "


" Baguslah, biar lebih enak, aku akan menambahkan beberapa bumbu untukmu ya? " Alenta bangkit dari duduknya, menuangkan banyak sekali saos tomat dan cabai, lalu sambal sekita enam sendok.


" Coba dicicipi Bos! " Alenta kembali tersenyum, makan tuh bakso pedas lever neraka jahanam. Hihihi.... Alenta kan tahu benar jika Nick tidak bisa makan pedas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2