My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Jangan Panggil Kakak!


__ADS_3

Setelah menyambar jasnya, Nick segera berjalan menyusul Alenta dan Maudi yang kini tengah bersiap diruangan kerja mereka. Setelah mrlihat bagaimana perasaannya tadi ketika Alenta memilih diam saat Rebecca menamparnya, Nick mulai menyadari jika Alenta selalu mengutamakan akibat di masa yang akan datang. Sebenarnya Alenta pasti tahu kalau akan ditampar, dan dia ingin membuat Nick mrlihat dengan benar seperti apa wanita yang terus saja berada di kantor dan membuat dirinya jadi mengesampingkan pekerjaan pentingnya. Tak hanya itu, setelah dia tahu kalau Alenta mendapat komplain dan berusaha menyelesaikan sendiri, di menjadi merasa malu dan juga merasa bersalah dengan keteledorannya sehingga Alenta terkena imbasnya.


" Alenta, aku tunggu di lobby ya? " Ucap Nick setelah membuka pintu ruang kerja Alenta.


" Anda yakin anda memiliki waktu luang untuk mengurusi masalah ini? "


Aduh, memang harus ekstra sabar sih kalau berbicara dengan Alenta. Padahal baru saja dia merasa bersalah dan merasa kalau harus segera memperbaiki kesalahannya itu, tapi lagi-lagi sindiran Alenta benar-benar membuat perasaan tidak enak beberapa saat lalu berubah menjadi sedikit kesal meski bibir tersenyum dengan manis.


" Jangan begitu dong, Alenta. Itu kan salahku yang tidak kompeten, juga tidak teliti. Em, maksudnya, aku tidak mendengarkan nasehatmu. Jadi jangan ngambek lagi ya? " Lagi, Nick tersenyum meski hatinya memaki dengan lancar. Dasar siluman, gadis tengik, mulut kobra, mulut silet, bla bla banyak sekali lah pokoknya.


Maudi menelan salivanya karena dia merasa adegan seperti barusan ini mirip seperti seorang suami yang sedang mencoba membujuk istri yang tengah merajuk.


Mereka suami istri sungguhan apa tidak sih? Tapi kalau iya, kok Alenta sudah tidak pakai cincin yang kemarin? Tapi Bos masih pakai ya? Ah! Tidak tahu lah! Otakku sudah mau kejang gara-gara memikirkan ini.


Nick, Alenta, dan Maudi kini berjalan bersamaan karena niat untuk menunggu Alenta di lobby ternyata tidak terlaksana gara-gara harus membujuk Alenta sembari menunggunya bersiap tadi. Huh! Biarkan salah lah, mau ngambek bagaimanapun juga, terima saja karena Alenta adalah kunci dari kekayaannya. Kan percuma saja kalau banyak yang di brangkas tapi kuncinya tidak ada.


" Kakak! "


Alenta menghentikan langkahnya, matanya tertuju kepada seorang gadis juga seorang pria yang sangat dia kenal. Nick, juga Maudi juga berhenti saat Alenta. berhenti dan menatap ke arah yang sama.


" Selamat siang, Bos? " Sapa pria itu yang tak lain adalah Arkan. Dia menunduk sebentar sembari menyapa, lalu tersenyum menatap Alenta. Gadis itu terperanjak mendengar Arkan menyapa Nick degan sebutan Bos, lalu segera ikut menyapa dengan sopan.

__ADS_1


" Selamat siang, tuan Nichole. "


" Kenapa kau ada disini, dan kenapa juga bisa bersama dengan Arkan? "


Gadis itu tersenyum, lalu menjawab dengan sopan pula.


" Kak, kakak lupa ya kalau aku akan melamar kerja di sini? " Iya, gadis itu adalah Talita. Adik dari pernikahan Ayah kandungnya bersama istri barunya.


" Tadi aku tidak sengaja bertemu saat Lia sedang menginterview. Tapi dia bilang dia adalah adikmu, jadi aku putuskan untuk menyapa sebentar sebelum dia pergi. " Ucap Arkan yang memang tidak tahu menahu tentang hubungannya dengan Talita.


" Oh, jadi kau adiknya Alenta, kalau begitu kau langsung masuk kerja saja, iya kan Alenta? " Nick tersenyum seolah ingin menunjukkan kepada Alenta bahwa dia akan berbuat baik. Ya kalau tidak bisa kepada Alenta, kepada salah satu keluarganya kan juga tidak masalah. Tapi oh tapi, niat Nick barusan benar-benar membuat Alenta malah terlihat kesal dan menatapnya dengan tajam.


" Bos, berhentilah omong kosong. " Ucap Alenta tanpa ekspresi.


" Oke, oke Alenta! Aku tahu! "


" Alenta, aku jemput saat pulang nanti ya? " Ucap Arkan.


" Kak, boleh mampir ke tempat tinggal kakak tidak? Nanti aku ikut kakak dan kak Arkam boleh tidak? "


Alenta mengepalkan tangannya kuat hingga gemetar. Padahal sudah diperingatkan untuk jangan memanggil kakak, tapi kenapa masih tidak mau mengerti? Apakah dia tidak tahu seberapa menyakitkannya panggilan itu saat Alenta mendengarnya? Cukup, sabar juga ada waktunya terasa habis kan?

__ADS_1


" Kau, siapa namamu? " Tanya Alenta kepada Talita. Mendengar pertanyaan itu, tentu saja Talita mengeryit bingung sekaligus juga merasa tersinggung. Padahal dia sudah berusaha menjadi ramah, dan mencoba memahami keadaan Alenta seperti yang diinginkan Ayahnya. Tali kenapa Alenta mempertanyakan nama seolah tidak memiliki hubungan dengannya?


" Kakak, apa kakak sedang bercanda? " Talita mencoba untuk tersenyum meski tatapan semua orang terlihat aneh saat menatapnya.


" Aku bertanya, tidak memiliki niat bercanda sama sekali denganmu karena aku bahkan tidak tahu siapa namamu. "


Deg!


Sakit? Iya, hatinya terasa sangat sakit karena lagi-lagi Alenta memperlakukannya seperti musuh. Padahal apakah sulit menerimanya sebagai seorang adik meski dilahirkan oleh Ibu yang berbeda? Sebenarnya sampai sekarang ini dia masih bingung atas sebab kemarahan Alenta, jika perselisihan antar orang tua, dan segala yang terjadi hingga Ayah dan Ibunya Alenta bercerai dan memilih Ibunya, seharusnya Alenta kan membenci orang tuanya saja. Kenapa? Kenapa juga dia harus diperlakukan layaknya musuh bebuyutan, bahkan setiap kali mereka bertemu dulu, Alenta selalu menepis tangannya saat dia mengajak Alenta untuk berjabat tangan. Tatapan tajam dan dingin seperti sekarang ini, adalah hal yang biasa dilihat oleh Talita, tapi tidak bisa dipungkiri kalau perasaan sakit dan tertekan sama sekali tidak terhindarkan oleh nya.


" Aku, aku Talita. Aku anak dari Ayah kita, juga Ibu ku. Kita adalah saudari tiri, tapi aku selalu menganggap kau adalah kakak kandungku. " Talita menunduk pilu menahan rasa malu, sakit hati, juga kekecewaan yang amat besar. Jawab saja, dan biarkan semua orang tahu hubungan buruk antara mereka. Toh, cepat atau lambat semua juga akan tahu kan?, Batin Talita pilu.


Alenta tersenyum dingin, lalu menatap sinis ke arah Talita.


" Heh! Maaf sekali mengecewakanmu. Tapi seingat ku, aku adalah anak tunggal Ibuku, aku besar, dan hidup hanya bersama dengan Ibuku, jadi aku tidak memiliki adik di hidupku. Lain kali jika ingin mendapatkan apa yang kau inginkan, termasuk juga pekerjaan, gunakanlah kemampuan yang kau miliki, bukan mencoba menerobos dengan alasan tali keluarga. "


Arkan menatap Alenta dengan dahi yang mengeryit. Selama ini dia paham benar kalau Alenta adalah gadis yang tegas, disiplin dan agak usah di dekati, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Alenta sama sekali tidak memiliki respect terhadap adik tirinya sendiri.


" Sudahlah, jangan terlalu di ambil hati. Apa yang Alenta katakan memang benar, tapi sepertinya kau juga memiliki kemampuan, jadi semangat ya? " Arkan tersenyum setelah dia pikir sudah mengambil jalan tengah dengan membenarkan Alenta tapi tidak menyalahkan Talita sepenuhnya.


" Kalau aku kekasihmu, aku akan membelamu loh. " Sindir Nick lalu tersenyum kepada Alenta.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2