
Nick terdiam tak berdaya karena merasa tidak enak dengan Rebecca. Sungguh dia sama sekali tidak sadar dengan kata-katanya hanya karena terpesona setiap kali melihat wajah Alenta dengan detail. Padahal sudah setiap hari melihat Alenta, tapi masih saja suka begini, kesal Nick di dalam hati.
Sementara Rebecca, gadis itu nampak kesal sembari menahan tangis karena kata-kata Nick tai sungguh keterlaluan baginya. Padahal dia sudah susah payah mencari cara agar bisa masuk ke adalan rumah Nick, berkali-kali memastikan bahwa Ibunya Nick sedang tidak ada, tapi begitu sampai di kamar Nick malah ia mendengar ucapan menyebalkan dari mulut Nick, dan pastinya Alenta juga tak luput dari kekesalan Rebecca. Kalau saja gadis menyebalkan bernama Alenta itu tidak bertanya, pasti tidak akan jadi begini ceritanya kan?
" Rebecca, ini sudah lumayan lama, tapi kau masih ingin disini? Apa kau tidak ingin pulang kerumah mu?! "
Nick menatap Alenta yang terdiam tak bicara sedari tadi. Sebenarnya sih inginnya Alenta masuk ke kamarnya dan berisitirahat dengan damai disana. Tapi karena pembantu di rumah Nick memberitahu bahwa ada Rebecca, jadi dia berniat menyambangi Nick dan memberitahunya, tapi siapa sangka kalau pada akhirnya dia malah harus melihat Nick mengeluh dan merintih sakit perut jingga ia lupa tujuannya menemui Nick tadi.
" Rebecca, dia ada beberapa pekerjaan yang harus dirampungkan. Besok kan hari senin, jadi seperti kebiasaan kantor bahwa setiap senin akan ada rapat, jadi biarkan Alenta disini untuk menyiapkan segala sesuatunya? " Bujuk Nick, ini sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa juga dia mewakili Alenta untuk bicara, tapi sepertinya ini hanyalah rasa kasihan saja terhadap Alenta karena yang ia tahu, rumah sewa Alenta sudah tidak lagi diperpanjang kan? Kalaupun mau menginap di hotel, pasti akan membutuhkan waktu yang lumayan lama. Kalaupun mau naik taksi online, Alenta perlu masuk ke kamar dan megambil ponselnya, dan itu akan membuat Rebecca curiga. Tapi kalau Nick memesannya, bagaimana dia akan menjelaskan kepada Rebecca kemana ponsel Alenta yang biasanya akan bersamanya dua puluh empat jam?
" Rebecca? Kenapa tiba-tiba memanggilku dengan nama? " Rebecca menatap Nick dengan tatapan sedih, aduh! Padahal mah harusnya marah kalau nama Rebecca dipanggil Rebecco, tapi ini sepertinya Nick harus sedikit bersabar menghadapi Rebecca deh, karena kalau tidak, susah juga dia kalau mau buang cairan penghasil anaknya.
" Anu, maaf deh Babe. Maklum saja gara-gara sakit perut aku jadi tidak konsentrasi. "
" Tapi aku merasa kalau saat sakit perut adalah saat dimana Bos sangat jujur loh. "
Memang sialan mulut Alenta! kenapa sih harus ikut campur? Kalau saja Nick memiliki keberanian yang sehebat karakter Hulk, sudah pasti dia akan meninju Alenta sampai ke planet Pluto dan memastikan kalau yang namanya Alenta sudah lenyap dari bumi tercinta ini.
" Alenta, kau jangan ikut campur ya?! " Protes Rebecca yang tak bisa lagi hanya mengalah terus-terusan kepada Alenta. Padahal kan Alenta hanya bawahan, tali tetap saja dia harus menahan diri, teruntuk kali ini pokoknya Rebecca tidak akan menahan lagi.
" Ya ampun, hampir saja jantungku copot. " Ujat Alenta seraya mengusap-usap dadanya dengan senyum menyebalkan seperti yang biasa Rebecca lihat.
" Babe, urusan pekerjaan bisa di selesaikan besok kan? Sekarang suruh saja Alenta pulang! Setiap waktu selalu saja di dekat mu, apa dia ingin menggoda mu dan menjadi Nyonya muda Chloe, huh? "
Alenta kembali tersenyum, bahkan kali ini hampir saja kelepasan untuk tertawa. Iya, meksipun menjadi Nyonya muda Chloe adalah hal yang diinginkan banyak orang tali dia sendiri tidak menginginkannya, kali ini dia bisa berlaku sombong di dalam hati dengan berkata, Aku sudah menjadi Nyonya muda Chloe loh, Ah! Sayangnya hanya bisa di dalam hati saja, pokoknya mau apapun yamg dikatakan Rebecca tetap saja dia yang menang.
__ADS_1
" Jadi, aku pergi saja Bos? Kalau begitu, salam untuk nyonya Ivi ya? " Baru saja Alenta akan bangkit dari duduknya, suara si sumber menakutkan kini terdengar begitu merdu.
" Nick, Alenta? "
Mereka bertiga kompak melotot kaget.
" Bos! Bagaimana ini? " Alenta bertanya sedikit berbisik.
" Rebecca, Rebecca sana minggat! " Ucap Nick panik.
" Babe, minggat bagaimana caranya?! "
Alenta yang panik segera mendorong tubuh Rebecca ke belakang kursi.
" Diam disana, atau kau akan langsung di diskualifikasi sebagai calon Nyonya muda Chloe. " Ancam Alenta, dan Rebecca yang tadinya ingin protes karena sakit terjatuh dengan posisi terjengkang kini hanya bisa diam dan mematuhi ucapan Alenta saja. Duh, padahal bokongnya benar-bena nyeri, tapi kalau pun masih ingin protes, dia juga ngeri dengan ancaman Alenta.
Karena tidak keburu untuk melakukan hal lain, Nick berdiri di samping Alenta, memeluk pinggangnya seolah mereka sedang mengobrol dan bermesraan dengan akrab.
" Ibu? Ibu masih ingin menginap disini? " Nick memaksakan senyumnya begitu Ivi datang, dan begitu juga Alenta. Dia ingin menyapa, tapi kalau Rebecca dengar dia memanggil Ivi dengan sebutan Ibu, bisa-bisa hancur semuanya.
" Apa yang kalian lakukan disini? Padahal suara Ibu tadi lantang sekali, kesibukan apa yang sedang kalian lakukan sampai mengabaikan Ibu? " Ivi bertanya dengan mata yang terus menyelidik tajam.
" Ti tidak apa-apa, kami juga hanya mengobrol. Mungkin karena kami sedang asik saja jadi tidak terlalu jelas mendengar suara Ibu memanggil. " Ujar Nick lalu tersenyum mengusir kegugupannya.
Dasar pembohong! Mari kita lihat seberapa banyak lagi kalian akan berbohong.
__ADS_1
" Ibu dengar ada gadis lain yang datang kerumah ini, siapa dia, dan dimana dia? "
" Itu, cuma tukang pijitnya Alenta saja kok. Iya kan Alenta? "
" I iya. " Alenta memaksakan senyumnya.
" Oh, tukang pijit yang namanya Rebecca sepertinya Ibu baru dengar, lalu dimana dia? "
" Sudah aku usir, Bu! "
Ivi semakin menajamkan matanya menatap Nick sementara Nick yang menyadari betapa menakutkannya tatapan dari Ibunya tanpa sadar malah jadi menekan tangannya yang tengah memeluk pinggul Alenta hingga si pemilik mengeryit menahan sakit.
" Rebecca itu bukannya pacarmu sebelum kalian- "
" Tidak, tidak bu! Jangan dilanjutkan! " Cegah Nick yang tentu saja tidak mau kalau sampai kalimat Ibunya sampai selesai dan Rebecca mendengar pasti.
" Rebecca yang itu hanya gadis jelek, tubuhnya kurus kering seperti mayat hidup. Apa Ibu tahu tokoh kartun yang seperti mumi itu? Yah! Begitulah Rebecca! Sudah jelek, kerempeng, manja, selalu menggunakan parfum berlebihan dan membuatku mual, jadi mana mungkin aku bertahan lama dengan wanita seperti itu? "
Rebecca kini hanya bisa terperangah kesal hingga dia bertekad untuk memunculkan diri. Eh, tapi sayangnya tangan Alenta sudah lebih dulu menahan kepalanya agar Rebecca tetap di posisinya sekarang.
" Benar sekali! Bahkan Rebecca juga sebenarnya bukan tipe mu kan? Dulu aku terus saja terheran-heran, bagaimana bisa keledai berpacaran- Eh! Maksudku bagaimana pria yang tampannya melebihi aktor ternama memilih wanita aneh seperti itu. Sekarang aku jadi lega, ternyata otak masih ada ya? "
Alenta!!! Batin Nick dan Rebecca.
Bersambung.
__ADS_1