My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Berpisah


__ADS_3

Semalaman, baik Alenta dan Nick sama sekali tidak bisa tidur, mereka memang memejamkan mata, tapi mereka benar-benar kesulitan untuk tidur. Nick, pria itu sebenarnya berat untuk meninggalkan Alenta, tapi kalau dia memaksa Alenta untuk ikut dia pergi, dia juga paham benar bahwa Alenta tidak akan mungkin menginginkan hal itu. Tidak tahu apakah bekerja kepada Chloe adalah karena dia memang mencintai Chloe, ataukah karena dia membutuhkan uang pada awalnya, lalu kini menjadi sebuah kebiasaan yang tidak akan mudah untuk dia ubah.


Sementara Alenta, gadis itu juga tak tahu apa yang membuat hatinya tak tenang. Padahal dari semenjak dia bekerja untuk Chloe, dia sudah terbiasa tinggal di kamar sewa sendiri, saat akan dinas keluar negeri beberapa bulan lalu juga tidak begitu berat hati berpisah dengan Arkan. Ini, apakah karena dia sudah sering tidur diranjang yang sama dengan Nick sehingga rasa takut akan sepi datang padanya nanti? Tidak tahu!


Pagi harinya.


Alenta, Nathan, dan juga Ivi mengantarkan kepergian Nick.


" Jangan lupa untuk menghubungi saat sudah sampai, jangan nakal juga disana. " Pesan Ivi kepada putranya, kalian memeluk sebelum dia pergi.


" Fokuslah, dengan fokus kau pasti bisa dengan cepat menguasainya. Hindari minuman keras dulu, bar dengan alasan apapun, dan yang paling penting hindari wanita. Dengan begitu kau akan segera kembali berkumpul bersama kami. " Ucap Nathan lalu memeluk Nick.


Alenta, gadis itu terus memaksakan senyumnya Meksi hatinya terus berkata, jangan pergi, Nick! Tapi kali ini dia harus benar-benar menahan diri dana mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum agar Nick juga tidak kepikiran dan membuatnya tak fokus.


" Alenta, jaga diri baik-baik, jangan terlalu lelah bekerja, setiap hari aku akan menghubungimu. " Alenta tersenyum, lalu mengangguk dengan cepat. Nick, pria itu juga hanya bisa sok kuat meski ingin sekali menangis karena agak tidak rela meninggalkan Alenta, tapi kepergiannya ini juga demi Alenta, ditambah lagi ini juga sebagai ujian baginya, dan semoga dia bisa melewati itu semua dengan baik, serta tidak mengecewakan Alenta yang utamanya.


" Kau pasti bisa Nick. " Ucap Alenta saat Nick memeluk erat tubuhnya.


Setelah kepergian Nick, Alenta, Nathan, Ivi segera kembali ke mobil mereka, paling pertama mengantarkan Ivi kembali ke rumah Chloe, lalu Nathan dan Alenta menuju ke perusahaan untuk mulai kembali bekerja.


Tatapan mata banyak pegawai memang terlihat terkejut melihat CEO sebelumya datang, sementara Nick malah tidak kelihatan. Benar mereka menunduk hormat, tapi wajah bingung mereka benar-benar begitu jelas terlihat.


Talita yang bekerja sebagai resepsionis juga menunduk hormat dengan tatapan bingung penuh tanya. Jelas lah dia tahu siapa pria yang berjalan beriringan dengan Alenta, tapi kenapa Tuan Nathan yang terkenal dingin dan terlihat hangat hanya kepada istrinya saja malah nampak dekat dengan Alenta. Ah, benar saja! Waktu itu Bos Nick memang pernah menceritakan bagaimana Ayahnya begitu kagum dan percaya kepada Alenta. Talita tersenyum penuh maksud.

__ADS_1


Kalau aku lebih dekat dengan kak Alenta, aku pasti akan mendapatkan posisi Yanga lebih baik di perusahaan ini kan?


Tak lama dari kedatangan Nathan dan Alenta, pengumuman mulai disuarakan bahwa selama beberapa bulan ke depan, Chloe akan berada di bawah kepemimpinannya hingga putranya Nichole kembali. Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan, kemana Presdir mereka yang sebelumnya? Ada yang menduga kalau Nick sakit parah, ada yang menduga Nick tengah berlibur dengan istrinya, ada juga yang menduga bahwa Nick yang tidak kompeten memang seharunya tidak memimpin perusahaan Chloe.


Seakan pekerjaannya lebih lancar dan cepat ketika Nathan yang memimpin, Alenta dan Maudi juga tidak terlalu lelah dan bisa makan siang di jamnya. Tak ketinggalan Dimas juga ikut makan siang bersama. Dimas siapa sih? Dimas itu adalah asisten Nathan yang tiga hari ini Nick meminta tolong padanya untuk membantu pekerjaannya yang menumpuk.


" Alenta, pekerjaan hari ini lebih cepat selesai, jadi kita tidak usah buru-buru makan seperti biasanya kan? " Tanya Maudi yang dengan semangat menatap sup ayam kesukaannya.


" Iya, hanya tinggal menyusun draft untuk besok, dan memeriksa satu dokumen selesai. "


" Enak juga ya kalau ada dua orang atasan cekatan. " Ujar Maudi lalu terkekeh senang.


Alenta tersenyum meski terlihat malas. Sebenarnya memang iya sih pekerjaan lebih cepat selesai, tapi kenapa Alenta merasa seperti ada yang hilang? Apakah karena tidak ada Nick? Tapi Nick kan baru saja pergi, tapi rasanya sudah hampa seperti ini.


" Halo semua, boleh bergabung tidak? " Tanya Talita yang baru saja datang membawa nampan miliknya yang sudah berisi makanan lengkap dengan sayur, lauk pauk, serta buah-buahan. "


Damar, pria tiga puluh tahun itu hanya bisa membatin heran, padahal Talita adalah pegawai biasa, bagaimana bisa begitu percaya diri dan bergabung dengan atasannya, terlebih atasan itu adalah orang-orang kepercayaannya Bos Nick. Bukan ingin membuat tingkatan sosial, hanya saja akan tidak mungkin kalau pegawai biasa seberani Talita.


Talita tersenyum begitu manis seolah tak mengetahui jika tiga orang yang kini duduk bersamanya tengah membatin.


" Selamat makan. " Ucap Talita.


" Iya. " Jawab Maudi karena Alenta dan Dimas tidak terlihat ingin menjawab.

__ADS_1


" Kak Maudi, kakak terlihat sangat cantik menggunakan setelah seperti sekarang ini, usia kak Maudi berapa? Sudah menikah? "


Maudi mengeryit heran, gila ya? Pantas saja Alenta begitu sebal kalau Talita mendekat padanya, ternyata memang menyebalkan dan sok kenal, ditambah lagi sangat cerewet.


" Umurku dua puluh lima, terimakasih pujiannya. " Maudi berbicara sebentar, lalu akan segera menyuap makanan ke mulut karena tidak enak juga kalau makan sambil berbicara seperti Alenta.


" Wah masih muda ya? Umurku dua puluh empat tahun, lebih muda dari Kakak Maudi. "


Maudi memaksakan senyumnya. Gila! Benar-benar menyesal dia sudah mengiyakan saat Talita meminta izin untuk bergabung tadi.


" Kakak sudah menikah? "


Brak!


Alenta meletakkan sendok dan garpu ke meja dengan sedikit kuat. Dia menatap Talita tajam seolah begitu lelah menahan diri sedari tadi.


" Waktu istirahat hanya satu jam, kami tidak pernah mencuri waktu untuk makan di Jam kerja kami, jadi hargai kami yang hanya punya satu jam untuk makan dengan tenang. Oh, satu lagi, ini adalah perusahaan, kau harus bisa memanggil atasanmu dengan benar. Entah kau memiliki hubungan apa dengan Maudi, tapi jangan gunakan panggilan kakak karena itu mengganggu. "


Talita terdiam dengan batin menggerutu marah.


Mentang-mentang Maudi adalah istrinya Bos Nick kau sok membelanya, kalau saja Ayah tidak memintaku untuk menghormatimu, aku juga tidak akan mungkin diam saja saat kau hina seperti sekarang ini.


Dimas tersenyum tipis.

__ADS_1


Alenta benar-benar sangat mirip dengan Tuan Nathan.


Bersambung.


__ADS_2