My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Bersabar Sebentar


__ADS_3

Alenta mencubit perut Nick yang sudah bangun dari duduknya, lengannya terbuka lebar seolah ingin merengkuh tubuh Alenta dengan kuat, apalagi senyum mesum di wajah Nick begitu jelas terlihat hingga membuat Alenta menjadi sebal pada akhirnya.


" Aku batalkan niatku! "


Nick terperangah kaget, segera dia langsung membeku dengan posisi berdiri yang aneh karena seperti terhenti saat akan menangkap mangsanya.


" Setelah aku pikir lagi, sepertinya kau ingin tetap bertahan karena belum berhasil melakukan niat busuk mu itu kan? "


Nick perlahan membenahi posisinya dengan ekspresi lemas dan kecewa. Uh! Padahal sudah membayangkan akan kikuk kikuk dengan Alenta mumpung Ibunya tidak ada, tapi yang diterima malah penolakan yang begitu tegas. Aduh! Sakit sudah hatinya, maksudnya hati dan juga anunya yang sudah keburu bereaksi karena berandai-andai tadi.


" Alenta, aku tadi hanya bercanda saja kok. Jangan begitu cepat bilang ingin bertahan sedetik kemudian bilang batal. Aku janji deh tidak akan macam-macam. " Nick terduduk masih dengan wajah lemas dan kecewa. Duh! Maaf lah karena ekspresi itu sama sekali tidak bisa dia sembunyikan. Sementara Alenta, dia kini tersenyum tipis melihat bagaimana wajah Nick yang sama sekali tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lucu, itulah yang Alenta lihat.


" Kira-kira, seberapa lama Bos akan bertahan tanpa menyentuh wanita? " Tanya Alenta yang sebenarnya hanya bermaksud untuk mengetes saja.


" Kalau kau masih tidak mau, ya sudah aku akan menunggu. Kalaupun tidak tahan, ya aku cuma bisa ke kamar mandi, pakai sabun, olah raga tangan saja sendiri. " Nick menjawab dengan wajah yang belum berubah ekspresi.


" Maksudnya? " Alenta menatap Nick dengan dahi mengerti bingung. Iya, dia memang belum mengerti dengan hal itu, jadi bukan salah juga kalau dia menanyakan apa maksudnya.


Nick menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan dan menatap Alenta sebal.


" Colai, Alenta! Colai! "


" Colai? Apa sih? "


Nick menghembuskan nafas sebalnya.


" Colai itu ya pakai tangan supaya tongkat ajaibku tidak berdiri terus menerus. Memang tongkat sakti milikku seperti tiang bendera yang hanya bisa tegak berdiri saja? "


Alenta menelan salivanya, sialan! Istilah apalagi itu, Colai? Geli sekali saat membatin di dalam hati. Memang dasar Nick gila, yang begitu juga kenapa harus disebutkan sih?!


" Oh? "


" Oh? Oh saja?! Alenta, badanku saja sudah panas dingin menahan diri, tapi kau hanya oh saja? "

__ADS_1


Alenta mendengus kesal, apa-apaan sih?! Memang apa masalahnya sampai dia harus menahan diri? Cuma bertanya saja memang salah? Kalau menurut Nick salah, toh hanya tinggal memaafkan saja kan? Tapi, kalau dilihat lagi ekspresi Nick yang seperti bocah kecil sedang merajuk, Alenta jadi tidak tahan untuk tertawa.


" Alenta, kenapa kau tertawa sendirian? Sebelah mana yang lucu? " Tanya Nick masih saja dengan tatapan sebal.


" Bos, saat ini kau benar-benar terlihat sangat lucu. " Alenta kembali tertawa, dan tawanya kini semakin nyaring terdengar.


Nick, pria itu kini tak lagi bisa berwajah sebal lagi karena dia terpana dengan wajah Alenta yang begitu cantik dan bersinar saat tersenyum. Indah, cantik, manis, semua itu adalah gambaran saat melihat wajah Alenta saat ini.


" Alenta? "


" Em? " Alenta menoleh menatap Nick dengan tawa yang mulai meredam. Sebentar tatapan mata mereka saling bertemu dan bertahan hingga beberapa detik, tapi saat Alenta merasakan canggung karena situasi saat ini agak aneh, dia mencoba untuk menoleh membelakangi tatapan Nick, tapi sayangnya Nick lebih dulu menahan wajah Alenta dan mengecup bibir Alenta.


" Aku ingin menagih janji, Alenta. '' Tatapan mereka kembali bertemu dengan begitu lekat.


" Kau yang menjebak untuk berjanji, jadi aku tidak harus menepatinya. "


Nick terdiam, tangannya kini semakin lembut tapi juga semakin menahan Alenta agar tidak menoleh.


" Hanya sebuah ciuman, tidak akan lebih, aku janji. "


Alenta terdiam karena mulutnya sudah dibungkam oleh Nick. Sungguh pada awalnya Alenta ingin mendorong tubuh Nick menjauh karena memang tangannya sudah menekan dada Nick untuk menjaga jarak, tapi apalah daya kala kekuatan Nick jauh berkali-kali lipat lebih kuat darinya. Dari yang awalnya ingin menolak, tapi lama kelamaan Alenta mulai memejamkan mata tanpa sadar menikmati bibir Nick yang begitu lembut, bahkan gerakan dari bibir Nick terasa begitu pelan tapi terasa hangat. Hangat, tapi semakin lama ciuman itu menjadi semakin terasa liar. Iya, sepertinya Nick mulai terpancing suasana hingga hampir saja membuatnya lupa dengan janjinya yang baru saja ia ucapkan.


" Maaf, maaf Aleta aku kelepasan. " Ucap Nick seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Alenta yang terkejut hanya bisa terdiam begitu saja. Apa-apaan ini?! Batin Alenta kaget, bagaimana bisa dia begitu terbawa suasana hingga begitu menikmati ciuman dari Nick?


" Aku ke kamar mandi dulu! " Ucap Nick seraya bangkit dari duduknya.


" Apa-apaan?! Aku itu bersih dan tidak memiliki penyakit apapun! "


Nick berhenti sejenak dan menatap Alenta bingung.


" Maksudnya? "


" Kau ke kamar mandi ingin mencuci bibir dan mukamu, Bos? "

__ADS_1


Nick menghela nafas sebal.


" Bukan! "


" Lalu? "


" Colai lah! Mau apa lagi? Atau kau mau membantuku? " Nick tersenyum miring dengan tatapan bak hewan buas menatap mangsanya.


Alenta, gadis itu menelan salivanya. Dia palingan wajahnya yang tambah saja merah agar tak dapat dilihat oleh Nick.


" Pergilah Colai sana! "


Nick mendengus sebal.


" Punya istri, tapi tetap harus colai juga. Besok aku mau beli boneka XXX saja. "


Aleta tersenyum menatap punggung Nick yang kini sudah tak nampak lagi karena sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Dia menghembuskan nafas panjangnya, lalu menyentuh bibirnya karena teringat beberapa detik lalu saat mereka berciuman.


Semoga ini keputusan yang tepat.


Di dala kamar mandi, Nick melakukan apa yang harus dia lakukan alias meninabobokan tongkatnya seraya membayangkan wajah Alenta, juga ciuman panas yang beberapa saat lalu mereka lakukan. Masa bodoh saja kala Alenta mendengar lenguhannya, toh sulit juga kalau harus merasakan enak tanpa bersuara.


Alenta, dia hanya bisa terduduk dengan wajah yang tak henti memerah, bahkan malah jadi semakin merah seperti orang mabuk karena lenguhan Nick di dalam kamar mandi bisa ia dengar degan jelas. Menggelikan! Tapi ini juga membuat Alenta berpikir bahwa akan lebih baik seperti ini dari pada Nick keluar rumah dan mencari wanita untuk pelampiasan.


Tunggu aku benar-benar siap, Bos. Aku janji akan berusaha untuk menerima mu, jadi bersabarlah sebentar saja.


Nick keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat segar karena sekalian mandi setelah adegan anu anu nya selesai.


" Dirumah tidak ada baju laki-laki Bos, bagaimana kalau pakai kaos milikku? Sepertinya aku punya yang big size karena itu sedang tren beberapa tahun lalu. "


" Alenta, bisa tidak jangan memanggil Bos? Kita kan sudah sepakat dengan hubungan pernikahan kita, nanti orang akan berpikir aku terlalu kejam denganmu. Padahal yang kejam kan kau, Alenta. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2