
Zahra menggoyang-goyangkan lengan Aidin yang masih terbenam di alam mimpi. Hampir tiga jam pria itu terlelap, namun tak kunjung bangun. Terpaksa ia harus mengganggunya. "Ayolah Mas, bangun. Katanya mau nganterin aku ke rumah ayah."
Lagi-lagi suara Zahra menguap begitu saja, sedikitpun Aidin tak merespon ucapannya yang terdengar jelas. Ia melipat kedua tangannya, bibirnya cemberut melihat kedua mata Aidin yang masih terpejam. Sungguh, kali ini pria itu sangat menjengkelkan baginya.
"Kalau gak mau bangun aku pergi sendiri," ancam Zahra sembari berdiri memunggungi Aidin.
Berharap pria itu mencegahnya, namun tetap saja Aidin masih belum terbangun membuat kekesalan Zahra semakin memuncak.
"Masss!!!" teriak Zahra sekencang-kencangnya.
Aidin yang merasa terganggu terperanjat kaget dan melompat sedikit menjauh dari Zahra. Mengelus dadanya. "Sayang, ada apa?" tanya Aidin yang mulai sepenuhnya sadar. Melambaikan tangannya ke arah Zahra yang terlihat merengut.
Zahra ikut naik ke atas ranjang dan duduk di samping Aidin. Sedikitpun tak merasa bersalah sudah mengagetkan pria itu. "Antarkan aku ke rumah ayah," lirih nya.
Aidin memeluk pinggang wanita itu. Melihat wajahnya yang ditekuk membuatnya merasa bersalah karena sudah mengulur waktu.
"Baiklah, sekarang kamu ganti baju dulu, aku akan antar ke rumah ayah." Melepaskan Zahra yang mulai tersenyum semringah. Menyibak selimutnya lalu ikut turun dan keluar. Menghampiri Zea yang berada di gendongan sang pengasuh.
"Tolong gantiin baju Zea, bawakan beberapa baju, aku dan ibu mau keluar."
"Baik, Pak," jawab wanita itu dengan ramah. Wanita yang terpilih menjadi pengasuh Zea itu pun berhijab seperti sang majikan. Sebab, hasil review tak hanya mengandalkan kinerja yang bagus tapi juga tampilan yang sopan supaya tidak mengundang syahwat bagi siapapun.
Aidin kembali ke kamar. Memilih baju yang akan dipakai sembari menunggu Zahra yang masih berada di kamar mandi. Sebelum pergi ia juga memberitahu pada Adinata untuk tak meninggalkan rumah, takut Zahra kecewa.
Hampir lima belas menit, Zahra keluar dan menghampiri Aidin yang duduk di tepi ranjang. Dari raut wajahnya yang fokus pada layar ponsel di tangannya, sepertinya pria itu tak menyadari dirinya datang.
"Cepetan mandi, aku sudah siap," tutur Zahra yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan ayahnya.
Perlakuan Adinata tak menyurutkan rasa sayang seorang anak untuk ayahnya. Sedikitpun Zahra tak memiliki rasa benci apalagi dendam. Yang lalu biar lah berlalu cukup sekarang dan seterusnya.
Aidin mendongak menatap wajah yang nampak imut tanpa balutan make up. Menarik tubuhnya hingga jatuh ke pangkuannya. Kini tak ada lagi parasit yang mengganggu hingga bisa bebas melakukan apapun dengan wanita itu.
"Nanti malam, malam apa?" tanya Aidin pada Zahra.
__ADS_1
"Malam jumat," jawab Zahra tanpa ingin pindah posisi. Kedua tangannya melingkar di leher Aidin serta mendekatkan wajahnya di dada pria itu, hingga aroma sabun dan sampo menyeruak menusuk rongga hidungnya.
Jantung Aidin berdegup kencang. Ternyata Zahra sudah tahu, itu artinya tak perlu diingatkan lagi. Apalagi ini akan menjadi ritual pertama semenjak mereka bertemu, pasti deg deg serrr.
Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Kayaknya aku harus cepat pergi, keburu malam.
Aidin dan Zahra keluar dari kamar. Memanggil Mbak Lela yang juga sudah siap.
"Kita mau bertemu kakek, Sayang. Nanti jangan nakal ya," goda nya pada Zea yang anteng.
Zahra masuk ke mobil setelah pintu dibuka. Merapikan penampilannya lewat kaca spion. "Sudah cantik, kok." Aidin memasangkan seatbelt untuk sang istri sebelum melajukan mobilnya.
Tidak ada yang berubah. Bangunan itu tetap sama seperti saat Zahra keluar dulu. Banyak kenangan pahit yang ia lewati seorang diri. Hidup yang serba kekurangan membuatnya kuat dan bisa melangkah sendiri. Hingga kesabarannya itu melahirkan kebahagiaan yang tiada tara.
"Mau di sini terus apa masuk?" Aidin sudah membuka pintu dari tadi, tapi Zahra tak lekas turun. Matanya berkaca-kaca. Entah apa yang ada di otaknya, Aidin pun tak tahu.
"Masuk dong, masa di sini."
Zahra mengetuk pintu dengan ragu. Ia takut kehadirannya tak diterima oleh keluarga ayahnya.
Tak berselang lama pintu terbuka. Seseorang yang Zahra rindukan berdiri di depannya. Ingin memeluk, namun Zahra takut, akhirnya ia hanya mengulurkan tangannya.
"Ayah apa kabar?" tanya Zahra dengan bibir bergetar. Menahan air matanya yang sudah menumpuk hingga sekali kedip saja sudah luruh.
"Baik," jawab Adinata menerima uluran tangan itu kemudian menarik tubuh Zahra dan mendekapnya. Tangis leduanya pecah membuat Aidin terharu.
Sejauh apapun bumi memisahkan, takdir tidak akan mengubah mereka yang berstatus ayah dan anak.
Hampir dua tahun tak saling bicara dan tatap muka, Zahra merasa bersalah. Seharusnya ia pun tak mengikuti permintaan Adinata dan tetap datang untuk silaturahmi, namun karena masalahnya dengan Aidin yang berlarut, membuatnya sibuk sendiri.
"Aku kangen sama Ayah. sekarang aku gak akan pergi walaupun ayah mengusirku."
Adinata tersenyum di sela-sela tangisnya. Ucapan Zahra mengingatkannya pada masa lalu itu, di mana ia mengusir Zahra saat hujan lebat.
__ADS_1
Menangkup kedua pipi Zahra yang dipenuhi air mata.
"Tapi ayah akan tetap mengusirmu. Wajah Zahra berubah seketika mendengar itu.
"Pergilah dengan suamimu, karena ayah tidak berhak atas kamu dan juga Zea."
Zahra ikut tertawa dan kembali memeluk sang ayah dengan erat. Dari belakang nampak ketiga adiknya dan ibu tirinya sibuk, entah apa yang mereka lakukan tapi Zahra tahu bawa mereka sudah melihat kedatangannya.
"Ibu di mana, Yah?" tanya Zahra pura-pua.
"Ada di belakang. Masuk dulu, ayah panggilkan." Menggiring Aidin dan Zahra ke ruang tamu. Mengambil alih cucunya dari tangan mbak Lela.
"Zahra sudah datang, Bu. Keluarlah!"
Wanita yang ternyata sibuk menyusun makanan itu mengangguk. Melepas celemek lalu keluar, begitu juga dengan ketiga adiknya.
Tak seperti dulu yang selalu memasang wajah ketus saat berhadapan dengan Zahra, kini wanita yang tak lain ibu tirinya itu tersenyum renyah dan memeluknya.
Disusul ketiga adiknya yang berhamburan memeluk Zahra bersamaan.
Aidin yang dari tadi duduk di samping sang istri terpaksa menegur aksi mereka yang keterlaluan sudah membuat Zahra ambruk.
"Kakak punya oleh-oleh untuk kalian." Menunjuk beberapa kotak kado yang berjejer di atas meja.
Hubungan yang pernah renggang itu kembali tersambung. Zahra terlihat bahagia melihat ibu tirinya yang ramah.
"Mau menginap di sini? Ibu sudah menyiapkan kamar untuk kalian."
Gawat, ini gak boleh terjadi.
Aidin berdehem menghentikan Zahra yang hampir menjawab. Meraih tangan Zahra dan menggenggamnya. Satu matanya berkedip memberi kode.
Namun, Zahra tak mengerti dan memilih diam.
__ADS_1