Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Putus dan mundur


__ADS_3

Kue berukuran sedang yang berbentuk hati dengan berbagai topping sudah siap. Rumah tertata rapi dengan dekorasi ala kadarnya pun sudah menghiasi ruang tengah. Sudah cukup bagus untuk merayakan pesta kecil-kecilan. 


Zahra menilik jam yang melingkar di tangannya. Kemudian menghubungi Aidin. 


Tak butuh waktu lama, Aidin yang dari tadi menunggu telepon dari Zarhra pun mengangkat sambungannya. 


"Kamu di mana, Mas?" tanya Zahra dengan suara lembut.


Gak mungkin aku bilang di rumah Agha, ini kan jam kantor. 


''Aku masih di kantor. Ada apa?" Terpaksa Aidin berbohong demi menutupi rencananya malam ini. Entah itu apa, Agha pun tak ahu. 


"Aku cuma mau ngingetin kalau malam ini __"


"Pesta pernikahan kita," sahut Aidin yang dari tadi mencoba mengingatnya.


"Aku pasti pulang, tapi kayaknya akan sedikit terlambat." 


Zahra tak banyak bicara. Dia mengiyakan tanpa ingin protes. "Aku tunggu kamu." 


Aidin memutus sambungan teleponnya. Merapikan beberapa kotak kado yang ada di depannya.


"Kalau kamu gak bisa menepati, jangan janji. Kasihan Zahra. Dia itu terus berharap tapi tak pernah mendapat kepastian."


"Malam ini aku akan memberi keputusan pada dia dan juga Amera. Aku akan memilih di antara mereka.''


Disaat Aidin sibuk dengan sesuatu yang akan disiapkan untuk nanti malam, benda pipihnya yang masih digenggam itu kembali berdering. 


Itu adalah telepon dari Richard. 


"Halo Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda." 


"Siapa?" tanya Aidin antusias. Pasalnya, hari ini ia sudah mengatakan pada sekretarisnya itu tidak akan menerima tamu. Tapi masih saja menghubunginya. 


"Klien dari Singapura. Dia menyetujui pengajuan proposal kita." 


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


"Aku percaya kamu pasti bisa memilih yang terbaik." Menepuk pundak Aidin setelah membantu pria itu memasukkan kadonya ke dalam mobil. 


"Makasih." Meskipun mereka bukan orang baik, setidaknya saling membantu dan mengingatkan.

__ADS_1


"Kenapa mas Aidin bilang sedikit terlambat. Apa dia akan datang ke pesta Amera duluan?'' Itu bukan hal yang tabu, namun kali ini ingin memastikan apakah Aidin lembur di kantor atau memang datang ke pesta ulang tahun selingkuhannya itu. Dengan begitu, ia semakin yakin dengan langkah selanjutnya.


Zahra membuka lemari. Mengambil gaun yang berwarna putih. Gaun yang ia pakai pertama kali saat bertemu dengan Aidin. Gaun yang menjadi saksi bisu dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang Aidin Adijaya. 


"Apa mas Aidin masih ingat baju ini?" Membolak-balikkannya, kemudian memakainya. Tak hanya bajunya yang berbeda, Zahra juga memakai make up sebelum pergi. 


Zahra naik taksi online untuk tiba di kantor Aidin. Menguatkan hatinya untuk bisa lebih tangguh dan siap menghadapi apapun yang terjadi. 


"Saya suka dengan proyek yang Tuan tawarkan. Semoga kita bisa kerjasama dengan baik." 


Mengulurkan tangannya di depan Aidin.


"Terima kasih, Tuan. Saya akan bekerja keras untuk proyek ini, semoga kita bisa bekerjasama dalam bidang lainnya juga." 


Mereka bersalaman lalu berpelukan. Aidin juga mengantarkan kliennya hingga ke pintu gerbang. Bertepatan saat dirinya masuk ke dalam, mobil yang ditumpangi Zahra tiba. Wanita itu tak langsung turun dan memilih menunggu di mobil. Mengawasi setiap pergerakan karyawan yang keluar masuk. Memanggil penjaga dari dalam mobil. 


"Maaf, Pak. Apa mas Aidin masih ada di dalam?" tanya Zahra, matanya mengabsen setiap mobil yang terparkir. 


"Tuan Aidin baru datang satu jam yang lalu, Nona. Beliau masih ada di dalam." 


Satu jam yang lalu, itu artinya saat aku menghubungi, dia masih ada di luar, lalu kemana dia. Kenapa harus berbohong.


Dada Zahra bergemuruh, semangatnya lenyap begitu saja, kini hanya ada kata mundur yang terus memenuhi dadanya. 


"Bagaimana, Nona? Apa kita pulang atau __" 


"Jangan, Pak! Kita tunggu sampai mas Aidin keluar," pinta Zahra sopan. 


Tak berselang lama, wajah dengan manik mata biru dan hidung mancung itu keluar dari pintu depan. Zahra terus mengawasi saat pria itu mulai masuk mobil. 


"Ikuti mobil itu, Pak!" 


Zahra menunjuk mobil Aidin yang mulai melaju membelah keramaian jalan. 


Ia terus mengamati mobil Aidin yang berjalan di depan. Tak mau lengah dan kehilangan jejak. 


Sepertinya ada yang mengikutiku.


Aidin sedikit curiga dengan mobil yang dari tadi berada di belakangnya. Namun, ia menepisnya mengingat selama ini tak punya musuh. 


"Pelan saja, Pak. Jangan sampai mas Aidin tahu." Zahra menunduk, bersembunyi dibalik jok. 

__ADS_1


Sesuai perintah, sopir itu memelankan laju mobilnya hingga mereka tiba di kawasan hotel berbintang.


"Bapak yakin mobil mas Aidin masuk ke sini?"


"Yakin Nona, itu mobilnya."


Zahra membuka kaca mobilnya lagi. Matanya langsung tertuju pada sang suami yang berpelukan dengan Amera. Ia juga bisa melihat saat pria itu memberikan sesuatu pada selingkuhannya. 


Jadi ini alasan kamu datang terlambat. Kamu lebih mementingkan Amera dari pada pernikahan kita. Aku mundur. Selamat tinggal mas Aidin. Semoga kamu bahagia dengan perempuan yang kamu cintai. Aku tidak akan melupakanmu yang pernah mewarnai hidupku,  tapi aku juga tidak akan lupa dengan penghianatanmu.


"Jalan, Pak!" Dengan membawa hatinya yang terluka, Zahra pergi meninggalkan semuanya. Kenangan pahit manis saat menjadi istri Aidin ia simpan rapat. Mungkin dengan begitu hidupnya akan sedikit tenang. 


"Ada yang ingin aku bicarakan, Me." Ucapan Aidin menghentikan langkah Amera. 


Wajahnya terlihat dingin dan penuh dengan teka-teki. 


"Masuk dulu dong, semua sudah nungguin kamu." Menarik lengan kekar Aidin, namun dengan cepat pria itu menahannya. Tak ingin berlama-lama menggantung hubungan terlarang itu.


"Ada apa sih?" Amera sedikit curiga melihat sikap Aidin yang berbeda. Bahkan raut wajahnya terlihat redup. 


"Apa kau akan memakaikan perhiasan ini sekarang?" Amera membuka kotak perhiasan yang diberikan padanya beberapa menit lalu. 


Aidin menggeleng tanpa suara. Suaranya tertahan di kerongkongan. Sulit untuk mengungkapkan sebuah kalimat yang seharusnya sudah tersusun rapi. 


"Kita putus."


Seketika itu juga kotak perhiasan yang ada di tangan Amera jatuh. Terkejut, ucapan Aidin bak petir yang menyambar di siang bolong. Begitu menyakitkan bagi Amera. 


"Apa kamu bilang? Putus?" Amera mengulang dengan suara tersendat. Tertawa sinis, menampar pipi Aidin dengan keras hingga membuat beberapa tamu menoleh. 


"Iya, kita putus, aku akan mempertahankan pernikahanku dengan Zahra."


Plakk 


Tamparan kembali mendarat di pipi kokoh Aidin. Wajah Amera berapi-api, tatapannya tajam dan penuh amarah.


"Setelah sekarang kamu sukses, kamu memutuskan aku. Siapa yang menemani kamu selama ini." Tak henti-hentinya menghujam pria itu dengan pukulan.


Aidin hanya tertunduk lesu. Menerima semua luapan amarah dari Amera. Membiarkan wanita itu melampiaskan kekesalan padanya.


"Aku yang salah, Me." Suara itu terdengar lirih.

__ADS_1


"Aku gak terima diperlakukan seperti ini. Aku pastikan kamu dan Zahra juga akan menderita."


Aku rela menderita, tapi tidak untuk Zahra, sudah cukup penderitaannya selama ini. Demi apapun dia tidak boleh meneteskan air mata lagi.


__ADS_2