My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Hilangnya Gunjingan


__ADS_3

Ikutnya Alenta mendekat kepada Nathan berbarengan dengan Ivi tentu membuat semua orang saling bertanya bingung. Nick, dari kejauhan dia tersenyum bahagia melihat Ibunya menggandeng tangan Alenta, formasi sudah lengkap, Nathan berdiri disampingnya Ivi, Nick dan Alenta berdiri saling memeluk membuat semua mata disana menatap bingung juga terkejut, terkecuali keluarga yang sudah mengetahui.


" Ini adalah keluarga kecilku, istriku, anakku, dan menantuku. Mari berulang! "


Terkejut, juga tak percaya itulah yang dirasakan semua pegawai Chloe, Alenta yang selama ini mereka gunjing kan, bahkan tidak segan-segan mereka sindir beberapa waktu belakangan nyatanya adalah istri dari Bos mereka, orang yang seharusnya mereka hormati sebagai nyonya Nichole, orang yang seharusnya mereka sapa penuh kesopanan.


Alenta tersenyum bersamaan dengan keluarga Chloe nya, tapi pegawai yang pernah menggunjinginya mana bisa tersenyum seperti itu meski mereka mengangkat gelas untuk bersulang bersamaan. Setelah mereka menenggak anggur itu segera mereka mengeluarkan ponsel mereka masing-masing untuk menarik semua unggahan-unggahan, juga komentar negatif mereka tentang Alenta.


Mampus! Kabur dan hapus semua komentar jahat kalian!


Itu adalah kesan yang ditinggalkan oleh pendiri sebuah group chating pegawai Chloe yang aktif membicarakan tentang Alenta, dan juga keburukannya.


Tak ada senyum bahagia seperti tahun sebelumnya, karena para pegawai justru sedang menahan degup jantung mereka berharap masa kerja mereka tidak di cut secepatnya.


Talita, gadis itu memang sudah menjadi pendiam setelah pernyataan Ibunya dia dengar langsung dari Ibunya, kini semakin tak bisa berkata-kata. Kaget, tapi juga masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Padahal sudah banyak kebetulan yang selama ini dia saksikan, mulai dari adanya Nick di manapun Alenta berada. Kebaikan Nick yang diluar akal sehat, dan masih banyak hal yang sangat banyak hingga tidak bisa menyebutkan satu persatu.


Dengan langkah cepat Talita berlari menuju keluar dari gedung hotel yang tengah di adakan pesta besar itu, segera dia berjalan menuju jalan utama, menghentikan sebuah taksi, tentulah tujuan utamanya adalah rumah yang ditinggali olehnya, dan juga orang tuanya.


" Nak, kok sudah pulang? " Sapa Ibu Rahayu begitu melihat Talita kembali ke rumah padahal baru beberapa saat dia pergi untuk acara ulang tahun pemimpin Chloe sebelumnya. Talita tak menjawab, gadis itu lebih memilih diam dan segera masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Bruk!


Talita menjatuhkan tubuhnya setelah dia menutup pintu kamar. Tidak tahu seberapa terkejutnya dia hingga tak bisa berkata-kata seperti ini.


" Kenapa bisa begini? "


Talita menegakkan kepalanya untuk menatap dinding kamar yang sudah dipenuhi photo-photo Nick, bahkan dia membuat beberapa stiker Nick karena begitu mengidolakan Bos ditempatnya bekerja itu. Pria tampan yang selama ini dia kagumi ternyata adalah suami kalanya, dan dia hampir saja menjadi seperti Ibunya. Dengan air mata bercucuran dan tubuh yang gemetar hebat Talita mencoba sebisa mungkin untuk bangkit. Dia berjalan mencabut semua stiker berwajah Nick, semua yang menempel di dinding tanpa terkecuali, merobeknya bahkan mengacak-acak hingga tak berbentuk.


" Ternyata aku saja bisa seperti ini. "


" Talita? " Ibu Rahayu terkejut begitu melihat keadaan kamar Talita yang berantakan, gambar Nick yang biasanya terpajang rapih Kimi berantakan, berhamburan tak berbentuk.


" Talita, ada apa denganmu? Kenapa kau selalu menghindari Ibu? "


Talita yang tadinya enggan menatap Ibunya, kini menjadi begitu berani.


" Ibu, seandainya saja Ibu tidak begitu egois, seandainya saja Ibu tidak merebut suami orang, kita semua tidak akan seperti ini, Ibu! "


" Talita! " Ibu Rahayu menatap marah, boleh saja dia dihina dan dimaki oleh orang lain, tapi tidak untuk anak-anaknya.

__ADS_1


" Jika tidak ada Ayahmu, kau juga tidak mungkin ada! Jadi berhentilah menyalahkan Ibu! Seharusnya, kau menjadi orang yang membela Ibumu, seharunya kau tidak boleh menyalahkan Ibumu! "


Talita menyeka air matanya. Mungkin yang di ucapkan ada benarnya juga, sebagai seorang anak dia seharunya membela Ibunya, tapi apakah harus dia membela disaat jelas Ibunya bersalah? sedangkan situasi kacau sekarang ini adalah karena ulah Ibunya juga, tapi iya tidak bisa juga kalau hanya menyalahkan Ibunya saja, karena Ayahnya juga ikut andil dalam situasi kacau ini.


" Ibu, kalau aku boleh jujur, dari pada aku hidup seperti sekarang ini, aku lebih memilih tidak pernah ada disini, tidak pernah ada di dunia ini sebagai anaknya Ibu dan Ayah. "


" Talita! " Satu tamparan keras di dapatkan Talita. Terkejut, tali dia juga merasa cukup puas bisa mengatakan apa yang dia rasakan selama kebenaran tentang Ibunya terungkap.


" Ibu, dulu aku mencintai segalanya. Aku mencintai kasih sayang yang berlebihan dari Ibu dan Ayah, tapi jika aku tahu sejak awal aku adalah alat yang digunakan Ibu untuk mengikat Ayah, sekaligus aku adalah orang yang telah merampas Ayah dari Alenta, aku benar-benar berharap untuk tidak pernah lahir, Ibu. " Talita menjatuhkan tubuhnya, dia mulai kembali menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan segala rasa yang membuat dadanya terasa sesak dan sakit.


***


Alenta, gadis cantik itu kini menjadi perhatian bagi semua orang. Tidak ada lagi tatapan sirik dan mengejek seperti sebelumnya, bibir mereka semua yang menggunjing Alenta juga terlihat tersenyum meski jelas terlihat ada rasa bersalah dari tatapan mata mereka. Tidak apa-apa, nyatanya Alenta tidak perlu melakukan apapun, dan kini tatapan mengejek, dan gunjingan seolah sirna hanya dengan hitungan detik.


Maudi, gadis itu justru menangis haru. Sekarang sudah terang-terangan tentang status Alenta di kelurahan Chloe, jadi tidak akan ada lagi yang bergosip, apalagi sampai menyindir seperti kemarin. Akhirnya, sahabat sekaligus tetangganya itu sudah memiliki keluarga, apalagi dia juga telah memiliki mertua yang dikenal baik padanya.


Nick, dia juga begitu bahagia hari ini. Alenta tersenyum seolah tak lagi keberatan untuk menyimpan rahasia hubungan mereka lagi. Dia bebas menggenggam tangan Alenta, memanggilnya sayang di mana pun, dan dengan ini pria-pria yang pernah ingin mendekati Alenta jadi mundur teratur.


Arkan, pria yang sedari tadi berdiri di ujung ruangan hanya bisa menatap kecewa. Sungguh dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Alenta akan lebih memilih Nick. Tapi kalau dipikirkan lagi, dibanding dirinya tentu saja Nick lebih dari dia. Status keluarga, keuangan, semuanya lengkap Nick miliki.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2