
" Pagi sekali anda sudah datang nona Rebecca? " Sapa Alenta, dan seperrti biasanya bibir indah itu akan terbentuk dengan sangat manis meski hatinya tengah memaki dengan jutaan kutukan, juga macam-macam jenis hewan, hanya sayang saja lupa memaki dengan nama-nama tumbuhan.
Rebecca melengos kesal, padahal sih yang paling ingin ia temui hanyalah Nick. Tapi lagi-lagi harus bertemu Alenta, dan satu lagi si julid Maudi yang paling suka membicarakannya di belakang.
" Mau ketemu Nick, kalian jangan sok akrab begitu deh, tidak cocok dengan aslinya isi hati kalian. "
Memang benar sih, di hati kedua orang itu benar-bena berbeda dengan wajah ramah mereka. Yah tapi mau bagaimana lagi? Memaki di dalam hati adalah hal yang menyenangkan tanpa kita sadari.
" Begitu ya? Kalau begitu mohon tunggu sebentar ya nona Rebecca? Pagi ini Bos sedang ada tamu penting, jadi silahkan duduk dulu dengan santai sembari menunggu. " Ucap Maudi karena Alenta tengah memeriksa ponselnya setelah terdengar peringatan untuk kegiatannya bersama dengan Nick.
" Tamu? Sepenting apa tamunya sampai aku harus menunggu? " Rebecca mengeryit sembari membatin di dalam hati. Mungkinkah itu adalah istri yang sedang dirumorkan oleh banyak orang dan Nick tidak ingin dia melihatnya? Tidak! Mana bisa dia menunggu saja dan membiarkan Nick berduaan dengan wanita yang lain.
" Nona Rebecca, sepertinya pertemuan pagi ini akan memakan waktu yang lebih lama, jika saya boleh memberikan saran, Bagaiamana kalau anda pergi ke salon kecantikan, atau mungkin anda mau breakfast dulu? " Alenta memberi solusi setelah mendapat pesan bahwa ia harus segera kembali karena dia sempat izin sebentar untuk mengambil dokumen dari Maudi, tapi juga tak sengaja bertemu dengan Rebecca yang datang untuk bertemu dengan Nick.
Lain yang dipikirkan Alenta dan Maudi, lain pula yang dipikirkan Rebecca. Gadis cantik itu malah sibuk mencurigai Nick semakin dalam dan menebak sampai membuat emosinya tak tertahankan.
" Maaf saya permisi dulu. " Ujar Alenta yang tak mungkin lagi membuang lebih banyak waktu dengan Rebecca. Segera dia beranjak, tapi tak lama Rebecca juga terlihat ingin mengikuti tapi Maudi dengan segera menghentikannya.
" Eh, nona Rebecca mau kemana? "
" Mau keruangan Nick! "
__ADS_1
Maudi melotot kaget, sebenarnya bukan dia tidak memiliki rasa hormat dengan Rebecca meskipun iya juga tidak akan juga dia berlaku buruk, dia hanya ingat benar kalau klien pagi ini sangat penting bagi perusahaan, jadi mau tidak mau dia hanya bisa terus menahan Rebecca agar tidak mengganggu jalannya pembicaraan bisnis antara Chloe dan perusahaan asing yang terkenal itu.
" Maaf kalau saya lancang, tapi klien Bos pagi ini benar-benar sangat penting, mohon nona Rebecca memahami, dan membiarkan meeting ini berjalan dengan lancar agar perusahaan Chloe juga semakin berjaya. "
Rebecca menepis tangan Maudi yang memegangi lengannya. Rasanya kesal sekali degan Maudi, padahal hanya asisten Alenta saja, tapi bagaimana bisa dia bersikap seolah-olah dia sama dengan Alenta yang bisa mengaturnya juga.
" Jangan berani lagi menyentuh ku! Kau bisa saja menyembunyikan kebenaran itu, tapi aku tidak akan membiarkan kalian bisa berakting lama. "
" Maksud anda ini apa ya? "
" Kau, dan juga Alenta sedang menyembunyikan kebenaran bahwa Nick sedang dengan wanita lain kan? "
Maudi terperangah heran. Gila! Pikiran macam apa itu? Ini kantor woi! Kerjaan yang menggunung seperti gunung Himalaya tingginya apa sempat Bos main kucing-kucingan dengan perempuan? Batin Maudi heran.
" Tidak! Di dalam sana hanya ada klien saja, tidak ada yang benar dari dugaan anda ini, nona Rebecca. " Masih harus bekerja keras menghentikan Rebecca, Maudi hanya bisa mengatakan dan membujuk dengan sangat lembut meski hatinya memaki dengan sebutan hewan berkaki empat hingga berkali-kali.
Hampir dua jam setelah itu, Nick dan Alenta beserta dua orang yang datang dari jauh untuk menyepakati kerja sama akhirnya mendapatkan kesepakatan mereka. Tapi siapa sangka keluarnya mereka dari sana, malah harus disambut dengan dua orang yang terlihat seperti sedang berdebat. Iya tentu saja mereka itu adalah Maudi dan Rebecca. Awalnya Maudi terus berkata dengan sopan seperti yang diajarkan Alenta, tapi siapa sangka kalau Rebecca malah menampar pipinya sekali, lalu menuduh Maudi melakukan beberapa kecurangan dan semakin memancing emosinya setelah merasakan marah karena satu tamparan dari Rebecca. Saat Nick dan yang lainya keluar, mereka melihat Rebecca yang tengah menjambak rambut Maudi, dan Maudi juga nampak menjambak rambut Rebecca dengan riasan wajah mereka yang sudah berantakan.
" Ada apa ini? " Tanya dua klien Nick yang merasa bingung juga heran bagaimana bisa sih dua karyawan bertengkar sampai seperti ini? Sementara Nick dan Alenta, mereka hanya bisa menahan malu, kesal, juga geregetan sendiri yang harus tetap di tahan sampai dua klien itu meninggalkan kantor.
" Nick! " Rebecca sudah mulai menjebik sok sedih, dan sepertinya dia juga sudah Kan mulai bergelayut manja meminta pembelaan tidak perduli dengan situasi yang tidak mendukung. Tapi untunglah, Alenta bisa mengendalikan keadaan yang kurang pantas ini, dan sekaligus membuat Rebecca tidak memiliki pilihan lain selain diam di tempat.
__ADS_1
" Maaf, Mr Zerg dan Mr Ben. Kadang kala seseorang memang sering kehilangan kontrol dan lupa kalau mereka punya akal sehat yang harus digunakan. Kejadian memalukan, maksud saya tingkah kurang waras dari mereka mohon untuk dimaklumi, dan semoga ini tidak membuat anda sekalian merasa terganggu. Mulai hari ini saya akan mempertegas peraturan, dan saya akan memastikan ini tidak akan terjadi di kemudian hari, dan tentu juga ini harus sesuai dengan titah Bos. Iya kan Bos? "
Nick menelan salivanya sendiri. Jujur dia merasa malu juga dengan apa yang di lakukan Rebecca, meskipun dia juga merasa terbantu oleh kata-kata Alenta, tapi Nick merasa tertekan dengan tatapan Alenta yang seperti sedang menjelaskan bahwa tidak ada kata selain iya yang boleh keluar dari mulutnya.
" Iya, iya tentu saja! "
Klien Nick tersenyum seolah dia juga tidak ingin mempermasalahkan hal ini lagi.
" Saya merasa senang bekerja sama dengan anda, dan saya juga iri karena sekretaris anda ini sangat kompeten, saya bisa melihatnya dari hasil musyawarah kita tadi dan saya bisa melihat dia adalah gadis yang pintar, sigap, dan berpikir dengan matang. "
" Anda terlalu memuji, Mr Zerg. " Ucap Alenta.
Setelah itu kedua klien Nick memohon izin untuk pergi, dan entah mengapa Nick tiba-tiba merasa terganggu degan tatapan Mr Zerg kepada Alenta, bahkan dia juga menyalami Alenta cukup lama hingga membuatnya harus mengendurkan dasi karena nafas yang ia rasa kurang nyaman.
Beberapa saat kemudian.
" Apa kalian tahu kalau kalian sudah membuat malu? " Tanya Alenta kepada Rebecca dan Maudi yang sedari tadi menunduk tak bicara.
" Maaf, aku salah. " Ucap Maudi.
" Iya, dia salah! Sudah jelas kan? " Ujar Rebecca dengan wajah angkuhnya. Sementara Nick, pria itu hanya bisa diam dan melihat saja karena takut kalau dia ikut campur malah dia yang akan kena sialnya.
__ADS_1
Bersambung