
Setelah menemukan istri dan anaknya, Tuan Abimana kembali ke rumah Ibu Tina seorang diri karena Ibu Lastri juga Kinan menolak untuk ikut. Selain mereka berdua trauma, Tuan Abimana sendiri tidak ingin kalau sampai istrinya celaka lagi, apalagi melihat anaknya yang terus menangis, dia memutuskan untuk membiarkan duku mereka berdua tinggal disana, sementara dia akan bolak balik agar bisa menjaga Ibunya juga.
Cukup lama dia meninggalkan Ibunya, mungkin hampir lima jam. Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga khawatir dengan anak istri, dan dia juga sudah secepat mungkin kembali karena khawatir juga dengan ibunya. Langkah kaki Tuan Abimana secepat mungkin masuk ke dalam rumah, tapi baru saja masuk dia tersentak kaget melihat Ibunya tak sadarkan diri di lantai. Segera dia membenahi posisi Ibunya, menepuk pelan pipinya, tapi karena tak mendapatkan jawaban yang artinya Ibu Tina pingsan, segera dia menghubungi Ambulans untuk menjemputnya.
Dua jam kemudian, Ibu Tina baru saja mendapatkan perawatan, dan dokter mengatakan jika Ibu Tina mengalami stroke. Bukan hanya karena dia jatuh, tapi karena pola makan yang membuat gula darah naik, darah tinggi dan kolestrol nya juga naik. Jadilah Ibu Tina hanya bisa terbaring tak berdaya. Tangannya melengkung tak bisa digerakkan, bibirnya juga menyon jadi sulit untuknya bicara.
Tuan Abimana kini hanya bisa menahan tangis dan pasrah. Sedih, walau bagaimana pun Ibu Tina adalah Ibunya. Meski benar telah sering menyakiti hatinya karena terus membandingkan antara dia dan kakaknya, dia yang miskin sementara kakaknya terbilang hidup berkecukupan dan mampu memberikan uang lebih kepada Ibunya. Sekarang kalau sudah begini bisa apa? Nyatanya saat sehat tak mengingat bahwa anak-anaknya memiliki hati dan hak untuk bahagia, sekarang sudah sakit tak bisa melakukan apapun pada akhirnya membutuhkan anak untuk merawat kan?
" Ma i sal si pa la ni " Ucap Ibu Tina sembari menangis. Entah apa yang di ucapkan Ibunya, karena mulutnya yang sudah menyon, Tuan Abimana benar-benar tidak paham apa yang dikatakan Ibunya.
" Maaf, Bu. Aku tidak paham yang Ibu katakan. " Ucap Tuan Abimana dengan tatapan sendu. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
" Bu, seandainya Ibu tidak begitu jahat dengan istri dan anakku, mereka pasti akan merawat Ibu dengan telaten. Sebenarnya aku marah dengan Ibu yang sudah membuat pelipis istriku sobek. Tapi apa Ibu tahu dia mengatakan apa? Lastri bilang untuk segera kembali dan jangan meninggalkan Ibu terlalu lama sendiri. Ibu sudah menyakitinya, bahkan juga sudah membuatnya berdarah tapi dia masih memperdulikan Ibu. "
" Ma a " Mungkin maksud Ibu Tina adalah meminta maaf. Tapi meksipun Tuan Abimana paham, dia tak bisa meminta istrinya datang dan mengatakan kalau Ibunya sudah minta maaf. Dia sungguh tidak tahu bagaimana merawat Ibunya yang sakit dan tidak bisa melakukan apa-apa, tapi dia juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
***
" Ibu, sakit, Ibu. Ibu, aku kedinginan, Ibu, aku sendirian. Ibu, temani aku, aku takut gelap. Ibu, darahku terus mengalir tidak berhenti, tolong aku Ibu. Ibu, ibu, ibu..... "
" Ah......! " Teriak Ibu Rahayu sembari mengacak dan menjambak rambutnya. Sudah dua malam ini dia terus berhalusinasi, dia melihat Talita di ruangan yang gelap, memakai baju terakhir sebelum dia meninggal, terisak-isak, juga merintih kesakitan karena pergelangan tangannya terus mengeluarkan darah. Talita terus memanggil Ibunya, meminta untuk di tolong, juga ditemani karena dia takut sendirian di ruangan yang gelap dan dingin.
" Ibu jahat! Ibu tidak menyayangiku! Ibu hanya menjadikan ku alat untuk memenuhi keinginan Ibu! Ibu, aku akan mengutuk mu! Aku akan membuat semua orang membenci Ibu, tidak akan ada lagi yang mau tersenyum untuk Ibu! "
" Tidak! Jangan! Itu bukan salah Ibu! Ibu menyayangimu, tapi kau mati bukan salah Ibu! Tidak! Tidak! Pergi! Jangan datang lagi! Pergi sana! " Ibu Rahayu semakin berteriak tak karuan, dia bahkan sudah melempari cermin di kamarnya karena dia melihat Talita disana.
" Kak! Hentikan kak! " Adiknya Ibu Rahayu mencoba untuk menghentikan dari ambang pintu karena dia tidak berani melangkah lebih dekat dan terkena barang-barang yang terlempar dan mengenai cermin yang kini sudah hancur berantakan.
__ADS_1
" Aku tidak tahan lagi, bagaimana kalau kita bawa kerumah sakit jiwa saja? " Ucap suami dari adiknya Ibu Rahayu.
" Nanti coba akan aku bicarakan dengan Ibuku, dan kakak ku yang lain. Aku juga sudah tidak tahan lagi, kakak semakin lama semakin parah. " Ujarnya dengan mimik sedih.
" Tidak tahu kenapa, tapi aku merasa jika kakakmu pasti melakukan kesalahan besar sehingga menjadi amat depresi seperti ini. "
Adiknya Ibu Rahayu menghela nafas panjangnya.
" Iya, Ibu dan Ayah pernah bercerita bahwa kakak memang memilki sifat tidak biasa, dia sudah membuktikannya selama ini. Tapi aku juga tidak berani menghakiminya, semoga saja dengan semua yang terjadi ini dia bisa berubah menjadi lebih baik. "
" Aku tida sangka kalau orang yang dulunya bekerja di kantoran seperti dia akan gila. "
Ibu Rahayu mendengar itu, dan dia merasa tidak terima sehingga melotot tajam menatap suami dari adik kandungnya.
" Siapa yang gila?! Aku tidak gila! Dasar bajingan! Kesini lah, biar aku membunuhmu! "
" Kalau bisa, hari ini juga kakak mu pindahkan ke rumah sakit jiwa. "
***
Nick menghela nafas panjangnya berkali-kali. Seharian ini pekerjaan Nick berjalan sangat lancar, produk kerja sama dengan Mr Zerg juga sudah mulai di pasarkan dan mereka cukup gembira karena peminatnya terbilang melebihi ekspektasi.
" Bos, aku takut oksigen akan habis kalau cara bernafas mu begitu terus. " Ujar Maudi yang merasa terganggu, dia sekarang ini sedang membantu Nick memilah dokumen di ruangannya, tapi jadi tida konsentrasi gara-gara Nick yang terus bernafas panjang seperti itu.
" Lubang hidungmu itu juga besar, jadi khawatirkan oksigen karena lubang hidungmu pasti menyerap oksigen lebih banyak dariku. "
Maudi berdecih sebal.
__ADS_1
" Alenta masih mual mencium bau tubuhmu Bos? "
" Bukan hanya itu, dia sering meminta makanan yang aneh, aku jadi bingung dan sedih setiap kali memenuhi ngidamnya Alenta. " Nick memangku wajahnya dengan tatapan sedih.
" Memang dia minta makan apa? Palingan cuma bakso, mie ayam, empek-empek, atau siomai kan? "
" Kalau yang dia minta itu, bagaimana aku bisa sedih? "
" Lalu? "
Nick menghela nafas.
" Kemarin dia bilang ingin makan es krim, tali es krim itu harus di goreng dulu. Aku sudah menggorengnya, tapi pas aku berikan padanya dia malah marah-marah dan menangis. Dia bilang kenapa eskrimnya panas? Gila kan? Bagaimana coba eskrim goreng yang tetap dingin? "
Maudi menahan tawanya.
" Kemarin juga dia meminta martabak pisang jam setengah dua malam. Aku dengan mata setengah tidur, iler masih bleweran kemana-mana, rambut acak-acakan seperti habis terkena angin tornado tetap keluar. Dua jam aku mencari martabak pisang di jam malam begitu, meksipun aku takut tiba-tiba penjualnya berubah jadi setan aku tetap beranikan diri. Tapi sampai dirumah, Alenta marah karena martabak pisangnya manis. "
Maudi cekikikan karena tidak tahan lagi melihat bagaimana ekspresi Nick juga cerita ngidamnya Alenta yang sangat wow itu.
" Sekali lagi tertawa, aku akan mencekik hidungmu sampai mati! "
" leher, Bos! "
" Ah, aku sampai oleng gara-gara menceritakan ngidamnya Alenta. "
Bersambung.
__ADS_1