
" Talita! " Tuan Baskoro berlari begitu mendapati sang putri tergeletak dengan banyak darah disekitar tubuhnya. Awalnya dia hanya heran karena Ibu Rahayu dan Ibu Tina terus mengetuk pintu dan menggerakkan handle pintu terus menerus memanggil nama Talita agar dia membuka pintu kamarnya, tapi karena cukup lama tak di bukakan pintu oleh Talita, Tuan Baskoro mulai panik karena Talita bukan tipe gadis yang akan mengunci pintu saat sedang sedih. Tanpa pikir panjang dia meminta Ibu Rahayu dan Ibu Tina untuk menjauh dari pintu agar dia bisa mendobrak pintunya.
Setelah pintu terbuka, mata Tuan Baskoro membelalak kaget mendapati sang putri ambruk di lantai dengan darah yang banyak di lantai tempat dia terjatuh. Ibu Rahayu dan Ibu Tina pun menjadi histeris ketakutan hingga menangis. Tak mau membuang waktu, segera Tuan Baskoro menggendong Talita untuk di bawa kerumah sakit, tapi sebentar dia berhenti melihat buku harian anaknya. Dia megambil buku itu meletakkan di atas tubuh Talita dan segera membawa tubuh Talita ke dalam gendongannya dan berjalan setengah berlari menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. Sesungguhnya bekas operasinya sangat terasa sakit ketika mengangkat tubuh Talita, tapi nyawa anaknya jauh lebih penting darinya, jadi rasa sakit itu sebisa mungkin tak dia hiraukan.
Ibu Rahayu dan Ibu Tina menyusul dengan memakai taksi karena Tuan Baskoro sudah lebih dulu darinya.
" Dia pasti baik-baik saja, Rahayu. " Ucap Ibu Tina yang sebenarnya dia juga sangat ketakutan.
" Aku sudah melukai anakku, aku bersalah. " Ucapnya sembari menangis karena tak mungkin untuknya berpikir begitu positif terus menerus. Seluruh tubuhnya gemetar, mengingat betapa banyaknya darah yang keluar dari tubuh anaknya, sebagai seorang Ibu tentu dia merasa sangat takut. Takut kalau sampai terjadi sesuatu dengan anaknya, takut jika pada akhirnya dia akan menjadi tersangka utama karena telah menyakiti putrinya sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Tuan Baskoro ikut mendorong brankar rumah sakit. Sebagai seorang Ayah, mana bisa dia tidak menangis, bahkan seluruh tubuhnya juga gemetar hebat tapi tetap harus dia abaikan semua itu sampai Talita mendapatkan perawatan.
Kebetulan, Nick dan Alenta sedang mengunjungi istri dari Sammy yang sedang dirawat disana karena demam tinggi, di sana juga ada Reiner. Tadi mereka bertiga hanya sedang bosa-basi sebelum Alenta dan Nick pamit untuk pulang, tapi karena melihat brankar lewat dengan buru-buru mereka tanpa sadar ikut melihatnya.
" Sayang, itu Talita? Ayahmu juga ada disana. "
" Gadis itu, yang kemarin ingin bunuh diri. " Ujar Reiner.
Alenta, dia menatap Talita yang dipenuhi dengan darah dan wajahnya yang pucat hanya bisa menatap kaget. Kenapa? Apa dia kecelakaan?
__ADS_1
" Kemarin ingin bunuh diri katamu? " Tanya Nick penasaran.
" Iya, saat aku sedang menunggu Hendra di taman, aku melihat dia masuk ke sungai dan menenggelamkan diri. Jadi aku tolong saja, dan sedikit memaki lalu menasehati, tidak tahunya dia tetap masih ingin bunuh diri ya? "
Nick terdiam tak menjawab, sementara Alenta terus menatap ke arah yang sama padahal sudah tidak ada Talita disana karena sudah mask ke ruang gawat darurat.
Kenapa? Bukankah hidupnya begitu indah? Apa yang membuat seorang yang hidup indah begitu ingin mati? Apakah benar keindahan itu hanya nampak luarnya saja? Tidak tahu lah, kehidupan yang sebenarnya kan hanya milik perorangan, entah bahagia atau tidak juga tidak akan ada orang lain yang tahu tentang detailnya.
" Kau kenal dia juga? " Tanya Reiner.
" Dia adik tirinya Alenta. "
Reiner terlihat agak terkejut, tapi dia juga tidak berani bertanya lebih detail lagi. Sangat disayangkan, padahal hidup hanya satu kali dan tidak akan ada kesempatan kedua.
Ayah, hari ini adalah hari dimana hatiku semakin hancur. Yang mencintaiku dengan tulus hanya Ayah seorang, tidak ada yang lain. Ayah, aku minta maaf jika pada akhirnya aku tidak bisa lebih lama berada di sisimu, menemani Ayah yang sedang sakit. Aku menderita sekali, Ayah. Tapi aku juga tidak bisa memperlihatkan seberapa besarnya luka yang aku rasakan. Mungkin apa yang aku rasakan tidak sebanding dengan luka yang Alenta alami, tapi percayalah Ayah, aku putrimu yang mencintaimu, aku sangat mencintai dan menyayangimu dan aku sudah mencoba bertahan sebisa yang aku bisa.
Hari ini, Ibu dan nenek ingin menjodohkan aku dengan pria yang mungkin sudah seusia Ayah. Aku marah, tapi kekecewaan yang aku rasakan jauh lebih besar, semakin besar dari sebelumnya. Aku melakukan tindakan ini bukan hanya karena aku kesal, tapi aku tidak ingin menjadi alasan lagi untuk Ayah menderita lebih lama. Aku tahu Ayah amat menderita bersama Ibu kan? Hanya karena aku, Ayah bertahan hanya karena ada aku kan? Aku sedih, aku marah, kecewa, aku bahkan sampai membenci diriku sendiri Ayah. Jika saja aku tidak lahir, jika saja aku tidak begitu menuruti Ibu, jika saja aku tidak tersenyum begitu manis, menangis saat akan tidur, aku melakukan kesalahan karena begitu menurut. Aku melukai Ayah, melukai Alenta, aku melukai Ibu, aku melukai adik, aku juga melukai diriku sendiri. Semua kesedihan yang Ayah alami, dan juga Alenta hanya karena aku kan? Aku tidak ingin lagi tersiksa dengan pemikiran itu, Ayah. Aku sudah merasakan lelah berkali-kali tapi tidak ada satupun yang membuatku merasa aku harus kuat. Ayah, hiduplah dengan baik, jangan terus menangis, sampai bertemu nanti, aku mencintaimu, Ayah.
Tuan Baskoro menangis tersedu-sedu hingga suaranya pun tercekat. Air matanya semakin luruh membanjiri wajahnya. Padahal dia sama sekali tidak pernah menyalahkan Talita, atau siapapun. Semua kesedihan yang terjadi kepada dua putrinya adalah karena dirinya sendiri. Dia sebagai seorang Ayah sama sekali tidak memiliki prinsip, dia yang gagal, dia yah berdosa, dia yang seharusnya mati dihukum oleh Tuhan, Talita bukanlah sosok yang bisa disalahkan.
__ADS_1
" Baskoro, bagaimana keadaan Talita? " Tanya Ibu Tina yang baru saja datang bersama dengan Ibu Rahayu yang sudah tak bisa berhenti menangis sedari tadi.
Sebentar Tuan Baskoro menatap keduanya dengan tatapan marah. Dia bangkit dari duduknya, menampar kuat wajah Rahayu.
" Baskoro! " Pekik Ibu Tina, sementara Ibu Rahayu terjatuh di lantai dan semakin menangis.
" Sejak kapan kau memukul wanita! " Protes Ibu Tina.
" Aku menang tidak pernah sekalipun memukul wanita, tapi kali ini aku bukan hanya ingin memukul tapi juga ingin membunuh! "
" Sudahlah, Baskoro! Talita pasti baik-baik saja. " Ujar Ibu Tina menenangkan.
" Semoga saja, karena kalau sampai terjadi sesuatu dengan Talita, kalian berdua tidak akan pernah mendapatkan maaf dariku. "
Tak lama Dokter keluar dari ruangan.
" Bagaimana keadaan putriku, Dokter? "
Dokter itu nampak lesu, segara di menatap Tuan Baskoro dan yang lain dengan tatapan prihatin.
__ADS_1
" Maaf, putri anda tidak bisa diselamatkan. Delapan belas dua puluh satu adalah waktu kematiannya. "
Bersambung.