
Alenta terdiam menatap sepasang manusia yang ia kenal tengah menikmati obrolan mereka dengan begitu akrab. Sebentar dia menarik nafas dan membuangnya dengan kasar, padahal dia sudah mencuri-curi waktu untuk menemui pria itu, yang tak lain adalah Arkan. Sudah hampir sepuluh menit Alenta berdiri disana, memperhatikan bagaimana mereka begitu akrab meski kakinya ingin melangkah lebih dekat, nyatanya hati mencegahnya seolah enggan untuk mendengar ya h sedang mereka bicarakan.
" Alenta? " Arkan yang tak sengaja melihat Alenta berdiri dengan tatapan datar ke arah ya segera bangkit dengan senyum manis seperti biasanya.
" Kenapa berdiri disini? " Arkan mengusap wajah Alenta dan lagi-lagi masih tersenyum begitu lembut.
Alenta tak bicara, tapi dengan segera dia menyerahkan sebuah paper bag berukuran sedang kepada Arkan.
" Selamat ulang tahun, maaf karena ucapan selamat ulang tahun dariku agak terlambat. " Alenta sebentar menatap wanita yang sedari tadi mengobrol dengan Arkan, dan dia adalah Talita. Gadis itu sepertinya sengaja mendatangi Arkan di kantor, bahkan di meja kantin tempat mereka duduk juga ada sebuah kado yang belum di buka.
" Tidak penting, Alen. Pokoknya, ucapan darimu benar-benar sangat penting dan sangat membuatku bahagia. " Arkan memeluk Alenta yang masih terdiam dengan wajah datarnya. Kenapa? Padahal sikap Arkan tidak berubah. Tapi sekarang Alenta mulai menyadari akan satu hal yang fatal dari Arkan yaitu, terlalu baik hati dan juga ramah. Arkan, dari awal pria itu mendekatinya, Alenta dengan senang hati membuka diri karena dia pikir Arkan adalah pria yang sangat baik dan selalu akan menjaga perasaannya. Tapi, Alenta melupakan satu hal penting bahwa orang yang baik hati cenderung akan merasa sungkan untuk menolak, dan pada akhirnya terjerumus dengan kebaikannya sendiri hingga tanpa sadar menempatkan sisi lain dalam keadaan tidak baik. Iya, inti dari sebuah pendirian adalah ketegasan, baik ketegasan di dalam diri sendiri, atau juga ketegasan dalam hubungan sosialisasi.
" Alen, apa kau baik-baik saja? " Tanya Arkan yang dengan jelas melihat perbedaan sikap Alenta yang tidak biasa, dan cenderung dingin.
" Arkan, sejak kapan kalian jadi sedekat ini? " Tanya Alenta lalu sejenak kembali menatap Talita yang diam di meja kantin, lalu menatap Arkan setelahnya.
" Maksudmu, adik tiri mu Talita? "
Adik tiri? Kenapa berani-beraninya menempatkan Talita sebagai adik meski ada embel-embel tiri dibelakangnya? Tahukah betapa menyakitkannya mendengar kata-kata itu?
" Dia datang kesini karena panggilan dari HRD, besok dia juga diterima bekerja disini. Tidak tahu dengar dari siapa kalau aku ulang tahun, dia memberikan kado sebagai calon adik ipar katanya. " Jawab Arkan yang sejujurnya dengan wajah yang sudah jelas terlihat sangat jujur.
Talita, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mendekat kepada Alenta dan Arkan karena mereka tak kunjung bergabung dan duduk di meja kantin. Dengan senyum yang polos dan manis, dia datang dan menyapa Alenta seperti biasanya.
" Kak, kok tidak duduk disana sih? "
Alenta menatap Talita dengan dingin, tidak tahu kenapa juga kebencian di hatinya tak pernah berkurang walau sedikit saja, malah bertambah semenjak sering melihat Talita akhir-akhir ini.
__ADS_1
" Kau, apakah kau ingin menjadi seperti Ibumu? "
Deg! Tapi Talita yang sedari tersenyum ramah tiba-tiba saja kehilangan senyuman itu dan kini menatap Alenta dengan tatapan terkejut. Padahal itu sudah berlalu puluhan tahun, terlebih itu juga bukan kesalahannya, tapi kenapa dia selalu terlihat buruk di mata kakak tirinya itu? Sudah selama ini dia selalu mencoba sebaik mungkin menempatkan dirinya sebagai seorang adik sesuai dengan nasehat Ayahnya, tapi kenapa tetap saja di mata Alenta yang dia anggap kakak dia begitu tidak pantas?
" Kak, apa maksud ucapan mu? Apa kau menyalah pahami sikap kak Arkan dan sikap ku? Aku hanya mencoba dekat karena aku pikir, kakak Arkan akan menjadi suamimu, dan otomatis juga akan menjadi keluargaku kan? "
Arkan yang berdiri di antara mereka hanya menengahi sebisa mungkin agar tak membeludak kebencian Alenta, dan juga Talita agar bisa lebih tenang.
" Alen, jangan salah paham dengan kedekatan kami ya? Sungguh tidak ada yang perlu di khawatirkan, aku bersumpah. Dan Talita, maafkan Alenta yang memang memiliki cara bicara seperti ini. " Arkan merangkul Alenta, mengusap punggungnya agar bisa lebih tenang. Tapi sayangnya Alenta sulit menenangkan diri kalau sudah bersama Talita, atau bahkan anggota keluarga Talita yang lain.
" Ibumu, dia juga orang yang baik menurut Ibuku. Ayah mu, juga orang yang baik menurut Ibuku, tapi bagaimana bisa orang-orang baik melakukan hal yang begitu menyakitkan bagi orang lain? Oh, ngomong-ngomong jika disamakan, Ibumu pasti mirip denganmu. " Alenta tersenyum miring kepada Talita yang matanya kini sudah memerah menahan tangis.
" Alenta! " Bentak Talita yang sudah tidak sanggup lagi kalau harus terus menerus menghormati Alenta saat Alenta terus saja menginjak harga dirinya.
" Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal menyakitkan?! Padahal kau sendiri juga yang salah! Saat kak Arkan sakit kemarin, kau malah menolak untuk menemuinya dengan alasan pekerjaan, kau selalu mengabaikannya meski dia ada di hadapanmu, lalu kau! Kau malah terlihat sangat dekat dengan Bos Nick! Coba kau pikirkan baik-baik, siapa yang buruk sebelum kau menilai ku! "
" Hoi, Sekretaris! "
Semua orang kini menatap ke arah sumber suara, dan dia adalah Nick yang memanggil Alenta. Sebenarnya dia sudah lumayan lama berada di sana dan mendengar beberapa percakapan di antara mereka.
" Sini! Aku lebih membutuhkanmu di banding mereka. " Ucap Nick seraya menggerakkan jari telunjuknya untuk membuat Alenta mendekat.
" Maaf, aku permisi! "
***
" Nih! Kau mau menangis kan? " Ucap Nick seraya menyerahkan tisu kepada Alenta yang sedari tadi diam tak mengatakan apapun.
__ADS_1
Alenta menghela nafas sebal, lalu meraih tisu itu untuk dibuat bulatan seperti bola, dan berniat menyumpalkan ke dalam mulut Nick.
" Aku sedang tidak ingin dengar apapun! Atau kalau masih ingin bicara, maka jangan salahkan kalau bola tisu ini menyumpal mulut mu Bos! "
" Oh? Den, berhenti di mini market dulu ya? " Pinta Nick kepada sopirnya.
" Oke, Bos! "
Seperti yang diminta oleh Nick, pria itu keluar dari mobil lalu masuk ke mini market entah apa yang ingin dia beli, Alenta sungguh tidak perduli, sementara Maudi hanya diminta untuk diam dan duduk dengan tenang di samping Deni sang sopir.
" Nih! " Nick menyodorkan es krim coklat untuk Alenta setelah memberikan yang sama dengan Maudi dan Dendi. Aneh sih, tapi karena itu pemberian dari Bosnya, mau tidak mau Dendi dan Maudi hanya bisa menikmati saja dengan sopan.
" Aku tidak suka makanan anak-anak! "
" Oh, kalau tidak mau ya sudah! "
Grep! Baru saja akan dijauhkan dari Alenta, nyatanya Alenta menyambar es krim coklat itu dengan wajah datarnya.
" Karena kau adalah Bos ku, jadi aku harus menghargai pemberian mu kan? "
" Heh! " Nick menjebik heran. Satu, dua jilatan Alenta menikmati es krimnya, Nick yang memang tidak bisa diam kemudian menjahili Alenta dengan merebut es krimnya, dan menukarnya dengan es krim pisang miliknya.
" Bos! Aku tidak mau yang ini! Aku suka yang coklat! " Ucap Alenta seraya berusaha merebut es krimnya.
" Tadi bilangnya tidak suka! "
" Masa bodoh! Kembalikan! " Cukup lama mereka memperebutkan es krim coklat yang tengah di pegang Nick, tapi karena ada portal yang dilintasi, akhirnya Nick menjatuhkan punggungnya dan di susul Alenta jatuh di atasnya, lalu membuat mereka berciuman tanpa sengaja.
__ADS_1
Bersambung