
Sekembalinya mereka ke rumah Ibunya Alenta, Nick dan Alenta langsung bersiap untuk kembali ke rumah Nick. Tapi sebum kembali kesana, Alenta dan Nick menyambangi terlebih dulu toko roti milik Ibunya Alenta untuk memohon pamit karena tidak mungkin juga pergi begitu saja.
" Ibu? " Panggil Alenta lalu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Ibunya. Tadinya Alenta tersenyum saat mencari Ibunya, tapi saat melihat dengan siapa Ibunya tengah berbicara di ujung ruangan, Alenta sontak kehilangan senyum itu dan menatap datar sepasang manusia yang berseberangan meja dengan Ibunya. Mereka adalah Ayah Baskoro, juga Ibu Rahayu. Tidak tahu memang apa yang mereka katakan, tapi melihat bagaimana ekspresi Ibunya, jelas sekali dua orang itu sudah membuat Ibunya tidak nyaman.
" Nak? " Ibunya Alenta bangkit, dan itu bersamaan dengan Nick yang datang agak terlambat karena harus memarkirkan dulu mobilnya. Nick sebentar terlihat kaget, tapi sebisa mungkin dia tetap berusaha agar tenang, agar tak membuat Alenta yang terlihat marah menjadi semakin marah.
" Kenapa kalian datang kemari? "
" Kami ingin pulang, makanya kami datang minta izin. Ibu, apakah Ibu memberitahu tentang kami berdua? " Tanya Alenta pelan dan hanya bisa didengar oleh Ibu dan juga Nick saja.
" Kau tidak memberitahu mereka, jadi Ibu pikir untuk mengikuti saja apa keputusanmu. "
Alenta menghela nafasnya lalu menatap Ayah Baskoro dan Ibu Rahayu yang saat ini sudah berdiri karena kedatangan Alenta yang tiba-tiba.
" Untuk apa mereka menemui Ibu? " Tanya Alenta.
" Membicarakan mu, lebih tepatnya mereka ingin bicara denganmu, nak. "
Alenta membuang nafas kasarnya, lalu kembai menatap dua orang itu sembari membatin. Benar saja, menghindar bukanlah jalan dari sebuah masalah, lagi pula sudah bertahun-tahun menghindar, mungkin ini waktunya untuk mengakhiri semua ini dengan jelas, dan kedepannya tidak perlu berurusan lagi dengan mereka.
" Baiklah, aku akan bicara dengan mereka. " Ucap Alenta. Paham benar bagaimana sifat putrinya, Ibunya Alenta meminta satu karyawan yang bekerja padanya untuk keluar, begitu juga dengan Nick, bahkan dia juga keluar dari toko dan memasang plang Close di depan pintu.
" Ibu mertua, meninggalkan Alenta apakah benar-benar pilihan terbaik? Aku menemani saja di dalam ya? "
__ADS_1
Ibunya Alenta menahan lengan Nick agar Nick tetap menunggu di luar saja dan membiarkan Alenta menyelesaikan masalah ini sendiri.
" Tidak akan terjadi apa-apa dengan Alenta, jadi kau bisa tenang, aku tahu putriku buka orang yang lemah. "
Nick menggaruk tengkuknya yang tak gatal, menatap Ibu mertuanya seperti canggung.
" Itu, aku bukan takut Alenta kenapa-kenapa, aku tahu dia akan baik-baik saja. Tapi, dua orang itu apa akan baik-baik saja menghadapi Alenta yang bermulut tajam dan berbisa seperti kob- " Nick sontak menghentikan kata-katanya saat tatapan Ibunya Alenta begitu tajam terarah padanya. Hah! Sekarang dia benar-benar paham dari mana sifat dingin dan wajah sadis Alenta berasal.
" Ta tapi, Alenta itu sangat cantik, cerdas, dia juga elegan dengan gayanya, iya kan Ibu mertua? " Nick tersenyum kikuk di akhir kalimat, dan tanggapan yang dia dapatkan hanyalah Ibu mertuanya yang langsung membuang wajah.
Benar-benar Ibunya Alenta, jelas sekali mereka adalah Ibu dan anak dengan sifat yang sama.
" Apa kalian terlalu senggang sampai harus datang ke toko Ibuku? " Tanya Alenta dengan tatapan dingin menatap keduanya bergantian.
Kamera menghela nafas seraya mengambil posisi duduk, begitu juga dengan mereka.
" Sudah tahu kalau lancang, tapi masih dilakukan, dasar aneh! " Gumam Alenta yang bisa di dengar dengan jelas oleh Ayah Baskoro dan Ibu Rahayu.
" Alenta, bisakah kita bicara dengan tenang sekarang? Ayah benar-benar ingin bercerita yang sesungguhnya, begitu juga dengan Rahayu. " Ayah Baskoro menatap Alenta dengan tatapan memohon, sebenarnya sih Alenta malas untuk membicarakan masa lalu yang jelas hanya akan membuat dirinya terpancing untuk kesal dan marah. Tapi demi ketenangan di masa depan, kali ini dia harus bersabar mendengarkan, tapi juga tidak janji kalau mulutnya tidak akan berbunyi ya.
" Bicara lah, mumpung aku ada waktu senggang. " Ucap Alenta.
" Alenta, untuk semua yang terjadi, Ayah sungguh minta maaf, perpisahan antara Ayah dan Ibumu juga bukan keinginan Ayah semata, Ibumu tidak bisa menerima adanya Rahayu meski Rahayu sudah menyatakan tidak masalah menjadi yang kedua. Ayah bukan ingin membela diri, karena nyatanya Ayahlah yang bersalah. Ayah melakukan banyak hal yang menyakitimu, jadi Ayah ingin menebus semua itu dari sekarang, bisakah? "
__ADS_1
Alenta menghela nafas, lalu menatap Ibu Rahayu.
" Nyonya Baskoro, katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku. "
Ibu Rahayu menelan salivanya, dia nampak menautkan semua jemarinya karena dia merasa sangat gugup untuk bicara, tapi dia juga merasa kalau harus bicara.
" Aku, aku sadar benar semua yang terjadi adalah kesalahanku, Alenta. Aku tahu kau marah, dan membenciku sampai saat ini. Aku tida tahu caranya meminta maaf dengan posisiku yang jelas bersalah, aku tidak berani menghadapi Ibumu, juga dirimu. Aku yamg waktu itu terlalu mencintai Ayahmu, memaksanya untuk tetap tinggal, tapi Ayahmu sangat baik dan kasihan padaku sehingga dia tidak tega meninggalkanku, jadi bencilah saja aku, Alenta. "
Alenta menghela nafasnya dengan wajah sebal, tapi juga terlihat bosan.
" Kalian berdua sangat cocok ya? Kalian juga sangat mencintai sekali sampai rela melindungi satu sama lain, sebenarnya tujuan kalian itu apa? Mau menunjukkan betapa kalian saling mencintai, atau meminta maaf dengan kalimat berbelit-belit tidak jelas ini? "
" Meminta maaf, juga berharap hubungan kita membaik agar kami, terutama Ayah, Ayah ingin menghabiskan waktu bersamamu, mengantikan waktu yang telah terbuang beberapa tahun lalu. "
" Pft! " Alenta menutup mulutnya dengan tangan. Lucu sekali bukan? Menggantikan waktu yang sempat terbuang sia-sia? Apakah dia sedang menciptakan dongeng anak-anak? Batin Alenta.
" Kalau begitu, kembalikan Ayahku yang dulu sangat mencintaiku. Kembalikan Ayahku yang berjanji akan mencintaiku dan tidak akan membaginya dengan siapapun. Aku dulu memintamu dan juga Ibuku untuk tidak memiliki anak lagi karena aku takut kehilangan mu karena kau hanya memberiku sedikit waktu untuk bermain, bahkan kau tidak pernah sampai satu jam saat bersamamu dalam sehari kan? Apa kau bisa mengembalikan, oh lebih tepatnya kembali ke masa itu dan memenuhi keinginan ku? "
Ayah Baskoro terdiam tak mampu bicara.
" Kau bilang, suamimu adalah pria yang sangat baik hati kan? Aku sungguh penasaran, apakah orang yang meninggalkan wanita dan juga anak mereka demi wanita lain dan juga anaknya yang lain adalah pria yang baik? Ya, mungkin dia baik untukmu karena memilihmu, tapi bagiku dan Ibuku, dia hanyalah seorang bajingan dengan wajah malaikat. "
Bersambung.
__ADS_1