My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Si Bunga Raflesia


__ADS_3

Alenta tersenyum saat mempersilahkan Rebecca masuk kedalam mobil. Iya tentu saja wajah sebal Rebecca tidak akan membuatnya merasa gentar, dan khusus untuk hari ini Alenta sudah ada Arkan yang akan mengajaknya untuk pergi jadi Alenta akan tinggal disana sembari menunggu Arkan.


" Kau duduklah depan. " Ujar Nick sebelum masuk kedalam mobil.


" Tidak perlu Bos, aku dan Arkan ada janji temu. "


Nick terperangah mendengarnya. Janji temu? Kok bisa? Sedangkan dia saja harus segera pulang, ini sebenarnya yang bodoh siapa sih?!


" Alenta, jangan membuat kesalahan. " Nick menatap Alenta tajam seolah memperingati agar tidak macam-macam dan membuat Ibunya curiga.


" Tentu, karena yang biasa membuat kesalahan adalah kau Bos, jadi tidak perlu khawatir tentangku. "


Sialan! Memang iya benar sih, tapi masalahnya bagaimana bisa ada sekretaris yang begitu menyebalkan seperti Alenta? Kadang-kadang Nick berpikir, apakah fungsinya dia fi kantor hanyalah untuk memenuhi karakter saja dan hanya tanda tangan?


" Time, no reason! "


Jidatmu lah!


Alenta menahan kesal dibalik senyum indahnya yang terukir bak gulali. Tapi begitu Nick masuk kedalam mobil dan mulai menjauh, senyum kepura-puraan itu menghilang dan berganti senyum bahagia karena ternyata Arkan langsung datang dan merangkulnya. Nick, pria yang itu kini berbalik dan melihat bagaimana Alenta tersenyum bahagia bersama dengan kekasihnya.


Dasar menyebalkan! Bisa-bisanya sebahagia itu hanya karena bertemu pacar. Dasar pacaran ala rakyat kismin!


" Melihat apa, Babe? " Tanya Rebecca yang sebenarnya tahu kalau Nick melihat Rebecca bersama dengan kekasihnya.


" Melihat anjing liar saja kok. "


Sesampainya di apartemen Rebecca, tadinya Nick akan segera kembali ke rumah, tapi karena tangan Rebecca menahan tubuhnya dengan memeluk erat-erat, dia jadi merasa kalau harus tinggal disana sebentar saja.


" Aku merindukanmu, Nick. "


Nick berbalik, tersenyum, dan meraih tengkuk Rebecca menciumnya hingga melakukan apa yang sudah lama tidak mereka lakukan.


***


" Alen, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat gelisah. " Tanya Arkan dengan tatapan khawatir dan penuh perhatian seperti biasanya.

__ADS_1


" Tidak kok, aku baik-baik saja. Tapi aku juga tidak bisa lama-lama karena ada hal lain yang harus aku kerjakan, kau tidak apa-apa kan? "


Arkan memaksakan senyumnya, lalu mengusap rambut Alenta dengan rambut.


" Aku tahu kau selaku sibuk, tapi sepertinya belakangan ini kau semakin sibuk ya? "


Alenta terdiam sesaat. Benar-benar bersalah sekali karena telah mempermainkan perasaan Arkan beberapa hari ini. Sungguh, Arkan benar-benar pria yang sangat baik dan pengertian, kalau saja bukan Arkan, mungkin saja tidak akan ada laki-laki yang bisa betah berhubungan dengan wanita yang sesibuk dirinya.


" Arkan, aku minta maaf karena jarang ada waktu untuk kita habiskan bersama. Tapi, bisakah kau bersabar sedikit lagi sampai aku menyelesaikan sebuah urusanku agar kita bisa seperti pasangan kekasih yang lain? " Alenta meraih tangan Arkan lalu menggenggamnya erat. Hangat, sungguh sangat hangat tangan Arkan sama seperti hati pemiliknya.


" Tentu saja aku akan bersabar, tapi jika kau merasa penat dan membutuhkan tempat untuk berbagi beban, maka jangan ragu datang padaku. Alen, aku memang tidak punya banyak uang, tapi aku janji akan berusaha semaksimal mungkin agar kau bisa bahagia bersamaku. " Arkan tersenyum seraya mengusap dengan lembut pipi Alenta.


" Arkan, apakah kau sungguh percaya padaku? "


Arkan mengangguk seraya tersenyum, lalu mengecup singkat bibir Alenta.


" Karena itu kau, Alenta. Jika bukan kau, aku mungkin tidak akan bisa memiliki kepercayaan sebesar ini. "


Alenta menahan haru, lalu memeluk Arkan. Ya Tuhan bagaimana jadinya kalau Arkan tahu dia sudah menikah dengan Bos di perusahaan tempat mereka bekerja? Apakah tatapan hangat, perlakuan lembut yang Arkan lakukan saat ini akan menghilang berganti dengan kebencian? Tidak, Arkan tidak boleh tahu sebelum dia dan Nick bercerai nanti.


" Alen, aku punya sesuatu untukmu. "


Arkan merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah cincin berwarna perak, persis seperti seleranya.


" Ini memang tidak mahal,tapi sudikah kau menerimanya? "


Alenta menelan salivanya sendiri. Cincin? Dilamar nih? Tali kan dia masih istrinya si busuk bajingan Nick itu! Masa dia punya dua cincin, satu cincin pernikahan dan satu lagi cincin dari kekasih.


Arkan terkekeh seraya mencubit pelan pipi Alenta.


" Jangan terbebani, ini hanya hadiah saja kok. Kalau aku ingin melamar, aku juga harus memberikan cincin yang lebih baik, dan tempat yang layak kan? "


Alenta memaksakan senyumnya. Bagaimana tidak terbebani dengan situasi sekarang ini? Kalau saja dia tidak terjebak dengan Bosnya, mungkin saja sudah dia duluan yang mengajak Arkan untuk menikah.


" Berikan tanganmu, biarkan aku memakaikannya untukmu. "

__ADS_1


Alenta memilih untuk diam saja dan membiarkan Arkan memasangkan cincin itu di jarinya. Sungguh dia tidak sanggup mengatakan tidak, selain karena Arkan yang begitu pengertian dan lembut, hanya Arkan lah orang yang membuatnya merasa tidak akan merasakan apa yang pernah di alami oleh Ibunya.


Setelah menghabiskan tiga puluh menit bersama Arkan, kini Alenta harus menahan kesal karena menunggu Bosnya pulang agar bisa masuk bersama-sama dan tidak membuat Ivi curiga. Sudah hampir tiga puluh menit, dan akhirnya datang juga si brengsek yang membuat kakinya sampai kesemutan.


" Kau sudah pulang? Heh! Stamina pacarmu pasti sangat lemah ya? "


Alenta memutar bola matanya jengah, dia biarkan saja mulut sialan itu bicara se-enaknya lalu masuk kedalam mobil. Tak lama Alenta duduk disamping Nick, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan dia berikan kepada Nick.


" Apa ini? " Tanya Nick dengan dahi mengeryit yang menandakan kalau dia bingung.


" Ini concealer, gunakan ini untuk menutupi leher mu yang banyak tanda merah. Nyonya melihatmu dengan detail tadi pagi, dia pasti akan curiga. "


Nick mengambil benda itu tapi masih enggan menggunakannya.


" Kita kan berada di tempat yang sama, mana mungkin Ibuku akan berpikir macam-macam? "


Alenta menghela nafasnya.


" Karena Nyonya sangat mengenalku dengan baik, dia tahu kalau aku tidak akan melakukan hal yang serampangan. "


Nick menelan salivanya, duh elah! Kenapa juga sih mulut Alenta selalu saja menyakitkan tiap kali berbicara.


" Ini, bagaimana cara menggunakannya? " Nick membolak-balikkan concealer itu karena memang tidak tahu bagaimana menggunakannya.


" Biar aku yang membantumu, Bos. " Aleta mengambil concealer dari tangan Nick, menekan bagian atasnya hingga mengeluarkan isinya, laku mengoles dan menekan-nekan pelan dengan jarinya hingga semua bekas merah itu tertutupi. Sementara Nick, matanya sedari tadi tak bisa beralih dari wajah Alenta yang begitu dekat dengannya hingga jantungnya berdegup kencang. Tidak tahulah Alenta dengar atau tidak, tapi kalau Alenta dengar juga bilang saja manusia hidup ya memiliki detak jantung.


" Sudah. " Ucap Alenta seraya menjauh dari Nick dan duduk agar berjarak dari Nick.


" Oh, terimakasih. "


" Ngomong-ngomong, lehermu mulus sekali, apa pacarmu lebih menyukai bagian dada? "


Brengsek sialan! Tahan, tahan Alenta!


" Kan Bos sudah pernah bilang, ibarat bunga aku adalah bunga raflesia yang tidak akan mudah orang lain bisa menyentuhnya. Dan lagi, Arkan memperlakukan ku seperti barang branded dan tidak boleh di sembarangi. "

__ADS_1


Menyesal aku tanya! Ujung-ujungnya cuma menyudutkanku dan Rebecca kan?!


Bersambung.


__ADS_2