
Aidin datang ke tempat di mana Zahra dan Keisya berada. Ia sudah tak sabar untuk segera menemui sang istri dan mengurus orang yang berani mengusiknya.
Zahra tidak mempermasalahkan apa yang sudah terjadi. Ia memaafkan orang yang menghinanya meskipun wanita itu tidak meminta maaf, tapi tidak bagi Aidin yang menganggap masalah ini serius. Pria itu tidak bisa melihat istrinya dihina orang begitu saja di depan umum. Dan siapapun pelakunya harus mendapatkan balasan yang setimpal.
"Nggak usah, Mas. Aku nggak apa-apa?" Zahra menarik lengan Aidin dan memeluknya. Tak ingin suaminya membuat keributan.
"Tapi dia harus diberi pelajaran." Aidin tak terima, ia menatap pelayan yang nampak ketakutan, wajahnya terlihat pucat dengan tangan yang gemetar.
Tidak ada yang berani berbicara saat melihat kemarahan Aidin yang memuncak. Sang manajer hanya bisa menundukkan kepala dan meminta maaf atas kelancangan pegawainya.
Keysa yang baru saja tiba terkejut melihat adik ipar dan suaminya berada di tempat itu.
"Kamu ngapain ke sini, Mas? Ada apa?" Menatap Zahra dan Aidin yang masih saling berpelukan.
Darren menceritakan apa yang dikatakan Aidin padanya, dan itu sukses membuat Keysa terkejut.
"Memangnya kamu dari mana saja sih? Kenapa nggak tahu kalau Zahra dihina pelayan?" tanya Darren menyalahkan. Mereka pergi bersama, akan tetapi masalah sebesar itu tak diketahuinya.
Tak menjawab, Keysa hanya mengangkat beberapa paper bag yang ada di tangannya. Sudah dipastikan uang Darren ludes lagi.
"Nanti belanjaan ini taruh di gudang. Pokoknya nggak boleh ditaruh di kamar," tegas Darren.
Keysa hanya mengangguk tanpa suara. Tak terlalu menanggapi kemarahan Darren. Telinganya sudah cukup kebal untuk menampung setiap cibiran sang suami.
Zahra mendorong Aidin keluar dari toko itu. Ia tidak ingin memperpanjang masalah yang sudah selesai. Baginya itu hanya percikan kecil yang tak perlu diperbesar.
Sebagai seorang suami, Darren pun berada di pihak Aidin. Seandainya dia yang berada di posisi pria itu, pasti akan melakukan hal yang sama. Tidak akan terima istrinya dihina oleh orang lain, apalagi orang itu hanyalah seorang pelayan sebuah toko. Yang pasti jauh dibawahnya.
"Kita pulang!" ajak Zahra dengan suara lirih. Ia tak mau menjadi pertunjukan yang ditonton pengunjung lain.
Aidin memeluk Zahra dengan erat. Menyesal karena tidak menemaninya pergi.
"Ini pertama dan terakhir kali kamu keluar sendirian, karena setelah ini aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri." Aidin bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Zahra mengangguk, demi menenangkan hati Aidin ia tidak mau banyak berkomentar.
Aidin menuruti permintaan Zahra. Mereka pulang, begitu juga dengan Darren dan Keysa.
Zahra mengembalikan kartu milik Aidin sekaligus notanya, dengan penuh keraguan ia meletakkan benda tipis itu di pangkuan sang suami.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Aidin pura-pura. Lalu membaca nota itu.
"Maaf, anggap saja itu sedekah hari ini." Zahra bergelayut manja. Merayu supaya Aidin tak memarahinya.
Aidin membisu hingga suasana di dalam mobil itu terasa hening. Uang baginnya tidak ada artinya dibandingkan wanita yang saat ini duduk di sampingnya.
Keysa dan Darren hanya saling lirik.
"Aku siap kok menerima hukuman apapun. Yang penting jangan marah. Jangan bilang ke mama dan papa, jangan bilang ke ayah dan jangan bilang ke mama Delia. Pasti mereka marah kalau tahu aku boros."
Darren menatap Zahra dari pantulan spion. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran adiknya yang sangat polos.
"Kira-kira hukuman apa yang pantas untuk istri boros?" Aidin melirik ke arah Daren yang sibuk dengan setirnya. Sebab, pria itu yang lebih tahu menghadapi istri boros daripada dirinya.
Selama ini Keysa memang suka berbelanja, bahkan bisa dibilang sebagai hobi. Akan tetapi, Darren tak pernah merasa diberatkan, apalagi setelah mendapat nasehat dari Zahra, belanjanya sedikit berkurang. Ia semakin sayang dan cinta pada sang istri yang saat ini mengandung anak keduanya.
"Hukum saja di ranjang, pasti Zahra ketagihan," saran Darren konyol yang membuat wajah Zahra seketika merona.
Keysa ikut malu dengan ucapan suaminya yang menyinggung tentang kepribadian.
Aidin tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Meskipun ia tidak ada niatan untuk menghukum, tetap saja membuat Zahra tak bisa melarikan diri. Hanya sering-sering memberikan uang, maka ia akan mendapatkan hadiah yang lebih dari segala-galanya, begitu pikirnya.
Sesampainya di rumah, Zahra menghampiri Keysa yang sudah hampir tiba di depan pintu kamarnya.
Zahra memastikan bahwa tidak ada orang selain mereka berdua. Kemudian berbicara dengan suara sangat pelan, bahkan nyaris tak terdengar.
"Kakak punya tespek? Tadi lupa beli."
"Kamu ham __" Seketika Zahra membungkam bibir Keysa yang hampir keceplosan.
"Jangan keras-keras, aku juga belum tahu," ucap Zahra menjelaskan.
Aidin dan Darren saling mengangkat bahu melihat mereka berdua yang berbicara rahasia. Mereka tidak ingin ikut campur urusan wanita yang terkadang membingungkan.
"Punya, aku ambilin."
Zahra ikut masuk ke kamar Keysa, takut ada yang melihat.
Keysa menyodorkan benda yang Zahra minta. Pasalnya, ia pun menggunakan tespek sebelum periksa ke dokter.
__ADS_1
"Semoga positif," doa Keysa yang langsung diamini Zahra.
Zahra langsung masuk ke kamar tanpa menghiraukan Aidin dan Darren yang ada di ruang tengah. Ia ingin segera melihat kebenarannya.
Beberapa menit berbaring, Aidin datang dan mengunci pintu, sudah di pastikan ada sesuatu dibalik senyumnya yang sangat menawan.
"Ini masih siang, Mas." Zahra menarik selimut saat Aidin semakin mendekat.
"Siang malam gak ada bedanya. Mumpung papa ngajakin Zea dan Shireen jalan-jalan."
Tanpa menunggu waktu lagi, Aidin membuka bajunya hingga kini bertelanjang dada.
Zahra hanya bisa pasrah. Tidak mungkin ia bisa lepas dari perangkap yang sudah terkunci rapat.
Hampir saja memulai aksinya, pintu diketuk dari arah luar. Terpaksa Aidin memakai baju nya lagi. Mood nya hancur saat merasa terganggu.
Ternyata yang datang adalah Darren.
"Kamu disuruh nyusul Zea di taman. Mama lupa gak bawa popok," lapor Darren seperti yang diucapkan mamanya lewat telepon.
Aidin lemas seketika. Terpaksa ia menunda hukumannya demi panggilan sang mama.
"Kamu pergi sendiri saja, aku capek." Zahra bernapas lega, setidaknya ia masih bisa mengumpulkan tenaga untuk malam ini.
Sebelum peegi, tak lupa Aidin memberikan ciuman lembut, sekalipun tak pernah meninggalkan ritual tersebut.
Zahra terbangun. Ia bergegas ke kamar mandi untuk segera mengetahui kebenarannya.
Lima belas menit kemudian, Zahra mengambil tespek yang sudah ia celupkan di urine. Dalam hati terus berdoa meminta kebaikan di dunia dan akhirat.
Membuka matanya pelan. Melihat garis merah yang ternyata tak sesuai ekspektasinya. Bibirnya mengerucut lalu membuang alat itu di tong sampah. Tak lupa membersihkan bungkusnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil nunggu yang lain, boleh mampir ke sini
Judul : ketulusan cinta Aluna
Nama Author: Febyanti
__ADS_1
Silahkan membaca 🤗🤗🤗