
Nick menggenggam tangan Alenta dengan bangga, bertanya memancarkan aura seolah dia sungguh merasakan kebahagiaan tiada terkira. Pesta ulang tahun Ayahnya sudah berlalu beberapa saat lalu, tapi keindahan yang tercipta dari sana tak kunjung menghilang, keindahan itu adalah Alenta. Boleh saja dia di bilang terlalu berlebihan dalam mencintai Alenta, tapi bukankah manusia tidak bisa mengontrol apapun kalau sudah berhubungan dengan cinta? Nick tidak masalah jika jatuh semakin dalam untuk mencintai Alenta, tidak perduli kekurangan apapun seorang Alenta.
Nick kembali tersenyum mengingat bagaimana hubungan mereka terungkap, sungguh tak bisa membuatnya berhenti tersenyum, bahkan dia malah ingin mengulang momen itu jika bisa. Dia puas melihat bagaimana tatapan terkejut semua orang, dia bisa melihat bagaimana semua orang menyembunyikan kepanikannya, dia bisa melihat bagaimana mereka mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum padahal mereka sedang sangat ketakutan. Alenta, wanita cantik yang kini telah menjadi istri istrinya sekarang tengah tertidur lelap di sampingnya, rasanya memang masih seperti mimpi, tapi kebenaran bahwa mereka sudah menikah nyatanya tak bisa Nick pungkiri jika dialah yang paling bahagia.
Hari terus berlalu, hubungan antara Nick dan Alenta juga semakin baik dan harmonis. Sekarang mereka tidak perlu lagi menyembunyikan kemesraan, mereka juga sudah tidak perlu berjalan layaknya Bos dan Sekretaris. Sudah lewat beberapa waktu, dan orang yang iri tentang hubungan mereka juga semakin bertambah, orang yang ingin memanfaatkan juga masih tetap ada setelah tahu kebenaran ini. Seperti Ibu Tina, wanita tua itu semakin menjadi dengan terus mengompori Tuan Baskoro agar segera memanfaatkan Alenta yang sudah menjadi istri dari pengusaha kaya, sedangkan Ibu Rahayu entah mengapa menjadi tidak terima dengan kenyataan ini. Benar, hubungan antara Nick dan juga Alenta bukanlah urusannya, tapi mengingat bagaimana putrinya Talita begitu mengidolakan Nick, bahkan juga berdoa agar Nick jatuh cinta padanya suatu hari dan mereka bisa menikah dan saling berbagi cinta. Rasanya dia agak kesal karena putrinya harus tersisihkan, tapi dia juga tida mampu berbuat apapun karena kebenaran itu adalah benar adanya, lagi pula juga Talita sama sekali tidak pernah membahas apapun lagi tentang Bosnya.
Disebuah rumah sederhana, kini pembicaraan tentang rencana-rencana tidak masuk akal tengah diucapkan oleh Ibu Tina, kepada Tuan Baskoro, dan juga Ibu Rahayu.
" Baskoro, kau pasti sudah tahu kan kalau ternyata Alenta adalah menantu dari Chloe yang terkenal itu? Sekarang mengeluarkan uang sebanyak apapun bukanlah hal sulit baginya, kau sudah harus mulai berpikir jernih. Penyakit yang kau alami bukanlah penyakit yang hanya dengan meminum obat lalu sembuh, Ibu juga masih membutuhkan banyak biaya untuk berobat jalan. "
Taun Baskoro terdiam tanpa bisa bicara, tapi hatinya kini tengah begitu kecewa terhadap Ibunya. Padahal sudah jelas bahwa selama ini dia sama sekali tidak menyukai Alenta, bahkan bukan sekali dua kali saja membandingkan Alenta dan juga Talita, memuja Talita seolah tak bisa dibandingkan dengan Alenta. Apakah menjahati Alenta dengan itu masih belum cukup? Apakah perlu untuk melakukan kejahatan totalitas sampai harus sebegitunya? Apakah Ibunya lupa kalau dia adalah Ayah yang selama ini telah menelantarkan Alenta? Bahkan memberi uang juga tidak pernah. Jadi dengan wajah mana dia akan mengemis perhatian serta materi dari anak yang secara tidak langsung dia anggap tidak ada?
" Baskoro, kau harus bertindak cepat sebelum semuanya semakin sulit untukmu. " Ucap lagi Ibu Tina.
__ADS_1
Tuan Baskoro sudah mulai jengah, jadi dia memilih untuk menghela nafas membuang rasa sebalnya.
" Ibu, kalau Ibu memang sebegitu membutuhkan uang, maka ambilah yang yang ada di Rahayu. Aku tidak tahu itu uang apa, tapi aku merasa takut hanya memikirkannya. "
Ibu Rahayu membelakak kaget, di tentu saja tidak akan setuju kalau sampai yang itu diberikan kepada Ibu mertuanya. Bagaimanapun tumor yang di derita suaminya lebih penting, dia juga harus memikirkan pengeluaran sehari-hari yang juga tidak murah. Berbeda dengan Ibu Rahayu yang terlihat tak setuju, Ibu Tina justru menatap Rahayu dengan senyum seolah mengiyakan ucapan putranya itu.
" Sayang, uang ini aku pinjam dari sahabatku untuk menyembuhkan tumor mu, maaf aku tidak bisa mewujudkan ucapan mu barusan. Kau juga tahu situasi keuangan kelurga kita kan? Itu tidak mudah mengatur uang ini aga cukup untuk itu semua, maaf. "
" Kau kan punya Talita, sekian dia bekerja untuk memenuhi keutuhan sehari-hari, kau juga cobalah minta dia untuk mendekati Alenta dan mintalah bantuan Alenta untuk memenuhi keuangan yang di keluarga kalian. Biar bagaimanapun juga aku adalah neneknya, jadi berbakti sedikit juga termasuk kewajibannya. "
Brak!
Tuan Baskoro menggebrak meja karena tak tahan lagi dengan ucapan Ibunya yang semakin menjadi dan sangat tidak tahu malu. Padahal sudah separah ini hubungan mereka dengan Alenta, tapi kenapa itu semua tidak terlihat hanya karena tahu kalau Alenta adalah istri dan menantu dari keluarga kaya raya.
__ADS_1
" Ibu, hentikan pembicaraan Ibu yang tidak masuk akal itu. Alenta adalah putriku, darah daging ku, aku memang bukan Ayah yang baik yang mampu menjaganya dan ada di setiap momen bersamanya. Tapi sebagai seorang ayah, mana bisa aku mendekati putriku, atau membuatkan kalian melakukan hal tidak manusiawi seperti itu. Ingatlah lagi betapa Ibu tidak menyukai Alenta dulu, ingatlah betapa Ibu menyumpahi Alenta beberapa saat lalu, apakah Ibu tidak malu setelah apa yang Ibu lakukan? "
Ibu Tina menatap sebal, tentulah dia ingat benar sumpah serapah yang diucapkan beberapa tahun lalu saat bertemu Alenta dan gadis itu sama sekali tidak mau menyapa, bahkan dengan jelasnya berpura-pura tidak mengenali neneknya sendiri. Dia yang memang tidak menyukai Alenta pada akhirnya hanya bisa memaki sesuka hati, mulai dari cucu brengsek, tidak tahu malu, tidak tahu diri, anak seorang wanita bodoh, bahkan dia mengingat dengan jelas kala itu dia mengatai dengan jari telunjuk yang terus terarah kepada Alenta.
" Ibu, tolong jangan membuatku terus gagal sebagai Ayahnya Alenta, tolong jangan menyakiti Alenta hanya karena Ibu membutuhkan uang. Jual saja rumah Ibu lalu tinggallah bersama kami. "
Ibu Rahayu menatap suaminya seolah dia tak setuju. Boleh saja dia merasa Ibu mertuanya sehari dua hari, tapi kalau selamanya tentu dia sangat keberatan.
" Lihatlah tatapan istrimu yang keberatan itu, Baskoro. " Ibu Tina melirik sebal.
" Lagi pula adik mu mau tinggal diam kalau rumah dijual? Kalau saja kalian mengerti dan meminta bantuan kepada Alenta, jadi kita pasti akan punya kelonggaran sendiri kan? "
Bersambung.
__ADS_1