My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Penyesalan Terdalam


__ADS_3

Setelah kepergian Ibunya Alenta, bukan hanya Ibu Tina saja yang terus mengungkapkan kekesalannya, bahkan Ibu Rahayu juga ikut menyuarakan keberatannya. Mulai dari ketakutan nya akan kehilangan suami serta Ayah dari anak-anaknya, belum lagi masalah restauran yang beberapa tahun ini terus merosot pendapatnya. Sudah di usahakan semaksimal mungkin, tapi nyatanya tetap saja tidak ada perubahan.


Sementara Tuan Baskoro, pria itu terdiam saja seolah ucapan Ibu Tina dan Ibu Rahayu tak sama sekali terdengar olehnya. Kini penyesalan yang ia rasakan justru semakin dalam, dalam sekali hingga dia sendiri tidak sanggup menghadapi nya. Alenta Merile, nama itu dia berikan kepada putri pertamanya dengan doa-doa terbaik sebagai sekarang Ayah. Tapi ternyata, hanya nama itulah yang bisa dia berikan setulus hati. Kerinduan semakin dalam, rasa bersalah, ketakutan akan tidak dapat melihat Alenta bahkan sampai dia menutup mata juga semakin besar. Tapi bila mengingat bagaimana mantan istrinya datang dan mengungkapkan bagaimana hatinya sebagai seorang Ibu, sekarang dia baru paham benar bahwa dia bukanlah Ayah yang pantas untuk Alenta.


Sudah puluhan tahun Tuhan memberikan usia yang panjang untuknya bisa berbalik tersenyum dan memeluk Alenta, tali sekalipun tidak ia lakukan karena rasa tidak tega terhadap Talita. Sekarang apa yang dia dapatkan dari perasaan tidak enakan? Dia kehilangan Alenta, juga istrinya yang dulu. Dia kehilangan wanita yang degan susah payah ia dapatkan, sehingga wanita itu bersedia mengabdikan dirinya di usianya yang baru akan sembilan belas tahun kala itu. Jika ditanya apakah rasa cinta itu masih ada? Jawabannya adalah, ada, dan masih tetap utuh seperti sebelumnya. Perasaan itu sekarang terbalut rasa bersalah dan kerinduan yang tidak akan mungkin bisa ada obatnya. Jadi sekarang dia hanya bisa menerima takdir dai Tuhan akan menghukumnya dengan perasaan bersalah itu seumur hidup.


" Kau memikirkan wanita itu? " Tanya Ibu Rahayu dengan wajah sedihnya. Ibu Tina sudah pulang beberapa saat lalu, dia juga berpamitan tapi tak ada jawaban apapun dari Tuan Baskoro. Dia seolah acuh, dan semakin larut dengan lamunannya.


Tuan Baskoro menatap Ibu Rahayu sebentar, lalu kembali memalingkan pandangan menatap ke arah lain.


" Kau juga sudah tahu dari dulu kan?"


Ibu Rahayu mencengkram kain baju yang ia gunakan. Setiap hari selalu ada saja waktunya untuk melamun memikirkan mantan istri dan anaknya, apakah dia dan dua anak darinya tidak cukup? Apakah harus melakukan hal lebih lagi agar perhatian suaminya itu bisa terfokuskan untuk dia dan anak-anak mereka saja?


" Kau selalu saja menyakitiku dengan ini. "


Tuan Baskoro menghela nafasnya, dia sebenarnya baik hati ataukah sangat bodoh? Kenapa bisa jadi seperti ini? Seandainya saja waktu bisa di putar kembali, dia pasti akan tegas kepada Rahayu dan tidak akan membuatkan semua ini terjadi.


" Rahayu, kau tahu rasanya sakit kan? Sudah puluhan tahun, kau bertahan dengan rasa sakitnya karena aku terus memikirkan mantan istriku dan anak pertamaku. Sedangkan aku, puluhan tahun memendam rindu, hingga rasanya aku tidak bisa bernafas membayangkan betapa kejamnya aku Sebagai seorang suami dan seorang Ayah untuk Alenta. "


" Maksudmu, kau ingin menyalahkan ku? Aku lah yang paling bersalah atas semua yang terjadi? " Ibu Rahayu menatap Tuan Baskoro meski pria itu enggan menatapnya dan memilih menatap ke arah lain.

__ADS_1


" Tidak, jelas aku bersalah karena tidak tegas padamu. Aku bersalah karena terlaku mengasihani mu. Semua sudah terjadi, semua sudah seperti ini memang apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada! Aku hanya bisa bertahan hidup demi bisa melihat senyum Alenta secara diam-diam, juga demi anak-anak kita agar tidak merasa sedih saat Ayahnya mati. "


Ibu Rahayu menatap ke arah lain demi menyembunyikan air matanya yang luluh tak tertahankan. Benar, semua terjadi karena dia memaksa pada awalnya, tapi hingga detik ini dia selalu bersyukur karena bisa terus bersama pria yang ia pilih, juga bahagia saja meski ada masanya dia harus minat bagaimana suaminya melamun, dan dia juga tahu benar bahwa suaminya tengah memikirkan mantan istri dan anak pertamanya.


***


Sudah dua hari semenjak Ayahnya dirawat, Talita juga sudah mulai bekerja, tapi kembalinya dia ke Chloe benar-benar membawa perubahan besar. Talita, gadis itu tak lagi banyak tersenyum seperti biasanya, dia bahkan tidak datang ke kantin demi menghindari Alenta sesuai dengan keinginannya. Bukan takut, tapi semua itu karena dia merasa sangat malu dan juga rasa kecewanya terhadap orang tuanya membuat Talita bahkan tidak mampu hanya dengan membayangkan bertemu Alenta. Tentang gosip yang tersebar Talita sudah coba mejelaskan tanpa menjelekan pihak manapun, tapi tanggapan orang lain malah jadi semakin aneh. Mereka justru menilai kalau Talita terlalu baik meghadapi Alenta yang sangat angkuh, dingin dan tidak berperasaan.


Ini adalah hari kedua dia membawa kita bekal yang ia buat sendiri. Kemarin dia membawa mie, sekarang dia hanya membawa nasi dan sosis goreng saja karena memang dia tidak terlalu pintar masak.


" Talita, kau bawa kotak bekal lagi? Apa kau takut bertemu sekretaris Alenta di kantin? Tenang saja, dia tidak mungkin berbuat macam-macam denganmu, kan kami semua ada disana juga. "


" Sudah aku bilang kan? Kak Alenta bukan orang seperti itu. Kemarin hanya salah paham saja, jangan terus menilai dia buruk seperti itu! "


" Ya ampun Talita, kau terllau baik. "


Talita menajamkan mata menatap orang yang tadi mengatai Alenta. Rasanya sangat marah, tapi dia juga lelah menjelaskan karena sama sekali tak mereka dengar.


***


" Sayang, kita pulang sebentar yuk? "

__ADS_1


Alenta menatap Nick sebal. Oh, sekarang dia tahu kenapa Nick selalu mengajak makan siang di dekat rumah mereka tinggal, jadi tujuannya supaya mereka bisa pulang. Tapi, pulang untuk melakukan apa lagi? Apakah tujuannya untuk melakukan kikuk kikuk seperti kebiasaan dua hari terakhir? Ah, tidak mungkin kan?


" Iya iya! Tepat seperti yang kau pikirkan sayang. "


Hah? Alenta terperangah keheranan. Bused! Ini Nick apakah paham sekali jika ada orang yang memikirkan hal mesum?


" Yuk sayang, kan pekerjaan juga tidak banyak. Satu jam juga sudah sangat cukup sembari istirahat kok. "


Alenta membuang nafas kasarnya. Tuhan, sedangkan kakinya saja masih gemetar sampai sekarang, tapi Nick sudah mengajak melakukan ini lagi? Apakah kalau kedua kakinya sudah copot dari tubuhnya baru Nick bisa berhenti?


" Nick, apakah kau tidak punya niat untuk mengontrol diri? "


" Sayang, kalau suami harus mengontrol diri, lalu apa gunanya kau punya lubang enak?


Benar-benar sudah tidak bisa dikontrol! Bicara saja suaranya sampai terdengar orang lain. Alenta segera mengajak Nick pergi karena tidak ingin lebih malu lagi. Tentunya juga sudah membayar tagihan makannya.


" Nick, kau sungguhan gila ya! " Sebal Alenta seraya mengambil posisi duduk.


" Mau bagaimana lagi? Cara mu menggerakkan bibir saat mengunyah makanan terlalu menggoda. "


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2