
Nick tersenyum dengan begitu manis setelah seharian melihat wajah kesal Alenta. Bahkan kalau mengingat bagaimana Alenta membanting pintu saat rencananya dengan Arkan gagal, dia benar-benar sangat senang bukan kepalang. Sampai hari ini, di hari Sabtu yang biasanya menyenangkan karena akan datang hari Minggu untuk bermalas-malasan, semua jadi semakin menyenangkan karena melihat wajah Alenta yang masih tertekuk menahan kesal.
Tok Tok
" Masuk! " Ucap Nick karena tahu akan ada yang masuk ke ruangannya setelah pintu diketuk. Yah, kalau dari cara mengetuk pintunya sih, Nick tahu benar kalau itu adalah Alenta.
" Selamat siang, Bos. Ini rincian dari rapat pagi tadi, silahkan di cek kembali dan tanda tangani jika Bos merasa oke dengan ini. "
Oh Alenta, benar-benar saat itu Nick ingin sekali tertawa dengan begitu lepas. Tapi sayangnya dia juga tidak berani melakukan itu karena suasana hati Alenta kan sedang tidak bisa di singgung. Kalau saja secuil saja berulah, buntung bisa-bisa anu nya.
" Aku akan membacanya, nanti kalau sudah selesai aku hubungi. "
" Baik, kalau begitu, aku kembali dulu. "
" Oh Iya, jangan lupa ada beberapa bagian penting, terutama ada beberapa nominal yang mirip hanya berbeda jumlah nol nya saja. Mohon perhatikan bagian penting itu. "
" Oke oke! "
Alenta mengangguk setelahnya, lalu berniat untuk berjalan meninggalkan ruangan kerja Nick. Tapi siapa sangka baru selangkah kakinya melangkah, sebelah kaki ternyata keseleo dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
" Ah! "
Dengan cepat Nick bangkit dan menopang tubuh Alenta dengan memeluk tanpa dia sengaja. Benar sih Alenta tidak jatuh, sejenak mereka juga saling menatap dengan tatapan yang berbeda. Nick dengan tatapan terpana karena jarak wajah serta tubuhnya yang menempel dengan Alenta membuat jantungnya berdegup kencang, sementara Alenta, gadis cantik itu melotot seperti orang yang marah.
" Bos, aku benar-benar tidak tahu kalau kau sangat mesum! "
" Eh? Ngomong apa sih, Alenta? Aku ini penolong mu loh! Masa malah dimaki bukanya mendapat ciuman terimakasih. "
" Ciuman terimakasih katamu? Sebelum membahas ciuman terimakasih, singkirkan tangan jahanam yang berasal dari kerak neraka milik mu ini! "
Nick terkejut begitu mendapati tangannya ternyata memegangi sebelah dada Alenta dengan begitu tepat dan sangat terasa kain penyangga dai bagian dada Alenta. Ah, rejeki patut disyukuri nih, batin Nick. Sialan juga sih, soalnya harus segera disingkirkan tangannya karena kalau tidak, konsekuensinya akan sangat berat untuknya.
" Aduh! Maaf, Alenta! Aku tadi hanya berpikir agar kau tidak jatuh saja ke lantai. Sumpah deh aku tidak sengaja. Kalau tidak percaya boleh kok buka resleting ku! Eh, maksudnya dadaku begitu. " Ucap Nick setelah menjauhkan tangannya dari tubuh Alenta meskipun baru beberapa detik saja dia merasakan bagian indah itu.
__ADS_1
Alenta, gadis cantik itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Sial! Dia sendiri saja kadang malu menyentuh bagian dadanya sendiri, bagaimana seorang pria bisa dengan wajah tidak tahu malunya mengatakan banyak alasan setelah memegang bagian dadanya? Mau di cekik sampai mati, tapi dia juga tidak mau dipenjara dan membusuk di sana. Ingin meracuni dengan racun tikus takutnya racun tidak mempan karena Nick kan bukan tikus, tapi buaya gurun. Huh! Sabar? Kalau ada pilihan lain ya mana mau dia sabar menghadapi Nick yang menyebalkan itu.
" Jangan marah dong, sayang. Suami memegang sedikit kan bukan salah? Atau kalau kau mau juga boleh membalasnya kok. Nih! Pegang dadaku, atau bokong montok proporsional ku juga boleh, atau mau yang lain juga boleh! "
Alenta menatap Nick dengan tatapan kesal dan tajam. Tuhan, bisakah ambil nyawa manusia biadap yang sangat tidak tahu malu ini?
" Bos, kalau kau begitu gatal, pergilah mandi! "
" Mau memaadikanku tidak? Takutnya kalau mandi sendiri nanti kurang bersih. "
" Gila, kau benar-benar sudah gila! " Ucap Alenta lalu segera melajukan langkahnya karena tidak tahan lagi dengan kegilaan Nick yang semakin menjadi beberapa hari ini.
" Nick? "
Nick yang tadinya akan berjalan ke kursinya kini kembali berbalik untuk melihat ke arah sumber suara yang memanggilnya dengan sebutan nama.
" Reiner? "
" Kapan kau datang? Kenapa juga tidak menghubungiku? " Ucap Nick seraya berjalan menuntun Reiner untuk ikut duduk dengannya.
" Aku sampai pagi tadi Nick, sudah dua tahun tidak bertemu, kau jadi semakin tampan saja. " Goda Reiner lalu terkekeh setelahnya.
" Tentu saja, itulah mengapa kau belum mampu mengalahkan ketampanan ku. "
" Pft! Masih saja belum berkurang narsisnya. Oh iya, yang tadi itu Alenta ya? "
" Iya, kenapa? "
" Dia semakin cantik ya? Tapi kelihatannya sedang kesal saat keluar dari ruangan ini, apa kalian bertengkar? "
" Yah, biasa bagi kami. "
" Nenek bilang, kalian sudah menikah ya? "
__ADS_1
" Begitulah. "
Reiner tersenyum, lalu menghela nafasnya.
" Dulu aku sangat tertarik melihat Alenta pertama kali, tapi saat aku melihatmu terus menerus menatapnya, aku jadi sok baik dan tidak jadi mendekati Alenta. Huh! Sekarang malah kalian sudah menikah, lalu tidak mengundang keluarga besar, kau mau dikutuk oleh kami semua ya? "
" Pernikahan kami terjadi dengan begitu cepat, aku saja masih tidak percaya sampai sekarang ini. "
" Kau pasti bahagia karena menikahinya kan? "
Nick mengernyit lalu menatap Reiner bingung.
" Kenapa kau berpikir begitu? "
Reiner menghembuskan nafas panjangnya, lalu menatap Nick dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya.
" Nick, saat pertama kali paman Nathan membawa Alenta kerumah, aku bisa melihat dengan jelas kau selalu menatap ke arahnya, kau diam-diam memperhatikannya, kau juga tersenyum saat dia melakukan sedikit kesalahan yang terkesan lucu. Tapi tidak tahu kenapa kau malah begitu ingin menyangkal perasaan itu. Aku pikir kau malu dan butuh waktu untuk meyakini hatimu, tapi nyatanya sampai sekarang kau masih saja tidak memahami perasaanmu sendiri. Hah! Kalau tahu begitu aku tidak usah pergi keluar negeri saja dulu. Atau aku tunggu Alenta menjadi janda juga boleh. "
" Janda? Janda matamu kotok! Menikah saja baru dua bulan, sudah menyumpahi orang menjadi janda! "
Reiner kembali tersenyum.
" Nick, berhentilah menyangkal perasaanmu itu, mau ganti perempuan sehari tiga kali pun, kau tetap hanya akan melihat Alenta saja. "
Nick terdiam karena tak bisa membantah ucapan Reiner. Benar, selama lima tahun lebih dia mengenal Alenta, dia memang memiliki perasaan aneh yang terus dia coba untuk kalahkan. Sudah beberapa wanita ia kencani demi melupakan perasaan untuk Alenta yang ia yakini mustahil baginya untuk bisa ia dapatkan, tapi sekarang nyatanya Aleta malah sudah menjadi istrinya.
" Alenta itu seperti landak, jadi takut juga kalau mau mendekat. "
" Itu kan yang nampak luar, kalau tidak mau ya sudah, aku saja deh kejar Alenta. "
" Gigimu gondrong! Dia kan istriku! "
Bersambung.
__ADS_1