
Hari demi hari Nick lalui dengan kerja keras tanpa mengeluh. Benar, ada masanya dia senang lelah, bahkan juga merasa frustasi, tapi saat dia membayangkan wajah Alenta, dia kembali menjadi bersemangat. Sudah berlalu dia bulan, dia hanya bisa mengirim pesan kepada Alenta, mengirimnya photo setiap hari, memang benar dia ingin sekali melakukan panggilan video setiap hari secara rutin, tapi dia terlalu takut, takut kalau dia tidak bisa menahan diri dan melakukan hal diluar batas.
Hanya sebuah photo pernikahan yang menemaninya tidur, membuatnya semangat bangun pagi karena awal membuka mata, maupun saat menutup mata juga wajah Alenta yang ia lihat. Mungkin, perasaan ini nampak begitu tida mungkin, bahkan Nick juga membatin itu. Tapi kalau dipikirkan lagi, rasa sukanya terhadap Alenta sudah terlalu lama dia pendam, dan ketika di memiliki kesempatan untuk mengekspresikan perasaan yang dia miliki, dia nampak seperti orang asing dan perbedaan kepribadian jelas ia rasakan.
Alenta, Alenta, Alenta, dunianya kini penuh dengan Alenta. Pernah sih beberapa kali dia sempat sedikit tergiur saat melihat gadis dengan bentuk tubuh yang indah, tapi saat tak sengaja melihat jarinya yang terdapat cincin pernikahan bersama Alenta, dia akhirnya bisa mengontrol diri dengan baik, bahkan dua bulan ini dia lalui dengan kesibukan kantor yang luar biasa. Nick, dulu boleh hanya tinggal memerintah saja dan semua akan datang padanya, tapi di perusahaan milik Sammy, dia harus membuat kopi, teh, membersihkan meja dan merapihkan ruangan kerja, bahkan dia juga beberapa kali mengepel, menyapu, juga mengelap jendela. Tidak apa-apa, semua pekerjaan itu dia anggap sebagai pembelajaran untuk dirinya sendiri yang bahkan dulu tida pernah memegang meja kotor sekalipun.
Alenta.
Karena si pemilik nama itulah, Nick menjadi pribadi yang seperti sekarang, atau bisa dibilang jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Nick, kini tak lagi tergoda saat melihat wanita cantik bertubuh seksi, dia tahu bagaimana cara bicara yang sopan, dia sudah mulai bisa menempatkan posisinya, dimana dia bisa marah, dan dimana dia harus mengalah demi keuntungan dirinya. Nick kini juga sudah mulai paham bagaimana mengelola bisnis.
Di tempat lain.
Alenta menghela nafasnya karena lelah juga penat. Ini adalah waktunya makan siang, tapi Nick masih belum juga menghubunginya. Maudi yang seharian melihat wajah lesu Alenta sebenarnya merasa heran, memang benar sih selama tidak ada Bos Nick Alenta menjadi lebih pendiam, tapi seharian ini Alenta bukan hanya tidak bicara kalau tidak penting, tapi wajahnya seperti kehilangan kehidupan.
" Alenta, makan siang yuk? " Ajak Maudi.
Alenta kembali menghela nafas.
" Alenta, menghela nafas terus tidak akan menyelesaikan masalah, kalau rindu sudah tidak bisa ditahan, lebih baik datangi saja dia. "
Alenta menatap Maudi dengan dahi mengeryit.
" Kau, apa kau tahu sesuatu? "
__ADS_1
Maudi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu menggeleng karena takut juga kalau perkiraannya salah.
" Aku tahunya sekarang kita lapar, jadi ayo kita makan. "
Tak ada pilihan lain, dia juga tidak boleh mengabaikan perutnya yang pasti juga lapar meski dia belum ingin makan. Sudahlah, tunggu saja Nick mengirimkan pesan atau meneleponnya nanti, sedari pagi mungkin dia sedang sibuk, batin Alenta.
Sesampainya disana, ternyata ada Alenta dan juga Arkan yang sedang makan siang juga. Melihat kedatangan Maudi dan Alenta, Talita bergegas bangkit dan mengajak mereka untuk bergabung. Tadinya sih Alenta dan Maudi ingin menolak, tapi melihat bangku kantin sedang penuh, mau tidak mau dia bergabung saja yang penting makan siang terlaksana, apalagi Alenta juga tidak sarapan, jadi tidak mungkin kalau harus melewatkan makan siang hanya karena Talita dan Arkan saja.
Alenta, Maudi kini sudah duduk di tempat yang sama dengan Talita dan Arkan. Tak secerewet dulu, sekarang ini Talita lebih banyak diam dan tersenyum saja.
Tak mau memikirkan bagaimana tatapan Arkan yang terus terarah padanya, Alenta hanya fokus memakan makannya yang masih hangat. Masa bodoh saja, toh dia juga tidak lagi merasakan perasaan cemburu seperti sebelumnya, dan dia juga merasa cukup baik dengan keadaan begini agar dia bisa fokus bekerja dan menata kehidupan rumah tangganya yang baru akan dimulai.
Alenta meraih selembar tisu yang terletak di meja, menyeka bibirnya, lalu mengeluarkan ponsel sembari menunggu perutnya yang begah karena kekenyangan sedikit membaik.
" Asisten Maudi, boleh tahu nama media sosialmu? Aku akan menambahkan mu dan mengikuti mu. " Tanya Talita seraya mengeluarkan ponselnya.
" Moumau. " Ucap Maudi memberitahu nama media sosialnya.
Talita tersenyum.
" Pantas saja aku sempat mencari nama Maudi, tapi tidak ada yang cocok denganmu. "
Maudi mengeryit lagi, jadi selama ini dia terus penasaran dengan media sosialnya? Apa sih tujuannya? Batin Maudi di dalam hati. Tak lagi menghiraukan yang lain, Talita kini melihat beberapa photo yang di unggah Maudi, tak banyak karena seperti ya media sosial milik Maudi juga terhitung baru. Talita menjauhkan ponselnya, memasukkan ke dalam saku kemejanya karena tak mendapati satupun photo tentang Bos Nick.
__ADS_1
Mereka begitu menyembunyikan hubungan ya? Berarti mereka tidak saling cinta dong?
Talita tersenyum kepada Maudi yang sedari tadi menatapnya.
Apa sih? Orang ini kerasukan jin atau iblis neraka? Tiba-tiba menanyakan akun media sosial, lalu melihat photo ku, lalu sekarang tersenyum seperti orang habis menang lotre, benar-benar sudah gila!
" Maudi, kita kembali sekarang ya? " Ajak Alenta seolah dua orang tadi tak ada artinya bagi dia. Bahkan sedetik saja tidak melihat ke arah mereka.
" Kak Alenta, kok tidak berpamitan dengan kak Akan? Kalian sedang bertengkar ya? " Ledek Talita lalu terkekeh seolah pertanyaannya tadi sama sekali gak berefek kepada Ale ya dan Arkan.
Alenta menghela nafas sebal, sementara Arkan tak bicara sama sekali, dia memilih diam dan enggan menanggapi ucapan Talita.
" Semenjak kau sok kenal dengan dia, aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan dia, jadi jika kau ingin menjalin hubungan dengannya, aku doakan semoga kau sukses. "
Talita mengeryit bingung.
" Kak, aku hanya menganggap dia sebagai calon kakak ipar, tidak lebih kok. "
Alenta memaksakan senyumnya.
" Yang kau anggap Kakak ipar, bisa jadi calon suamimu sendiri, jadi jangan asal beranggapan ya. "
Talita terdiam karena merasa tersentil, kenapa bisa jadi begini? Padahal dia benar-benar menganggap Arkan sebagai calon kakak iparnya, sama sekali tidak punya keinginan lebih.
__ADS_1
Aku sudah jatuh hati dengan Bos Nick, jadi aku tidak bisa menyukai kak Arkan juga. Kau harus menyatukan lagi kak Arkan dan kak Alenta, aku benar-benar tidak ingin mereka berpisah.
Bersambung.