Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Menjalankan misi


__ADS_3

Terpaksa Aidin membatalkan perjanjiannya dengan Amera dan akan  pulang bersama Zahra. Ia tak mau membuat masalah, takut pak Herman kambuh lagi.


"Kamu tunggu saja, aku kerjain ini dulu," ujar Aidin dingin. 


Zahra duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Sesekali melirik Aidin yang nampak sibuk dengan laptop di depannya. 


"Apa kau sudah sholat?" tanya Zahra membuyarkan konsentrasi Aidin. 


Tak ada jawaban. Aidin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan kedua mata saling terpejam. 


"Jawab, Mas! Kalau belum, kita sholat berjamaah," lanjutnya memburu membuat Aidin semakin kesal. 


"Apa kau datang hanya ingin menggangguku bekerja?" bentak Aidin menatap tajam Zahra. "Kalau memang itu tujuan kamu, lebih baik pergi dari sini. Karena di sini aku kerja, bukan untuk mendengar ocehanmu."


Jika dulu Zahra langsung berlinang air  mata saat mendengar bentakan dari suaminya, saat ini ia malah tersenyum melihat kemarahan pria itu. 


"Aku cuma mengingat kan, kenapa harus marah sih?" jawab Zahra dengan lembut. Sedikitpun tak ingin terpancing dengan kebencian Aidin padanya. 


Zahra  diam seribu bahasa, sedangkan Aidin kembali fokus dengan pekerjaannya, sehingga dering ponsel miliknya memecahkan keheningan yang sempat tercipta.  


Zahra bergegas mengambil ponsel milik Aidin dan menatap layar yang berkedip. 


Lagi-lagi itu adalah nama seorang wanita yang sangat ia benci. 


"Mau sampai kapan kau ikut campur urusanku?"


Aidin mencoba merebut ponselnya, namun dengan sigap, Zahra menyembunyikannya. 


"Sampai kau sadar." Jawaban Zahra singkat padat dan jelas. 


Aidin menjambak rambutnya, frustasi. Ia merasa Zahra sudah kelewat batas. Saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengalah. 


Kemudian, Zahra mengangkat teleponnya. 


''Kamu gak bosan mendengar suaraku?" Zahra berjalan ke arah Aidin yang nampak kacau. 


"Sebenarnya ini ada apa sih? Kenapa kamu yang angkat?" pekik Amera tak terima. "Berikan hp nya pada Aidin! Aku ingin bicara dengannya," pinta Amera serius. 


Ssstttt

__ADS_1


Zahra mendaratkan jarinya di bibir. "Mas Aidin sibuk banget, dia gak mau di ganggu. Jangankan kamu, karyawan saja tidak boleh masuk ke ruangannya, karena saat ini aku dan dia sedang melakukan itu." Suara Zahra sedikit mendesah  dan itu mampu membuat Amera kembali tersulut emosi. 


"Jangan macam-macam ya. Gak mungkin Aidin berhubungan dengan kamu, dasar perempuan kampungan," ejek Amera dengan lantang. 


Aidin pasrah. Ia bagaikan patung hidup yang hanya bisa mendengar percakapan Amera dan Zahra, dan tak bisa meminta benda pipihnya yang ada di tangan sang istri.


"Apa kau ingin melihatku dan mas Aidin telanjang?"


"Awww… mas, pelan-pelan dong, sakit." Suara Zahra terdengar mendesis yang membuat Amera tak tahan dan memilih mematikan sambungannya. 


Awas kau, sebentar lagi Aidin akan menjadi milikku. Aku akan mencari cara supaya dia terperangkap dalam genggaman ku. 


Amera langsung menghubungi seseorang untuk memulai misi nya. 


Aidin yang ikut geram dengan kelakuan Zahra itupun tak tinggal diam. Ia merebut ponselnya dengan paksa. "Aku peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba mengganggu hubunganku dengan Amera, atau kau akan menerima akibatnya," ancam Aidin menekankan. 


Namun, Zahra malah tertawa keras. Seolah-olah hatinya bahagia sudah membuat Aidin jengkel. Sedikitpun tak takut dan akan melanjutkan rencananya hingga waktu yang akan menjawab. 


"Terserah, yang penting sekarang aku menang, dan Amera hanya bisa gigit jari menunggu kedatanganmu."


Aidin kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih lumayan menumpuk. Membiarkan Zahra mengabsen seluruh ruangannya hingga wanita itu masuk ke dalam kamar pribadi milik pak Herman. 


"Jangan-jangan dia tidur," terka Aidin menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka. 


Saking penasarannya, ia beranjak lalu membuka pintu kamar itu dengan pelan. Pemandangan yang sering dilihat saat di rumah. Ternyata Zahra sedang menjalankan kewajibannya. Nampak wanita yang masih duduk di atas sajadah  itu menengadahkan tangan dan membaca doa dengan suara lirih. 


Aidin kembali menutup pintunya lalu duduk di kursi kebesarannya. 


Tiba-tiba saja detakan jantungnya terasa memburu mengingat ceramah ia dengar. Namun, mencoba untuk menepis semuanya dan kembali fokus dengan apa yang ada di depannya. 


"Selamat sore, Tuan," sapa suara berat sambil mengetuk pintu. 


"Sore, silahkan masuk!" jawab Aidin dari tempatnya. 


"Ada apa, Chard?" 


Ternyata itu adalah Richard, pria yang menjabat sebagai sekretaris. Pria tampan yang sudah dipercaya oleh pak Herman untuk membimbing Aidin.


"Ada klien baru yang akan bekerja sama dengan perusahaan ini," tutur Richard sembari membuka dokumen yang dibawa.  

__ADS_1


"Mereka ingin bertemu dengan Tuan secara langsung. Katanya tertarik dengan proyek baru kita."


Aidin tersenyum lebar. Lalu memeriksa data-data kliennya yang bernama Felix. 


"Ini akan sangat menguntungkan kita Tuan," imbuh Richard tanpa basa-basi. Ia menjelaskan sebagaimana saat pak Herman yang menjadi pimpinannya. 


"Baiklah, besok kita akan bertemu dia. Pokoknya kamu urus semuanya." 


Richard membungkuk ramah dan keluar. 


Zahra yang dari tadi mendengar di balik pintu itu tersenyum tipis. 


"Allah itu selalu memudahkan orang-orang yang baik dan bersungguh-sungguh. Tapi __" 


Zahra menghentikan ucapannya lalu membenarkan hijabnya. Melirik Aidin yang mulai menatap curiga. "Allah juga akan menurunkan azab yang sangat pedih bagi mereka yang lalai akan kewajibannya, termasuk meninggalkan sholat."


Sebuah sindiran keras dari Zahra yang mampu memporak porandakan hati Aidin yang sekeras batu. 


"Oh iya, Mas. Bulan depan ulang tahun pernikahan kita yang pertama, aku ingin kamu mengadakan pesta untukku," pinta Zahra mengalihkan pembicaraan. 


Menunjukkan beberapa konsep pesta yang sangat mewah dan berkelas pada Aidin. 


"Tidak akan ada pesta untuk kita. Jadi jangan pernah berharap kalau aku akan mengeluarkan uang untuk kamu," cetus Aidin dengan cepat. 


Zahra memanyunkan bibirnya. Ternyata menyadarkan Aidin tak semudah yang ia bayangkan. Harus memiliki kesabaran yang seluas samudera untuk itu.


Dalam hitungan menit, akhirnya semua pekerjaan Aidin usai dengan baik. Ia keluar dari ruangannya diikuti Zahra dari belakang.


Seperti biasa, mereka saling menautkan jemarinya. Memamerkan kemesraan palsu di depan seluruh karyawan yang belum pulang.


"Aku gak mau besok kamu datang ke sini, cukup hari ini kamu membuatku pusing." Aidin melepaskan tangan Zahra saat mereka berada di dalam lift.


Namun sayang, itu tidak akan berpengaruh bagi Zahra, bahkan ia masih punya banyak rencana untuk terus mengubah diri Aidin.


Untuk saat ini Zahra memilih diam karena perutnya yang sedikit terasa keram. Ia mundur di belakang Aidin dan terus mengelus perutnya yang semakin nyeri.


Pintu lift terbuka. Aidin keluar lebih dulu, begitu juga dengan Zahra yang mengikutinya dari belakang. Namun, saat ini mereka berjarak jauh karena tubuh Zahra yang mulai lemah.


Dari ambang pintu, Zahra melihat Aidin masuk ke sebuah mobil asing yang ada di depan gerbang. Entah itu mobil siapa, Zahra pun tak tahu. Tak berselang lama, pria itu keluar dengan wajah berseri-seri.

__ADS_1


__ADS_2