My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Alenta kenapa?


__ADS_3

Alenta memegangi kepalanya yang terasa pusing setelah seharian berada di luar ruangan. Sebenarnya Nick sudah mengomel terus menerus karena Alenta terlalu keras kepala, terlalu keras kepada dirinya sendiri, menekan dirinya untuk terus bekerja keras. Nick, karena Omelan tiada henti darinya, akhirnya Alenta memutuskan untuk kembali ke kantor, dan mengambil waktu untuk istirahat. Tidak sendiri, tapi bersama dengan Maudi, karena ada beberapa berkas yang harus diphoto copy, jadilah Maudi sebentar ke ruang photo copy meninggalkan Alenta disana.


Tidak tahu apakah karena dia makan siang kurang banyak, ataukah karena terlalu lama terkena sinar matahari jadi dia merasa pusing. Perlahan Alenta menjalankan kakinya menahan diri yang seperti kehilangan tenaga. Sebenarnya kalau di ingat-ingat wajar saja sih kalau kekurangan tenaga, dia dan Nick kan hampir tidak banyak waktu untuk istirahat karena Nick selalu saja mengajaknya untuk melakukan hubungan badan. Entah itu dirumah, atau di kantor tak perduli di jam makan siang, bahkan beberapa saat sebelum rapat dia juga masih sempat melakukannya asalkan ada kesempatan untuk dia berduaan saja dengan Alenta.


" Selamat sore, Sekretaris Alenta? " Sepanjang dia berjalan sapaan itu lah yang dia dengar, tapi tak sekalipun bisa Alenta menjawab. Pusing, bahkan semakin pusing hingga wajahnya memucat, dan timbullah rasa mual yang berlebihan.


Alenta berhenti sejenak, dia menyenderkan tubuhnya di tembok sebelum masuk ke dalam lift. Sungguh sangat pusing dan dia semakin tidak tahan hingga pada akhirnya Alenta tidak sanggup lagi bertahan dan jatuh. Untunglah, Talita yang berada disana karena dia juga harus naik lift, tapi karena ucapan Alenta waktu itu, dia terpaksa harus bersembunyi dulu.


" Kak! " Tepat sebelum Alenta jatuh ke lantai, Talita menahan tubuh Alenta, lalu perlahan-lahan merebahkan di lantai karena tidak mungkin kan dia mengangkat tubuh Alenta sendirian.


" Tolong! " Setelah teriakan Talita, tak lama banyak pegawai, juga menjaga disana yang datang untuk menolong Alenta. Tentu mereka tidak akan mungkin memperlakukan Alenta seperti pegawai biasa yang pingsan kan? Segera Talita dan yang lain mengantar Alenta ke rumah sakit, dan Talita tinggal disana untuk menemani Alenta. Cukup lama Talita menunggu, pada akhirnya datanglah Maudi dengan wajah panik.


" Alenta! " Panggilnya begitu masuk ke dalam ruangan dimana Alenta di rawa.


" Kenapa bisa begini? " Maudi menatap sedih wajah Alenta yang pucat dan belum sadarkan diri.


" Dokter bilang, "


Belum sempat Talita bicara, Maudi justru menatap Talita dengan tatapan marah, bahkan bisa dibilang marah sekali.


" Kau ya?! Pasti gara-gara kau kan?! "

__ADS_1


" Aku- "


" Asal kau tahu, setiap kali Alenta bertemu denganmu, dan kalian bicara, Alenta pasti akan terlihat sangat sedih, dia yang tidak pernah menangis walau dimaki jutaan orang lain, dia malah selalu menangis setelah berbicara denganmu! Apa kau, juga keluarga. cemara mu itu masih belum bahagia kalau Alenta tidak mati, hah?! "


Talita tak menjawab, dia mencengkram tangannya kuat-kuat. Mungkin apapun yang dia katakan tidak akan ada orang yang percaya, tapi mengingat ucapan Maudi barusan, Talita sadar benar jika dia seperti pengingat untuk luka-luka yang dirasakan oleh Alenta.


" Aku tahu ini tidak etis, tapi tolonglah sejauh mungkin menjauh dari Alenta! Karena setiap kali ada kau, Alenta selalu saja sial! Bila perlu berhenti bekerja di Chloe. "


Talita semakin tak berkeinginan untuk bicara, pada awalnya dia lah yang bersalah, dia yang sudah mengembangkan kesalahpahaman yang semakin memblunder dan tak memiliki ujung. Jika suatu hari nanti kebenaran akan terungkap, maka juga tidak akan ada artinya bagi Alenta, dan orang yang sudah menuduhnya seperti ini.


" Sayang! " Nick yang baru datang dengan nafas terengah-engah kini kepanikan menatap Alenta, memastikan tidak ada yang terluka di tubuhnya.


" Kenapa dia bisa pingsan? " Tanya Nick kepada Maudi.


Nick, pria itu kini menatap Talita yang terdiam dengan ekspresi tak biasa.


" Kenapa kau selalu membuat istriku seperti ini? Apakah kau tahu bagaimana sulitnya Alenta melewati masa setelah bertemu dan bicara denganmu? Pembicaraan mu yang selalu mendorong Kamera ke masa lalu telah membuat istriku tertekan dengan parah. Jadi aku sarankan untuk tida muncul sedetikpun di hadapan istriku, ajukan pengunduran dirimu, aku akan mengirim uang untuk mu nanti. "


Talita masih tak bicara, sekarang dia paham dengan sangat bahwa dia memang sudah tidak memiliki apapun untuk bisa membela dirinya. Talita meraih tasnya, berniat meninggalkan ruangan itu, tapi dia memutuskan untuk berbicara sebelum benar-benar keluar dari sana.


" Dokter menyarankan untuk menemui Dokter kandungan kalau sadar nanti, Bos Nick juga tidak perlu khawatir. Mulai besok aku tidak akan datang lagi ke perusahaan, Bos juga tidak perlu membentuk uang. Terimakasih banyak sudah membuatkan aku memiliki pengalaman bekerja di perusahaan terkenal Chloe. Jaga kak Alenta dengan baik, dan semoga kalian berdua selalu bahagia hingga akhir waktu. " Talita melanjutkan langkahnya, dia membiarkan air matanya jatuh, tapi sekalipun dia enggan untuk menoleh. Seperti inilah kehidupan yang sesungguhnya, jadi biarkan saja kemana arah kehidupan akan membawanya menemui arah lain.

__ADS_1


Nick, pria itu mengeryit bingung setelah kepergian Talita. Dokter kandungan? Apakah kemungkinannya adalah Alenta sedang hamil? Apakah dia salah paham dengan Talita? Tak lama datanglah seorang Dokter yang tadi menangani Alenta, dia menjelaskan diaknosanya.


" Pasien sepertinya kelelahan, tapi kalau mendengar denyut nadinya, dan juga pemeriksaan lain, sepertinya pasien sedang hamil. Untuk lebih pastinya nanti periksakan diri ke Dokter kandungan saja. "


Padahal hanya dugaan saja, Tapi Nick benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum lebar. Maudi juga begitu, dia merasa bahagia padahal itu baru diagnosa saja.


" Kalau Alenta hamil, berarti laki-laki yang suka menatap Alenta dan ingin merebutnya dariku pasti tidak akan melanjutkan aksinya kan? " Gumam Nick kegirangan sendiri. Membayangkan perut Alenta nanti, dia yakin semua pria jelek yang menginginkan Alenta pasti akan mundur dengan teratur.


" Jadi, kau bahagia bukan karena ingin memiliki anak ya Bos? "


" Menjauhkan laki-laki jelek pengganggu itu yang lebih utama. " Ucap Nick yakin.


Maudi, gadis itu jadi sebal mendengarnya.


" Bos, jangan lupa kalau hamil hanya akan berlangsung sebulan bulan saja. Setelahnya Alenta akan kembali menawan, dan katanya sih wanita setelah melahirkan akan memiliki gelora yang menggebu-gebu loh, takutnya Bos tidak mampu mengimbangi Alenta. "


Astaga! Bisa-bisanya mulut Maudi mengoceh tidak jelas begitu! Gelora menggebu-gebu apaan! Kesal Nick di dala hati.


" Heh! Takut ya Bos? " Ledek Maudi.


" Tidak tuh! Setelah melahirkan anak kan bisa hamili Alenta lagi. Nanti kalau anak kedua lahir, tinggal hamili lagi, begitu seterusnya. "

__ADS_1


Maudi merinding sendiri mendengarnya sembari membatin kesal.


Bersambung.


__ADS_2