Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Pendapat


__ADS_3

Hampir satu jam Zahra berbaring di samping Aidin. Menikmati lengan kekar yang terus mengulur di bawah kepalanya. Sesekali menatap wajah tampan yang tak jauh dari pipinya. 


Terdengar nafas yang teratur, sudah dipastikan bahwa pria itu sudah terlelap  ke alam bawah sadar. 


Mencoba memejamkan matanya yang mulai ngantuk, namun tak bisa juga. 


Aku harus bisa. 


Berusaha menyelaraskan hati dan bibirnya tentang ungkapan Aidin yang sudah membawa Fathan di panti asuhan, akan tetapi rasa kasihan malah menyelimutinya. Membayangkan bayi yang belum bisa apa-apa itu kurang perhatian dan bla bla bla. Dadanya terlalu sukar membayangkan jika itu semua terjadi pada keluarganya. 


"Mas…" Mengucap dengan suara lirih. Membangunkan Aidin dengan pelan. 


Tidak ada jawaban, tampaknya sang suami benar-benar kelelahan hingga tak merespon nya.


Zahra menurunkan tangan Aidin yang menindih perutnya. Menyibak selimut dengan pelan, tak ingin mengusik suaminya yang beberapa hari ini sibuk mengurus nya dan pak Herman. 


Aku harus tanyakan pada kak Darren. 


Baru saja menurunkan kakinya, sebuah tangan dari arah belakang kembali melingkar di perutnya. 


"Mau ke mana, Sayang. Aku kan sudah bilang, kalau butuh sesuatu bangunin aku." Suara berat menyapa diiringi dengan gerakan tubuh yang menyentuh punggungnya. 


"Mau keluar, aku haus pengen minum susu."


Aidin ikut duduk di tepi ranjang. Menilik jam yang ada di nakas. Tenyata baru jam sembilan malam waktu setempat, namun matanya sudah terasa berat untuk dibuka. 


"Mau minum di luar apa di sini?" 


"Di luar, sama cemilan juga, ya." 


Aidin mengangguk, mengangkat tubuh ramping itu tanpa izin. Kemudian mendudukkannya di ruang makan. 


Menyiapkan segelas susu hangat sesuai  pesanan serta camilan sehat yang sengaja ia beli. Sebab, Aidin tak pernah lupa dengan Zahra yang suka ngemil saat malam. 


Nampak dari jauh Keysa keluar dari kamar. Diikuti Aidin yang terlihat rapi. 

__ADS_1


"Mau ke mana, Kak?" tanya Aidin tanpa mendekat. 


"Ke rumah sakit, mau ngurusin kepulangan papa, kamu gak usah ikut."


"Kak," panggil Zahra menghentikan langkah Darren. Seperti biasa, ia tak bisa menyimpan kegelisahan dan harus diungkapkan dengan segera. 


"Apa kamu mau nitip sesuatu?" Setiap menyangkut Zahra, Darren terlihat serius. Tak hanya Aidin, ia pun ikut bersalah sudah membuat wanita itu menderita. Dan kini harus menebus dengan cara membahagiakan dan memenuhi semua keinginannya. 


Zahra menggeleng, bibirnya masih terlalu ragu untuk mengucap, namun ia tak bisa terus menerus membisu. "Ini tentang Fathan, apa gak sebaiknya dia dirawat keluarga sendiri." 


Menundukkan kepala nya, takut Aidin marah dengan ucapannya. Faktanya iya, meskipun tak mengungkap dengan kata, wajah pria itu mendadak merah padam. 


Darren menarik kursi dan duduk saling berhadapan dengan sang adik. Keysa pun ikut duduk di samping sang suami. Mereka tak mengerti dengan jalan pikiran Zahra yang terlihat tenang. Padahal, seluruh keluarga Aidin saja sudah merasa tak nyaman dengan kehadiran bayi itu, justru wanita itu  malah memintanya supaya dirawat. 


"Maksudku supaya dia mendapatkan tempat yang lebih layak dan pendidikan yang baik," imbuhnya, tak ingin Aidin dan Darren salah mengerti dengan tujuannya. 


"Tidak apa-apa kan, memberi pendapat?"


Kemarahan Aidin seketika lenyap  mendengar kepolosan itu. Entah, Zahra selalu saja mengaduk-aduk jiwa dengan tingkah lucu nya. 


"Tidak apa-apa, Sayang. Tapi pendapat kamu tidak diterima." Aidin membuka suara. Ia pun kasihan dengan Fathan, tapi apa boleh buat, demi menjaga hati Zahra tidak boleh mengambil keputusan yang salah. Mengingat ucapan Delia, nyawanya hanya ada satu dan tidak boleh disia-siakan begitu saja. 


Zahra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menatap suami dan kakak iparnya bergantian. Sepertinya mereka memang sudah merencanakan itu tanpa sepengetahuannya. 


"Sekarang kamu istirahat saja, jangan pikirkan apapun selain Zea." 


Meninggalkan ruang makan diikuti Keysa dari belakang. 


"Aku cuma kasihan sama Fathan lo, Mas. Gak ada maksud apa-apa. Bagaimana jika itu terjadi pada putri kita, kamu pasti akan __" 


Skak 


Zahra tak bisa melanjutkan ucapannya yang sudah tersusun di ujung lidah karena Aidin sudah membungkam nya dengan sebuah ciuman. Mungkin dengan begitu Zahra akan diam dan tak protes lagi dengan keputusannya. 


Tak ada perlawanan, juga tak ada balasan. Zahra menahan tubuhnya yang bergetar hebat. Jantungnya berirama lebih cepat hingga membuatnya tercengang. 

__ADS_1


Eh, apa-apaan ini. Apakah aku sudah gila. 


Wajah Zahra merona seketika. Kedua tangannya mencengkram erat lengan Aidin. Ikut tenggelam dalam suasana yang menghanyutkan. 


Keysa yang baru saja menutup pintu depan terpaksa melepas sepatunya. Berjalan mengendap-endap. Ia tak ingin membubarkan momen yang indah itu, dan memilih untuk langsung ke kamar. 


Hampir lima menit lamanya menikmati benda kenyal di depannya, Aidin melepaskan ciumannya. Lalu merangkul wanita itu. 


"Aku juga kasihan sama dia, tapi ini harus aku lakukan. Mengertilah, kalau aku tidak bisa lagi hidup dalam bayangan masa lalu. Meskipun dia bukan anakku, tetap saja akan mengingatkan kamu pada Amera." 


"Apa kamu masih mencintai dia?" tanya Zahra menyelidik. 


Aidin melepas pelukannya. Menatap lekat mata sang istri. 


"Menurut kamu?" 


Zahra mengangkat kedua bahunya. Meskipun dalam hati yakin bahwa pria yang ada di depannya itu sudah tidak mencintai mantannya lagi, tetap saja harus ada jawaban yang pasti. 


"Yang tahu isi hatimu cuma kamu sendiri, aku hanya bisa nebak, itupun kalau benar."


Meneguk susunya hingga kandas untuk menghilangkan kepanikannya. Kemudian meraih cemilan yang ada di depannya, tak tanggung-tanggung Zahra langsung memulai melahapnya sambil menunggu penjelasan Aidin. 


"Kalau aku masih mencintai Amera, gak mungkin aku mati-matian mencarimu. Bahkan aku sempat kritis dan dirawat beberapa hari hanya karena ingin bertemu denganmu. Siang malam berjaga di depan rumah mama Delia. Aku ingin memastikan bahwa kamu ada di sana."


Zahra memelankan kunyahannya, mencerna setiap ucapan Aidin. 


"Apa anak buah mama sering memukul mu?" Zahra kembali memastikan. 


Aidin mengangguk. "Tapi itu tidak masalah bagiku, asalkan aku bisa melihatmu baik-baik saja. Tapi mama Delia tetap tidak mau mengatakan keberadaanmu."


Itu artinya mama membohongiku, dia sudah berjanji tidak akan menyakiti mas Aidin lagi, tapi ternyata dia mengingkari nya. 


Sedikit kesal, namun semua sudah terlanjur. Zahra tak bisa menyalahkan siapapun termasuk mamanya. Apalagi saat itu masih sakit hati dengan kelakuan Aidin. 


"Aku tidak memamerkan perjuanganku, tapi kamu harus tahu. Satu-satunya perempuan yang membuatku bertahan hidup hanya Zahra Aulia Adinata. Dan disaat itu aku meminta kepada Allah. Aku tidak mau mati sebelum bertemu denganmu."

__ADS_1


Mendengar ucapan itu justru membuat Zahra takut."Kamu pernah mencintai Amera, bahkan mengabaikan aku, istrimu sendiri. Tapi sekarang kamu tidak mencintainya lagi. Begitu mudahkah cinta itu pergi, apa kamu akan melakukan hal yang sama padaku. Seandainya ada yang lebih baik lagi, kamu akan meninggalkanku dan memilih dia?"


Sangat sulit bagi Aidin menjelaskan pertanyaan itu. Dan ia memilih diam.


__ADS_2