
Terpuruk selama tujuh bulan, kemudian tinggal di Sydney selama tiga bulan. Sepuluh bulan, Aidin tak begitu mengurus pekerjaannya, kini ia akan kembali aktif. Kembalinya Zahra dan hadirnya seorang bayi mampu memberikan semangat tersendiri yang sudah lama pupus.
Pagi ini keluarga kecilnya sudah sangat heboh, sepulang dari rumah Adinata, Zahra mulai menjalankan perannya sebagai seorang istri untuk Aidin dan juga ibu untuk Zea.
Menyusun makanan di meja makan. Sesekali melihat mbak Lela yang sibuk bermain dengan Zea di ruang tengah.
Suasana pagi Zahra kali ini berbeda dari sebelumnya. Terasa hangat, ia benar-benar merasakan menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Hanya menyewa pengasuh dan pembantu untuk bertugas membersihkan rumah yang lumayan besar. Selebihnya bisa dilakukan sendiri.
"Sayang, hari ini aku pulang terlambat." Suara tertiup angin dari arah depan pintu kamar terdengar jelas di seluruh ruangan.
Zahra yang ada di ruang makan hanya menoleh tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa, ada rapat penting kah?"
Zahra mencicipi nasi gorengnya lagi, memastikan kalau rasanya sudah pas.
"Nggak kok, cuma ada beberapa berkas yang harus diurus." Meletakkan jas dan tas nya di sofa kemudian menghampiri Zahra yang nampak tak memperdulikannya.
Padahal, ia sudah berdandan setampan mungkin dan berharap mendapat sanjungan, namun ia dicuekin dan lebih mementingkan makanannya.
"Gak ada kiss morning kah?" Menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik gamis dan kerudung panjang.
Bagian yang paling memikat otak Aidin untuk berbuat mesum dan tak akan pernah lupa. Namun, sekarang harus berbagi dengan si kecil.
"Tadi setelah subuh sudah, 'kan? Masa lagi sih, gak enak dilihat mbak Lela.'' Menyungutkan kepalanya ke arah Lela yang menghadap ke arah lain.
Aidin menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya. Memberi kode pada Zahra untuk segera duduk dan menemaninya makan. Setelah sekian lamanya, akhirnya bisa menikmati kebersamaannya lagi.
Tak ada pembicaraan apapun, Aidin menghabiskan makanannya dengan cepat, tak komplain sedikit pun.
"Aku pergi dulu ya, kalau kamu butuh sesuatu minta tolong sama mbak Lela atau mbak Sri." Mengecup kening Zahra. Mengusap pipinya dengan lembut.
Zahra membantu Aidin memakai jasnya dan mengantar ke depan. Melambaikan tangannya saat pria itu mulai melajukan mobil.
Tidak ada yang aneh. Semua karyawan kantor bekerja dengan serius, bahkan sebagian dari mereka tak menyadari kedatangan bos nya.
"Ada kabar apa?" Pertanyaan meluncur saat Ricard datang.
"Saya sudah tahu pemilik mobil yang mencurigakan kemarin, Tuan."
"Siapa?" tanya Aidin sambil masuk ke dalam lift yang terbuka.
__ADS_1
Richard mengucap dengan berbisik. Meskipun tak ada orang lain selain mereka, ia tak ingin semua orang kantor tahu dengan kejadian yang menimpa Aidin.
Seketika itu Aidin membulatkan matanya. Dadanya menguap mendengar nama yang sangat familiar.
"Apa kamu tahu apa motifnya? Apa dia mau menghancurkan keluargaku?"
"Saya tidak tahu, karena wanita itu hanya mengatakan dibayar untuk melakukan tugasnya. Dia juga tidak tahu apa hubungan Tuan dengan bosnya."
Tangan Aidin mengepal sempurna. Ia tak menyangka akan menghadapi masalah lagi. Bahkan ini terlihat lebih serius.
"Baiklah, aku akan mengikuti permainan ini."
Seharusnya hari ini Aidin bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan yang terbengkalai, namun faktanya ia tak bisa fokus setelah mendengar laporan dari Richard. Keluarganya lebih dari segala-galanya, dan ia tak ingin masalah yang kemarin menjadi percikan api pada hubungannya dan Zahra.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan Aidin yang sedang melamun. Ia mengusap wajahnya kasar kemudian membuka pintu.
Ternyata Richard yang datang dan memberitahu bahwa ada Amera di bawah.
Jantung Aidin berdegup dengan kencang, bukan karena akan bertemu dengan orang yang dicintai, akan tetapi takut timbul masalah baru, sedangkan keluarga kecilnya baru dimulai.
"Jangan!" tegas Aidin.
Ia tahu apa yang akan terjadi jika sampai Amera di usir, pasti wanita itu akan nekad dan melakukan apapun demi membuat Aidin malu.
"Aku akan menemuinya." Aidin pergi meninggalkan ruangannya diikuti Richard dari belakang.
Benar, wajah cantik yang pernah menjadi pujaan hatinya itu duduk di ruang tunggu. Bajunya yang seksi dengan rambut panjang terurai adalah ciri khas dari wanita itu. Tak lupa memamerkan senyum saat bertemu dengan Aidin.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Aidin datar.
Amera tersenyum tipis. Berjalan maju menghampiri Aidin, namun langkahnya berhenti saat Richard berdiri di depannya. Menghalangi mereka berdua supaya tidak bertatap muka secara langsung.
"Sejak kapan kamu menghindariku? Bukankah kamu selalu merindukan tubuhku."
Aidin menggeser Richard hingga kini bisa berhadapan dengan sang mantan.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi cepat bicara atau aku akan pergi."
Amera melipat kedua tangannya tanpa menjawab, matanya menatap penampilan Aidin dari atas hingga bawah. Tetap sama, pria itu terlihat gagah saat memakai jas.
__ADS_1
Tak mendapat jawaban, Aidin berbalik ke arah pintu.
"Kalau kamu berani pergi, aku akan membuat Zahra menderita," ancamnya tanpa rasa ragu.
Sontak, itu membuat Aidin menoleh ke belakang. "Apa maksudmu?" pekik Aidin.
"Jangan bawa bawa istriku ke dalam masalah kita. Sedikit saja kamu menyakitinya, aku tidak akan segan-segan membunuhmu."
Menunjuk Amera yang terlihat santai dan penuh tawa.
Amera menurunkan tangan Aidin. Lebih mendekat lagi sehingga bisa melihat wajah Aidin dari dekat.
"Kamu lihat ini." Mengangkat sebuah amplop yang berwarna coklat tepat di depan wajah Aidin.
"Aku punya banyak cara untuk menghancurkan hati Zahra yang sangat lembut. Aku bisa membuatnya menangis hanya dengan memperlihatkan foto di dalam ini."
Darah Aidin terasa mendidih, ia bahkan dipermalukan di kandangnya sendiri. Meskipun tak tahu apa yang ada di dalam amplop itu, ia yakin itu bersangkutan dengan perselingkuhan mereka."
"Jangan macam-macam, atau aku __"
"Aku apa?" Amera menghentikan ucapan Aidin.
"Aku tahu Zahra itu orang baik dan bisa memaafkan semua kesalahanmu, tapi aku tidak yakin dia akan menerimamu jika sudah melihat foto ini." Masih memamerkan amplop yang ada di tangannya.
Aidin merebut amplop itu dengan kasar. Amera benar-benar menguji kesabarannya.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Cepat katakan!" Aidin kembali menekankan, sungguh ini terlalu bertele-tele baginya.
Richard memilih untuk tetap di sana memenuhi permintaan Zahra untuk selalu menjaga Aidin.
"Aku butuh uang, gak banyak kok, hanya 2 M, dan aku yakin kamu bisa memberikan itu."
Aidin menyunggingkan bibirnya. "Aku tidak akan memberikan uang sepeser pun untuk kamu, jadi pergi dari sini." Menunjuk ke arah pintu depan.
Amera tak terima, wajahnya mendadak pias saat Aidin dengan jelas menolak permintaannya.
"Kalau begitu siap-siap keluargamu hancur." Meninggalkan Aidin dan Richard.
Amera memang tak pernah main-main dengan ucapannya dan akan melakukan apapun demi mencapai misinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1