
Zahra memiringkan tubuhnya ke kiri. Kaki dan tangannya bertumpu di atas tubuh Aidin yang tertidur di sampingnya. Sekelebat bayangan sang suami mengatakan malam Jumat itu melintas membuatnya membuka mata pelan.
Memangnya ada apa dengan malam jumat?
Perpisahan yang mendekati satu tahun membuat Zahra sedikit lupa dengan aktivitasnya sebelum tidur. Bahkan, dulu ia tidak akan tidur sebelum menawarkan diri pada Aidin. Meskipun sering menolak ajakannya, Zahra tak henti-hentinya berjuang.
Menyangga kepalanya. Menatap wajah kokoh yang nampak teduh, tak menyangka pernikahan yang sudah diujung tanduk kini kembali terikat erat.
Baru saja menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, kedua bola mata Zahra membulat sempurna.
"Astagfirullah," pekiknya yang membuat Aidin terbangun dan mengernyit melihat ekspresi Zahra yang nampak cemas.
Zahra menepuk jidatnya. Kini ia baru sadar dengan apa yang dimaksud Aidin. Kemana saja otaknya tadi? Kenapa sedikitpun tak ingat dengan malam yang penuh berkah itu.
"Kamu kenapa sih?" Aidin ikut bangun dan duduk bersandar di headboard. Keduanya saling menatap ke arah yang sama. Kakinya yang ada di balik selimut menjulur ke depan dengan tangan yang merangkul pundak kecil sang istri.
"Aku lupa, Mas." Zahra mengucap dengan penuh penyesalan, merasa bersalah sudah mengabaikan kewajibannya.
"Lupa apa? Bukankah kita sudah sholat Isya?" Aidin pura-pura tak tahu dengan ucapan Zahra. Mulai memancing, karena biasanya wanita itu akan bicara jujur padanya.
"Bukan itu, tapi tentang malam Jumat."
Hati Aidin tersenyum menyeringai. Sepertinya sebuah permulaan yang sangat bagus. Baru jam sebelas, itu artinya waktunya masih cukup untuk lembur.
"Ada apa dengan malam Jumat?" Masih bernada biasa. Di sini yang tak sabar untuk menggarap adalah Aidin, tapi ia lebih bisa mengendalikan diri daripada Zahra yang sudah jelas menunjukkan kegelisahannya.
"Masa kamu gak tahu sih, Mas?"
Semakin lama wajah bulat Zahra semakin menggemaskan, justru itu yang membuat Aidin suka dan terus ingin menggoda.
"Itu apa? Yang jelas dong, aku gak paham."
Zahra melirik ke arah Aidin. Otaknya yang terlalu lugu tak mampu menjabarkan isi hatinya yang sudah ikhlas menyerahkan dirinya lagi.
"Malam ini aku sudah siap."
Bak terguyur air es, sekujur tubuh Aidin terasa sejuk. Dinginnya malam kian merasuk membuat Aidin semakin tak sabar ingin segera beraksi.
"Yakin?" tanya Aidin memastikan, tidak ingin memaksa sedikitpun. Seandainya Zahra belum siap pun ia ingin sabar menantinya.
Zahra mengangguk malu-malu. Menundukkan wajahnya, takut Aidin melihat pipinya yang sudah se merah tomat.
Klek
__ADS_1
Suara saklar ditekan. Seketika itu lampu berubah redup. Tangan Aidin yang sudah siap langsung mengerjakan tugas sucinya.
Malam Jumat menjadi saksi bisu keikhlasan hati seorang istri yang lahir batin menerima keburukan suaminya dimasa lalu. Menyerahkan jiwa raga untuk menjalani masa depan bersama.
Setelah penyatuan itu Zahra maupun Aidin tak memejamkan mata. Mereka berbincang dengan hal-hal yang konyol. Kemudian melanjutkan aktivitasnya hingga lelah melanda.
"Aku gak kuat lagi, Mas." Zahra mengeluh, tubuhnya terkulai lemah setelah bekerja keras.
Aidin mengusap peluh yang membasahi tubuh istrinya. Apakah ia harus kasihan atau bangga sudah membuat sang istri terkapar.
Ha hahaha
Ada rasa iba, tapi hatinya tetap tertawa sudah berhasil mencapai puncaknya berkali-kali. Kini ia bisa merasakan nikmatnya surga dunia yang sesungguhnya. Nikmat tanpa bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Gak papa, Sayang. Dilanjut nanti malam saja."
Seketika itu Zahra mencubit pinggang sang suami. Rasa sakit yang diciptakan saja masih nyeri hingga ke seluruh tubuh, tapi sudah merencanakannya lagi. Zahra merasa ini lebih sakit daripada malam pertamanya dulu.
Kembali bergelak tawa sudah membuat Zahra kesal.
"Pokoknya aku gak mau keluar, kamu yang urus Zea," pinta Zahra ketus.
Tak masalah bagi Aidin, ia menerima dengan lapang dada permintaan yang ringan itu. Apalagi hadiah doorprize sudah diterima. Tak hanya akan mengurus Zea, Aidin pun mengurus Zahra yang nampak kesulitan saat berjalan. Beberapa ronde membuat wanita itu tumbang dan tak berdaya.
"Zahra mana, Din?" Pertanyaan Adinata menghentikan langkah Aidin. Pria itu tersenyum tipis. Mengelus tengkuk lehernya.
Apa yang harus aku katakan?
"Dia gak papa, 'kan?" imbuhnya.
Aidin semakin melebarkan senyumnya.
"Gak papa, Yah. Cuma butuh istirahat saja," jawab Aidin sedikit gagu. Melanjutkan langkahnya untuk mengambil Zea seperti permintaan Zahra.
Ternyata berbohong gak enak juga, tapi aku harus bilang apa.
"Mbak Lela, siapin makan untuk ibu, bawa ke kamar!" perintah Aidin setelah menggendong Zea.
"Baik, Pak."
"Memangnya kak Zahra kenapa, Kak? Kenapa harus makan di kamar?" tanya Ihsan penasaran.
"Gak papa, pingin di kamar aja." Aidin segera kembali ke kamar, menghindari pertanyaan yang tak mampu ia jawab.
__ADS_1
"Sayang, dedek Zea datang nih."
Zahra yang dari tadi duduk di belakang jendela itu hanya menoleh. Tulangnya terasa remuk sehingga malas untuk melakukan apapun.
"Bawa sini aja, Mas." Dari semua pekerjaan, satu yang tak bisa ia tinggalkan, yaitu menyusui Zea. Selebihnya bisa meminta tolong Aidin.
Tak berselang lama, mbak Lela datang membawa makanan, namun ia tak sendiri melainkan bersama dengan Sesi.
"Ibu." Zahra kaget saat melihat ibu tirinya masuk. Menatap Aidin yang mengangkat kedua bahunya. Untung sprei sudah diganti, jika belum pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan.
"Kamu beneran gak papa, Za?" Sesi menghampiri Zahra yang sedang memberikan asi untuk Zea.
Zahra menggeleng tanpa suara. Namun, ia juga tak berani berjalan, takut ditertawakan seperti Aidin yang menertawakannya tadi pagi.
"Kenapa gak makan di luar?"
Sesi sedikit curiga melihat Zahra dan Aidin yang saling pandang. Bukan itu saja, ia pun bisa menangkap noda sprei yang ada di keranjang kotor.
Beberapa menit kemudian Aidin yang menjawab.
"Jangan khawatir, Bu. Dia cuma malas keluar saja." Mengusap kepala Zahra yang tertutup hijab.
Sesi mengangguk lalu keluar, meskipun sedikit curiga dengan tingkah mereka tidak sepatutnya mengintimidasi.
"Aku mau ke ranjang."
Aidin membantu Zahra berdiri. Menuntunnya menuju ke arah ranjang. Menahan tawa melihat cara jalan sang istri yang sedikit aneh.
"Lain kali satu kali saja, aku gak suka seperti ini," keluh Zahra yang masih merasakan perih.
"Iya, maaf. Semalam aku terlalu bersemangat, jadi lupa daratan."
Mengecup pipi gembul Zea yang masih sibuk menikmati makanannya. Menghirup dalam aroma parfum Zahra yang menenangkan.
"Zea lihat, gak? Tadi mama jalannya ngangkang."
Seketika Zahra membungkam bibir Aidin yang bicara tak senonoh. Sungguh, itu adalah ejekan yang membuatnya malu setengah mati.
Zea melepaskan dot nya dan menatap sang papa yang tertawa di balik telapak tangan mamanya. Seperti paham apa yang mereka bicarakan.
Alhamdulillah, Noda Hitam Suamiku mendapat juara favorit bagi yang ingin melihat pengumuman siapa saja yang mendapat pulsa, silahkan follow IG @Nadziroh2
__ADS_1