My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Camping 1


__ADS_3

Nick tersenyum dengan begitu lebar ketika berhasil duduk di sebelah Alenta. Tadinya sih Arkan sudah akan duduk disan, tapi lagi-lagi karena alasan tidak suka duduk didekat orang asing, akhirnya Arkan mengalah tanpa bicara. Bagus sih, jadi tidak usah banyak-banyak membuang energi untuk mencari alasan. Uh, apalagi hari ini Alenta tidak mengikat rambutnya seperti buntut kuda, sudah begitu wajah cantik naturalnya malah begitu terlihat nyata. Hah! Bagaimana mungkin tidak dijaga? Nanti kalau tiba-tiba ditaksir orang bagaimana? Oh, kalau nanti di gondol Arkan juga kan bahaya? Hem,.. Alenta memang cantik sekali sih kalau rambutnya terurai terus tidak pakai make up, tapi kalau di depan banyak orang begini kenapa rasanya ingin memakaikan satu kilo bedak, lima kilo blus on, buku tanya juga kalau bisa pakai bulu mata buntut ayam saja. Heh! Jangan tanya kenapa bisa tahu segala blush on, itu ya tentu saja karena pengalaman dengan wanita sebelumya lah.


" Eh, Alenta? Itu kan adik tiri mu! " Tunjuk Nick kepada seorang gadis yang baru saja sampai dan tersenyum sopan padanya.


Alenta sebentar melihat ke arah Nick melihat, lalu menghela nafas dan mengacuhkan saja karena tab yang ada ditangannya jauh lebih penting.


" Alenta, nanti jadi tidur di motel? " Tanya Nick yang sebenarnya hanya ingin terlihat dekat saja dengan Alenta karena sedari tadi Arkan terus mencuri pandang ke arah mereka berdua.


" Kurang tahu juga, malam kalau tidak salah ada acara kan? Kalau tidak terlalu malam aku pilih motel saja, tapi kalau sudah terlalu malam ya mau tidak mau aku tidur di rumah warga saja. "


Nick mengernyit bingung. Sebegitu tidak inginnya Alenta bergabung untuk Camping? Ini yang tidak Alenta inginkan kumpul-kumpul bersama karyawan lain, atau campingnya ya? Batin Nick menebak-nebak.


Sebentar Arkan menatap lagi Nick dan Alenta, melihat bagaimana Bosnya terus mengajak bicara dia jadi merasa tidak nyaman, atau bisa lah disebut cemburu. Ingin sekali rasanya dia mengatakan kepada Alenta bahwa dia tidak menyukai kedekatannya dengan Bos Nick yang terkesan di luar nalarnya. Tapi bisa apa dia kalau itu tidak akan mungkin bisa membuat Alenta berhenti? Dari awal Alenta sudah menceritakan banyak hal, termasuk bagaimana bisa dia menjadi sekretaris Nick, dan menjadi salah satu tokoh berpengaruh di Chloe. Jika mengingat semua itu tentu tidak mudah bagi Alenta untuk menjaga jarak dari Bosnya.


Arkan menghela nafas panjangnya. Tidak tahu sudah sebanyak apa unek-unek yang mengganjal di hatinya, tapi tetap saja dia merasa tidak tega kalau harus mengkritik Alenta, karena takut juga kalau Alenta akan menganggapnya halangan dalam karirnya. Jadi harus bagaimana dong? Lagi-lagi Arkan hanya bisa menghela nafas panjangnya.


" Kak, boleh duduk disini tidak? " Tanya Talita kepada Arkan yang sama sekali tidak menyadari kapan Talita datang.


" Talita? Kau ikut juga? "


Talita tersenyum, lalu mengangguk cepat.


" Kemarin pak manager bilang aku boleh ikut, aku kan masuk ke Divisi pemasaran, jadi ya berbarengan dengan kak Arkan. Ngomong-ngomong aku boleh duduk di samping kak Arkan tidak? "


Arkan terdiam sebentar, matanya melirik melihat Alenta yang sekarang ini juga menatapnya.


" Maaf, Talita. Sepertinya kursi ini sudah ada yang menempati sebelum aku duduk. " Ujar Arkan, dia memaksakan senyumnya seolah tak ingin menyakiti hati Talita, tapi dia juga tidak ingin Alenta mengabaikannya gara-gara hari ulang tahunnya kemarin yang mendapatkan kado juga dari Talita.

__ADS_1


" Oh, begitu ya? Kalau begitu aku duduk di paling belakang saja deh. " Talita memaksakan senyumnya, segera dia melangkahkan kaki untuk menuju kursi belakang. Sebelum sampai di sana, dia menyempatkan diri untuk menyapa Nick dengan sebutan Bos, lalu Sekretaris Alenta. Iya, dia tidak ingin ada percekcokan lagi di hari yang bahagia ini.


" Selamat pagi, Bos, dan Sekretaris Alenta? "


" Pagi. " Jawab Nick dan Alenta bersamaan.


" Pacarmu sepertinya takut melihat tatapan tajam mu tadi. Kasihan sekali loh adikmu duduk sendirian, mana baru sehari ini masuk kerja. Hihi tidak ada teman kan dia? Alenta, temani adikmu sana! "


Alenta menghela nafas sebalnya.


" Bos begitu khawatir, bagaimana kalau Bos saja yang menemani? " Usul Alenta.


" Aku maunya menemanimu, istriku! " Bisik Nick dengan wajah yang terlihat menggelikan bagi Alenta.


" Aku tidak butuh ditemani! "


Ha? Alenta melongo kesal, ingin sekali rasanya memukul kepala Nick andai saja bukan Bosnya.


" Aku tidak mau ditiduri buaya darat! "


" Aku bukan buaya kok, kalau tidak hafal bentuk buaya, aku rela telanjang demi kau bisa membedakan mana buaya mana aku. "


" Diamlah, Bos! "


Nick terkekeh geli, dan itu tak luput dari tatapan Arkan dan juga Talita yang rupanya sedari tadi memperhatikan Alenta dan Nick.


Sesampainya di tempat tujuan, semua berkumpul untuk absen, terkecuali Nick dan Alenta. Dua orang itu seolah menyita perhatian penuh karena nampak berbeda sekali dengan hari biasa. Nick, pria tampan itu nampak sangat muda bak anak kuliahan yang super tampan. Alenta, gadis yang biasanya selalu serius dan tak pernah terlihat berantakan penampilannya kini memakai baju santai, tanpa make up, rambutnya terurai begitu saja, dan satu kata untuk Alenta di batin mereka secara kompak, cantik!

__ADS_1


Tak ada kegiatannya di acara pertama mereka sampai terkecuali mendirikan tenda bersama-sama.


" Kak, eh! Maksudku sekretaris Alenta ingin bergabung bersamaku tidak? Kebetulan tenda ku isianya hanya aku dan satu teman divisi penjualan, bagaimana menurutmu, Sekretaris Alenta? "


" Tidak mau! "


Sudah, tidak usah membujuk lagi karena yang paling penting kan dia sudah menawarkan, mau tida mau ya mana bisa dia memaksa. Talita tersenyum lalu mengangguk dan pergi begitu saja.


" Kakak yang sangat lemah lembut. " Ujar Nick terkekeh sendiri. Alenta, gadis itu hanya bisa terdiam dengan tatapan sebal.


" Aku memang sangat lemah lembut seperti yang kau katakan kok Bos, mau coba seberapa lemah lembutnya aku tidak? "


Nick tersenyum, lalu segera dia menyilangkan kedua tangannya sebagai perwakilan kata No!


" Alen, bisa bicara sebentar tidak? " Tanya Arkan dari balik punggung Alenta dan Nick. Tidak tahu apakah dengar obrolan antara mereka berdua, tapi kalau di ingat lagi tidak ada yang aneh kan?


" Tidak bisa! Dia sedang sariawan. " Ujar Nick mewakili Alenta bicara.


Arkan menatap Alenta, jujur saja dia semakin terganggu dengan sikap Nick yang semakin lama semakin jelas seperti ingin menjadi jurang pemisah di antara dirinya dan juga Alen.


" Hanya sebentar saja, kalau tidak bisa bicara kan bisa mengangguk dan menggeleng. " Ujar Arkan penuh harap.


" Duh, leher Alenta sedang sakit! Dia salah bantal! Iya kan, Alenta? "


Alenta memijat pelipisnya karena pusing dengan kenangan tentang camping, ditambah obrolan dua pria menyebalkan di dekatnya.


" Lihat tuh? Alenta selain sariawan, salah bantal, dia juga sedang migran. Bicara ya kapan-kapan saja ya? " Ucap Nick menunjuk Alenta yang kebetulan memang memijat pelipisnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2