
Aidin duduk di ruang tamu. Matanya terus menatap ke arah gerbang. Sesekali menilik jam yang melingkar di tangannya. Sejak pulang dari restoran, ia merasa cemas. Dadanya menguap bahkan hampir meledak.
"Ke mana saja sih dia?" Menggerutu lalu beranjak. Kakinya mengayun dan berdiri di ambang pintu. Tak henti-hentinya mengumpat dalam hati dan memukul pintu untuk meluapkan kekesalannya.
Tak berselang lama, Zahra datang diantar oleh Iqbal dan itu semakin menambah hawa panas pada diri Aidin.
"Hati-hati ya, Mas," teriak Zahra saat Iqbal yang kembali memutar mobilnya keluar.
Aidin bergegas kembali duduk di tempatnya semula, pura-pura tidak melihat kedatangan wanita itu.
"Astagfirullah, Mas aidin sudah pulang, aku mengingkari janjiku."
Zahra berlari kecil. Teringat akan datang lebih awal dari Aidin, namun nyatanya sekarang suaminya sudah berada di rumah lebih dulu. Sungguh, ia merasa menjadi istri yang berdusta.
"Assalamualaikum," sapa Zahra ragu seraya menatap Aidin yang nampak datar.
Tidak ada jawaban, pria itu malah menatap layar ponsel yang ada di tangannya.
Zahra berjalan pelan menghampiri Aidin.
"Maaf, Mas. Aku kira kamu pulang seperti biasanya."
Aidin membisu, matanya melirik ke arah tangan Zahra yang dipenuhi dengan paper bag. Lalu, tersenyum menyeringai. "Seperti nya kamu memang suka jalan dengan dia, kenapa gak nginep di rumahnya sekalian," cetus nya.
"Aku pasti akan menginap di rumah mas Iqbal. Tapi, itu kalau dia suamiku," jawab Zahra menohok. Seolah itu adalah sindiran buat Aidin yang sering tinggal di apartemen Amera, meskipun mereka bukan pasangan halal.
"Permisi."
"Tunggu! Aku belum selesai bicara," sergah Aidin menghentikan langkah Zahra.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Mas." Zahra memutar badan menatap punggung Aidin. "Semua sudah jelas, bahwa sebentar lagi kita akan berpisah. Kamu tidak pernah mencintaiku. Bahkan kamu tidak pernah menganggapku ada. Selama ini aku hanya sebuah patung di rumah ini, kita hanya bicara saat kamu membutuhkanku. Aku juga butuh kebahagiaan bersama orang yang benar-benar mencintaiku, dan itu tak pernah aku dapatkan dari kamu."
Berhenti sejenak untuk menghela napas.
"Bersamaan dengan ulang tahun Amera adalah ulang tahun pernikahan kita. Aku tunggu kamu di rumah, setidaknya kita merayakannya walau sekali. Anggap saja itu adalah kenangan sebelum kita berpisah."
Zahra meninggalkan Aidin yang nampak terpaku. Entah apa yang dipikirkan, pria itu sedikitpun tak membantah ucapannya yang bernada mengolok.
Zahra menumpahkan air matanya. Hubungan yang ia jaga dengan sepenuh hati akhirnya menguar juga, ia merasa dirinya bodoh dan tak sanggup mempertahankan suaminya.
__ADS_1
"Asalkan kamu bahagia, aku ikhlas. Semoga Amera pilihan yang tepat untuk kamu dan keluarga."
Aidin menghempaskan tubuhnya di sofa. Mencerna ucapan Zahra yang menusuk hingga ke tulang rusuk. Ia yang memulai semuanya, namun faktanya, ia sendiri merasa sakit mendengar itu semua.
"Aku yang salah, Za. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu."
Tanpa terasa, rasa sesal hinggap dan membawanya ke alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kok sembab sih?" Zahra memakai bedak untuk menutupi matanya yang sedikit bengkak akibat kelamaan menangis. Tak ingin terlihat menyedihkan saat di depan Aidin.
Sudah hampir jam sepuluh malam, tiba-tiba Zahra merasa perutnya sangat lapar. Terpaksa ia terbangun dari tidurnya. Tak mau terjadi sesuatu pada anaknya dan memilih akan keluar untuk makan.
Ceklek
Membuka pintu dengan pelan. Matanya menyusuri ruangan yang nampak sepi. Lampu pun masih menyala terang, namun tak ada tanda-tanda Aidin di sana.
Mungkin mas Aidin lupa mematikan lampu.
Zahra berjalan menuju dapur mencari makanan yang ada di lemari pendingin dan cemilan untuk mengisi perutnya.
"Rumah ini akan menjadi kenangan yang buruk untuk kita, Mas. Tapi aku tidak pernah menyesal pernah menjadi istrimu, banyak pelajaran yang aku dapat. Ternyata, cinta tak dapat dipaksakan. Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku, biarlah cinta ini hilang dengan berjalannya waktu."
Tanpa sengaja, Zahra melihat Aidin yang ternyata tidur di sofa. Lantas, mengambil selimut dan menutupi tubuh sang suami sebelum kembali ke kamar.
Pagi sekali Aidin sudah terbangun. Tidur semalaman penuh nyatanya tak menyurutkan rasa gelisah yang mengendap di dadanya.
"Apa Zahra masih tidur?" Menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Tak dapat dipungkiri jika saat ini hatinya terasa berat saat mendengar kata perpisahan dari sang istri, namun juga bimbang dengan keputusan yang akan diambil nanti nya.
Tersenyum dan membuka selimut yang menghangatkan tubuhnya.
Maafkan aku, Za.
Aidin yang hampir berdiri itu kembali duduk lalu menjambak rambutnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing luar biasa. Keringat dingin bercucuran menembus pori-porinya hingga kemeja yang membalut tubuhnya basah kuyup.
Kenapa akhir-akhir ini aku sering sakit kepala?
Hampir satu minggu Aidin merasa aneh pada tubuhnya. Selera makannya berkurang juga sering gelisah dan tak bisa tidur, entah itu karena keadaan rumah tangganya atau yang lain, ia enggan untuk periksa.
__ADS_1
Hampir lima belas menit rasa sakit itu berangsur menghilang. Aidin menyeret kakinya, mengambil air putih dan meneguknya. Ia duduk sejenak di ruang makan, setelah itu ke kamar.
Tak seperti biasanya yang selalu memutar kajian subuh, kamar itu hening. Zahra tampak tenang duduk di balkon mengarah pada pusat kota.
"Sedang apa di sini?" Aidin membuka pintu balkon lebar-lebar. Menghampiri Zahra yang sedang sibuk membaca mushaf.
Zahra hanya mengangkat mushafnya tanpa ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa gak memutar pengajian?" Suara Aidin terdengar malu-malu.
"Aku gak punya paket data, kemarin lupa membelinya," jawab Zahra ketus.
"Kan ada wi-fi?"
Zahra hanya mengangkat bahu, sebenarnya ia hanya malas karena tak pernah di pedulikan, bukan karena alasan yang dikatakan tadi.
Aidin masuk dan duduk di tepi ranjang. Meraih ponselnya dan mengetik sesuatu. Tak lama kemudian, ponsel milik Zahra berdering.
Zahra pun ikut masuk dan memeriksa benda pipihnya. Melirik Aidin sekilas dan meletakkan ponselnya lagi.
"Aku tidak pernah minta dibeliin paket data."
Aidin hanya tersenyum tipis menatap intens Zahra yang nampak cantik alami.
Seperti biasa, ia melanjutkan aktivitas paginya sebagai ibu rumah tangga. Melewati Aidin yang masih betah di tepi ranjang. Sedikitpun tak ingin menyapa pria tersebut.
"Anggap saja itu bukan dariku, tapi dari Iqbal."
"Gak bisa gitu dong."
Zahra mengambil dua lembar uang pecahan lima puluh ribu dari dalam dompetnya lalu menyodorkan di depan Aidin.
"Uang apa?" Aidin hanya melihat tanpa ingin menyentuhnya.
"Ganti rugi untuk paket data yang masuk ke hp ku."
Aidin hanya menahan tawa. "Itu masih kurang banyak, coba periksa lagi." Maju satu langkah lebih mendekat.
Zahra memilih pergi, takut terhanyut dengan perasaannya.
__ADS_1