
Bruk!
Alenta meletakkan setumpuk dokumen di meja Nick karena si pemilik nama itu malah sibuk melamun tidak jelas seharian ini. Yah, mungkin ini reaksi orang sedang menderita karena cinta ya? Tapi kalau terus memikirkan cinta, bagaimana hal lain bisa fokus dikerjakan?
" Apa ini Alenta? " Tanya Nick setelah beberapa detik lalu terkejut, dan kini dia menatap Alenta bingung.
Alenta menghela nafas, lalu memilah dokumen menjadi dua tumpukan di sisi kanan dan kiri meja Nick. Sebentar dia menatap Nick dengan tajam, lalu mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas Alenta menyembur kulit wajah Nick.
Deg!
Nick menelan salivanya sendiri saat wajah mereka menjadi sedekat ini. Ah! Sialan! Bagaimana bisa timbul keinginan untuk mencium bibir Alenta?, Batin Nick protes. Tapi, kalau pun ingin mencium Alenta, dia juga harus memperdulikan akibatnya kan? Kalau tidak bibirnya di potong segi, ya paling ringannya kurang lebih bonyok deh. Ah! Ngeri sekali! Batal, batalkan saja deh niat itu meksipun ingin sekali merasakan bagaimana bibir Alenta yang menggoda itu.
" Bos, aku mengendus bau busuk dari patah hati, tapi tolong singkirkan dulu patah hatimu, karena pekerjaan kita, oh! Maksudku, Chloe tidak membutuhkan CEO yang begitu mendalami patah hati. " Alenta memiringkan wajahnya.
" Lihatlah, orang-orang disana, mereka nampak sedih melihat bagaimana keturunan mereka sama sekali tidak bisa di andalkan. Kalau begini terus menerus, aku akan membujuk tuan Nathan, oh! Maksudku adalah Ayah mertuaku agar menyerahkan posisi CEO padaku, lalu mengubah posisi mu sebagai asisten ku saja, bagaimana? " Alenta menunjuk photo generasi ke generasi penerus Chloe. Mulai dari dua kakek buyut terdahulu, bututnya, kakeknya, ayahnya, dan lima orang itu nampak gagah dengan kharismanya yang luar biasa.
" Alenta, jangan begitu menekan ku dan membuatku merasa tidak di hargai sama sekali sebagai atasanmu, sekaligus penerus Chloe. Jangan lupa siapa, dan dari mana kau berasal. " Ucap Nick yang sungguh merasa tersinggung dengan ucapan Alenta. Paham, dan sadar kalau dia memang tidak secerdas dan serba bisa seperti para pemimpin Chloe sebelum-sebelumnya. Tapi kenapa jika ucapan itu keluar dari mulut Alenta, rasanya benar-benar sangat menyakitkan hingga dia tidak bisa menahan diri lagi untuk terus mengalah seperti sebelumnya.
Alenta tersenyum dingin seraya menjauhkan tubuhnya dari Nick, melipat kedua lengannya dan meletakkan di dadanya. Sejenak dia menghela nafas dengan tatapan datarnya.
" Tentu saja aku tahu siapa, dan dari mana aku berasal. Tapi, sebelum mengingatkan orang lain, akan lebih bagus juga kalau Bos sendiri ingat dari mana dan siapa Bos. Anda, adalah keturunan dan satu-satunya penerus Chloe! Anda sadar tidak? Sudah berapa banyak waktu yang anda buang dengan percuma hanya untuk bersenang-senang dengan wanita? Anda, sudah mengecewakan pemimpin Chloe yang sebelumnya. "
" Alenta! "
" Apa?! "
Tadinya sih, Nick ingin melotot tajam agar mulut Alenta berhenti berbicara. Anda, anda, kan kalau sudah begitu berarti Alenta sangat marah kan? Tapi saat mata Alenta melotot jauh lebih tajam dan menyakitkan, ciut sudah nyalinya. Padahal tadi dia juga berniat menggebrak meja, lalu bangkit dengan gagah berani loh, uh! Pokoknya cari aman saja deh.
" Apa? Mau marah? Marah saja, meskipun aku hanyalah seorang sekretaris rendahan, tapi aku bisa memecat mu, percaya tidak? "
__ADS_1
Nick terdiam, dia bahkan sampai menunduk karena tak tahan melihat mata Alenta melotot marah seperti itu. Namun dia menyadari sesuatu saat ini yaitu, dia hanya tidak menyukai tatapan Alenta, bukan kata-katanya. Entah apa maksudnya, mungkin seiring berjalannya waktu akan ada jawaban untuk apa yang dia rasakan ini.
" Ehem! " Nick mengendurkan dasinya karena sesak. Duh! Bagaimana mau marah seperti kebanyakan di drama-drama CEO berang kalau Sekretarisnya seperti Alenta? Ini sebenarnya siapa yang Bos siapa yang anak buah sih? Kenapa rasanya malah aura sekretarisnya sangat menekan dan membuat sesak?
" Dengar, Bos! Fokuslah bekerja hari ini, jangan lagi memikirkan patah hatimu yang tidak penting. Aku akan datang memeriksa lagi satu jam dari sekarang, jadi mulailah bekerja dengan giat. " Alenta berbalik dengan wajah angkuhnya, dan keluar ruangan begitu saja.
Nick, pria itu terperangah tidak percaya dengan apa yang dilakukan Alenta barusan. Bos, dia adalah Bosnya kan? Kenapa dia diperlakukan seperti jongos woi?! Mau marah tapi tidak berani, tidak marah berat juga menanggungnya di dalam hati.
" Aku ingin bunuh diri saja. " Ucap Nick seraya menatap pintu ruangannya yang baru saja tertutup rapat.
" Alenta, ada seorang gadis ingin bertemu denganmu. Dia sudah menunggu, apa kau bersedia menemui atau tidak? " Tanya Maudi begitu Alenta sampai di ruangan kerja mereka.
" Siapa? " Tanya Alenta dengan dahi mengeryit penuh tanya.
" Em, namanya Talita. "
Alenta terdiam sesaat.
" Em, tapi dia bilang akan terus menunggu sampai kau bersedia menemuinya. "
Alenta menghela nafas, lalu menutup kembali laptop yang baru saja ia buka dengan wajah kesal.
" Baiklah, aku akan menemui dia sebentar. Kau tolong stay dengan ponsel ku ya? Aku takut ada hal penting yang mendesak nanti. " Ucap Alenta seraya menyerahkan ponselnya.
" Oke! "
Alenta berjalan menuju ruang tunggu yang kini hanya ada gadis bernama Talita itu. Kakinya berhenti sejenak begitu melihat gadis cantik bernama Talita itu duduk terdiam sembari memainkan jemarinya yang saking bertautan satu sama lain dengan pandangan yang menunduk. Sejenak dia menghela nafas, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya untuk semakin mendekat.
" Kak Alenta? " Gadis bernama Talita itu bangkit, lalu tersenyum menyambut kedatangan Alenta yang semakin mendekat padanya. Dia terus tersenyum manis tanpa perduli jika Alenta sama sekali tidak pernah ingin membalas senyum itu, apalagi menyapanya seperti dia yang terus menyapa Alenta.
__ADS_1
" Berhentilah tersenyum seperti itu, katakan saja langsung apa yang kau inginkan. "
Talita sontak terdiam, sejenak dia coba memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata Alenta yang selalu saja menatapnya dengan dingin dan memberikan tekanan tersendiri untuknya.
" Apa kabar kak? Lama tidak bertemu. "
" Sudah kubilang untuk mengatakan langsung intinya! "
Talita menelan salivanya dengan tubuh yang sedikit gemetar.
" Kak, a aku sudah lulus kuliah beberapa bulan lalu. Aku ingin bekerja di perusahaan ini, apa bisa kakak membantuku? "
Alenta tersenyum sinis.
" Yang bisa membantumu untuk masuk ke perusahaan Chloe ya hanya kemampuanmu. Aku tidak bisa membantu, kalaupun bisa, aku tidak akan sudi melakukannya. "
Talita menelan salivanya sendiri dengan tatapan gugup.
" kalau begitu, aku akan mengajukan lamaran besok pagi. " Talita kembali tersenyum meski itu sangat sulit baginya.
" Lain kali, jangan membuang waktu berharga ku untuk hal tidak penting seperti ini. " Alenta berniat pergi karena sudah mulai membalikkan badan.
" Tunggu, kak! "
Alenta menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badannya.
" Kak, Ayah merindukanmu, bisakah temui dia? Minggu depan adalah hari ulang tahun Ayah, ku mohon kakak datang ya? "
Alenta mengepalkan kedua tangannya kuat hingga gemetar.
__ADS_1
" Ayah? Apakah aku punya Ayah? Maaf sekali, aku tidak memiliki waktu senggang. Oh, satu lagi, jangan memanggilku dengan sebutan, kak! Aku, bukan kakakmu! " Alenta melajukan langkahnya tanpa perduli Talita yang terlihat sedih disana.
Bersambung.