My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Permintaan Yang Terkabul


__ADS_3

Nick, pria itu kini semakin bahagia luar biasa begitu Alenta menyetujui untuk tidak lagi bekerja selama hamil. Kenapa kok bisa Alenta menurut hanya karena hamil? Itu semua karena Nick meminta bantuan Ibu mertua, Ibunya, Ayah, nenek, kakek, Sammy beserta istrinya untuk ikut membujuk dan pada akhirnya Alenta pasrah, mengatakan iya meskipun wajahnya jelas tidak ingin mengiyakan.


Setelah kepergian para keluarga, Nick kini membawa Alenta untuk istirahat dulu di kamar. Alenta sebenarnya sudah merasakan tidak nyaman semenjak beberapa hari sebelum dia pingsan, tapi karena dia yang biasa kerja keras akhirnya mengabaikan hingga pingsan di puncaknya.


" Sayang, Bibi dirumah sudah membawa keponakannya untuk bekerja disini dan tinggal disini, jadi kalau butuh apapun saat aku tidak dirumah bilang saja ya? Jangan terlalu lelah, Dokter kan bilang kau harus cukup istirahat. " Ucap Nick, seraya mengusap kepala Alenta dan memeluknya karena setelah Aleta tidur dia harus mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk.


" Aku masih belum ingin dirumah terus, aku kan biasa bekerja dari pagi sampai malam. Pasti benar-benar tidak betah deh. " Ujar Alenta.


Nick tersenyum, memang benar apa yang dikatakan Alenta, tapi sekarang lah waktunya untuk dia menunjukkan kepada Alenta bahwa dia juga bisa di andalkan dan tidak melulu bersembunyi di belakang tubuh mungil istrinya. Nick meninggikan selimut untuk menyelimuti tubuh Alenta hingga ke batas leher. Dia paham benar bahwasanya tujuh puluh persen Chloe berjalan berkat Alenta, jadi bukan salahnya kalau terlalu khawatir seperti sekarang.


" Sayang, fokus saja dengan kehamilan mu ya? Masalah Chloe biarkan aku saja yang handle, kau percaya padaku kan? " Nick menatap Alenta yang kini juga menatapnya. Sebentar Alenta terdiam, tapi pada akhirnya dia mengangguk mengiyakan ucapan Nick. Bukan asal mengangguk saja, Alenta juga bisa melihat sendiri bagaimana performa kerja Nick yang bisa dibilang luar biasa akhir-akhir ini karena dari hal kecil hingga yang besar Nick bisa mengatasi dengan mudah tanpa mengorbankan pihak manapun, atau menentukan kerugian kepada siapapun.


" Nanti kalau butuh bantuan jangan merasa ragu untuk memintaku ya? Sesekali bekerja kan juga tidak masalah, aku tahu aku tidak boleh terlalu lelah kok. " Ujar Alenta.


" Ya sudah, jadi mulai sekarang kalau kita kikuk kikuk biar aku saja deh yang banyak. bergerak. "


Apa-apaan coba? Bisa-bisanya dihubungkan ke arah sana? Tapi ya memang Nick adalah pria seperti itu, jadi biarkan saja dan berpura-pura saja tidak dengar.


***


Talita menghela nafas lega setelah mendapatkan sebuah pekerjaan baru. Tidak sebesar perusahaan Chloe, gaji juga tidak sebanding dengan gaji dari Chloe. Tidak apa-apa, nyatanya hidup memang seperti ini, tidak ada yang mudah, tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan, jadi cukup bekerja keras dan selalu berusaha semaksimal mungkin mengenai hasilnya biarkan saja Tuhan yang menentukan.

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini Talita mondar mandir mencari kerja, sekarang sudah bisa tenang dan mulai besok dia akan mulai bekerja secara aktif. Untuk kebutuhan rumah setidaknya dia sudah membantu sebisanya, Ayahnya juga sudah mulai bekerja lagi meskipun tidak semaksimal dulu karena kondisinya yang sedang sakit. Melas sebenarnya, tapi karena Ibu Tina selalu memikirkan uang, setiap kali ya.h dibahas hanyalah uang jadi mau tidak mau Tuan Baskoro memaksakan diri untuk memenuhi keinginan Ibunya.


Sebentar Talita duduk di pinggir taman kota dengan tatapan kosong karena pikirannya entah kemana arah dia sendiri tidak menyadarinya. Sudah lewat beberapa hari setelah dia keluar dari perusahaan Chloe, dia berharap semua akan baik-baik saja, meksipun saat nenek dan Ibunya tahu dia mengundurkan diri sangat marah, sepertinya sekarang mereka juga sudah mulai lelah mengomel.


Talita tersadar dari lamunannya ketika getar ponsel ia rasakan dari sakunya. Ibunya, tadinya Talita malas untuk mengangkat tapi kalaupun dihindari juga tidak akan menyelesaikan masalah. Segera Talita menggeser tombol untuk menerima panggilan telepon itu.


Pulang dulu ya nak? Ada yang ingin kami bicarakan denganmu.


Talita tak menjawab, dia segera mematikan sambungan teleponnya. Matanya masih tak menunjukkan ekspresi lain selain tertekan, padahal dulu dia sangat menyayangi Ibunya, tapi kenapa sekarang hatinya merasa tertekan hanya dengan mendengar suara Ibunya? Talita bangkit meski sebenarnya dia masih ingin tinggal disana lebih lama. Dia berjalan pelan untuk menuju ke rumahnya yang cukup jauh, maklum saja, dia tidak memiliki uang sepeser pun karena setiap menerima gaji dari Chloe, semua gajinya ia serahkan semua kepada Ibunya untuk memenuhi kebutuhan dapur dan untuk menebus obat Ayahnya.


Sebuah mobil tiba-tiba menepi di dekat Talita, tak lama jendela kaca terbuka, rupanya pria yang waktu itu, batin Talita. ( Reiner )


" Mau kemana? " Tanya Reiner.


" Mau di antar? "


" Tidak. " Talita menjalankan lagi kakinya karena tidak mau membuang banyak waktu dengan orang asing.


Reiner menghela nafas, sebenarnya dia benar-benar heran dengan gadis itu, wajahnya selalu terlihat tertekan, tapi dia juga seperti tidak membutuhkan teman untuk bicara membagi dukanya. Aneh, entah kenapa juga Reiner begitu perduli dengan gadis asing yang ia tolong beberapa waktu lalu itu. Padahal namanya saja tidak tahu, tapi malah sudah bertemu beberapa kali seperti jodoh saja, batin Reiner.


Reiner terdiam sebentar, lalu melajukan mobilnya untuk kembali mendekati Talita, dia keluar dari mobil, meraih lengan Talita dan membawanya masuk.

__ADS_1


" Ah! Lepaskan! " Berontak Talita, tali dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Reiner sangat kuat dan cepat.


" Apa-apaan sih?! Kau ini gila ya?! " Kesal Talita.


Reiner menghela nafas setelah mengunci pintu mobilnya. Dia mengeluarkan kotak p3k dari laci mobilnya.


" Lepas sepatumu, belakang kakimu sudah berdarah, apa kau berniat mematahkan kakimu? "


Talita terdiam, sebentar dia melihat kedua kakinya yang memang sudah lecet dan berdarah lumayan banyak, kulitnya juga sampai mengelupas. Sinta rasa perih itu terasa, tapi dia juga tidak bisa menangis karena rasa sakit itu sama sekali tak sebanding dengan luka yang ada dihatinya.


" Lepaskan sepatumu, biar aku membantumu mengobatinya. " Ucap Reiner sudah bersiap dengan kapas dan juga alkohol untuk membersihkan dulu luka di kaki Talita.


" Tidak usah, aku akan mengobatinya kalau sudah sampai dirumah. " Ujar Talita. Bukan malu, tapi dia benar-benar tida perduli dengan luka di kakinya.


Reiner menghela nafas sebalnya. Dia mengangkat kaki Talita dengan paksa ke atas pahanya, lalu melepas sepatunya.


" Kau ini apa-apaan?! Lepaskan aku! "


Tak mau menghiraukan ucapan Talita, Reiner segera melajukan apa yang seharusnya dilakukan untuk mengobati lecet di kaki Talita yang rupanya lumayan parah saat sepatunya berhasil di lepas.


" Kalau sudah tahu akan berjalan kaki lumayan jauh, seharunya kau jangan menggunakan sepatu seperti ini. Lihat! Jari kakimu juga lecet. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2