My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Kantin Kantor


__ADS_3

" Setelah ini, kita siap-siap rapat dadakan untuk mengulas tentang dokumen kemarin, tolong kabari tim segera ya, Maudi? " Ucap Alenta seraya menjalankan kaki menuju parkiran mobil bersama dengan Nick dan Maudi juga tentunya.


" Baik, Alenta. " Balas Maudi segera meraih ponselnya dan menghubungi tim agar segera bersiap karena mereka akan tiba kurang dari satu jam.


Nick, pria itu nampak pendiam seharian ini. Mungkin karena rasa bersalah yang dirasakan sehingga membuat nya tidak banyak protes seperti biasanya. Tapi syukurlah, Nick yang seperti ini juga sangat bagus dan cukup membuat otak tenang tidak mendengar protes Nick seperti biasanya.


" Anu, Alenta, aku boleh tidak kalau sebentar saja pergi ke suatu tempat? " Tanya Nick meski dia sudah membatin apa yang akan di katakan Alenta setelahnya. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya dia juga harus menyelesaikan satu masalah ini agar tidak terjadi lagi di masa datang nanti.


" Bos, kita harus segera rapat, jadi urusan yang tida penting lebih baik singkirkan saja dulu. "


Heh! Seperti dugaannya, padahal sudah niatnya kok cuma sebentar saja, lima menit saja deh untuk bicara dengan orang yang akan dia temui. Tapi tetap saja, Alenta adalah Alenta yang tidak mungkin dia bantah meskipun dia Bosnya, tapi perintah dan ucapan Alenta lebih harus didengarkan di banding dirinya. Menyedihkan memang, tapi ya apalah daya karena semua itu hasil dari kebiasaan malas dan merasa tak membutuhkan kerja keras karena semua yang dia inginkan akan dengan mudah dia dapatkan, bahkan juga disuguhkan oleh keluarga besarnya.


Sesampainya di kantor, Nick, Alenta, beserta Maudi segera menuju ruang rapat agar hal yang seharusnya selesai sebelum waktunya tidak terkesan buru-buru dan asal-asalan tentunya.


" Uh! Alenta, kita ketemu Mr Zerg kan satu jam tiga puluh menit lagi, aku sebentar makan dulu ya? Tidak delivery kok, aku langsung makan di kantin kantor saja supaya cepat. Aku sudah melewatkan makan siang ku, perutku sudah bunyi-bunyi terus juga perih nih. " Rengek Maudi seraya mengusap perutnya yang memang terasa perih karena menahan lapar.


" Ya sudah, aku juga lapar nih. "


Nick terperangah tidak percaya dengan obrolan mereka. Bukan masalah laparnya, hanya saja apakah dia yang bertubuh tinggi besar itu tidak terlihat? Apakah tidak bisa mengajaknya walaupun hanya bosa-basi saja? Heh! Dasar Sekretaris dan asisten sekretaris tidak berperasaan, mentang-mentang dia adalah Bos yang tertindas, apakah tidak bisa berpura-pura walaupun hatinya sangat berat melakukannya. Benar-benar membuat orang kehilangan harga diri, dan kehilangan muka sebagai Bos.


" Ah, aku ikut juga! "

__ADS_1


Alenta menatap Nick sedikit mengerti dan terlihat tak suka. Sementara Maudi, gadis itu hanya bisa menelan salivanya dan berusaha saja tidak membatin apapun.


" Nanti perut elit mu tidak menerima loh, sudah begitu kan usus mu yang terbuat dari berlian kan tidak bisa menerima makanan yang biasa kami makan. "


" Anu, memangnya Bos seharinya makan apa sih? " Tanya Maudi karena merasa terheran-heran mendengar penuturan Alenta seolah-olah Nick biasa memakan makanan yang tidak seperti makhluk hidup lainnya.


" Makan bongkahan baja, kalau sedang ingin memakan Snack, maka snack nya adalah batu Kolar dengan saus larva yang masih meleleh dengan warna oranye cenderung kemerahan, dan jangan lupa taburan paku berkarat sebagai topingnya. "


Maudi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tapi langkah kakinya sama sekali tak terhenti mengikuti ritme kaki Alenta yang jenjang dan langkahnya agak lebar.


Nick, pria itu hanya bisa menatap sebal Alenta sembari menaikan sisi bibirnya karena sudah tidak sanggup berkata-kata. Lagi-lagi dia hanya bisa membatin heran dengan mulut Alenta yang super berbakat dalam membuat orang merasa kesal. Aduh, selain dia adalah Bos yang tidak boleh kasar dengan bawahannya, dia juga seorang suami yang tidak boleh menindas istrinya kan?


Sembari membatin mengingat kata istri, tiba-tiba matanya tanpa sadar menatap ke arah Alenta yang Napak cuek dan fokus dengan pandangan yang lurus memperhatikan jalan. Ada seulas senyum tipis yang terbit di bibir Nick saat kata istri terus terngiang di kepalanya.


Senyum itu, Bos tersenyum melihat Alenta?! Apa-apaan ini?! Ini, apakah aku adalah obat nyamuk? Apakah aku seharusnya makan di tempat yang berbeda saja ya? Hah! Kalau tiba-tiba bilang ingin pindah tempat, tentu saja nanti Alenta kesal, kalau aku bilang tidak lapar, aneh juga karena perutku sedari tadi bunyi terus. Astaga!! Situasi macam apa ini?!


Maudi sengaja memelankan langkah kaki ya hingga posisinya berada dibelakang Nick dan Alenta yang berjalan beriringan. Dari belakang tubuh mereka, Maudi terus saja menelan salivanya, sembari mengusap kedua lengannya yang bergidik ngeri.


Dua punggung di hadapannya adalah wajah dari Chloe, Alenta selaku tokoh yang paling berpengaruh dalam suksesnya Chloe selama Nick duduk di kursi Presdir, sementara Nick sendiri adalah pemilik Chloe.


" Eh, ada pacarmu dengan adik tiri mu tuh. " Ucap Nick setelah sampai ke kantin dan tidak sengaja melihat Arkan yang sedang mengobrol di sana.

__ADS_1


Alenta terdiam dengan tatapan menahan kesal. Kenapa? Padahal sudah jelas dia menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Talita, tapi kenapa Arkan malah nampak begitu baik padanya? Bahkan, mereka juga seperti sangat akut dan terlihat bagai kawan lama.


" Kita kesini untuk makan, jadi makan saja dan jangan pedulikan yang lain. " Ujar Alenta, lalu segera berjalan menuju kursi yang tak jauh dari Arkan dan Talita.


" Alenta? " Arkan bangkit begitu mendapati Alenta di sana, dia tersenyum kepada Alenta yang nampak acuh, tapi juga tidak lupa menyapa Nick selaku Bosnya.


" Kau sudah akan pulang? Kita pulang bersama dengan Talita juga ya? Dia bilang ingin mampir ke rumahmu. " Sapa Arkan masih sopan karena tetap berdiri sebelum ada salah satu dari mereka bertiga mempersilahkan untuk bergabung.


" Tidak, aku harus pergi menemui klien setelah ini. Jadi kalian pergi saja berdua. "


Yes! Sorak Nick di dalam hati karena .rasa bahagia melihat wajah cemburu Alenta yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Iya sih, wajah cemburu itu bukan untuknya, tapi melihat Alenta merasa kesal dia cukup kagum juga dengan Arkan yang berani memancing emosi beruang betina kutub.


" Eh, kenapa berdiri saja seperti patung Pancoran? Ayo duduk, kau juga duduk adik ya Alenta yang cantik. " Nick tersenyum ramah kepada Arkan juga Talita.


" Terimakasih, Bos! " Ucap Arkan lalu segera. berjalan mendekati Alenta untuk duduk disampingnya, tapi baru saja menarik kursi, kursi itu malah lebih dulu di duduki oleh Nick dengan wajah tersenyum seolah tak memiliki kesalahan.


" Maaf ya? Aku tidak biasa duduk dengan orang asing. Kalau dengan Maudi dan Alenta, mereka adalah pengecualian, jadi duduk nya disana saja ya? " Tunjuk Nick kepada Arkan tepat di sebelah Talita.


Bos, kenapa selalu memberi teka-teki seolah-olah dugaanku benar sih? Tolong! Aku tidak sanggup kalau seperti ini terus! Batin Maudi yang sedari tadi hanya diam dan memilih terus membatin saja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2