My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Maaf, Tuhan!


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Talita mengucapkan terimakasih kepada Reiner karena telah membantu dan juga mengantarnya. Tak mengatakan untuk singgah sebentar, karena memang dia tidak ingin banyak berbosa-basi tidak penting. Segera dia masuk ke dalam rumahnya dengan sedikit pincang menahan perih yang entah mengapa rasanya begitu terasa setelah sampai di rumahnya.


Sebentar dia menatap Ibunya yang kini sedang duduk di ruang tamu bersama nenek, juga seorang pria paruh baya yang saat ini tengah tersenyum menatapnya. Dia tak ingin berbosa basi jadilah Talita langsung saja bergabung dengan Ibunya agar bisa segera bicara karena dia juga harus istirahat dan bersiap untuk besok bekerja di tempat yang baru.


" Talita, kenapa tidak salam dengan nenek? " Ibu Rahayu mengingatkan. Maklum saja, selama ini Talita seperti di paksa untuk terlihat anggun demi wajah indah Ibu Rahayu sendiri seolah dia telah sukses mendidik putrinya dengan baik.


" Maaf, kakiku sakit, tidak kuat berdiri lagi. " Ucap Talita tak berekspresi.


Ibu Tina sebenarnya agak kesal, tapi karena sekarang ini ada tamu penting, maka dia menahan saja dulu kekesalannya nanti baru menasehati Talita. Ibu Rahayu, dia juga agak malu, tapi mau bagaimana lagi? Beberapa hari ini Talita sangat tidak bisa di ajak bicara dengan baik.


" Talita, kenalkan, ini adalah Hanafi, dia ini Pemilik restauran Chinese yang ada diseberang restauran kita. " Ucap Ibu Rahayu, dia tersenyum seolah ingin menciptakan kesan baik, dan sopan, sayangnya Talita malah mengendus adanya yang tidak beres dengan mengenalkan pria paruh baya kepadanya.


" Talita. " Ucap Talita masih diam di tempat. Untung saja dia bisa beralasan kalau kakinya sakit, jadi dia tidak perlu menjabat tangan pria itu.


" Talita sangat cantik dan manis ya? " Ujarnya.


Talita yang melihat bagaimana pria itu tersenyum kepadanya mulai meyakini bahwa firasatnya tadi tidaklah salah.


" Sayang, " Ibu Rahayu berjalan mendekati Talita yang duduk agak jauh darinya. Dia meraih tangan Talita dan menggenggamnya erat-erat.


" Sayang, kau tahu kan kalau restauran kita itu sudah sulit menghasilkan uang? Ibu berencana memperbaiki sepenuhnya, agar restauran kita bisa kembali ramai. Tuan Hanafi ini bersedia membatu kita untuk memenuhi kebutuhan restauran, beserta dana nya juga. Jadi kau coba jalin hubungan baik dengan Tuan Hanafi ya? "


Talita menarik dengan kasar tangannya yang digenggam oleh Ibunya. Tatapannya tajam, marah, dan kecewa, tapi bibirnya masih bungkam tak mengeluarkan suara. Jadi inilah wajah asli Ibunya? Jadi beginilah fungsinya dia dirumah ini?


" Sayang, kau tahu kalau Ayahnya itu sakit kan? Ibu ingin kau sedikit saja berkorban supaya kami bisa mencari uang dan Ayahmu bisa berobat sampai sembuh. " Ibu Rahayu menatap Talita dengan tatapan memohon, bahkan matanya juga memerah seolah begitu sedih dengan apa yang menimpa suaminya.


" Talita, kau tahu kan kalau Alenta itu tidak bisa di andalkan? Dia memang sudah menikah dengan anak pengusaha sekaligus Presdir di perusahaan besar, tapi dia kan amat pelit. Cuma kau yang bisa kami mintai tolong. "

__ADS_1


" Ibu, aku sudah menanyakan tentang tumor yang di diagnosa oleh Dokter kepada Ayah. Tumor itu hanyalah tumor jinak, Ibu. Aku lihat beberapa hari lalu ada banyak uang kan? Kenapa masih ingin menjual ku? "


Ibu Rahayu menggeleng, dia juga kembali meraih tangan Talita untuk dia genggam.


" Uang itu habis untuk kebutuhan rumah, nenek mu kan juga tidak ada penghasilan, dia sakit, ditambah juga paman Abimana tidak berpenghasilan cukup. "


Talita tersenyum miris, sebenarnya dia kurang berbakti apa? Diminta untuk mendekati Alenta, sudah dia lakukan. Diam saat dimaki Alenta, dia juga sudah melakukannya. Mengemis kepada Alenta, itu pun juga sudah, bahkan memohon sampai membuang harga diri juga sudah, bekerja tapi gajinya juga semua ia serahkan kepada Ibunya. Jadi, harus sebesar apa pengorbanannya sebagai seorang anak?


" Ibu tidak minta buru-buru kok, Talita. Kau bisa dekat dengan saling mengenal dulu dengan Tuan Hanafi, nanti kalau sudah siap baru kita pikirkan tentang pernikahan. "


Talita sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia pada akhirnya melupakan kekecewaan yang ia pendam di dalam hati.


" Cukup! Aku tidak akan menikah, baik itu dengan pria itu atau dengan siapapun! Aku tidak ingin menikah dan pada akhirnya menjadi seperti Ibu! Aku tidak ingin gila dengan obsesi seperti Ibu! "


Plak!


" Ibu, kalau Ayah tahu Ibu memukul ku, kalau saja Ayah juga tahu kalau Ibu pernah memukul kak Alenta, Ayah pasti tidak akan pernah memaafkan Ibu! " Ucap Talita menahan tangis sembari memegangi pipinya yang terasa panas dan sakit.


" Diam! "


" Nak Hanafi, bagaimana kalau kau kembali dulu? Nanti kami akan bujuk Talita lagi, kau jangan khawatir ya? " Ucap Ibu Tina mencoba menenangkan Tuan Hanafi yang terlihat terkejut dengan apa yang terjadi.


" Baiklah kalau begitu, aku harap jangan terlalu lama mengambil keputusan ya? "


" Tentu saja. " Ibu Tina tersenyum, lalu dia mengantarkan Tuan Hanafi untuk keluar dulu dari rumah.


" Ibu sudah memohon dengan lembut, Ibu juga sudah meminta dengan sopan, tapi kau malah membentak seperti anak yang tidak memiliki sopan santun! "

__ADS_1


Talita bangkit dari duduknya. Dia menatap Ibunya yang kini duduk dengan menatapnya marah.


" Ibu, apakah Ibu pernah menyayangiku sebagai seorang anak? "


" Apa yang kau tanyakan?! "


Talita mengusap wajahnya yang mulai banjir dengan air mata.


" Ibu melahirkan ku untuk membuat Ayah tetap tinggal, Ibu sering memberikan air es supaya aku sakit saat kecil dan Ayah tetap dirumah, Ibu selalu memaksaku untuk tersenyum dengan manis agar Ayah betah dirumah, Ibu menakut-nakuti saat malam akan tidur sehingga Ayah tetap tinggal karena kasihan padaku. Setelah aku dewasa, Ibu memintaku mendekati Alenta, dan pada akhirnya aku tahu itu demi uang dan Ayah. Sekarang Ibu menjual ku juga demi bisa hidup berkecukupan dan juga demi Ayah. Aku lelah, Ibu! "


" Jangan membentak begitu, Talita! Bagaimanapun kau adalah anak, itu juga termasuk kewajiban mu. "


Talita tak lagi ingin bicara, rupanya Ibu dan juga neneknya sudah bersekongkol, maka tidak akan mudah melawan dua mulut itu. Segera Talita meraih tasnya, lalu berjalan menuju ke kamarnya.


Bruk!


Talita membanting tasnya di atas tempat tidur, dia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat karena bisa saja Ibu dan neneknya akan datang ke kamar. Sebentar Talita menatap photo keluarganya, disana juga ada photo Alenta yang dia ambil dari media sosial lalu mengguntingnya dan di satukan seperti formasi keluarga lengkap.


Talita meraih buku harian yang biasa ia gunakan untuk mencatat harapan di dalam hati. Setelah menulis itu dengan air mata yang bercucuran, Talita membuka laci paling atas dan mengeluarkan sebuah karter yang masih baru belum sempat sekalipun ia gunakan.


Jika pada akhirnya kehidupan menempatkan aku di tempat yang tidak tepat, maka tetap biarkan aku mencoba berpindah tempat dengan segala harapan indah yang aku punya. Maaf Tuhan, dan terimakasih untuk dua puluh empat tahun kehidupan yang kau berikan.


Bruk!


Talita terjatuh dengan pergelangan tangan yang sudah banyak mengucurkan darah di lantai.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2