My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Permohonan Talita


__ADS_3

Jam pulang kerja sudah lewat tiga puluh menit yang lalu, tapi Talita masih duduk di lobby demi untuk menunggu Alenta karena ada hal yang harus dia bicarakan. Sudah seharian ini dia terlihat cemas, kerja juga tidak tenang dan cenderung lebih sering sala. Untung saja orang masih memaklumi karena Talita juga masih terhitung baru.


Talita menunduk memandangi sepasang kakinya yang mengenakan sepatu pantofel Berwarna hitam. Harap-harap cemas dia menunggu Alenta karena takut akan salah bicara nanti, atau dia takut tidak bisa bicara dengan sebenarnya. Kembali dia menatap sekeliling, ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Alenta, dan syukurlah tak lama dari itu Alenta, Nick dan Maudi keluar dari lift dan berjalan untuk keluar dari lobby.


Talita segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan cepat menghampiri Alenta. Kali ini karena ada urusan serius dia sampa lupa untuk menyapa Nick dan juga Maudi terlebih dulu.


" Kak, tolong izinkan aku bicara sebentar ya? "


Alenta membuang wajah menahan kesal, tidak tahu kapan bisa bebas dari Talita yang menyebalkan itu, tapi sepertinya itu tidak akan mudah karena dia seperti berharap sekali ingin bicara dengannya.


" Kak Alenta, aku mohon, tolong ya? " Pinta Talita sembari menangkup kedua telapak tangannya tinggi-tinggi memohon dengan sangat. Awalnya Alenta masih ingin menolak dan mengabaikan saja, tali melihat tatapan semua orang terarah kepadanya dan juga Talita, mau tidak mau Talita mengiyakan saja permintaan Talita itu.


" Bos, Maudi, aku bicara dengan dia sebentar ya? " Ucap Alenta yang langsung mendapatkan anggukan.


" Aku tunggu di mobil. " Ucap Nick.


Sebentar Talita nampak berpikir, apakah hubungan Bos dan Sekretaris memang sedekat itu? Pulang dan berangkat bekerja bersama seperti pasangan suami istri? Sudahlah, saat ini ada hal lain yang lebih penting dan harus segera dibicarakan dengan Alenta.


" Ada apa? " Tanya Alenta dengan nada bicara yang rendah karena dia tidak ingin pembicaraan ini ada yang mendengarnya, lalu menyalah pahami obrolan mereka nanti.


" Kak, saat ini Ayah sedang sakit, tolong temui dia kak. Sudah dua hari, Ayah selalu memanggil namamu, tidur juga gelisah dan mengigau terus menerus. Dia menyebut namamu, dan mengatakan maaf berulang-ulang. Tolong temui dia, kak. " Pinta Talita. Gadis itu berbicara dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Tentu saja dia sedih, karena yang sakit adalah seorang Ayah yang selalu ada untuknya, mencintai, menjaga, dan terlihat memanjakan Talita seperti Talita adalah putri satu-satunya yang dimiliki Ayahnya.


" Kak, tidak apa-apa terus marah dan membenci Ayah. Kami salah, aku juga salah karena telah menjadi anak mereka dan membuat kakak kehilangan banyak waktu bersama Ayah. "


Lagi, masa lalu itu diungkit lagi padahal dia sudah baik-baik saja belakangan ini. Sudahlah, rasa sakit ini sepertinya memang tidak akan bisa hilang seberapa lama mereka tidak bertemu, bahkan sampa matipun tidak menjamin bahwa kebencian itu akan hilang dari hatinya.

__ADS_1


" Berhentilah mengatakan banyak omong kosong, kalau Ayahmu sakit yang perlu kalian temui adalah Dokter dan rumah sakit. Aku bukan Dokter, jadi tidak ada gunanya aku menemui Ayahmu. "


Talita yang tak tahan lagi akhirnya menjatuhkan air matanya. Padahal dia sudah merendah sampai seperti ini, sudah mengalah dan mencoba menggunakan kalimat baik agar tak menyakiti hati Alenta, tapi kenapa Alenta masih saja tidak mengerti? Dia mencintai Ayahnya dengan sangat, dia takut kehilangan Ayahnya, dia ingin Ayahnya sembuh dan kembali seperti sedia kala, tapi kenapa orang yang bisa melakukan itu semua begitu tidak Sudi? Apakah nyawa Ayahnya sama sekali tidak berarti bagi Alenta?


" Sekali saja, aku mohon temui sekali lagi saja. Jika tidak mau melihat Ibuku, maka Ibuku akan pergi sementara dari rumah. Atau, aku? Juga adikku? Kami semua akan pergi selama kak Alenta ada disana. Tolong temui dia sekali saja kak, tolong bujuk dia untuk pergi kerumah sakit agar bisa diobati. Tolong, aku mohon, aku benar-benar takut kehilangan Ayahku. "


Alenta mengepalkan jemarinya menahan marah, dia kembali teringat saat Ayahnya pergi, dia juga menangis terisak-isak sama seperti Alenta. Dia bersujud memohon kepada Tuhan agar segera mengembalikan Ayahnya yang saat itu dia tahunya Ayahnya tengah dipinjam anak perempuan lain.


" Melihat Ayahmu sama saja menggores luka lama ku. Kau ingin aku berkorban demi Ayahmu dan kalian semua yang takut dia mati? "


" Kak Alenta! " Talita menatap marah, dia marah karena Alenta berani-beraninya mengutuk Ayahnya dengan kata mati, padahal sudah jelas itu adalah hal yang sangat ia takutkan.


" Kau adalah anaknya, kak. Cobalah lihat wajah tuanya dengan lembut sekali saja. Dia tidak seburuk yang kakak kira, kakak ingat saja saat dia menggendong kakak, bermain dengan Kakak, dan abaikan sementara kebencian yang kakak rasakan. "


" Kau dan aku hanya beda dua tahun. Kalau kau memintaku mengingat masa dimana Ayahku melakukan apa yang katakan tadi, aku tidak mengingatnya sama sekali. Kau tahu kenapa? Karena dia memberikan suruh waktu luangnya hanya untukmu, kau ingin aku mengingat memori indah yang kau rasakan? Apa kau bodoh? "


Talita terdiam tak sanggup lagi bicara. Dia biarkan saja Air matanya terus jatuh menetes tak terhitung banyaknya.


" Ayahmu sudah memilih untuk meninggalkan aku serta Ibuku, dan merangkul kalian mejadi keluarganya. Saat seperti ini yang dia butuhkan tentu saja kalian semua yang adalah keluarganya. Aku, bukan siapa-siapa, jadi berhentilah memohon, apalagi menangis demi Ayahmu di hadapanku. "


Bruk!


Talita bersimpuh, tangannya kembali mengatup memohon di barengi air matanya yang semakin deras mengalir.


" Kak, aku mohon, aku mohon temui dia, bujuk dia untuk berobat. Yang dia inginkan adalah kakak, dia hanya ingin bertemu kakak, tolong temui Ayah. Aku mohon.... "

__ADS_1


Alenta terbelalak kaget, begitu juga dengan banyaknya orang yang saat ini menatap ke arah mereka dengan tatapan seolah tengah menerka-nerka. Kalau posisinya seperti ini, tentu saja orang akan menyalahkan Alenta, ditambah lagi ucapan Talita yang memohon agar Alenta mau menemui Ayah mereka, bukankah artinya sama saja dengan dia adalah anak durhaka yang tidak mau menemui Ayahnya sama sekali?


" Bangun. " Ucap Alenta masih menahan diri.


" Berjanjilah dulu untuk menemui Ayah. "


Alenta mengepalkan tangannya semakin marah.


" Talita? " Arkan yang baru datang segera berjalan mendekati Talita, lalu membantunya untuk bangkit.


" Hentikan, Talita! Kau sedang mempermalukan diri sendiri, juga Alenta. " Ucap Arkan yang jelas melihat banyak orang melihat ke arah Alenta dan Talita.


" Aku hanya ingin kak Alenta menemui Ayahku, dia tidak berniat mempermalukan kak Alenta. " Ucap Talita terisak-isak.


Arkan, pria itu menatap Alenta yang justru terlihat semakin dingin.


" Alenta, kau bisa menemuinya agak Talita tidak seperti ini. "


" Kak, Ayahku bisa mati kalau kakak tida membujuknya berobat ke Dokter. "


Alenta mengepalkan tangannya semakin kuat.


" Kalau begitu, biarkan Ayahmu mati lebih cepat. " Alenta meninggalkan Talita yang semakin kuat menangis disana.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2