
Nick memeluk tubuh Alenta dengan posisi berbaring di atas ranjang. Sudah cukup tenang, Alenta juga sudah mulai tertidur kembali. Nick, pria itu semakin memahami Alenta saat ini, teringat kembali saat dia masuk kamar, lalu mendapati Alenta tengah duduk di lantai, bersimpuh sembari menangis. Alenta kuat, Alenta sangat kompeten dan terlihat begitu tangguh, tapi jika satu nama tokoh yaitu Ayahnya terdengar olehnya, maka Alenta yang tangguh itu akan menjadi manusia tanpa daya dalam waktu hitungan detik.
Tak lama terdengar ponsel Alenta berdering, tidak ada nama kontaknya, tapi tak membuat Nick enggan untuk melihat isi pesannya. Segera di membuka pesan itu, dan betapa terkejutnya Nick begitu membuka pesan di ponsel Alenta. Sebuah pesan yang menuntut Alenta membayar tagihan rumah sakit neneknya atau Ibu dari Ayahnya yang sudah di rawat sekitar enam hari yang lalu karena serangan stroke. Tidak hanya itu, Talita juga mengirim pesan melalui media sosial Alenta untuk membantunya membayar biaya rumah sakit Ayahnya yang diperkirakan akan beberapa hari menginap dirumah sakit.
Nick meletakkan ponsel Alenta setelah menghapus pesan itu, bukan tidak memiliki rasa empati, hanya saja pasti tidak mudah bagi Alenta setelah membaca pesan tadi di kondisi yang seperti sekarang. Bisa saja sih Nick mengirim uang, tapi kalau Alenta tahu apakah tidak jadi masalah? Dan kalau tidak mengirimkan uang apakah mereka akan semakin senang menerka-nerka dan menuduh Alenta sesuka hati? Sudahlah, demi Alenta hidup tenang, Nick putuskan untuk mengirim uang kepada mereka dengan peringatan agar tidak mengganggu kehidupan Alenta lagi.
Nick meraih ponselnya, lalu meninggalkan Alenta sebentar di dalam kamar, karena tidak ingin mengganggu Alenta yang baru kembali tertidur. Segera Nick menghubungi nomor telepon yang tadi mengirim gambar neneknya Alenta beserta tagihan rumah sakit. Tanpa bisa basi Nick berbicara, bahkan dia juga tidak memperkenalkan diri mengatakan dengan jelas, Besok akan ada teman saya yang membayar tagihan itu, tapi tolong jangan ganggu Alenta lagi.
Sementara untuk Ayahnya Alenta, dia masih harus menimbang dulu karena takut kalau Alenta akan lebih marah lagi. Segera setelah menghubungi, Nick kembali ke kamar, dan untunglah karena Alenta masih tertidur. Perlahan-lahan Nick kembali membaringkan tubuhnya di samping Alenta dan memeluknya lagi.
Pagi hari.
Alenta membuka matanya perlahan, dia mengeryit menatap sosok lelaki tampan di hadapannya yang kini tengah memeluknya. Nick, dia benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik, juga sangat lembut semenjak mereka sepakat untuk serius dalam hubungan rumah tangga. Alenta tersenyum, jemarinya bergerak membelai wajah Nick yang kini tengah terlelap nyenyak. Wajahnya sangat tampan, tapi wajah itu juga amanat menyebalkan, dan menjengkelkan, tentunya itu adalah rasa yang dulu. Sekarang, wajah tampan Nick seolah mampu membuatnya merasa senang, perlakukan liburnya juga membuat Alenta merasa memiliki seseorang yang bisa ia andalkan selain Ibunya. Dicintai, diperjuangkan, diperlakukan dengan lembut tentu saja harapan semua wanita, tak terkecuali Alenta.
" Terimakasih. " Ucap Alenta pelan.
" Tidak mau! " Ucap Nick seraya membuka matanya, menatap Alenta yang terkejut lalu tersenyum.
" Kau sudah bangun dari tadi? " Tanya Alenta.
" Bangun saat kau membelai wajahku dengan begitu berkeinginan, jadi mana boleh aku melewatkan hal sepenting itu? "
__ADS_1
Alenta menelan salivanya sendiri, tangan yang masih berada di pipi Nick segera dia tarik kembali, dan menyimpannya di balik bantal yang ia gunakan untuk menidurkan kepalanya.
" Aku juga ingin berterimakasih, sayang. " Ucap Nick lalu tersenyum.
" Terimakasih untuk apa? " Alenta mengeryit mencari tahu untuk apa ucapan terimakasih dari Nick itu.
Nick tersenyum, lalu dengan cepat dia mengerakkan tubuh untuk berada di atas tubuh Alenta. Dia kembali tersenyum ketika Alenta melotot kaget, lalu mendekatkan bibirnya untuk berbisik di telinga Alenta.
" Buat anak pagi-pagi akan memperbaiki mood yang kurang baik loh. "
Alenta menghela nafas sebal, sebenarnya melakukan hubungan badan alias kikuk kikuk memang memiliki keenakan tersendiri, tapi kalau pagi hari seperti ini sebelum berangkat kerja, bisa-bisa dia tidak bisa berjalan dengan benar.
" Bos, maksudku sayang. Jangan pagi-pagi begini, " Alenta menahan tubuh Nick yang semakin mendekat dengan kedua lengannya.
Tak ada lagi suara penolakan, karena mereka kini tengah masuk ke dalam indahnya surga dinia, oh ataukah bisa dibilang surga di atas ranjang? Cukup lama, bahkan sampai mandi pun Alenta masih tak diberi ketenangan, durasi untuk mandi yang harusnya membutuhkan waktu sepuluh menit, kini harus berlangsung hampir satu jam.
" Sayang, bulan depan kita bulan madu yuk? " Ajak Nick ketika Alenta tengah memasangkan dasi untuknya.
" Kita sudah libur tiga hari kemarin, kenapa harus membuang waktu lagi untuk bulan madu? " Alenta meninggalkan Nick karena dasi yang tadi ia pasangkan sudah selesai.
" Kenapa kita harus bekerja seperti besok dunia akan kiamat kalau kita pergi bulan madu? " Protes Nick mengikuti langkah kaki Alenta yang kini tengah meraih sebuah tas, lalu memakai sepatu kerjanya, bahkan merapihkan riasan Nick juga masih mengikutinya.
__ADS_1
" Kan memang tugas kita. "
" Kita juga suami istri yang punya tugas untuk bulan madu loh. " Tak mau kalah, Nick terus menyuarakan pendapatnya.
" Aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa tubuhku kalau kita pergi bulan madu. " Alenta menatap sebal lalu berjalan keluar dari kamar dengan segera. Maklum saja, setelah terbiasa melihat Rebecca yang begitu manja seperti orang kerasukan iblis cinta, sekarang ini malah Nick yang begitu manja, bahkan segala meminta untuk bulan madu lagi. Tidak bukan madu saja tubuhnya seperti hidup dengan tulang patah setiap kali melakukan kikuk kikuk dengan Nick.
" Sayang, bukan madu! " Nick terus berbisik seperti itu. Sebenarnya bukan hanya karena ingin berbulan madu saja, Nick berharap kepergian mereka untuk berlibur nanti bisa mengurangi stres yang dirasakan Alenta.
Sesampainya di Lobby.
" Sayang, bukan madu! " Bisik lagi Nick sebisa mungkin tak membuat mulutnya banyak bergerak. Dia juga tak menatap Alenta, tapi sungguh mereka mampu membuat Deni sang supir terus merinding tiada henti, bahkan sampai mereka keluar dari mobil juga rasanya masih tak hilang.
" Kak! "
Alenta menatap Talita yang berlari ke arahnya. Matanya bengkak seperti orang yang terlalu banyak menangis. Dia tidak menggunakan pakaian kantor, tapi sepertinya dia cukup lama menunggu Alenta disana.
Talita meraih tangan Alenta, menggenggamnya dengan erat. Sementara Alenta sendiri memilih untuk diam saja karena sepertinya dia sudah memilihi firasat tidak baik setiap kali melihat Talita, apalagi kalau sampai dia menyentuh seperti itu.
" Kakak, tolong bantu aku membayar tagihan rumah sakit Ayah ya? Dokter bilang Ayah mengalami kebocoran jantung, dia membutuhkan banyak uang untuk operasi, yang yang aku punya dan milik Ibu saja tidak cukup. Jadi aku benar-benar minta tolong, kalau tidak, biarkan aku meminjam dulu dari kakak, tolong. "
Bersambung.
__ADS_1
Halo kesayangan, maaf sekali kalau banyak typo ya, nanti boleh kasih info dimana typo nya supaya aku bisa edit. ❤️❤️❤️❤️❤️