
Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan lupa makan. Karena kesehatan itu lebih penting dari apapun. Anggap saja pekerjaanmu itu sebagai ibadah, jangan lupa sholat, terus penuhi kewajibanmu sebagai seorang muslim. Jauhi maksiat dengan pelan, ingat mati, pasti kamu bisa.
Aidin terkekeh. Ucapan itu sudah meluncur beberapa jam yang lalu, namun masih terngiang-ngiang di telinganya. Kecupan lembut dari Zahra yang mendarat di punggung tangannya pun mampu membuatnya tenang.
"Aku sudah menyakitimu berulang kali, tapi kamu masih memperhatikanku," gumam nya. Tatapannya kosong hingga tak menyadari bahwa Richard sudah ada di ruangannya.
"Tuan tidak apa-apa?" Suara Richard mampu membuyarkan lamunan Aidin yang hampir melayang.
''Tidak, ada apa?" Aidin terlihat gugup dan panik.
"Ini ada yang perlu Tuan tanda tangani, bulan ini kita untung besar. Semoga bulan berikutnya akan lebih besar lagi."
"Apa kau sudah menikah?"
Richard melongo dengan pertanyaan yang menyimpang dari pekerjaan. Selama ini ia belum pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu karena semua yang ada di kantor tahu bahwa dirinya masih jomblo.
"Belum," jawab Richard ragu plus malu.
Aidin mendongak menatap wajah Sang sekretaris yang membungkuk di sisi mejanya. Tidak ada yang salah dari wajah dan penampilan pria itu, tampan dan mapan. Juga berkarismatik dan mempesona, tapi kenapa belum juga memiliki istri.
"O…" Akhirnya Aidin ber Oh ria dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Itu artinya kamu gak tahu dong, hadiah apa yang diinginkan perempuan saat ulang tahun?"
"Tahu, biasanya mereka menginginkan barang yang limited edition seperti tas dan sepatu, dan juga perhiasan yang mahal, seperti berlian atau sejenisnya.''
"Itu mah kalau Amera, tapi Zahra beda, dia tidak pernah memakai barang branded atau perhiasan mewah," ungkapnya begitu saja.
"Untuk Nona Zahra. Perempuan seperti itu biasanya ingin hadiah yang sepele, namun di matanya sangat berharga, tergantung orang yang memberi."
"Maksud kamu?" Aidin semakin bingung dengan ucapan Richard yang terdengar berbelit-belit.
"Berikan sesuatu yang akan mengingatkannya pada Tuan. Kalau bisa yang dipakai setiap hari. Pasti dia suka."
__ADS_1
Senyum Aidin mengembang. Reflek, pria itu memeluk sang sekretaris.
Sebab, secara tidak langsung idenya langsung mengalir mendengar ucapan dari Richard.
"Terima kasih solusinya." Bersalaman yang membuat Richard kebingungan.
Tak berselang lama Richard keluar, seorang pria yang tak kalah tampan masuk dan duduk di sofa.
"Gha, tumben kamu ke sini? Ada apa?" tanya Aidin menatap sang sahabat yang tampak lesu.
"Aku dan Elsa putus."
"Whatttt…" pekik Aidin terkejut. Menghampiri Agha yang terlihat pucat. Seakan tak percaya dengan ucapannya yang sedikit mustahil. Pasalnya, hubungan mereka terjalin hampir lima tahun dan tak pernah terdengar isu apapun, namun tiba-tiba putus begitu saja.
"Kamu gak bercanda, 'kan?" Aidin kembali memastikan. Dadanya ikut bergemuruh mengingat hubungannya sendiri yang sedikit goyah.
"Gak lah, dia selingkuh dan aku tidak bisa mempertahankan dia. Kayaknya aku harus tobat dan mencari perempuan yang solehah seperti Zahra." Dari raut wajah tampan itu tampak sebuah penyesalan yang mendalam.
Deg
Agha berbaring menggunakan kedua tangannya sebagai bantal dan mengarahkan matanya ke langit-langit ruangan itu. Memikirkan hubungan yang bertahun-tahun itu bahkan tak bisa diselamatkan hanya karena satu kesalahan.
"Jangan ceraikan Zahra, Din. Dia perempuan baik-baik, ternyata cantik tak menjamin kita bahagia. Perempuan yang setia lah yang mampu membuat kita nyaman."
Aidin membisu, membenarkan ucapan Agha. Selama ini ia bingung pada dirinya sendiri. Meskipun bibirnya selalu mengatakan tak mencintai. Nyatanya, ia merasa tenang jika berada di samping Zahra.
"Tapi aku sudah berjanji akan menikahi Amera." Suara itu terdengar lirih yang membuat Agha terhenyak.
"Kamu belum terlambat. Jangan sampai kau menyesal karena sudah menyia-nyiakan perempuan seperti Zahra. Aku memang tidak pernah berada di posisi kamu, tapi setidaknya aku punya pelajaran yang berharga. Bahwa orang yang kita cintai belum tentu mencintai kita dengan tulus. Tapi sebaliknya, perempuan yang berakhlak mulia, dia akan menggunakan akal sebelum melakukan kesalahan."
Menepuk bahu Aidin yang nampak bimbang. Berharap pria itu berpikir matang-matang sebelum mengambil langkah yang serius.
"Sebuah hubungan tak hanya didasari dengan cinta. Tapi juga saling percaya dan setia. Aku tahu kamu memang tidak mencintai Zahra, tapi aku yakin hati kamu bisa menilai mana yang harus dipertahankan dan dilepaskan."
__ADS_1
Aidin menghela nafas panjang. Mengingat kisahnya dengan Zahra yang tak ada manisnya sedikitpun. Juga penuh dengan drama, tapi tetap bertahan hingga satu tahun lamanya. Bukankah itu hal yang sulit? Apalagi Zahra sudah jelas tahu tidak mendapatkan cinta melainkan hanya dimanfaatkan.
"Aku akan pikirkan lagi." Beranjak dari duduknya dan kembali ke kursi kebesarannya. Mencoba melupakan masalah yang membelitnya.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Saking sibuknya Aidin lupa makan siang, namun siang ini ia seperti berada di bawah naungan sang istri hingga tak lupa menjalankan kewajibannya. Seperti saat ini pria itu melipat sajadahnya yang menjadi alas untuk menyembah Sang Pencipta.
"Ternyata diam-diam kau sudah taubat, pantas saja gak pernah ke klub," sindir Agha setelah menyeruput kopi panas yang baru di antar office boy.
Aidin tak menjawab karena saat ini ia memikirkan langkah yang akan diambil besok. Antara datang ke pesta Amera atau merayakan ulang tahun pernikahannya yang pertama.
"Kamu gak dengar omonganku?" imbuh Agha lebih keras.
"Dengar," jawab Aidin singkat. Merapikan bajunya lagi sebelum keluar dari kamar. Memakai sepatunya karena sudah waktunya pulang.
"Besok temani aku beli kado," ucapnya.
"Untuk siapa?" tanya Agha menepuk bahu Aidin dari belakang.
"Amera ulang tahun. Aku bingung mau beliin apa."
"Kalau Zahra yang ulang tahun kamu beliin apa?"
Untuk yang kesekian kali ucapan Agha membuat Aidin meradang. Jangankan ulang tahun, sesuatu yang dimakan Zahra setiap hari pun ia tak tahu, dan begitu bodohnya memikirkan orang lain daripada wanita yang selama ini menemaninya.
Seharusnya usianya menginjak dua puluh tahun, tapi aku gak tahu bulan kelahiran nya? Hanya bisa bertanya dalam hati, malu pada Agha.
"Dia gak pernah minta kado, cukup memintaku untuk tidur bersamanya." Teringat satu hari saat Zahra terlihat manja, dan ia mengira itulah hari ulang tahun sang istri.
"Dasar suami tak berguna, kamu ini perlu di ruqyah supaya pikiran kamu kembali waras." Menoyor kepala Aidin hingga terhuyung.
Sebelum keluar dari ruangannya, Aidin mengetik sesuatu dari ponselnya.
Malam ini aku gak pulang, Za. Kamu kunci pintu. Jangan terima tamu, kecuali keluarga, hati-hati di rumah.
__ADS_1
Begitulah pesan yang dikirim Aidin untuk Zahra.