My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Sibuk


__ADS_3

Tak ada yang terjadi begitu malam semakin larut meski si pria mesum yang tak lain adalah Nick begitu menahan diri agar tidak melakukan hal yang berlebihan kepada wanita yang sedari semalam tidur nyenyak dipelukannya setelah lelah menangis. Duh, pegal sih lengannya, bahkan juga sudah kesemutan beberapa kali, tapi karena demi bisa masuk ke dalam hati Alenta, dia menahan lengannya hingga lama kelamaan tertidur juga.


Alenta menggeliat setelah mulai terbangun dari tidurnya. Perlahan dia mulai bangkit, membuka penutup tenda dan sebentar mengambil nafas segar. Alenta tersenyum, sungguh dia tidak tahu kalau akan merasa lega seperti pagi ini. Apakah karena udara segar yang ia hirup? Ataukah dia merasa lega karena membagi sedikit cerita pilunya kepada Nick? Entah lah, jawaban itu belum bisa ia dapatkan sekarang ini, dan biarkan saja waktu bekerja dengan sendirinya memberikan jawaban dari pertanyaannya barusan.


" Kau sudah bangun dari tadi? " Tanya Nick seraya bangkit dari duduknya, matanya masih sembab khas bangun tidur, begitu juga dengan suaranya yang berat.


" Tidak, aku belum lama bangun kok. "


Nick mengambil sebotol air mineral sisa yang ia beli semalam, lalu mencuci wajahnya.


" Para pegawai apa sudah bersiap-siap akan kembali? " Tanya Nick.


Alenta melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


" Sekitar satu jam lagi, Bos. Kita bergabung dengan mereka saja yuk! " Ajak Alenta lalu bangkit dari posisinya setelah keluar dari tenda. Nick tak menjawab, tapi dia juga ikut bangkit menyusul Alenta. Baru akan melanjutkan langkah, Alenta sebentar mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu membaca pesan yang sudah menumpuk, dan disana juga ada beberapa pesan yang dikirim oleh Ayahnya. Sebentar Alenta menghela nafas, tapi dia enggan untuk membalas pesan itu, dan segera menyimpan kembali ponselnya.


" Ada apa? Kenapa wajahmu seperti tersiram cuka setelah membaca pesan? " Tanya Nick yang menyadari perbedaan ekspresi di wajah Alenta.


" Pria itu, selalu saja mengirimkan pesan mengingatkan ku untuk datang ke ulang tahunnya. Apakah dia berpikir aku punya waktu luang untuk melakukan kegiatan tidak bermanfaat? " Gerutu Alenta yang sudah mulai menjalankan kakinya.


" Ayahmu? "


" Tida tahu aku harus menjawab iya atau bukan. "


Nick tersenyum dengan tatapan melas. Mungkin luka yang dirasakan Alenta begitu dalam, bahkan menyebut nama atau sebutan pria yang tak lain adalah Ayahnya dia begitu enggan.


" Sudahlah, kita temui saja dia. " Ujar Nick.


" Tidak tertarik. "


" Siapa tahu dengan melihat wajah sedihnya bisa membuatmu senang. "


" Aku tidak ingin melihat wajahnya dalam ekspresi apapun. "


" Tapi menunjukkan wajah mu yang dingin seperti batu es, mulutmu yang pedas seperti cabai, aku rasa itu akan membuatnya enggan mengundangmu lagi tahun depan. Dia pasti memintamu datang setiap tahun kan? "

__ADS_1


" Akan aku pikirkan lagi nanti. "


Dia pasti hidup dengan menderita, Alenta.


Nick menatap punggung Alenta lalu tersenyum tipis.


Setelah Nick dan Alenta bergabung, tak lama mereka sudah harus bersiap-siap untuk kembali bersama dengan pegawai yang lain. Sama seperti sebelumnya, Nick dan Alenta duduk bersebelahan. Sementara Arkan yang sedari tai hanya bisa menatap Alenta, sampai kini pun masih harus menatapnya.


Alen, apakah kau sungguh-sungguh ingin berpisah denganku? Padahal jika aku melakukan kesalahan, kau hanya perlu memberitahuku apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan kan? Aku akan berusaha menjadi seperti yang kau mau, tapi kenapa kau memilih perpisahan seolah-olah kau ingin memilih Bos Nick tetap berada di sisimu. Alen, tahukah kau kalau aku semakin berpikir bahwa kau tidak mencintaiku selama ini?


Nick menatap Arkan dengan seringai licik penuh kemenangan, hah! Senyum itu rupanya Arkan melihatnya, tapi entah dia merasa malas untuk lebih lama melihat senyum dari wajah Nick, atau karena dia merasa takut, pada akhirnya Arkan memilih untuk memalingkan wajah dan menatap ke arah lain.


Satu hari kemudian.


Seperti biasa, Nick dan Aleta datang bersamaan ke perusahaan, dan bekerja juga seperti biasa. Jadwal yang sudah tertunda dua hari itu pun mau tak mau harus mereka kejar agar tak lebih menumpuk lagi. Pagi hari sudah harus rapat tim, kemudian juga meeting dengan para investor, lalu dengan beberapa orang dari perusahaan lain yang menjalin hubungan kerja sama untuk proyek baru Chloe.


" Huh! Aku lelah! " Pekik Nick sembari memegangi dengkulnya yang terasa pegal. Ini sudah setengah empat sore, dan dia baru bisa duduk di kursi kerjanya dengan tenang. Tenang? Hah! Satu jam lagi dia juga harus menemui Mr Zerg yang menyebalkan itu, dan malamnya juga akan menemui Ayahnya Alenta.


" Bos, ini dokumen dari Divisi pemasaran, perlu aku bantu baca lagi sebelum di tanda tangani? " Tanya Alenta seraya menyodorkan beberapa lembar kertas ke mejanya. Sebentar Nick menatap Alenta yang terlihat biasa saja tidak seperti dirinya yang sangat kelelahan. Padahal, dari pagi Alenta terus mengikutinya, belum lagi Alenta juga lah yang menyiapkan bahan rapat, bahkan saat meeting juga dia yang memesan minuman, bahkan panjang lebar menjelaskan tentang perkembangan proyek baru yang sedang mereka kerjakan.


Alenta tersentak sebentar tak bisa bicara. Pertanyaan itu, kenapa begitu dalam baginya? Apa kau tidak lelah? Sebenarnya kalau boleh jujur, tubuhnya juga pasti merasakan yang namanya lelah, tapi keharusan demi memenuhi janji kepada Tuan Nathan Rezef Chloe, dia memaksakan tubuhnya yang kadang harus berpura-pura baik-baik saja meski sakit sekalipun.


" Aku baik-baik saja. "


Nick menghela nafasnya, bohong! Segera Nick bangkit dari duduknya, meraih tubuh Alenta, lalu mendudukkan Alenta di tempat duduknya.


" Duduklah! Kau sudah seharian mondar mandir dengan sepatu heels mu, mana ada tidak lelah. " Nick menarik kursi yang bersebrangan dengan Alenta, membaca lembar demi lembar sebelum mendatanginya.


" Kita masih punya satu jam lagi, istirahatlah disana saja, dan luruskan kakimu. " Tunjuk Nick ke sebuah sofa yang ada di ujung ruangannya.


" Apa aku harus menggendong mu kesana? "


Segera Alenta bangkit dari duduknya, dan berpindah ke sofa lalu mengambil posisi untuk meluruskan kakinya.


Gila! Kenapa sedari tadi aku malah sibuk memperhatikan Bos? Tapi, Bos yang serius bekerja seperti tadi memang terlihat sangat keren.

__ADS_1


" Bos? " Suara setelah ketukan pintu terdengar.


" Ada apa, Maudi? "


" Bos, Nona Rebecca merengek dan meneror pegawai resepsionis sedari pagi untuk bertemu Bos. "


" Suruh saja dia masuk! " Ucap Alenta.


" Kau tahu apa yang kau ucapkan, Alenta? " Sinis Nick yang tidak mau terlibat lagi dengan Rebecca di saat hatinya mantap dengan Alenta.


" Cih! Aku harus membalas tamparan yang aku terima, dan juga membalas tamparan yang diberikan kepada Maudi. " Maudi tersenyum seraya mengacungkan dua jempolnya.


" Ngomong-ngomong, kau tidak ikut caping? "


" Bos, aku kan sama saja degan lembut karena tidak ikut camping, jadi gajinya bagaimana Bos? " Tanya Maudi lalu tersenyum senang.


Nick menghela nafas lalu mengacungkan jempolnya.


" Ah, aku mengerti Bos! Gajiku doble kan? " Maudi menutup pintu dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


" Dasar mata duitan! " Gerutu Nick dan Alenta.


Tak lama kemudian.


" Babe? " Rebecca berlari menghampiri Nick dan memeluknya.


" Aduh! Rebecca, jangan menempel seperti ini dong! Nanti make up mu menempel di baju ku. " Kesal Nick.


Perempuan ini apa belum sadar juga ya kalau terlalu banyak menggunakan bubuk di wajahnya? Kalau saja di tepuk, pasti bedak bubuk itu akan berhamburan kan?


Alenta tersenyum dari kejauhan.


Waktunya menampar siluman unta! Heh! Lumayan juga untuk peregangan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2