Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Cemburu


__ADS_3

Lelah Aidin lenyap seketika saat melihat kedua wanita yang ia sayangi berbaring diatas ranjang. Hampir seharian penuh mereka bersama, dan waktu itu terasa sangat singkat, cepat terlewati begitu saja. 


"Mau tidur di sini atau pulang?" Aidin duduk di tepi ranjang, mengusap kening Zahra dengan lembut. 


"Pulang, gak enak sama orang kantor. Zea juga gak bawa baju ganti." Memeluk tubuh Aidin dari samping. 


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun Aidin dan Zahra masih ada di kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. 


"Kalau begitu kita sekalian makan di luar aja, biar bibi gak repot-repot masak."


Zahra langsung setuju. Sudah lama ia tak keluar malam, dan merasa ini waktunya untuk berpacaran lagi dengan suaminya. 


Merapikan penampilannya sebelum pergi, sedangkan Aidin mengangkat tubuh mungil Zea dan mengambil tas milik Zahra. 


"Di restoran yang paling enak ya, Mas," pinta Zahra sebelum mereka keluar.


"Kamu yang pilih, aku ikut." Aidin menutup pintu  kamarnya. Memastikan tidak ada yang tertinggal. 


Karyawan yang masih lembur hanya bisa berbisik melihat kemesraan mereka.  Meskipun hanya saling bercanda dan bergandengan tangan, tetap saja membuat mereka iri. 


Seperti permintaan sang istri, Aidin menghentikan mobilnya di depan restoran ternama yang ada di pusat kota. 


"Belikan untuk mbak Lela dan bibi juga." Kembali mengingatkan Aidin sebelum mereka masuk. 


Banyak pengunjung yang berdatangan, hingga tempat itu penuh. Aidin dan Zahra masih berdiri di belakang pintu mencari tempat yang kosong. 


"Apa Anda mau ruangan yang lain, Tuan?" tanya waitress yang menyambut kedatangan mereka. 


"Boleh." Aidin tak berpikir panjang, memang itu yang diinginkan dari tadi, tapi karena banyak orang yang melintas ia fokus pada Zahra agar tidak tertabrak. 


Mereka duduk di sebuah ruangan yang lumayan tertutup. Tak hanya terdapat meja dan kursi untuk makan, tapi juga ada ranjang mini untuk Zea, memudahkan mereka saat makan. 


"Malam ini aku mau makan yang berlemak, boleh ya." Zahra menyenggol Aidin yang baru saja membuka buku menu. Mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat, menggoda. 


"Boleh, asalkan jangan banyak-banyak." Aidin menjawab dengan berbisik. Melirik waitress yang berdiri di belakang pintu. 


"Aku takut gak kuat kalau kamu yang memimpin permainan," imbuhnya. 


Seketika itu pipi Zahra merona mendengar ucapan suaminya. Tangannya menutup bibir pria itu, takut ada yang mendengarnya. 


"Mbak, aku pesan makanan yang paling spesial di restoran ini," ucap Zahra asal, tak peduli pilihan Aidin. Takut pria itu semakin berbicara aneh-aneh.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pelayan datang dengan membawa makanan pesanan Zahra. 


"Kalau makan jangan banyak bicara." Menyuguhkan makanannya itu di depan sang suami.


"Silahkan, Tuan!" Suara waitress membuat Aidin menoleh. 


Nampak seorang pria datang dan duduk tak jauh darinya, namun ia kembali fokus  dengan makanan yang ada di depannya. 


"Sebentar lagi hari ulang tahun pernikahan kita, kamu mau kado apa?"


Zahra memelankan kunyahannya. Jika dulu hari itu sangat dinanti, untuk saat ini berbeda, bahkan ia sedikit lupa. Sebab, hari-harinya sudah dipenuhi rasa bahagia dan tak ada yang spesial lagi. 


Bingung mau menjawab apa, akhirnya Zahra menggeleng tanpa suara. 


Sudah terlalu banyak yang diberikan Aidin di rumah. Ia juga belum membuka sebagian kadonya yang berjumlah ratusan, tapi pria itu kembali menawarinya lagi. 


"Apakah di hari ulang tahun itu harus ada kado, gak kan? Cukup berdoa saja semoga pernikahan kita langgeng dan tidak ada masalah seperti yang lalu."


Aidin tak bisa berkata apa-apa, tanpa diminta ia pun sudah berdoa berulang kali seperti itu. Sebab, hanya wanita itu dan Zea lah yang membuat Aidin bertahan sampai sekarang. 


"Zahra," panggil suara berat dari arah kiri. 


Zahra tersenyum dengan menangkup kedua tangannya di dada. 


"Mas Azka, gak nyangka kita bertemu di sini." Zahra berbicara dari tempat duduknya tanpa ingin menghampiri atau mendekati pria itu. 


Kini Azka yang berdiri dari duduknya dan menghampiri Zahra. 


"Waktu itu aku khawatir banget saat tahu kamu pergi dari rumah. Aku takut kamu sakit karena kehujanan," kata Azka penuh dengan kekhawatiran, bahkan ia tak mempedulikan Aidin yang dari tadi menatapnya sinis. 


"Ak… aku __" Zahra menghentikan ucapannya, melirik suaminya yang mulai menampakkan wajah datar. 


"Aku gak papa, kok. Makasih ya, sudah mau menolongku." 


Zahra tak bisa membayangkan jika dirinya jatuh di tangan orang bejat, pasti tak akan terselamatkan lagi. 


Zahra meneguk air putih. Lalu memperkenalkan Aidin pada Azka. Tak ingin salah paham dengan apa yang mereka bicarakan. 


"Mas Azka ini temanku saat Sma." Zahra kembali memperjelas. 


Aidin mendadak dingin, bahkan ia tak mengeluarkan sepatah katapun saat Azka duduk dan bergabung dengan mereka. 

__ADS_1


"Itu anak kamu, Za?" 


Azka terus membuka suara. 


Zahra mengangguk. Matanya tak teralihkan dari Aidin. Seandainya bisa bicara lewat bahasa kalbu, ia pasti akan melakukan itu. Ingin menjelaskan secara detail, namun sayang untuk saat ini hanya bisa memendam semuanya. 


Tetap menjaga perasaan pria itu yang pasti bertanya-tanya tentang Azka yang akrab dengannya. 


"Mas Azka ke sini dengan siapa?" Zahra mencairkan suasana, ia sudah tak selera makan melihat Aidin yang juga tak menghabiskan makanannya. 


Terdengar helaan nafas panjang, seperti memiliki sebuah beban berat, itulah saat Zahra melihat Azka. 


"Aku sendiri," jawabnya lesu. 


"Istri kamu ke mana?" tanya Zahra memastikan.


Teringat dengan jelas saat ibunya mengatakan bahwa Azka sudah mempunyai tunangan. 


"Aku batal menikah, sepertinya memang belum ada perempuan yang bisa menggantikanmu." 


Hati Aidin terasa tercabik-cabik, mendengar itu. Kini ia tahu siapa Azka, dia pria yang dimaksud Zahra saat berdebat dengan Delia di Sydney. Ia yakin  pria soleh dan baik hati itu adalah pria yang saat ini ada di depannya, namun karena pekerjaan mertuanya mereka tidak mendapatkan restu. 


"Semoga kamu lekas mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku." 


Zahra berdiri menghampiri Zea yang mulai terbangun. Mungkin dengan begitu bisa berpikir bagaimana menghadapi Aidin nantinya. 


"Mau ikut Papa?" Zahra mendekatkan Zea pada Aidin. Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. 


Aidin tersenyum dan mengambil alih putrinya. Walaupun hatinya masih dipenuhi dengan rasa cemburu, ia harus bisa menerima bahwa apa yang terjadi itu hanya masa lalu. 


Membuka dompet sang suami dan meletakkan beberapa uang diatas meja. 


"Maaf mas Azka, sudah terlalu malam aku pulang dulu." Menggandeng tangan Aidin lalu keluar. Tak ingin terlalu lama berada di situasi yang menyudutkannya. 


"Kita mampir ke taman ya, Mas," ajak Zahra saat mereka berada di samping mobil. 


Aidin membuka pintu mobil tanpa ingin menjawab. 


Marah saja terus, gak capek apa marahin aku. 


Zahra ikut diam dan berjanji tidak akan membuka suara lebih dulu. 

__ADS_1


__ADS_2