
" Ingat ya, kalau memang kita harus bakar membuat anak. " Ucap Nick sebum memasangkan pita ke kaki mereka untuk diikat dan dijadikan satu.
" Bos, kalau anak perusahaan yang kau maksud, maka aku bersedia. Tapi kalau anak yang kau bicarakan adalah makhluk hidup yang harus dilahirkan oleh ku, maka aku tidak bisa berjanji. "
" Jangan lupa, melahirkan anak kan tugas seorang istri. " Bisik Nick setelah selesai mengikat kaki mereka dengan kuat.
" Jangan lupa, aku bisa membuatmu tidak mampu membuat anak juga. "
Mampus! Memang sulit menang kalau bicara dengan Alenta, padahal tinggal iya saja terus melakukannya kapan-kapan kalau sudah siap kak bisa? Kenapa juga sih harus mengancam seperti itu? Alenta ini apa sedang meremehkan seorang lelaki? Heh! Tidak tahu saja kalau sang suhu sudah bertindak, sekali tusuk langsung lima anak yang lahir.
" Bos, mohon kerja samanya kali ini ya? "
Nick menyeringai mendengar kalimat Alenta yang sepertinya bisa dia manfaatkan untuk mendapatkan sesuatu dari sana. Iya, misalnya upah begitu, atau penghilang lelah, atau bisa disebut ucapan terimakasih.
" Kalau begituh
setidaknya- "
" Tidak ada anak anakkan lagi! " Tandas Alenta yang malas kalau lagi-lagi membuat anak yang akan dibicarakan oleh Nick di saat serius begini.
" Bukan membuat anak kok, ciuman saja, ciuman. Bagaimana? "
" Ciuman yang bagaimana maksudnya? "
" Ciuman di bibir lah! Kalau di tangan sana saja dengan Ibumu! "
__ADS_1
" Di pipi, titik! "
" Ya sudah deh, aku tiba-tiba malas. Aku duduk disana saja sebagi penonton sepertinya lebih asik. " Nick tersenyum licik seraya membungkuk ingin melepas ikatan di kaki mereka. Alenta tentu saja merasa takut, dan dengan terpaksa, berat hati, tida rela, tidak Sudi, pokoknya itulah semacam itu! Dia lahir ya menyetujui persyaratan yang ditentukan oleh Nick.
" Oke oke! Sebentar lagi akan mulai, jadi jangan banyak tingkah! "
Nick tersenyum penuh kemenangan, dia menatap Alenta lalu menyodorkan telapak tangannya.
" Deal? "
" Dengan berat hati, deal! " Alenta menerima jabatan tangan Nick.
Arkan, pria itu sedari tadi hanya bisa menatap Alenta dan Nick dengan tatapan tidak suka. Sekarang dia mulai merasa menyesal karena telah menolak Alenta secara tidak langsung tadi. Andai saja bisa diganti pasangan lomba nya, andai saja Nick bukan Bosnya, dia pasti tidak akan bisa bertahan lagi dengan situasi seperti ini, dia akan mempertahankan Alenta bagaimana pun caranya. Tapi apa daya saat Tuhan tidak memberikan izin padanya? Mau marah juga ini termasuk salah nya sendiri menolak Alenta hanya karena sedang kesal.
Lomba segera dimulai, Nick dan Alenta bersiap dengan posisinya, lengan mereka memeluk satu sama lain, pandangan mereka fokus karena benar-benar menang adalah tujuan mereka. Masa bodoh dengan pandangan semua orang, tidak tahu juga bagaimana gosip berkembang kalau melihat bagaimana kedekatan mereka sebagai sekretaris dan juga Bos.
Alenta dan Nick berjalan setengah berlari saling mengimbangi, tidak tahu sih apakah mereka karena sudah terbiasa saling bekerja sama hingga pada akhirnya, lomba seperti itu saja mereka tetap kompak. Tidak memperdulikan bagaimana peserta yang lain Nick dan juga Alenta berjalan dengan hati-hati hingga sampai di tempat bendera yang ada di sana, mencabut bendera itu lalu memasangkan di tiang yang sudah disediakan. Alenta dan Nick benar-benar menikmati perlombaan dengan serius sampai-sampai mereka tidak tahu kalau Arkan dan juga Talita terjatuh, beberapa pasang peserta juga ikut terjatuh, tapi syukurlah pemenangnya kali ini adalah Nick dan juga Alenta.
" Menang! " Teriak Alenta kegirangan hingga tanpa sadar memeluk Nick, tapi begitu dia tersadar, segera dia melepaskan tubuh Nick seraya membuang pandangan karena merasa malu. Nick, pria itu sungguh sangat senang melihat bagaimana Alenta tertawa bahagia seperti barusan. Padahal Alenta sangat cantik saat tersenyum, tapi kenapa dia jarang sekali tersenyum seperti barusan? Eh, tapi ada yang lebih penting yaitu ciuman! Ya! Dia akan mendapatkan ciuman dari Alenta dong? Hah! Mau teriak kegirangan melompat-lompat, atau berguling-guling juga memalukan kan? Ah, ya sudah lah! Lakukan itu semua di dalam imajinasi saja.
" Jangan lupa, ciuman untukku. " Bisik Nick yang langsung membuat Alenta kehilangan senyum indahnya. Memang dasar bedebah! Apa tidak bisa membiarkan orang sebentar saja merasakan kebahagiaan? Kenapa suka sekali membuat mood jadi buruk sih? Ya Tuhan, boleh garot yang namanya Nick tidak sih? Tapi ngomong-ngomong, dia jadi berhutang ciuman dong? Hah? Bagaimana ini?
" Sekedar informasi saja ya? Kalau cuma menempel saja, itu namanya bukan ciuman, tapi salam bibir. Kalau ciuman itu berarti dalam, Alenta yang aku tahu kan tidak pernah mangkir dari janji, jadi mohon penuhi janji mu ya? "
Alenta terdiam kaget dan masih tak percaya. Entah mengapa dia merasa begitu bodoh karena terpancing saat Nick mengompori nya tadi, lalu mengajak berlomba, ini pasti sudah direncanakan oleh bedebah mesum yang sudah jelas adalah Nick.
__ADS_1
" Sekarang aku benar-benar menyesal telah menang. Aku tidak ingin menang, benar-benar tidak ingin menjadi pemenang. " Ujar Alenta yang masih terlihat syok dan tak percaya jika Nick berhasil menipunya.
Nick terkekeh senang, sebenarnya kalaupun tidak dicium Alenta juga tidak apa-apa sih, yang paling penting adalah Alenta tidak terlihat sedih seperti saat melihat Arkan dan Talita tadi.
" Alen, bisa bicara sebentar tidak? " Arkan datang menghampiri Alenta karena sudah tidak sanggup lagi melihat bagaimana Nick dan Alenta terlihat begitu akur. Memang benar mereka sudah menikah, tapi pernikahan itu kan terpaksa dijalani oleh Alenta, jadi kali ini dia ingin mencoba lagi untuk bertahan sampai Alenta bercerai dari Nick.
Arkan dan Alenta kini duduk di bawah pohon rindang untuk sebentar membicarakan tentang apa yang ingin disampaikan oleh Arkan.
" Alen, mengenai hubungan pernikahan antara kau dan Bos, kalian akan sungguh-sungguh. Bercerai kan? "
Alenta menghela nafas, mengingat bagaimana Arkan menggandeng tangan Talita tadi, sudah sama persis seperti yang dilakukan oleh Ayahnya waktu itu. Jelas-jelas ada dia yang tidak ingin di tinggalkan, tapi kenapa tidak memilih untuk meraih tangan nya saja?
" Alen, aku akan menunggumu. " Arkan tersenyum dengan begitu lembut, dia meraih tangan Alenta dan menggenggamnya. Tapi tak lama kemudian, Alenta menarik tangannya keluar dari genggaman Arkan, dan membuat pria itu menatap kaget.
" Jangan menunggu ku, Arkan. Aku tidak akan datang padamu. "
Arkan menatap dengan tatapan sedih dan terkejut, kenapa? Padahal dia sudah menerima keadaan ini, tapi kenapa masih tidak ada kesempatan?
" Alen, aku hanya ingin menikah dengan mu. "
" Aku, tidak bisa menikah dengan orang yang mirip dengan nya. " Jawab Alenta dengan ekspresi datar.
" Maksudnya? "
" Kau melakukan apa yang dia lakukan, kau telah menunjukkan padaku bahwa akan lebih baik jika kita tidak bersama. "
__ADS_1
Bersambung.