
Alenta berjalan keluar dengan tubuh yang gemetar. Entahlah bagaimana pemikiran orang tentang dirinya mulai saat ini, yang jelas Alenta tidak ingin begitu membohongi diri sendiri dan mengatakan bahwa dia adalah orang baik dan pengertian sehingga akan memenuhi keinginan Talita dengan menemui Ayah kandungnya.
Sebentar Alenta memegang dinding untuk menyangga tubuhnya yang seperti lemas, dan akan jatuh. Padahal dia sudah hidup baik-baik saja selama ini, dia bisa tersenyum dan bahagia setelah trauma dan luka di masa kecilnya berangsur membaik. Tapi kenapa sekarang kondisi membuatnya harus menoleh kepada luka itu? Tahukah mereka jika rasanya sakit sekali bahkan bukan Sekali dua kali Alenta merasakan sesak dan berdenyut ngeri setiap kali melihat wajah pria yang katanya adalah Ayah kandungnya?
Nick, pria itu masih berdiri di luar mobil menunggu kedatangan Alenta. Entah mengapa dia gelisah dan tak tenang hingga pada akhirnya dia memilih untuk kembali ke lobby. Benar saja, Alenta tengah menyenderkan tubuhnya di dinding seperti menahan sesuatu yang membuat tubuhnya kehilangan energi. Mungkin tidak semua orang bisa melihat sisi Alenta yang seperti sekarang ini, karena biasanya Alenta terlihat tegas, dan tak sekalipun menunjukkan bahwa dia juga gadis yang memiliki titik lemah sama seperti wanita lain.
Nick berjalan cepat, meraih tubuh Alenta dan membawanya masuk ke dalam pelukannya. Tak mengatakan apapun, tapi Nick tahu benar Alenta saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya gemetar, juga terasa dingin. Entah pembahasan tentang Ayahnya atau masa lalu, Nick sekarang benar-benar paham jika sedikit saja tersentil salah satu masalah itu Alenta akan menjadi seperti ini. Boleh mulutnya dingin dan kasar, tapi beginilah Alenta setelah membicarakan tentang Ayahnya, atau bertemu dengan Ayahnya secara langsung.
" Alenta, aku tahu ini juga tidak mudah untukmu, jadi jangan terlalu memikirkannya. Walaupun aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi dirimu, tapi setidaknya aku bisa merasakan kesedihanmu juga. "
Nick mengusap kepala Alenta yang kini terbenam di dadanya. Jika saja Alenta baik-baik saja, dia pasti akan menangis seperti waktu itu, tapi Alenta yang diam saja dengan tubuh dingin juga gemetar, jelas sekali bahwa jiwa Alenta saat ini pasti terguncang. Tak mau lagi berlama-lama disana, Nick segera membawa Alenta untuk masuk ke dalam mobil dan segera menuju kerumahnya.
" Alenta, makan dulu ya? Setelah itu coba baringkan tubuhmu, siapa tahu bisa tidur. "
Alenta tak mengatakan apapun, tapi Nick segera bangkit dan berjalan keluar untuk mengambilkan makan malam untuk Alenta. Tidak usah banyak bicara dulu, sekarang ini yang dibutuhkan Alenta hanyalah ketenangan, jadi akan lebih baik kalau dia tidak banyak bicara dulu meski tetap membatin, malam ini jadi tidak bisa kikuk kikuk dong?
Tak banyak yang Alenta makan, tapi setidaknya perutnya sudah sedikit terisi. Sekarang dia sudah mulai tertidur karena tangan Nick terus bergerak mengusap kepalanya dan membuatnya lebih mudah untuk tertidur. Satu jam, bahkan lebih Nick menunggu Alenta untuk tertidur pulang. Segera setelah itu Nick bangkit dari duduknya, berjalan keluar perlahan meninggalkan kamar. Nick sebentar terdiam lalu membuang nafas kasarnya.
" Bu, titip Alenta sebentar ya? " Pinta Nick kepada Alenta. Untunglah hari ini Ibunya datang meskipun tidak bersama dengan Ayahnya jadi dia bisa menitipkan Alenta dan menemui Tuan Baskoro.
" Pergi saja, Ibu akan menunggu sampai kau pulang. " Ujar Ivi lalu menyeruput teh hijaunya.
__ADS_1
Tak banyak membuang waktu, Nick segera berjalan ke garasi untuk mengeluarkan satu mobil dan melesat menuju kediaman Tuan Baskoro. Memang tidak tahu pada akhirnya pembahasan apa yang akan mereka bicarakan nanti, tapi Nick yang tidak tahan kalau melihat Alenta seperti ini merasa butuh mengakhirinya dengan sesegera mungkin.
Sesampainya di rumah Tuan Baskoro, Nick mengetuk pintu beberapa kali hingga pintu itu dibuka oleh adiknya Talita.
" Oh, kakak orang yang datang bersama dengan Kak Alenta kemarin ya? " Tanyanya dengan mimik dan wajah polosnya.
" Iya, boleh masuk? "
" iya. "
" Dimana Ayahmu? " Tanya Nick.
" Aya ada di kamar, dia sedang sakit. " Ujarnya sembari menuntun jalan Nick agar bisa bertemu dengan Ayahnya.
" Ada perlu apa, Bos? " Tanya Talita yang belum hilang keterkejutannya.
" Ingin bertemu dengan Ayahmu. " Ucap Nick.
" Ayahku sedang sakit, Bos. Apa tidak apa-apa bertemu Ayah yang sedang sakit seperti ini? "
Nick mengangguk.
__ADS_1
" Minat keadaannya saja boleh kan? "
Talita mengangguk, tapi dia juga jadi menerka penuh tanya. Kenapa Bos Nick ada disini, maksudnya datang kesini? Apa karena kejadian di lobby tadi? Ataukah dia datang demi sekretaris nya? Tapi apakah hubungan mereka sedalam itu sehingga datang hanya demi sekretaris nya?
" Selamat malam, Tuan Baskoro? " Sapa Nick.
Pria itu menoleh dengan wajah pucat, seluruh tubuhnya nampak gemetar. Istrinya juga ada disana mengusap kepalanya. Ada semangkuk bubur tak jauh darinya, karena masih banyak dengan posisi bubur acak-acakan sudah sering di aduk, maka jelas sekali kalau Tuan Baskoro sudah menolak makanan itu.
" Bagaimana keadaan anda? Sepertinya tidak baik, pergilah kerumah sakit, Tuan Baskoro. " Ucap Nick.
" Dia selalu menolak, Tuan Nick. Sudah dua hari ini dia demam tinggi, tidak bisa makan apapun, dan dia juga terus memanggil nama Alenta, tidur juga yang dia sebut nama Alenta terus menerus. Kami pikir bisa membujuk dia yang kekeh tidak mau berobat ini lewat Alenta, tapi kami juga egois dan memaksa Alenta, kami minta maaf. "
Nick menghela nafasnya, sebenarnya kasihan juga melihat Tuan Baskoro yang juga adalah Ayah mertuanya sendiri terbaring sakit seperti sekarang ini.
" Tuan Baskoro, pergilah ke rumah sakit dan sembuhkan dirimu. Alenta menolak bertemu denganmu, tapi dia lebih merasakan sakit dibanding dirimu, Tuan Baskoro. Tolong jangan sakit lagi, agar putrimu Talita tidak memintanya untuk menemui mu, meksipun aku bukan Alenta, tapi setiap kali membicarakan tentang Ayahnya, Alenta selalu tertekan dan seperti orang linglung. Aku tahu Alenta juga tersiksa, dia tersiksa karena kenangan lama menyakitkan itu kembali dia ingat. Jadi, berhentilah berbuat bodoh, obati dirimu dan pastikan kau sembuh secepatnya. "
Tuan Baskoro tak mengatakan apapun, tapi wajah yang sudah memiliki lumayan banyak kerutan itu hanya bisa terlihat sedih, hingga tak lama jatuhlah air matanya. Mungkin ini adalah hukuman untuknya, ini adalah akibat dari kesalahan yang dia lakukan kepada Alenta.
" Tuan Baskoro, percayalah dengan ucapan ku ini, mesipun Alenta membencimu, tapi dia tidak ingin kau sakit. "
Talita yang mendengar itu semua rasanya tak bisa berkata-kata. Kenapa Bos Nick begitu membela Alenta? Padahal Alenta jelas bersalah karena mengabaikan Ayahnya sendiri.
__ADS_1
" Bawa aku kerumah sakit, sekarang. " Pinta Tuan Baskoro.
Bersambung.